El Salvador, Neraka Kriminalitas, dan 900 Hari Tanpa Pembunuhan

Ilustrasi/bbc.com
Di San Salvador, orang-orang mulai berani pulang malam sambil membawa ponsel di tangan. Hal yang dulu terdengar seperti tindakan bunuh diri, sekarang terasa biasa. Anak-anak muda nongkrong di taman. Pedagang kaki lima buka lebih lama. Bus kota tidak lagi dipenuhi ketegangan sunyi seperti beberapa tahun lalu ketika siapa pun bisa ditembak hanya karena melewati wilayah geng yang salah.

El Salvador mencatat lebih dari 900 hari tanpa kasus pembunuhan. Presiden Nayib Bukele merayakannya seperti trofi besar. Dunia memperhatikan dengan campuran kagum dan takut. Dan memang sulit menyangkal hasilnya.

Negara kecil di Amerika Tengah itu dulu dikenal sebagai salah satu tempat paling mematikan di bumi. Nama geng seperti MS-13 dan Barrio 18 terdengar seperti kutukan nasional. Orang diperas. Anak muda direkrut paksa. Sopir bus ditembak karena tidak membayar “pajak keamanan”. Mayat ditemukan di pinggir jalan dengan tangan terikat. Tahun 2015, tingkat pembunuhan El Salvador termasuk yang tertinggi di dunia. Sekarang grafiknya jatuh drastis.

Bukele dipuja banyak orang karena berhasil melakukan sesuatu yang dianggap mustahil; menghancurkan teror geng.

Masalahnya, ia melakukannya dengan cara yang membuat banyak organisasi HAM merinding.

Ada rekaman video-video penjara CECOT, mega prison kebanggaan Bukele. Ratusan narapidana bertato duduk berdesakan tanpa baju, kepala plontos, tangan di belakang leher. Cahaya putih terang. Lantai dingin. Tubuh-tubuh itu terlihat seperti diproduksi massal. Kamera drone bergerak perlahan di atas mereka seperti adegan film distopia Netflix.

Ada sesuatu yang sangat teatrikal dalam cara Bukele menjual keamanan. Dan dunia menyukainya.

Di media sosial, Bukele diperlakukan seperti superhero anti-kejahatan. Video-video editannya memakai musik keras dan transisi dramatis. Polisi bersenjata lengkap. Tahanan berlari jongkok. Caption penuh pujian; “Inilah pemimpin sejati.” “Negara lain harus meniru El Salvador.”

Orang memang cepat jatuh cinta pada ketertiban setelah terlalu lama hidup dalam ketakutan.

Sulit menjelaskan betapa brutalnya kekuasaan geng di El Salvador dulu kalau tidak tinggal di sana. Di beberapa wilayah San Salvador atau Soyapango, kehidupan warga sipil benar-benar dikendalikan kelompok kriminal. Anak sekolah tidak bisa sembarang naik bus karena rute tertentu dikuasai geng berbeda. Salah masuk lingkungan, orang bisa hilang. Ketakutan menjadi rutinitas.

Bukele memahami satu hal penting tentang politik; rakyat bisa memaafkan hampir apa saja kalau mereka akhirnya merasa aman. 

Lalu dimulailah keadaan darurat nasional sejak 2022. Penangkapan massal. Ribuan orang dibawa ke penjara tanpa proses hukum yang jelas. Hak-hak sipil dipangkas. Polisi dan tentara diberi kekuasaan luar biasa besar.

Hasilnya memang nyata. Jalanan jauh lebih aman. Tapi selalu ada tagihan untuk kekuasaan semacam itu.

Laporan organisasi HAM menyebut ribuan warga sipil ikut ditangkap tanpa bukti memadai. Banyak keluarga kehilangan kontak dengan ayah, anak, saudara laki-laki mereka. Ada yang ditangkap hanya karena tato. Ada yang dicurigai berdasarkan anonim report. Ada yang kebetulan tinggal di lingkungan tertentu.

Beberapa mati di tahanan. Dan negara sering tidak banyak menjelaskan.

Saya membaca kisah seorang ibu bernama María di daerah Mejicanos. Anaknya, tukang bangunan umur 19 tahun, ditangkap polisi saat pulang kerja. Tidak punya catatan kriminal. Tidak ada bukti jelas. Keluarganya berbulan-bulan tidak tahu ia ditahan di mana. Kisah seperti itu muncul berkali-kali dalam laporan jurnalis independen.

Tapi dukungan publik terhadap Bukele tetap sangat tinggi. Karena bagi banyak warga biasa, hak asasi manusia terasa abstrak dibanding rasa takut ditembak di halte bus.

Itu bagian yang membuat situasi El Salvador rumit sekali. Dunia liberal Barat sering mengkritik Bukele dengan bahasa hukum dan demokrasi. Sementara banyak warga Salvador justru berpikir, “Kalian tidak hidup di bawah ancaman geng selama puluhan tahun.”

Argumen itu punya tenaga emosional besar. Kalau anakmu bisa pulang sekolah dengan selamat setelah bertahun-tahun hidup dalam teror, mungkin kamu juga akan lebih toleran terhadap tindakan keras negara.

Masalahnya, sejarah Amerika Latin penuh contoh pemimpin yang awalnya dipuja karena membawa ketertiban, lalu berubah jadi monster kekuasaan. Orang terlalu fokus pada hasil jangka pendek sampai lupa memberi batas pada negara.

Bukele tampaknya sadar penuh soal itu, dan ia justru menikmatinya.

Ia pintar sekali memainkan citra. Jaket kulit. Topi baseball terbalik. Bahasa media sosial yang santai. Gaya bicara seperti streamer internet, bukan presiden formal. Ia memahami algoritma lebih baik daripada banyak kepala negara lain. Politik abad 21 memang makin sinematik.

Penjara CECOT sendiri terasa seperti simbol era baru itu. Bukan cuma fasilitas tahanan, tapi pertunjukan kekuasaan. Kapasitas puluhan ribu narapidana. Beton besar. Menara pengawas. Lampu terang sepanjang waktu. Tidak ada kunjungan keluarga. Tidak ada pendidikan tahanan. Tidak ada rehabilitasi berarti. Hanya kontrol total.

Orang-orang melihat video tahanan bertato diperlakukan keras, lalu merasa puas. Ada semacam kenikmatan kolektif melihat kekerasan dibalas dengan kekerasan yang lebih besar, selama dilakukan negara.

Saya tidak bisa sepenuhnya menyalahkan warga El Salvador yang mendukung itu. Teror geng di sana memang mengerikan. Banyak keluarga hidup bertahun-tahun dalam ancaman permanen. Ketika negara akhirnya bertindak efektif, rasa lega pasti luar biasa. 

Tapi saya juga tidak bisa mengabaikan rasa dingin ketika melihat negara mulai terbiasa menangkap massal tanpa pengawasan kuat. Karena kekuasaan yang terlalu bebas jarang berhenti di target awalnya. Hari ini geng. Besok lawan politik. Besoknya jurnalis. Setelah itu siapa lagi?

Bukele sering disebut diktator modern dengan approval rating tinggi. Julukan itu terdengar paradoks, tapi cocok sekali dengan zaman sekarang. Banyak orang mulai rela menukar sebagian kebebasan sipil demi rasa aman dan stabilitas. Fenomena itu tidak cuma terjadi di El Salvador. Dunia sedang bergerak ke arah itu.

Orang capek dengan demokrasi yang terasa lamban dan kacau. Mereka ingin hasil cepat.

Bukele memberi hasil cepat. 900 hari tanpa pembunuhan memang prestasi luar biasa. Angka itu nyata. Banyak nyawa terselamatkan. Banyak anak tumbuh tanpa suara tembakan setiap malam. Banyak toko kecil bisa buka tanpa bayar uang perlindungan pada geng.

Tapi tetap saja, ada sesuatu yang mengganggu ketika keamanan dibangun di atas ketakutan baru terhadap negara sendiri.

Saya membayangkan seorang ibu di San Salvador menonton berita tentang 900 hari tanpa pembunuhan, sambil diam-diam tetap takut mengetuk kantor polisi untuk mencari anaknya yang hilang setelah operasi penangkapan massal.

Dua rasa itu hidup bersamaan. Lega dan takut. Dan Bukele berdiri di tengahnya sambil terus tersenyum ke kamera, seperti orang yang tahu dunia modern lebih menyukai pemimpin yang efektif daripada pemimpin yang terlalu banyak ragu.

Related

Internasional 474406532540888069

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

item