Emas Selundupan dan Melemahnya Mata Uang Jepang yang Misterius

Ilustrasi/kompas.com
Bau logam tidak pernah muncul di laporan ekonomi. Padahal kadang-kadang sejarah ekonomi bisa dimulai dari sesuatu yang sangat fisik; sebatang emas seberat satu kilogram yang dingin di tangan, dibungkus rapi, dibawa melintasi bandara Narita, Kansai, atau Fukuoka, oleh seseorang yang wajahnya begitu biasa sampai tidak menarik perhatian siapa pun.

Di layar Bloomberg, emas adalah grafik. Di ruang pemeriksaan bea cukai, emas adalah benda padat yang beratnya terasa nyata di pergelangan tangan.

Beberapa tahun terakhir, Jepang mengalami fenomena yang membuat para ekonom, petugas bea cukai, dan penyelidik kejahatan finansial menggaruk kepala. Data perdagangan menunjukkan ekspor emas melonjak luar biasa. Pada satu periode, ekspor bersih emas Jepang mencapai tingkat tertinggi sejak akhir 1980-an. Jumlahnya ratusan ton.

Ratusan ton. Masalahnya, Jepang bukan negara penghasil emas besar. Tambang-tambang di Prefektur Kagoshima atau Hokkaido tidak tiba-tiba menemukan gunung emas baru. Tidak ada demam emas seperti California abad ke-19. Emas sebanyak itu harus datang dari suatu tempat.

Di sinilah cerita berubah menjadi aneh.

Banyak investigasi mengarah pada satu pola yang berulang. Emas masuk ke Jepang secara ilegal. Emas itu kemudian dijual melalui jalur yang sah. Setelah memperoleh keuntungan, emas diekspor lagi keluar negeri. Siklus tersebut dapat diulang berkali-kali. Skemanya hampir terasa terlalu sederhana untuk menjadi kejahatan bernilai miliaran yen.

Jepang mengenakan pajak konsumsi sebesar 10 persen pada berbagai transaksi domestik. Dalam kondisi normal, pajak itu masuk ke kas negara. Ketika emas diselundupkan tanpa membayar kewajiban impor yang seharusnya, lalu dijual di pasar domestik, muncul celah yang dapat dimanfaatkan. Perbedaan perlakuan pajak dan mekanisme pengembalian pajak menciptakan peluang keuntungan yang sangat besar bagi jaringan yang cukup terorganisasi.

Tidak perlu teknologi futuristis. Tidak perlu kecerdasan buatan. Tidak perlu peretasan sistem komputer. Cukup emas, dokumen, perbatasan, dan kesabaran.

Kejahatan finansial sering dibayangkan sebagai sesuatu yang canggih. Orang membayangkan ruangan gelap penuh monitor atau server rahasia di negara asing. Realitasnya sering jauh lebih membosankan. Banyak skema besar lahir dari detail administrasi yang tidak diperhatikan sebagian besar orang. Satu kolom dalam formulir. Satu aturan perpajakan. Satu celah prosedur. Selesai.

Pemerintah Jepang sudah lama menyadari masalah ini. Kepolisian, bea cukai, dan otoritas pajak berkali-kali membongkar jaringan penyelundupan emas yang melibatkan kelompok kriminal domestik maupun internasional. Beberapa kasus bahkan melibatkan organisasi yang memiliki hubungan dengan sindikat kejahatan terorganisasi.

Angka-angka sering membuat kita lupa bahwa ada manusia di balik semua itu. Bayangkan seorang petugas bea cukai berdiri selama berjam-jam di bandara Haneda. Ribuan penumpang lewat setiap hari. Wajah-wajah lelah. Koper hitam. Paspor. Anak kecil menangis. Pengusaha terburu-buru mengejar penerbangan lanjutan.

Di tengah keramaian itu, seseorang mungkin sedang membawa beberapa kilogram emas yang nilainya miliaran rupiah. Emas tidak berteriak. Emas tidak berkedip. Emas hanya diam. Sebatang emas seukuran ponsel bisa bernilai lebih mahal daripada sebuah mobil keluarga.

Cerita emas ini jadi lebih menarik ketika ditempatkan di atas panggung yang lebih besar; pelemahan yen.

Beberapa tahun terakhir, nilai tukar yen terhadap dolar Amerika mengalami penurunan yang cukup dramatis. Orang Jepang yang dulu terbiasa melihat yen sebagai simbol stabilitas tiba-tiba harus menghadapi kenyataan yang tidak menyenangkan. Liburan ke luar negeri jadi lebih mahal. Energi impor jadi lebih mahal. Bahan baku jadi lebih mahal.

Tidak semua warga memperhatikan grafik nilai tukar. Mereka memperhatikan harga telur. Mereka memperhatikan harga minyak goreng. Mereka memperhatikan tagihan listrik. Di lingkungan Nerima, Setagaya, atau Yokohama, pelemahan mata uang tidak hadir sebagai konsep ekonomi. Ia hadir sebagai angka baru di label harga supermarket.

Ketika Bank of Japan dan Kementerian Keuangan melakukan intervensi besar-besaran untuk mendukung yen, jumlah uang yang digunakan mencapai puluhan miliar dolar. Angka sebesar itu hampir sulit dibayangkan. Nilainya jauh melampaui anggaran tahunan banyak negara berkembang.

Pasar keuangan hanya mengangkat bahu. Yen sempat menguat. Kemudian melemah lagi.

Pemandangan tersebut mengandung sesuatu yang nyaris tragis. Negara dengan ekonomi terbesar keempat di dunia mengerahkan sumber daya raksasa untuk mempertahankan nilai mata uangnya, sementara pasar global bergerak menurut logikanya sendiri.

Ekonom biasanya menjelaskan fenomena itu dengan bahasa teknis. Selisih suku bunga. Arus modal. Yield obligasi. Kebijakan moneter.

Semua penjelasan itu benar. Tetapi ada sesuatu yang terasa ganjil ketika kehidupan jutaan orang berubah hanya karena investor di New York, London, Singapura, atau Hong Kong memindahkan uang mereka dari satu aset ke aset lain.

Seorang pensiunan di Osaka tidak ikut rapat Federal Reserve. Seorang pegawai toko di Sapporo tidak menentukan tingkat suku bunga Amerika Serikat. Mereka tetap menerima akibatnya.

Kisah emas selundupan jadi menarik karena ia memperlihatkan lapisan lain dari sistem yang sama. Sebagian orang melihat pelemahan mata uang sebagai masalah. Sebagian lain melihatnya sebagai peluang.

Setiap kali sistem memiliki retakan kecil, selalu ada orang yang mencoba memasukkan tangannya ke dalam retakan tersebut. Bukan hanya di Jepang. Di mana pun.

Sejarah ekonomi penuh dengan manusia-manusia semacam itu. Pedagang yang memanfaatkan embargo. Bankir yang memanfaatkan perbedaan regulasi. Spekulan yang memanfaatkan kepanikan. Penyelundup yang memanfaatkan perbedaan harga antarnegara.

Mereka jarang muncul di buku pelajaran. Padahal sering kali merekalah yang pertama kali menyadari bahwa sebuah sistem sedang mengalami tekanan.

Saat membaca kisah penyelundupan emas Jepang, saya justru tidak terlalu terkejut oleh para penyelundupnya. Selama ada keuntungan, orang akan selalu mencari jalan memutar. Bagian yang lebih menarik adalah betapa rapuhnya sesuatu yang tampak sangat kokoh.

Yen pernah dianggap salah satu mata uang terkuat di dunia. Jepang pernah dianggap mesin ekonomi yang nyaris tak terkalahkan. Bursa saham Tokyo pernah begitu dominan sehingga, pada akhir 1980-an, nilai tanah di sekitar Istana Kekaisaran Tokyo konon diperkirakan lebih tinggi daripada seluruh nilai tanah di California.

Kini orang memperdebatkan arus keluar emas, pelemahan mata uang, dan populasi yang terus menua. Tidak ada alarm besar yang berbunyi ketika sebuah negara mulai berubah. Perubahannya datang dalam bentuk yang jauh lebih membosankan. Sebuah angka di laporan perdagangan. Grafik nilai tukar. Petugas bea cukai yang membuka koper. Sebatang emas yang berpindah tangan.

Kereta terakhir baru saja meninggalkan Stasiun Ueno. Lampu-lampu kantor masih menyala di Marunouchi. Di suatu tempat, seseorang sedang menghitung keuntungan dari transaksi yang tidak akan pernah muncul dalam pidato resmi pemerintah.

Sebatang emas lain sedang bergerak menuju bandara.

Related

Internasional 4238015483625570520

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item