Arianna Huffington dan Kisah HuffPost yang Terjual 315 Juta Dolar

Ilustrasi/kai.or.id
Ruang redaksi digital awal 2000-an punya bau khas yang sekarang nyaris hilang; kopi basi, kipas CPU panas, karpet kantor yang terlalu lama menyerap asap rokok, dan kelelahan orang-orang yang hidup di depan layar sambil percaya internet akan mengubah dunia. Belum ada TikTok. Belum ada Instagram Reels. Facebook masih terasa seperti pesta kampus online. Orang masih memakai kata “blog” dengan nada agak meremehkan, seperti menyebut band indie yang mungkin bubar enam bulan lagi.

Di tengah kekacauan itu, seorang perempuan dengan aksen Yunani yang tebal dan energi sosialita Manhattan memutuskan membuat situs berita.

Banyak orang mengira Arianna Huffington sejak awal adalah visioner media digital yang dingin dan strategis. Gambaran itu terlalu rapi. Kenyataannya lebih berantakan dan lebih manusiawi. Ia datang dari jalur yang aneh; penulis buku, komentator politik televisi, mantan istri konglomerat minyak Michael Huffington, tokoh sosial Washington dan New York yang tahu cara bergerak di antara miliarder, jurnalis, selebritas, dan politisi, tanpa terlihat canggung.

Arianna lahir di Athena, Yunani, pada 1950. Nama kecilnya Arianna Stassinopoulos. Ibunya, Elli, sering mendorongnya berpikir besar dengan cara yang nyaris agresif. Dalam beberapa wawancara lama, Arianna pernah bercerita bagaimana ibunya menolak membiarkannya hidup biasa-biasa saja. Ada semacam ambisi keras yang ditanam sejak kecil, jenis ambisi Mediterania yang tidak dibungkus sopan santun Anglo-Saxon.

Ia pindah ke Inggris dan belajar ekonomi di Girton College, Cambridge. Rambut gelap besar, cara bicara cepat, kecerdasan sosial yang licin. Ia menjadi presiden Cambridge Union, debat klub elite yang pernah melahirkan politisi Inggris dan pembicara publik kelas berat. Bayangkan seorang perempuan muda Yunani di aula kayu tua Cambridge tahun 1970-an, berbicara dengan aksen asing di hadapan mahasiswa Inggris yang terbiasa mendengar suara-suara aristokrat lokal.

Tubuhnya kecil. Energinya tidak.

Sebelum Huffington Post lahir, Arianna sudah dikenal di televisi Amerika sebagai komentator politik. Ia sempat konservatif, bahkan mendukung Newt Gingrich. Setelah bercerai dari Michael Huffington pada akhir 1990-an—dan setelah Michael mengungkap dirinya gay—arah politik Arianna berubah drastis. Ia bergerak ke kiri progresif. 

Banyak orang mengejeknya oportunis. Mungkin memang ada oportunisme di sana. Dunia media Amerika penuh orang yang mengubah ideologi seperti mengganti jas.

Tahun 2005, Huffington Post diluncurkan bersama Kenneth Lerer dan Jonah Peretti. Nama Peretti penting sekali di sini. Orang sering lupa bahwa Jonah Peretti punya naluri internet yang hampir hewani. Sebelum BuzzFeed menjadi mesin konten global, Peretti sudah paham bagaimana manusia bereaksi terhadap judul, emosi, dan penyebaran viral.

HuffPost lahir bukan sebagai media “terhormat” dalam arti lama. Banyak jurnalis senior New York menganggapnya situs gosip politik dengan blog selebritas. Layout awalnya padat, heboh, penuh headline besar. Rasanya seperti membuka tab browser yang minum tiga gelas espresso.

Media tradisional waktu itu masih agak sombong terhadap internet. Surat kabar seperti The New York Times atau The Washington Post memandang dunia blog dengan tatapan setengah jijik. Orang-orang muda di internet dianggap terlalu cepat, terlalu kasar, terlalu tidak disiplin. HuffPost justru memakai kekacauan itu sebagai tenaga utama.

Mereka menggabungkan berita serius, opini marah, clickbait, budaya pop, aktivisme, dan agregasi berita dalam satu halaman yang bergerak terus seperti mesin slot Las Vegas.

Banyak jurnalis lama membencinya. Mereka punya alasan. HuffPost sering mengambil berita dari media lain, lalu membungkusnya ulang dengan headline yang lebih agresif. Model agregasi seperti itu terasa parasit bagi sebagian wartawan tradisional yang masih percaya reportase harus lahir dari lapangan, bukan dari memoles ulang artikel orang lain.

Arianna tampaknya tidak terlalu peduli pada kemurnian romantis profesi jurnalistik. Ia paham sesuatu yang penting; di internet, perhatian manusia adalah medan perang sebenarnya.

Saya masih ingat sensasi membuka Huffington Post di warnet sekitar akhir 2000-an. Halamannya sibuk sekali. Mata cepat lelah. Banner berkedip. Headline politik berdempetan dengan berita selebritas dan artikel kesehatan. Tapi anehnya susah berhenti scroll. Ada ritme hiperaktif yang cocok dengan otak online modern yang mulai rusak oleh tab browser tak berujung.

HuffPost juga membuka pintu bagi ribuan blogger tanpa bayaran. Akademisi, aktivis, penulis amatir, tokoh politik, selebritas, semua bisa menulis. Model itu dikritik habis-habisan karena dianggap mengeksploitasi tenaga gratis sementara perusahaan menghasilkan uang iklan besar.

Arianna menjualnya sebagai demokratisasi media. Kritikus menyebutnya kapitalisme digital berkedok idealisme. Keduanya mungkin benar sekaligus.

Tahun 2011, AOL membeli Huffington Post dengan nilai sekitar 315 juta dolar AS. Angka yang terasa gila waktu itu. Banyak orang media tradisional mulai panik sungguhan. Situs yang dulu diejek sebagai blog internet ternyata dibeli raksasa teknologi dengan harga fantastis.

Arianna menjadi editor-in-chief Huffington Post Media Group. Foto-fotonya setelah akuisisi memperlihatkan senyum puas yang sangat spesifik; campuran kemenangan, kelelahan, dan sedikit rasa “sudah kubilang”.

Ada detail kecil yang sering luput ketika orang membahas kesuksesan Arianna Huffington. Ia sangat mengerti performa publik. Sangat sadar kamera. Cara duduknya di wawancara, pilihan syal, nada suaranya ketika tertawa, semua terasa dipelajari. Sebagian orang menganggap itu palsu. Saya justru menganggap itu bagian dari kecerdasannya. Banyak anak muda internet sekarang ingin membangun audiens sambil berpura-pura “alami”, padahal hampir semua figur publik besar sebenarnya sedang memainkan karakter versi tertentu dari diri mereka sendiri.

Internet menghukum kepolosan lebih cepat daripada televisi.

Arianna juga mengalami momen yang mengubah arah hidupnya secara fisik. Tahun 2007, ia pingsan karena kelelahan di rumahnya di Los Angeles. Kepalanya membentur meja, dan tulang pipinya retak. Ia kehabisan tidur, kehabisan energi, hidup dalam mode kerja brutal yang dianggap normal di dunia media dan startup.

Ia kemudian menulis buku “Thrive”, berbicara tentang tidur, kesehatan mental, meditasi, dan definisi sukses yang tidak cuma soal uang dan kekuasaan. Banyak orang sinis melihat transformasi itu sebagai rebranding baru. Mungkin ada unsur itu juga. Dunia self-help modern sering terasa seperti industri daur ulang burnout.

Tetap saja, ada sesuatu yang menarik ketika seseorang yang berhasil menaklukkan mesin internet justru mulai bicara tentang tidur. Karena internet modern dibangun oleh orang-orang yang kurang tidur.

BuzzFeed kemudian membeli HuffPost dari Verizon pada 2020 dalam transaksi saham. Lucu juga kalau dipikir-pikir. Jonah Peretti, orang yang ikut membantu melahirkan HuffPost, akhirnya membawa situs itu masuk ke kerajaan medianya sendiri. Dunia media digital memang kecil dan saling memakan seperti ikan lapar dalam akuarium sempit.

Banyak media digital besar sekarang terlihat kelelahan. BuzzFeed News ditutup. Vice bangkrut. Iklan digital tidak semewah dulu. Algoritma berubah terus. Platform sosial seperti TikTok dan YouTube menyedot perhatian publik dengan cara yang lebih brutal.

Tetapi jejak Huffington Post tetap terasa di mana-mana. Cara headline ditulis. Cara opini dipaketkan. Cara berita harus bergerak cepat dan emosional agar bertahan hidup di timeline. Banyak media sekarang, sadar atau tidak, memakai DNA yang dulu dianggap “murahan” oleh jurnalisme lama.

Anak-anak muda internet sering terlalu sibuk mencari “ide besar” sampai lupa bahwa banyak kerajaan digital lahir dari kemampuan membaca kebiasaan manusia yang sangat kecil; orang suka marah, suka merasa pintar, suka membuka headline aneh jam dua pagi sambil rebahan.

Arianna Huffington memahami itu lebih cepat daripada banyak orang. Ia juga memahami sesuatu yang lebih tidak nyaman; internet bukan ruang diskusi idealis. Internet adalah pasar perhatian yang bising, melelahkan, kadang norak, kadang sangat cerdas beberapa menit lalu langsung berubah jadi sampah.

Di salah satu wawancara lama, Arianna tertawa besar ketika ditanya bagaimana ia menghadapi kritik media lama terhadap HuffPost. Tawanya keras, sedikit serak, khas orang yang terlalu sering bicara di panel televisi. Tipe tawa yang terdengar seperti seseorang yang sudah lama berhenti meminta izin.

Related

Tokoh 6681003227770781161

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item