Seorang Santriwati Hamil hingga Melahirkan Gara-gara Mimpi—Katanya
https://www.belajarsampaimati.com/2026/05/seorang-santriwati-hamil-hingga.html
![]() |
| Ilustrasi/ayosemarang.com |
Ada berita yang muncul di feed, yang membuat saya ingin tertawa sambil menangis. Berita itu tentang seorang santriwati di Pekalongan yang diketahui hamil bahkan hingga melahirkan, tapi orang tuanya mengatakan bahwa anak gadis mereka tidak pernah melakukan hubungan dengan siapa pun. Kehamilan itu berawal dari mimpi, kata orang tuanya.
Kepada media yang mewawancarainya, sang ayah menyatakan, “Awalnya dia sering bermimpi, baik saat masih di pondok pesantren maupun saat berada di rumah. Sebelum diketahui hamil pun ia sudah sering bermimpi demikian.”
Jadi, kehamilan yang berujung melahirkan anak itu pun tidak bisa dimintakan pertanggungjawabannya pada siapa pun. “Kami sekeluarga ikhlas menerima kejadian ini dan mengembalikan semuanya kepada kuasa Allah,” ujar sang ayah. “Kalau kami harus menuntut, kepada siapa? Pacar saja dia tidak punya.”
Mimpi. Kata yang di Indonesia sering diperlakukan seperti wilayah setengah sakral. Orang Jawa punya tradisi panjang membaca mimpi sebagai pertanda; mimpi melihat ular, mimpi melihat air keruh, mimpi didatangi seseorang. Di banyak kampung, mimpi belum benar-benar kehilangan kekuasaannya. Ia masih dianggap punya hubungan dengan nasib, musibah, kadang dosa. Mimpi ternyata juga bisa menjadi penjelasan atas kehamilan seseorang.
Berdasarkan berita-berita yang saya baca, Kepala Desa tempat gadis itu tinggal sudah mengonfirmasi kehamilan tersebut, tapi dia juga menegaskan hal yang sama. Bahwa santriwati itu mengalami mimpi-mimpi aneh sebelum akhirnya diketahui hamil dan melahirkan. Polisi turun tangan. Bidan desa ikut bicara. Warga mulai merangkai cerita masing-masing. Nama pesantren disebut pelan-pelan seperti orang takut menyentuh kabel terbuka.
Tubuh perempuan di Indonesia memang sering berubah jadi arena rebutan narasi. Cepat sekali. Bahkan lebih cepat daripada pemeriksaan medis.
Kalau seorang santri laki-laki ketahuan mencuri motor, kasusnya jadi kriminal biasa. Kalau seorang santriwati hamil tanpa suami, seluruh kosmos sosial bergerak; agama, moral, rasa malu keluarga, kehormatan pondok, gunjingan tetangga, bahkan dunia gaib ikut dipanggil.
Orang-orang tampaknya lebih siap menerima cerita “hamil karena mimpi” ketimbang menerima kemungkinan yang jauh lebih biasa sekaligus lebih mengerikan; hubungan tersembunyi, manipulasi, pemaksaan, atau kekerasan yang tidak pernah berani diucapkan terang-terangan. Karena kalau itu yang terjadi, semua jadi rumit.
Di Indonesia, cerita kehamilan “misterius” sebenarnya bukan barang baru. Selalu muncul tiap beberapa tahun. Kadang dibungkus kisah jin. Kadang lewat narasi mimpi. Kadang disebut “hamil gaib”. Polanya hampir sama; perempuan muda, lingkungan religius atau pedesaan, keluarga panik, warga gaduh, aparat bingung, media lokal lapar klik. Tubuh perempuan menjadi panggung horor kolektif.
Saya membaca komentar-komentar netizen soal kasus ini, dan rasanya melelahkan. Ada yang langsung menertawakan keluarga si santriwati sebagai “bodoh”. Ada yang percaya penuh soal unsur gaib. Ada yang sibuk menghubungkan dengan kisah Maryam dalam tradisi Islam, seolah semua tragedi harus dicari pembenarannya di kitab suci. Sedikit sekali yang terdengar benar-benar peduli pada gadis itu sendiri.
Ia melahirkan. Itu fakta biologis. Tubuhnya mengalami kontraksi, rasa nyeri yang membuat pinggang seperti diremukkan dari dalam. Darah keluar. Bayi lahir. Napas tersengal. Keringat dingin. Orang-orang sibuk memperdebatkan asal-usul kehamilan, sementara tubuh perempuan itu sendiri mungkin bahkan belum selesai memahami apa yang terjadi padanya.
Kampung-kampung kecil punya cara sendiri menghadapi rasa malu. Mereka sering menciptakan cerita yang membuat kenyataan terasa lebih bisa ditanggung. Kadang cerita itu jelas mustahil, tapi fungsi utamanya bukan logika. Fungsi utamanya menenangkan. Menyelamatkan sisa martabat keluarga.
“Hamil karena mimpi” terdengar absurd bagi orang kota yang terbiasa bicara tes DNA dan visum. Tapi di desa, kalimat seperti itu kadang bekerja seperti kain penutup. Tipis, memang. Semua orang tahu ada lubang di sana-sini. Tapi tetap dipakai. Karena alternatifnya lebih telanjang.
Saya curiga banyak orang sebenarnya tahu cerita itu sulit dipercaya. Bahkan keluarga si santriwati mungkin tahu. Kepala desa mungkin tahu. Warga mungkin tahu. Tapi ketika sebuah komunitas terlalu takut menghadapi kenyataan tertentu, mereka memilih versi cerita yang paling memungkinkan semua orang tetap bisa saling menatap saat lewat di jalan.
Bayi yang lahir dari kasus ini sekarang nyata. Ia menangis, minum susu, mungkin dibedong kain tipis motif kartun. Sementara orang dewasa di sekitarnya sibuk memproduksi penjelasan.
Saya membayangkan rumah keluarga santriwati itu beberapa hari terakhir; tamu keluar masuk, suara motor berhenti di depan rumah, ibu-ibu datang pura-pura menjenguk sambil menyimpan rasa penasaran di mata, lelaki-lelaki kampung berdiri sambil melipat tangan di pos ronda membicarakan kemungkinan-kemungkinan. Udara panas dan lengket siang hari. Bau tanah bercampur asap rokok.
Tidak ada yang benar-benar misterius dari kehamilan manusia. Misterinya justru muncul dari masyarakat yang lebih nyaman mengarang kabut ketimbang mengakui sesuatu yang mungkin sangat biasa terjadi, sangat manusia, sekaligus sangat memalukan bagi tatanan yang mereka bangun sendiri.
Di beberapa tempat, perempuan hamil di luar nikah dipaksa menikah cepat-cepat demi menutup malu. Di tempat lain, keluarga pindah rumah. Di sini, muncul cerita mimpi.
Orang-orang akan segera pindah ke kabar lain minggu depan. Kasus baru. Video viral baru. Skandal baru. Tapi anak itu tetap lahir di dunia yang sejak awal sudah dipenuhi bisik-bisik.

.png)

