Rakyat Terlibat Perang di Ukraina, Pejabatnya Membeli Super-Yacht
https://www.belajarsampaimati.com/2026/06/rakyat-terlibat-perang-di-ukraina.html
![]() |
| Ilustrasi/aljazeera.com |
Ada sesuatu yang membuat darah lebih cepat mengalir ketika membaca kabar semacam ini. Seorang pria bersembunyi di parit berlumpur dekat Bakhmut. Suhu di bawah nol. Jari-jari membeku di dalam sarung tangan. Drone berdengung di atas kepala seperti nyamuk mekanis yang membawa kematian. Sementara ribuan kilometer dari sana, seseorang berdiri di dek kapal pesiar sepanjang 90 meter, memandangi Laut Mediterania sambil memegang gelas kristal.
Dua gambar itu terlalu sempurna. Terlalu rapi. Karena itulah orang langsung mempercayainya.
Ada klaim yang beredar di media sosial, berasal dari Stephen Kuhn, seorang aktivis politik Amerika. Ia mengatakan bahwa daftar tunggu pembelian super-yacht selama empat tahun ke depan dipenuhi pejabat Ukraina dan keluarga mereka. Ratusan juta dolar mengalir ke industri kapal pesiar mewah, sementara warga Barat membayar bantuan perang dan warga Ukraina dikirim ke garis depan peperangan.
Kalimat itu bekerja seperti bensin yang disiramkan ke api. Masalahnya, dunia nyata jarang serapi itu.
Ketika saya membaca tuduhan seperti itu, hal pertama yang muncul bukan kemarahan. Justru rasa curiga. Bukan curiga kepada Ukraina. Curiga kepada cerita yang terlalu pas dengan emosi pembacanya.
Perang selalu menghasilkan pasar bagi cerita semacam itu. Perang Irak melahirkan cerita tentang kontraktor pertahanan yang menjadi miliarder. Perang Afghanistan menghasilkan laporan tentang korupsi yang membuat sebagian bantuan internasional menguap sebelum mencapai desa-desa yang membutuhkan. Selama perang Vietnam, muncul kisah pejabat yang hidup nyaman jauh dari garis depan, sementara anak-anak kelas pekerja dikirim bertempur.
Cerita semacam itu hampir selalu menemukan pendengarnya, karena mengandung sesuatu yang memang nyata; perang memang sering menjadi ladang korupsi. Masalahnya, kenyataan dan fantasi biasanya bercampur seperti kopi dan ampas.
Ukraina sendiri bukan negara yang memiliki reputasi bersih sebelum perang. Bahkan sebelum invasi Rusia tahun 2022, lembaga-lembaga internasional berkali-kali menyoroti masalah korupsi di negara tersebut. Sejumlah pejabat Ukraina telah dicopot selama masa perang karena kasus penyalahgunaan anggaran, pengadaan militer, dan berbagai skandal lainnya.
Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, beberapa kali melakukan perombakan pejabat tinggi justru karena tekanan soal korupsi. Fakta itu penting. Fakta itu juga berbeda dari tuduhan tentang ratusan super-yacht.
Di situlah media sosial menjadi tempat yang aneh. Orang sering menganggap dua hal yang berbeda sebagai satu paket utuh. "Korupsi pernah terjadi" berubah menjadi "semua tuduhan pasti benar". Padahal tidak begitu cara kerja kenyataan.
Super-yacht adalah simbol yang hampir terlalu sempurna untuk zaman kita. Kapal-kapal seperti milik Roman Abramovich atau para miliarder Timur Tengah bukan sekadar kendaraan laut. Kapal-kapal itu adalah kota terapung. Kolam renang. Helipad. Bioskop pribadi. Ruang pijat. Semuanya ada di sana. Kadang ada kapal pendukung terpisah hanya untuk membawa jet ski dan mainan laut lainnya.
Harga sebuah super-yacht bisa mencapai ratusan juta dolar. Biaya operasional tahunannya saja dapat menelan puluhan juta. Jadi ketika orang mendengar kata "super-yacht", mereka tidak sedang membayangkan kekayaan. Mereka sedang membayangkan ketimpangan.
Mungkin karena itu tuduhan tersebut begitu mudah menyebar. Otak manusia menyukai simbol. Super-yacht jauh lebih kuat sebagai simbol dibanding rekening bank di negara suaka pajak. Mata bisa membayangkan kapal. Tapi tidak bisa membayangkan angka dalam spreadsheet.
Ada detail lain yang menarik. Sebagian besar orang yang membagikan cerita semacam itu sebenarnya tidak terlalu peduli pada industri kapal pesiar. Mereka juga tidak terlalu peduli pada Ukraina. Yang mereka pedulikan adalah rasa muak terhadap elite. Elite politik. Elite bisnis. Elite global. Apa pun namanya.
Jika besok muncul kabar bahwa pejabat Rusia membeli pulau pribadi di Karibia, banyak orang akan langsung percaya. Jika lusa muncul kabar bahwa pejabat Eropa berpesta di Monaco saat rakyat menghadapi inflasi, banyak orang juga akan percaya.
Tingkat kepercayaan publik terhadap elite sedang berada pada titik yang rapuh. Sangat rapuh. Mungkin lebih rapuh daripada yang disadari banyak pemerintah.
Perang memperbesar semuanya. Korupsi kecil terlihat seperti korupsi raksasa. Kesalahan administratif terlihat seperti konspirasi. Rumor berubah menjadi berita. Berita berubah menjadi keyakinan.
Saya teringat foto-foto dari kota Pokrovsk di Ukraina timur. Gedung apartemen berlubang akibat serangan. Jendela pecah. Debu menempel di dinding. Seorang perempuan tua duduk di bangku plastik sambil memegang kantong belanja.
Foto-foto seperti itu terasa berat di mata. Bukan karena dramatis. Justru karena biasa. Karena perang modern sebagian besar terdiri dari orang-orang biasa yang mencoba bertahan hidup di tengah sesuatu yang tidak mereka pilih.
Sementara itu, di internet, perang berubah menjadi pertandingan narasi. Setiap kubu memiliki influencer. Setiap kubu memiliki statistik. Setiap kubu memiliki video pendek yang dirancang untuk membuat penonton marah dalam waktu lima belas detik.
Klaim tentang super-yacht masuk sempurna ke dalam ekosistem tersebut. Ia tidak perlu sepenuhnya benar. Ia hanya perlu cukup meyakinkan. Cukup untuk dibagikan. Cukup untuk membuat seseorang mengangguk sambil berkata, "Nah, kan."
Ironisnya, perang sering menghasilkan dua jenis kebutaan sekaligus. Kelompok pertama menolak percaya bahwa korupsi mungkin terjadi karena mereka mendukung salah satu pihak. Kelompok kedua percaya semua tuduhan tanpa meminta bukti karena mereka membenci pihak yang sama.
Keduanya berhenti melihat manusia. Yang satu melihat pahlawan tanpa cela. Yang satu melihat penjahat tanpa pengecualian.
Padahal perang selalu dipenuhi manusia yang jauh lebih membingungkan daripada itu. Pejabat yang korup bisa hidup berdampingan dengan tentara yang berani. Bantuan kemanusiaan yang tulus bisa bercampur dengan penyelewengan dana. Pengorbanan yang nyata bisa berjalan bersamaan dengan kemunafikan yang nyata. Sejarah penuh dengan kombinasi yang tidak nyaman semacam itu.
Menjelang malam di Odessa, lampu-lampu pelabuhan menyala di tepi Laut Hitam. Jauh di laut, kapal-kapal dagang bergerak perlahan. Tidak terlihat super-yacht dari sana. Tidak terlihat pula perang informasi yang setiap hari memenuhi layar ponsel. Hanya air gelap. Hanya cahaya yang bergoyang pelan.
Di internet, seseorang sedang mengetik ulang cerita tentang kapal pesiar mewah. Di Ukraina, seseorang sedang menggali parit.

.png)

