Kaskus, Forum Internet Indonesia yang Pernah Jadi Raksasa Dunia

Ilustrasi/tempo.co
Sebuah forum internet dari Indonesia pernah membuat raksasa teknologi dunia datang mengetuk pintunya. Kalimat itu terdengar aneh sekarang.

Generasi yang tumbuh bersama TikTok, Instagram, YouTube, dan Discord, mungkin sulit membayangkan bahwa pada satu masa, salah satu pusat kehidupan internet Indonesia bukanlah aplikasi video pendek, bukan media sosial global, tetapi sebuah forum dengan tampilan yang bahkan pada masanya sudah terlihat berantakan. Latar putih. Thread panjang. Avatar kecil. Tulisan berwarna-warni. Jual beli, politik, sepak bola, kisah mistis, komputer rakitan, batu akik, hingga teori konspirasi, bercampur dalam satu ekosistem raksasa bernama Kaskus.

Bau internet Indonesia tahun 2000-an nyaris bisa dicium dari sana.

Kaskus lahir jauh dari Jakarta. Jauh dari kawasan Sudirman. Jauh dari kantor-kantor startup yang sekarang memenuhi SCBD. Pada 1999, tiga mahasiswa Indonesia di Seattle—Andrew Darwis, Ronald Stephanus, dan Budi Dharmawan—membangunnya sebagai tempat berkumpul mahasiswa Indonesia di luar negeri.

Tidak ada yang tampak revolusioner pada tahap itu. Internet penuh forum. Mahasiswa penuh ide. Sebagian besar lenyap tanpa jejak. Yang tidak biasa adalah pertumbuhan berikutnya.

Kaskus berkembang seperti kota liar yang dibangun tanpa arsitek. Orang datang karena ingin berdiskusi. Orang lain datang karena ingin berjualan. Sebagian datang karena ingin membaca gosip. Sebagian datang karena ingin berdebat soal spesifikasi prosesor AMD dan Intel selama puluhan halaman.

Ketika internet Indonesia masih relatif kecil, Kaskus berhasil menjadi semacam alun-alun nasional digital. Seseorang di Makassar bisa berbicara dengan seseorang di Medan. Penggemar kamera di Bandung bisa berdiskusi dengan kolektor pisau lipat di Surabaya. Thread bisa hidup berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun.

Kata-kata khas Kaskus muncul dan menyebar ke seluruh negeri: agan, pertamax, cendol, bata.

Banyak orang yang hari ini bekerja sebagai profesional berusia empat puluhan masih bisa mengingat suara modem, layar CRT, dan kebiasaan membuka Kaskus sebelum membuka situs lain.

Jumlah pengunjungnya pernah begitu besar hingga media internasional memperhatikannya. Di masa jayanya, Kaskus bukan sekadar forum terbesar Indonesia. Ia termasuk forum terbesar di dunia.

Lalu muncul cerita yang terus beredar selama bertahun-tahun: Google pernah tertarik membeli Kaskus.

Cerita itu bukan legenda yang sepenuhnya dibuat-buat. Andrew Darwis memang pernah mengungkapkan bahwa ada pendekatan dari Google pada masa lalu, meskipun detail resmi transaksi yang diusulkan tidak pernah dipublikasikan secara lengkap ke publik. Karena itu, banyak angka yang beredar di internet sebenarnya lebih dekat ke rumor daripada fakta yang bisa diverifikasi secara pasti.

Orang sering terjebak pada pertanyaan apakah keputusan menolak itu benar atau salah. Saya justru tertarik pada suasana psikologis di balik keputusan semacam itu.

Bayangkan posisi Andrew Darwis saat itu. Kamu membangun sesuatu dari nol. Menghabiskan malam di depan monitor. Menyaksikan komunitas tumbuh sedikit demi sedikit. Melihat forum yang awalnya hanya tempat berkumpul mahasiswa berubah menjadi fenomena nasional. Lalu perusahaan bernama Google datang.

Hari ini nama Google terdengar seperti gunung yang selalu ada di cakrawala. Pada pertengahan 2000-an, Google memang sudah besar, tetapi belum menjadi kerajaan digital yang menguasai begitu banyak aspek kehidupan manusia seperti sekarang. Menjual Kaskus mungkin terasa seperti menyerahkan anak sendiri. 

Banyak pendiri perusahaan mengalami dilema serupa. Mereka tidak sekadar menghitung angka. Mereka menghitung identitas. Kaskus bukan pabrik tekstil. Kaskus bukan gudang logistik. Kaskus adalah komunitas. Masalahnya, komunitas digital sering memiliki siklus hidup yang kejam. Sangat kejam.

Yahoo pernah tampak abadi. Friendster pernah tampak abadi. MySpace pernah tampak abadi. Masing-masing akhirnya menemukan bahwa internet memiliki selera yang berubah lebih cepat daripada manusia.

Kaskus mengalami sesuatu yang menarik sekaligus menyedihkan. Mereka tidak benar-benar kalah karena kesalahan fatal tunggal. Mereka berhadapan dengan perubahan lanskap yang hampir mustahil dihentikan.

Forum bergantung pada kesabaran, media sosial bergantung pada impuls. Forum meminta orang membaca, media sosial meminta orang menggulir. Forum menghargai percakapan panjang, media sosial menghargai kecepatan. Dunia bergerak ke arah yang kedua.

Ketika Facebook mulai populer di Indonesia, sebagian energi internet berpindah ke sana. Ketika Twitter meledak, sebagian lagi ikut berpindah. Instagram datang membawa foto. YouTube membawa video. TikTok membawa video yang lebih pendek lagi. Kaskus tetap berdiri, tetapi arus manusia perlahan berubah arah.

Fenomena itu membuat saya memikirkan sesuatu yang jarang dibahas ketika orang membicarakan perusahaan teknologi.

Banyak orang mengira teknologi berkembang karena teknologi yang lebih baik selalu menang. Kenyataannya lebih rumit. Kadang teknologi yang lebih cocok dengan perilaku manusia yang menang.

Forum mungkin lebih baik untuk diskusi mendalam. Media sosial lebih cocok untuk kebiasaan manusia modern yang terburu-buru. Keduanya bukan hal yang sama.

Coba buka thread-thread lama Kaskus yang masih tersisa. Beberapa terasa seperti kapsul waktu. Orang berbagi pengalaman membeli motor. Orang mengulas kamera secara rinci. Orang bertukar pengalaman merakit komputer dengan daftar komponen yang sekarang sudah menjadi artefak sejarah digital.

Membaca thread semacam itu memberikan sensasi yang berbeda dibanding membaca media sosial modern. Mata bergerak lebih lambat. Otak bekerja sedikit lebih keras. Percakapan terasa memiliki berat. Berat yang kadang melelahkan, tetapi juga memberi ruang untuk berpikir.

Media sosial modern bergerak seperti banjir. Kaskus bergerak seperti pasar. Pasar memang ramai, tetapi orang masih bisa berhenti di satu lapak cukup lama.

Hal lain yang menarik adalah bagaimana Kaskus sebenarnya berhasil melahirkan banyak hal yang kemudian dianggap biasa. Forum Jual Beli atau FJB pernah menjadi salah satu pasar daring terbesar di Indonesia sebelum e-commerce modern mendominasi. Orang membeli ponsel, komputer, sepeda, kamera, bahkan hewan peliharaan melalui Kaskus.

Tingkat kepercayaan dibangun melalui reputasi pengguna. Melalui testimoni. Melalui cendol. Sistem yang terdengar primitif sekarang pernah menggerakkan transaksi dalam jumlah luar biasa. Saya kadang merasa Kaskus terkena kutukan yang sering menimpa pelopor.

Pelopor membuka jalan. Orang lain datang membawa jalan tol. Ketika Tokopedia, Bukalapak, Shopee, Facebook, Instagram, dan platform-platform lain berkembang, sebagian fungsi yang dulu terkumpul dalam satu tempat mulai tercerai-berai.

Diskusi pindah ke satu aplikasi. Jual beli pindah ke aplikasi lain. Video pindah ke tempat lain lagi. Komunitas pecah menjadi ribuan pulau kecil. Internet Indonesia menjadi jauh lebih besar sekaligus lebih terfragmentasi.

Aneh rasanya membayangkan bahwa dulu jutaan orang berkumpul di satu alamat yang sama. Kaskus.com. Cukup mengetik alamat itu, dan hampir seluruh spektrum internet Indonesia bisa ditemukan.

Hari ini alamat tersebut masih ada. Masih hidup. Masih bernapas. Hanya saja suasananya berbeda. Seperti berjalan ke sebuah pusat perbelanjaan yang dulu begitu padat hingga orang harus berdesakan, lalu mendapati koridornya jauh lebih lengang. Beberapa toko masih buka. Lampu masih menyala. Penjaga masih berjaga.

Di salah satu sudut internet, mungkin masih ada seseorang yang baru saja membuat thread. Mungkin seseorang lain membalasnya beberapa menit kemudian. Mungkin ada yang memberi cendol. Mungkin juga tidak.

Di layar monitor, penghitung jumlah balasan bertambah satu.

Related

Internet 1698821218347168421

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item