Seorang Anak Jadi Korban Bullying, Pelaku Ternyata Ibunya Sendiri
https://www.belajarsampaimati.com/2026/06/seorang-anak-jadi-korban-bullying.html
![]() |
| Ilustrasi/kompas.com |
Kengerian dalam kasus ini tidak dimulai ketika polisi menemukan pelaku cyberbullying. Kengerian itu muncul beberapa detik setelah identitas pelaku terungkap.
Seorang siswi SMA di Michigan selama lebih dari setahun menerima pesan-pesan yang menghina, merendahkan, mengganggu, dan membuat hidupnya tidak tenang. Ia mengeluh kepada ibunya. Ia mencari perlindungan kepada orang yang secara biologis, sosial, dan emosional, seharusnya menjadi tempat paling aman. Ia menceritakan kecemasannya. Ia menunjukkan pesan-pesan yang membuatnya takut. Ia mungkin bertanya siapa yang tega melakukan itu.
Sang ibu mendengarkan. Menenangkan. Memberi dukungan. Sang ibu pula yang mengirim pesan-pesan tersebut.
Nama perempuan itu adalah Kendra Gail Licari. Usianya 42 tahun. Ia tinggal di Mount Pleasant, sebuah kota kecil di Isabella County, Michigan. Populasi di sana tidak sampai 25.000 jiwa. Ia bukan sosok anonim yang hidup terasing dari masyarakat. Ia pelatih basket di sekolah putrinya. Ia terlibat dalam kehidupan komunitas. Orang mengenalnya.
Mungkin itulah yang membuat kasus ini terasa lebih mengganggu dibanding banyak kasus kriminal lain yang secara objektif lebih kejam.
Otak manusia relatif siap menerima keberadaan monster. Kita mengerti bahwa penculik bisa menculik. Penipu bisa menipu. Perampok bisa merampok. Struktur mental kita memiliki laci khusus untuk orang-orang semacam itu.
Kasus Kendra terasa berbeda, karena ia menghancurkan kategori yang biasanya dianggap stabil. "Ibu".
Kata itu sendiri membawa banyak asumsi. Perlindungan. Dukungan. Tempat pulang. Tidak semua ibu memang baik, tentu saja. Sejarah manusia penuh dengan orang tua yang kasar dan merusak anaknya. Namun bahkan dalam kasus-kasus kekerasan domestik yang berat sekalipun, pelaku biasanya tidak menjalankan permainan psikologis yang begitu rumit dan panjang.
Menurut penyelidikan, Kendra menggunakan nomor telepon berbeda, identitas palsu, dan bahkan VPN, untuk menyembunyikan jejak digitalnya. Polisi menemukan ratusan pesan teks dan lebih dari seribu halaman bukti. Selama berbulan-bulan ia menciptakan ilusi bahwa seseorang di luar sana sedang mengincar putrinya.
Bagian yang membuat saya terus memikirkan kasus ini bukan isi pesan-pesannya. Kita sudah tahu bentuk umum cyberbullying. Hinaan. Pelecehan. Ancaman. Upaya mempermalukan korban.
Yang mengganggu adalah ritual hariannya.
Coba pikirkan kehidupan sehari-hari perempuan ini. Ia bangun pagi. Ia mungkin membuat sarapan. Ia mungkin mengantar anak ke sekolah. Ia menjalani pekerjaan sebagai pelatih basket. Pada suatu waktu di sela-sela aktivitas normal itu, ia membuka ponsel dan mengirim pesan yang dirancang untuk melukai anaknya sendiri.
Beberapa jam kemudian sang anak pulang dengan wajah cemas. Anak itu mungkin berkata, "Bu, dia mengirim pesan lagi."
Kendra mendengarkan. Kendra berpura-pura tidak tahu. Sulit menemukan kata yang tepat untuk menjelaskan bentuk pengkhianatan semacam itu.
Media sering menggambarkan cyberbullying sebagai masalah teknologi. Masalah internet. Masalah media sosial. Masalah anonimitas digital. Kasus ini memperlihatkan bahwa teknologi hanya alat. Luka sebenarnya berasal dari tempat lain.
VPN tidak membuat seseorang ingin menyiksa anaknya. Akun palsu tidak menciptakan kebutuhan untuk mempermainkan emosi orang lain. Perangkat lunak tidak melahirkan dorongan untuk menjadi penyelamat sekaligus penyerang dalam kehidupan orang yang sama.
Ketika jaksa wilayah Isabella County, David Barberi, berbicara kepada media, ia menyebut kemungkinan adanya kondisi yang disebut cyber-Munchausen. Istilah itu belum seformal atau sejelas diagnosis psikiatri yang mapan, tetapi idenya berasal dari gangguan factitious disorder atau yang populer dikenal sebagai sindrom Munchausen.
Pada bentuk klasiknya, seseorang berpura-pura sakit demi memperoleh perhatian, simpati, atau kepedulian dari lingkungan sekitar. Dalam bentuk yang lebih ekstrem, seseorang bahkan bisa membuat orang lain sakit agar dirinya memperoleh posisi sebagai penyelamat.
Logika psikologis di balik perilaku tersebut terasa asing bagi kebanyakan orang. Sebagian besar manusia mencari kasih sayang secara langsung. Mereka meminta perhatian. Mereka menunjukkan prestasi. Mereka bercerita tentang kesulitan hidup.
Individu tertentu menempuh jalur yang jauh lebih gelap. Mereka menciptakan krisis terlebih dulu. Setelah krisis muncul, mereka hadir sebagai penolong.
Jika dugaan tersebut benar dalam kasus Kendra, gambaran yang muncul sangat suram. Putrinya tidak hanya menjadi korban kebencian anonim. Ia dijadikan proyek psikologis. Sebuah panggung tempat sang ibu dapat memainkan dua peran sekaligus. Pelaku. Penyelamat. Keduanya dijalankan oleh orang yang sama.
Saya sering memperhatikan bahwa banyak pembahasan tentang hubungan orang tua dan anak terlalu romantis. Kita menyukai cerita tentang pengorbanan ibu. Kita menyukai kisah keluarga harmonis. Kita membangun banyak narasi budaya yang menganggap cinta orang tua sebagai sesuatu yang otomatis hadir dan otomatis sehat.
Fakta lapangan lebih berantakan. Sebagian orang tua mencintai anaknya dengan cara yang sehat. Sebagian mencintai anaknya dengan cara yang posesif. Sebagian mencintai anaknya sebagai perpanjangan ego. Sebagian tidak benar-benar melihat anak sebagai individu yang berdiri sendiri.
Kasus seperti ini memaksa kita melihat kemungkinan yang tidak nyaman: seseorang dapat sangat dekat secara biologis sekaligus sangat jauh secara emosional. Hubungan darah ternyata tidak memberi jaminan apa pun terhadap kualitas relasi manusia.
Penyelidikan mengungkap bahwa putri Kendra bahkan sempat mencurigai teman-teman sekolahnya sebagai pelaku. Detail kecil itu terasa menyedihkan. Selama berbulan-bulan, seorang remaja berusaha memahami dunia sosialnya. Ia mencoba mencari siapa yang membencinya. Ia memeriksa lingkaran pertemanannya. Ia mungkin memandang teman tertentu dengan rasa curiga. Mungkin ada hubungan yang retak akibat kecurigaan tersebut.
Pelakunya sedang duduk di rumah yang sama. Satu lantai. Satu atap. Mungkin hanya dipisahkan beberapa meter dinding.
Teknologi modern menciptakan bentuk-bentuk kebrutalan yang sebelumnya sulit dibayangkan. Dulu, untuk meneror seseorang secara anonim selama setahun, dibutuhkan usaha besar. Surat harus ditulis. Telepon harus dilakukan secara langsung. Risiko ketahuan jauh lebih tinggi.
Kini seseorang dapat melakukan pelecehan psikologis sambil duduk di sofa ruang keluarga. Sambil memegang secangkir kopi. Sambil menonton televisi. Sambil sesekali bertanya kepada korban apakah semuanya baik-baik saja.
Kasus ini sering diberitakan sebagai cerita kriminal yang aneh. Saya kira label "aneh" justru membuatnya terlalu mudah dicerna. Keanehan memberi jarak aman. Keanehan membuat orang berpikir bahwa kasus tersebut berada di luar pengalaman manusia normal. Saya tidak melihatnya demikian.
Kasus ini berbicara tentang sesuatu yang lebih dekat dan lebih tua daripada internet: kebutuhan sebagian manusia untuk mengendalikan orang lain. Kebutuhan untuk menjadi pusat gravitasi emosional dalam kehidupan seseorang. Kebutuhan untuk membuat orang bergantung. Internet hanya memberi alat yang lebih canggih.
Laporan-laporan berita biasanya berhenti pada proses hukum. Dakwaan. Persidangan. Ancaman hukuman penjara. Semua itu penting. Pikiran saya justru berhenti pada satu adegan yang tidak pernah direkam.
Seorang remaja perempuan duduk di kamar tidurnya pada malam hari. Cahaya layar ponsel menerangi wajahnya. Pesan baru masuk. Kata-kata kasar kembali muncul. Jantungnya berdegup lebih cepat. Ia merasa sendirian. Ia merasa seseorang di luar sana membencinya.
Di ruangan lain, tidak terlalu jauh, ibunya mungkin sedang menunggu balasan.


