Bagaimana Informasi yang Benar-benar Layak Disebut A1?

Ilustrasi/stekom.ac.id
Sistem kode yang digunakan untuk menandai informasi—seperti A1—sebenarnya menunjukkan ketatnya sistem di dunia intelijen dalam mengukur kebenaran secara sistematis—sesuatu yang justru sering kita anggap sepele dalam kehidupan sehari-hari. “Info A1” cuma bagian kecil dari sistem yang jauh lebih luas, dan sistem ini sebenarnya cukup “kejam” dalam menilai informasi.

Catatan ini adalah lanjutan catatan sebelumnya (Mengapa Informasi yang Dianggap Penting Disebut Info A1?). Di catatan sebelumnya, kita sudah mengenal apa yang disebut “info A1”, dan catatan ini akan membahas info macam apa yang benar-benar layak disebut A1.

Dalam praktik intelijen (misalnya yang dipakai NATO dan berbagai badan intelijen lain), hampir semua informasi diberi kode seperti ini: A1, artinya sumber sangat terpercaya dan info terverifikasi (kelas tertinggi); A2, sumber sangat terpercaya, tapi info belum sepenuhnya terkonfirmasi; B1, sumber cukup terpercaya, dan info sudah terverifikasi; C3, sumber meragukan, dan info juga belum jelas; D4, sumber lemah, info kemungkinan besar salah; dan E5/F6, nyaris tidak dapat dipercaya sama sekali.

Artinya, informasi yang “benar” pun belum tentu dianggap kuat kalau sumbernya lemah. Sebaliknya, sumber hebat pun bisa menghasilkan informasi yang belum pasti.

Masalahnya, kebanyakan orang sering luput dalam memahami fakta penting itu, dan sering mudah percaya karena “yang ngomong siapa”. Atau, percaya karena “kedengarannya masuk akal”. Padahal, sumber kredibel bukan jaminan kebenaran, dan informasi yang terdengar meyakinkan tidak otomatis menjadikannya kredibel.

Contoh sederhana, teman dekatmu (disebut sumber A) menyampaikan informasi kepadamu, dan kamu percaya karena kamu mengenal dia, dan kamu percaya kalau teman dekatmu tidak akan berbohong. Padahal, bisa saja temanmu salah dengar. Akibatnya, informasi yang ia sampaikan sebenarnya cuma bernilai A3 atau A4.

Sebaliknya, bisa jadi ada orang yang tidak kamu kenal, menyampaikan informasi yang terdengar kurang meyakinkan, dan kamu pun skeptis pada informasinya. Padahal orang yang tidak kamu kenal itu (disebut sumber C) bisa saja menyampaikan informasi yang benar, sehingga bernilai C1.

Jadi, informasi yang disebut A1 merujuk pada informasi yang benar-benar terverifikasi, dan disampaikan oleh orang yang kamu percaya (kredibel).

Angka 1 pada “info A1” bukan berarti “kelihatannya benar”, tapi sudah dikonfirmasi oleh sumber lain yang independen. Jadi, A1 bukan sekadar dipercaya, tapi telah diverifikasi silang (cross-check). Itu mirip prinsip dalam jurnalisme investigatif atau bahkan metode ilmiah; sebuah klaim harus bisa diuji ulang.

Yang jadi masalah, istilah “info A1” kerap disalahpahami dan langsung dipercaya hanya karena informasi itu terdengar “tegas” dan “otoritatif” atau hanya karena disampaikan oleh orang terkenal. Akibatnya, “info A1” mengalami pergeseran makna, dari sistem evaluasi ketat, menjadi “kayaknya ini benar”.

Lebih ironis lagi, banyak orang bilang “info A1” justru ketika suatu informasi belum diverifikasi, hanya berasal dari satu sumber, atau bahkan cuma rumor. Akibatnya, istilah yang awalnya dimaksudkan untuk melawan hoaks justru sering digunakan untuk meyakinkan hoaks.

Kalau mau pakai konsep ini secara realistis dalam mempercayai atau menyebarkan informasi, pastikan terlebih dulu siapa sumbernya, apakah ada konfirmasi lain, apakah ada bias, dan apa bukti konkretnya? Kalau semua itu teruji, barulah mendekati A1.

Hmm... ada yang mau menambahkan?

Related

Umum 3805049793273716279

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

item