Manusia Punya Kemampuan Regenerasi Seperti Axolotl, Katanya

Ilustrasi/rri.co.id
Di sebuah laboratorium di Kyoto University, seekor axolotl albino diletakkan di dalam akuarium bening dengan lampu putih yang terlalu terang. Kulitnya pucat seperti daging ayam mentah. Insangnya merah muda, menjuntai seperti ranting kecil yang lembek. Hewan itu tampak malas, hampir bodoh. Sulit percaya makhluk seperti itu menyimpan salah satu kemampuan biologis paling gila di planet ini; kakinya dipotong, tumbuh lagi. Rahangnya rusak, pulih lagi. Sebagian otaknya diambil, tumbuh lagi. Jantungnya dilukai, baik lagi.

Manusia melihat makhluk seperti itu dengan campuran iri dan lapar.

Lalu muncul unggahan media sosial yang menyebar cepat; manusia sebenarnya punya kemampuan regenerasi seperti axolotl. Kalimat semacam itu selalu laku. Orang membagikannya dengan semangat yang hampir religius. Tubuh manusia diam-diam dianggap mesin ajaib yang “dikunci” oleh sesuatu—gen, evolusi, perusahaan farmasi, entah apa lagi. Tinggal ditemukan tombol rahasianya, lalu tangan buntung bisa tumbuh lagi seperti ekor cicak.

Masalahnya, ilmu biologi tidak bekerja seperti trailer film Marvel.

Manusia memang punya kemampuan regenerasi. Itu fakta. Kulit kita terus berganti. Sel darah merah mati dan diperbarui. Hati manusia bahkan terkenal sangat regeneratif; sebagian jaringan hati bisa tumbuh kembali setelah operasi. Ujung jari anak kecil kadang dapat pulih jika terpotong pada bagian tertentu. Lapisan usus diperbarui terus-menerus. Rambut tumbuh lagi setelah dicukur. Luka menutup.

Tetapi kemampuan itu sangat berbeda dari axolotl.

Axolotl bukan sekadar “hewan yang bisa sembuh”. Ia melakukan regenerasi tingkat tinggi yang disebut epimorphic regeneration. Ketika kakinya putus, tubuhnya membentuk blastema; kumpulan sel yang kembali ke keadaan mirip sel embrio, lalu membangun ulang anggota tubuh lengkap—tulang, otot, pembuluh darah, saraf, kulit—dengan posisi yang tepat. Bukan sekadar tambalan jaringan.

Manusia hampir tidak bisa melakukan itu.

Kalau tangan manusia putus di bawah siku, tubuh tidak berkata, “Baik, mari kita bangun ulang.” Tubuh justru panik. Peradangan datang. Jaringan parut dibentuk secepat mungkin. Prioritas tubuh manusia adalah menutup luka agar tidak mati karena infeksi atau kehilangan darah. Evolusi memilih kecepatan bertahan hidup, bukan kesempurnaan estetis.

Jaringan parut adalah kompromi biologis yang brutal. Cepat, jelek, efektif.

Axolotl bermain dengan aturan berbeda. Sistem imunnya lebih lunak terhadap regenerasi. Respons peradangannya tidak seagresif manusia. Sel-selnya lebih mudah “mundur” ke kondisi awal lalu membangun ulang struktur kompleks. Peneliti di Harvard, University College London, sampai Max Planck Institute, sudah puluhan tahun membedah mekanisme itu seperti orang mencoba membuka brankas.

Kadang hasilnya terasa seperti adegan horor medis.

Di laboratorium, kaki axolotl diamputasi berkali-kali untuk melihat batas regenerasinya. Pisau bedah kecil, cairan antiseptik, bau tipis lateks sarung tangan. Hewan itu tetap hidup. Kakinya tetap tumbuh lagi.

Manusia menyaksikan semua itu sambil diam-diam berpikir; kenapa kita tidak bisa?

Jawaban pendeknya menyakitkan; karena evolusi tidak peduli pada keinginan manusia untuk menjadi utuh lagi.

Evolusi bukan insinyur bijak. Ia tukang tambal yang bekerja asal organisme cukup hidup untuk bereproduksi. Kalau manusia bisa bertahan hidup dengan jaringan parut, evolusi tidak punya alasan kuat mempertahankan regenerasi ekstrem yang rumit dan mahal secara energi.

Beberapa ilmuwan menduga nenek moyang vertebrata sebenarnya memiliki kemampuan regenerasi lebih besar, lalu sebagian garis evolusi—termasuk mamalia—kehilangan kemampuan itu sedikit demi sedikit. Mamalia memilih jalur lain; metabolisme tinggi, otak besar, sistem imun agresif, kehamilan kompleks. Semua itu datang dengan harga.

Tubuh manusia sangat paranoid terhadap kanker. Itu salah satu detail yang jarang dibahas di media sosial.

Regenerasi ekstrem membutuhkan sel yang mampu membelah cepat dan berubah fungsi dengan fleksibel. Masalahnya, perilaku seperti itu juga mirip kanker. Tubuh mamalia tampaknya memilih sistem keamanan ketat; lebih baik kehilangan lengan daripada membiarkan sel liar tumbuh tanpa kendali.

Ada semacam ketegangan biologis di sana. Axolotl bisa santai dengan regenerasi karena metabolisme dan sistem tubuhnya berbeda. Manusia membawa otak rakus energi seberat 1,3 kilogram di kepala. Kita tidak dibangun untuk bermain aman sekaligus regeneratif.

Tetap saja, manusia modern sulit menerima keterbatasan tubuhnya sendiri. Industri bioteknologi sekarang nyaris terdengar seperti alkimia versi Silicon Valley. Peneliti berbicara tentang stem cell, CRISPR, bioengineering, tissue scaffolding. Investor berdasi mahal di San Francisco membiayai startup umur panjang sambil minum kopi oat milk delapan dolar.

Nama-nama seperti Michael Levin dari Tufts University mulai sering muncul. Levin meneliti bioelektrik dan regenerasi tubuh dengan eksperimen yang kadang terasa seperti science fiction murahan dari VHS tahun 1980-an. Katak ditumbuhkan matanya di tempat aneh. Pola listrik sel diubah untuk memicu pertumbuhan jaringan.

Sebagian hasilnya benar-benar penting. Sebagian lagi terdengar terlalu dibesar-besarkan oleh media populer yang haus klik.

Masalah besar internet modern; semua penelitian awal diperlakukan seperti mukjizat yang tinggal menunggu dua tahun lagi sebelum masuk rumah sakit. Orang membaca headline lalu membayangkan veteran perang Irak akan menumbuhkan tangan baru dalam dekade ini.

Padahal kenyataannya jauh lebih lambat, lebih frustratif, lebih membosankan.

Laboratorium penuh kegagalan kecil yang tidak viral.

Cawan petri gagal. Tikus mati. Kultur sel terkontaminasi jamur. Pendanaan dipotong. Doktoral habis bertahun-tahun hanya untuk memahami satu protein sialan yang ternyata efeknya kecil sekali.

Media sosial tidak suka ritme seperti itu.

Media sosial menyukai kalimat pendek yang membuat orang merasa hidup di ambang revolusi besar. “Manusia sebenarnya bisa regenerasi seperti axolotl.” Kalimat itu terdengar menggairahkan karena memberi harapan diam-diam; tubuh kita belum selesai. Masih ada mode tersembunyi.

Padahal tubuh manusia justru penuh keterbatasan yang menyedihkan. Tulang rawan lutut sulit pulih. Saraf tulang belakang rusak bisa menyebabkan kelumpuhan permanen. Sel otot jantung yang mati setelah serangan jantung sebagian besar diganti jaringan parut, bukan jaringan baru yang sempurna.

Neurosurgeon di ruang operasi tahu betapa rapuhnya manusia. Sedikit saja salah sentuh pada jaringan otak, hidup seseorang bisa berubah total. Seorang pria bisa lupa nama anaknya sendiri hanya karena area kecil di temporal lobe rusak.

Axolotl tidak menulis puisi, tidak membangun kota, tidak membuat teleskop James Webb. Tetapi ia bisa melakukan sesuatu yang manusia tidak mampu; memperbaiki dirinya sendiri tanpa drama eksistensial.

Ironis juga.

Tubuh manusia sebenarnya masih menyimpan jejak kemampuan regenerasi lama. Embrio manusia pada tahap awal bisa menyembuhkan luka tanpa jaringan parut. Anak kecil punya kapasitas pemulihan lebih tinggi dibanding orang tua. Hati tetap luar biasa regeneratif. Peneliti mencoba memahami sakelar molekuler yang aktif dan nonaktif sepanjang perkembangan tubuh manusia.

Ilmu tentang regenerasi sekarang bergerak cepat, meski tidak secepat unggahan TikTok yang memelintirnya jadi fantasi biologis.

Beberapa laboratorium mencoba mencetak organ dengan bioprinter 3D. Peneliti di Wake Forest Institute pernah menumbuhkan jaringan kandung kemih untuk pasien tertentu. Organ mini, disebut organoid, kini ditumbuhkan dari stem cell di laboratorium. Potongan kecil otak, retina, usus.

Kadang foto-fotonya membuat mata agak pedih melihatnya. Gumpalan jaringan merah muda di cawan petri, hidup tapi belum benar-benar menjadi “makhluk”. Seperti sesuatu yang belum selesai diputuskan alam.

Lalu internet datang dengan kesimpulan ngawur; manusia akan segera seperti Wolverine.

Tidak. Belum.

Mungkin juga tidak pernah sepenuhnya.

Ada sesuatu yang sedikit tragis dalam obsesi manusia terhadap regenerasi. Orang tidak cuma ingin sembuh. Orang ingin kembali utuh. Tentara yang kehilangan kaki di Fallujah. Buruh pabrik yang jarinya hilang di mesin press. Anak kecil korban ledakan petasan. Tubuh cacat membuat manusia sadar bahwa daging kita tidak seistimewa yang dibayangkan.

Di Xochimilco, kanal-kanal dekat Mexico City tempat axolotl berasal, airnya sekarang kotor dan tercemar. Populasi liar axolotl runtuh drastis akibat urbanisasi dan ikan invasif seperti nila dan carp. Hewan yang dipelajari seluruh dunia demi rahasia regenerasi justru hampir musnah di habitat aslinya.

Akuarium laboratorium penuh axolotl hasil pembiakan. Ribuan. Mungkin jutaan.

Mereka berenang lambat di bawah cahaya neon sambil membawa sesuatu yang manusia inginkan sejak lama; kesempatan kedua untuk tubuh yang rusak.

Seorang peneliti memegang kaki kecil axolotl dengan pinset tipis. Sarung tangannya berbau alkohol medis. Di layar monitor, sel-sel blastema mulai terbentuk lagi.

Related

Tubuh Manusia 278265537269587705

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item