Krisis Besar, Konflik Geopolitik, dan Sejarah yang Terulang

Ilustrasi/historyextra.com
Bau logam, asap, dan debu memenuhi udara ketika orang-orang berebut menarik uang mereka dari bank-bank di New York pada awal 1930-an. Lelaki dengan jas kusut berdiri berjam-jam di trotoar sambil menggenggam buku tabungan. Sebagian datang terlalu pagi. Sebagian terlalu terlambat. Di beberapa sudut kota, orang mulai menjual apel di jalanan hanya untuk bertahan hidup. Harga saham runtuh, pabrik tutup, kepercayaan hancur lebih cepat daripada gedung roboh.

Krisis Besar atau Great Depression sering dikenang lewat angka-angka; pengangguran, kebangkrutan, anjloknya pasar saham. Padahal suasana psikologisnya jauh lebih menyeramkan. Dunia mendadak kehilangan keyakinan terhadap sistem yang sebelumnya dianggap tak tergoyahkan.

Kalimat “too big to fail” belum populer waktu itu, tetapi mentalitasnya sudah ada. Orang percaya pasar akan selalu menemukan jalan keluar. Bank-bank besar dianggap aman. Ekonomi modern dianggap terlalu maju untuk runtuh total. Sampai semuanya benar-benar runtuh.

Saya sering memikirkan masa itu ketika melihat situasi geopolitik hari ini. Rivalitas antara Amerika Serikat dan China, perang dagang, perebutan chip semikonduktor, krisis rantai pasok, sanksi ekonomi, perebutan mineral strategis. Bahasa yang dipakai sekarang memang lebih modern—“de-risking”, “strategic decoupling”, “economic resilience”—tetapi aroma ketegangannya terasa familiar.

Manusia modern suka berpikir dirinya hidup di era yang sangat baru. Padahal pola dasarnya sering cuma pengulangan dengan teknologi lebih canggih.

Tahun 1930, Kongres Amerika Serikat mengesahkan Smoot–Hawley Tariff Act. Tarif impor dinaikkan besar-besaran untuk melindungi industri domestik Amerika. Politisi menjualnya sebagai langkah patriotik. Amerika harus melindungi pekerjanya sendiri. Amerika harus mengutamakan ekonominya sendiri. Kalimat seperti itu terdengar sangat kontemporer sekarang.

Masalahnya, negara-negara lain membalas. Kanada menaikkan tarif. Negara-negara Eropa ikut bereaksi. Perdagangan global menyusut brutal. Krisis ekonomi memburuk, karena semua pihak mulai saling menutup pintu.

Proteksionisme punya daya tarik emosional yang kuat. Ia memberi ilusi kontrol. Saat situasi global terasa kacau, politisi selalu tergoda menjual narasi “kita lawan mereka”.

Lihat situasi chip semikonduktor sekarang. Pemerintah Amerika membatasi ekspor teknologi tinggi ke Tiongkok. Perusahaan seperti NVIDIA berada di tengah tekanan geopolitik besar. Tiongkok mempercepat ambisi swasembada teknologinya. Taiwan menjadi titik rawan global karena TSMC memproduksi chip paling vital di dunia. Satu pulau kecil bisa membuat ekonomi global gemetar.

Dunia modern terlihat sangat maju di permukaan, tetapi sangat rapuh di bawahnya. Satu konflik di Laut Merah bisa menaikkan biaya logistik global. Satu larangan ekspor mineral bisa mengguncang industri kendaraan listrik. Satu perang regional bisa membuat harga minyak melonjak dan memukul negara-negara berkembang. Kita hidup dalam sistem global yang efisien sekaligus absurd. Sangat terhubung, sangat rentan.

Indonesia berada di posisi yang aneh dalam semua itu. Kaya nikel, kaya bauksit, kaya sumber daya strategis. Kawasan seperti Morowali di Sulawesi Tengah berubah drastis dalam beberapa tahun terakhir. Dulu banyak orang bahkan tidak terlalu mengenal namanya. Sekarang kawasan itu masuk percakapan geopolitik global karena baterai kendaraan listrik.

Saya pernah melihat video dan foto-foto udara kawasan industri di sana pada malam hari. Cahaya pabrik menyala terang di tengah wilayah yang sebelumnya jauh dari hiruk pikuk industri global. Truk hilir mudik. Cerobong asap berdiri seperti menara logam. Bahasa Mandarin terdengar di beberapa area kerja, karena investasi besar dari perusahaan Tiongkok.

Negara berkembang sering dibuai mimpi “hilirisasi” sebagai jalan menuju kedaulatan ekonomi. Sebagian memang masuk akal. Negara tidak mau terus menjual bahan mentah murah lalu membeli produk jadi mahal. Logikanya sederhana.

Masalahnya tidak pernah sesederhana slogan politik. Kemandirian selalu punya harga. Kadang mahal sekali.

Tiongkok memahami itu sejak lama. Mereka rela menggelontorkan subsidi besar, membangun industri secara agresif, bahkan menerima tuduhan dumping dan praktik perdagangan tidak adil demi mengejar dominasi manufaktur global. Amerika sekarang mencoba mengejar ketertinggalan industri strategisnya lewat subsidi teknologi dan chip domestik.

Lucu melihat bagaimana dua raksasa ekonomi dunia sama-sama bicara “pasar bebas”, sambil diam-diam sangat intervensionis ketika kepentingannya terganggu. Sejarah sering bergerak lewat kepanikan elite.

Pada awal abad ke-20, Inggris mulai cemas melihat kebangkitan industri Jerman. Amerika mulai naik. Jepang mulai berkembang. Keseimbangan global bergeser. Ketakutan ekonomi perlahan berubah menjadi ketegangan politik, lalu militer.

Hari ini ketakutannya berbeda bentuk, tetapi nadanya mirip. Ketakutan kehilangan dominasi teknologi. Ketakutan kehilangan akses energi. Ketakutan kalah dalam perlombaan AI. Ketakutan rantai pasok dikuasai pihak lain.

Banyak orang mengira perang selalu dimulai oleh kebencian ideologis besar. Kadang perang justru tumbuh dari kecemasan ekonomi yang lama dipelihara.

Saya teringat satu detail kecil tentang masa menjelang World War I. Banyak orang Eropa waktu itu sebenarnya merasa perang besar mustahil terjadi karena hubungan perdagangan internasional sudah terlalu erat. Ekonomi global terlalu saling bergantung. Orang-orang bisnis akan mencegah konflik. Ternyata tidak.

Manusia punya kemampuan luar biasa untuk menghancurkan sistem yang sebenarnya menguntungkan mereka sendiri.

Sekarang dunia juga penuh asumsi semacam itu. “Amerika dan Tiongkok tidak mungkin benar-benar bentrok karena ekonomi mereka terlalu terhubung.” Mungkin benar. Mungkin juga terlalu optimistis.

Ketegangan geopolitik modern terasa aneh karena sering terjadi lewat bahasa birokratis dingin. Tidak ada pidato dramatis seperti zaman perang dunia. Yang ada konferensi pers tentang tarif, sanksi, pembatasan teknologi, keamanan rantai pasok.

Kalimat-kalimat teknokratik itu kadang menyembunyikan konflik kekuasaan yang sangat besar. Orang biasa merasakan dampaknya bukan lewat dokumen diplomatik, tetapi lewat harga barang. Harga bensin naik. Harga elektronik naik. Lapangan kerja bergeser. Pabrik pindah. Mata uang goyah.

Sejarah ekonomi sebenarnya sangat fisik. Ia terasa di dapur, di dompet, di antrean SPBU, di pabrik yang tutup.

Pada masa depresi ekonomi dulu, orang memperbaiki sepatu berkali-kali karena tidak mampu membeli baru. Keluarga mengencerkan sup supaya cukup dimakan semua anggota rumah. Di Berlin dan Wina, kemarahan ekonomi perlahan berubah menjadi radikalisme politik. Kondisi ekonomi buruk sering membuat manusia mencari kambing hitam.

Media sosial mempercepat semuanya hari ini. Kemarahan menyebar lebih cepat. Nasionalisme digital tumbuh agresif. Propaganda jauh lebih murah diproduksi. Orang tidak perlu lagi berdiri di podium kota untuk mempengaruhi massa. Cukup video vertikal 47 detik dengan musik patriotik.

Kadang saya bertanya-tanya, apakah manusia sebenarnya belajar dari sejarah atau cuma mengarsipkannya.

Karena pola-pola dasarnya terus muncul. Ketakutan terhadap kekuatan baru. Perebutan sumber daya. Politik proteksionisme. Kecemasan nasional. Perlombaan teknologi. Elite yang yakin mereka bisa mengendalikan eskalasi. Lalu sesuatu bergerak terlalu jauh.

Di pelabuhan-pelabuhan besar dunia, kontainer masih naik turun setiap hari. Kapal tanker masih melintas membawa minyak. Trader di Singapura dan London masih menatap layar harga komoditas. Diplomat masih tersenyum di depan kamera. Investor masih bicara tentang stabilitas jangka panjang sambil sesekali melirik grafik merah.

Semua tampak normal dari kejauhan. Begitulah biasanya dunia sebelum sesuatu pecah.

Related

Internasional 4866738602233311679

Posting Komentar

emo-but-icon

item