Abdullah Harahap, Penulis Horor Produktif yang Hit di Era ’80-an

Ilustrasi/idwriters.com
Abdullah Harahap menulis horor dengan keseriusan yang sering tidak diberikan oleh sejarah sastra Indonesia kepadanya. Namanya hari ini lebih sering ditemukan pada sampul-sampul kusam di toko buku bekas daripada dalam silabus kampus. Kertasnya sudah menguning. Sudut-sudut bukunya tertekuk. Kadang sampulnya menampilkan wajah perempuan yang ketakutan, kuburan yang diselimuti kabut, tengkorak, rumah tua, atau sosok misterius yang berdiri di bawah pohon. Banyak pembaca generasi 1970-an, 1980-an, dan awal 1990-an mengenal rasa takut justru melalui buku-buku semacam itu.

Anehnya, ketika nama Abdullah Harahap muncul dalam pembicaraan sekarang, orang sering salah mengingatnya sebagai penulis detektif atau thriller. Kekeliruan itu bisa dimengerti karena pasar bacaan populer Indonesia pada masa itu memang penuh persilangan genre. Tetapi inti reputasi Abdullah Harahap justru berada pada dunia horor. Ia termasuk arsitek horor populer Indonesia, dan salah satu penulis yang membantu membentuk imajinasi pembaca mengenai hantu, kutukan, arwah penasaran, santet, makam keramat, dan wilayah-wilayah gelap yang hidup di antara kepercayaan rakyat dan hiburan massa.

Latar hidupnya sendiri tidak seterkenal karya-karyanya. Ia berasal dari Sumatra Utara dan memiliki akar Mandailing. Banyak informasi biografis mengenai dirinya tersebar secara tidak lengkap, sesuatu yang sering terjadi pada penulis populer Indonesia generasi lama. Arsip sastra Indonesia jauh lebih rajin mendokumentasikan penyair, novelis serius, atau tokoh politik dibanding penulis bacaan massa. Ironis. Jutaan orang membaca buku-buku Abdullah Harahap, tetapi jejak administrasi hidupnya sering lebih kabur daripada jejak tokoh yang pembacanya jauh lebih sedikit.

Kehidupan kepenulisannya berkembang pada masa ketika Indonesia memiliki ekosistem membaca yang hari ini hampir terasa asing. Persewaan buku menjamur. Di kota-kota kecil, kios buku berdiri dekat terminal bus, pasar, stasiun kereta, atau pusat pertokoan. Rak-rak kayu dipenuhi novel saku. Harga buku murah. Orang bisa menyewa beberapa hari dengan uang yang bahkan tidak cukup untuk membeli secangkir kopi di masa sekarang. Dalam lingkungan seperti itulah Abdullah Harahap menemukan pembacanya.

Kita sering membayangkan horor Indonesia sebagai produk film. Kenyataannya, jauh sebelum film horor memenuhi bioskop, dunia horor sudah berkembang subur dalam bentuk bacaan populer. Pembaca menghabiskan malam bersama cerita tentang rumah angker, mayat hidup, ilmu hitam, pemanggilan arwah, atau dendam yang melampaui kematian. Cahaya lampu pijar kuning menerangi halaman-halaman buku yang dicetak di kertas murah. Angin malam bergerak melalui ventilasi rumah. Seekor cicak berbunyi dari langit-langit. Sensasi membaca horor pada masa itu memiliki tekstur fisik yang berbeda.

Abdullah Harahap memahami satu hal penting: horor bukan terutama soal hantu. Horor adalah soal menunggu. Menunggu suara langkah di lorong. Menunggu pintu terbuka. Menunggu sesuatu muncul.

Ia memiliki kemampuan menjaga ketegangan dalam tempo yang panjang. Banyak penulis bisa menciptakan kejutan. Tidak banyak yang bisa mempertahankan rasa cemas selama puluhan halaman tanpa membuat pembaca lelah. Dalam banyak novelnya, ancaman sering muncul perlahan. Pembaca diajak memasuki suasana terlebih dahulu. Desa terpencil. Rumah warisan yang lama kosong. Kuburan tua. Pohon besar yang menjadi pusat desas-desus penduduk setempat. Struktur seperti itu berulang, tetapi pembaca tetap datang kembali.

Daftar karya Abdullah Harahap sangat panjang dan sebagian sulit direkonstruksi secara lengkap karena banyak diterbitkan oleh penerbit-penerbit yang arsipnya tidak terpelihara dengan baik. Judul-judul seperti Misteri Lemari Antik, Dendam Berkarat dalam Kubur, Lukisan Berlumur Darah, Manusia Penuntut Balas, Dendam di Balik Kubur, Misteri Kalung Setan, Pengantin Iblis, dan berbagai variasi tema sejenis, menjadi bagian dari lanskap bacaan populer Indonesia selama bertahun-tahun. Sebagian pembaca lama bahkan mengingat sampulnya lebih jelas daripada isi ceritanya.

Sampul memang memiliki peran penting dalam dunia Abdullah Harahap. Penerbit-penerbit populer masa itu memahami psikologi pasar. Ilustrasi dibuat mencolok. Warna merah, hitam, hijau tua, atau kuning menyala sering mendominasi. Tengkorak, mata merah, makam, atau wajah ketakutan menjadi elemen visual yang hampir wajib. Buku-buku itu tampak mencolok ketika berjajar di rak kios. Pembaca bisa merasakan genre buku hanya dengan sekali pandang.

Horor Abdullah Harahap tumbuh dari tanah Indonesia sendiri. Ia tidak terlalu bergantung pada vampir Eropa, kastel Gotik Inggris, atau monster Hollywood. Dunia yang dibangunnya dipenuhi unsur-unsur yang akrab bagi pembaca lokal: santet, dukun, pocong, kuntilanak, ilmu hitam, makam keramat, ritual malam Jumat, pohon beringin tua, desa yang menyimpan rahasia. Pembaca tidak perlu membayangkan negeri asing. Teror berlangsung di lingkungan yang terasa dekat. Kedekatan itu yang membuat cerita-ceritanya efektif.

Orang bisa selesai membaca satu novel pada pukul sebelas malam, mematikan lampu, kemudian mulai memperhatikan suara-suara kecil di dalam rumah yang sebelumnya tidak dianggap penting.

Sebagian kritikus sastra memandang bacaan populer semacam itu dengan sikap meremehkan. Sikap itu selalu terasa aneh bagi saya. Menciptakan rasa takut pada jutaan pembaca bukan pekerjaan sederhana. Membuat seseorang terus membalik halaman hingga larut malam memerlukan keterampilan yang nyata. Abdullah Harahap berhasil melakukannya berkali-kali selama puluhan tahun.

Produktivitasnya juga luar biasa. Ia tidak hanya menulis horor. Beberapa karyanya bergerak ke wilayah misteri, kisah kriminal, pengetahuan populer, sejarah tokoh-tokoh dunia, hingga adaptasi berbagai bahan bacaan asing. Namun identitas yang paling melekat tetap horor. Nama Abdullah Harahap dan cerita seram hampir tidak bisa dipisahkan.

Pasar bacaan populer Indonesia sering memperlakukan penulis sebagai pekerja pabrik. Pembaca terus meminta judul baru. Penerbit membutuhkan suplai naskah yang tidak pernah berhenti. Dalam kondisi seperti itu, banyak penulis kehabisan tenaga atau mengulang formula sampai kehilangan daya hidup. Abdullah Harahap tampaknya mampu bertahan cukup lama dalam ritme tersebut. Jumlah karyanya yang mencapai ratusan judul sering disebut oleh berbagai sumber dan pengamat bacaan populer.

Membaca kembali karya-karyanya sekarang menghadirkan pengalaman yang menarik. Sebagian unsur ceritanya terasa berasal dari zamannya sendiri. Dialog-dialognya kadang terdengar kuno. Struktur naratif tertentu mengingatkan pada dunia penerbitan era Orde Baru. Namun energi penceritaannya masih terasa. Instingnya sebagai penghibur tetap bekerja. Ia tahu bagaimana membuat pembaca penasaran mengenai apa yang tersembunyi di balik pintu yang terkunci.

Nasib Abdullah Harahap memperlihatkan paradoks yang cukup keras dalam kebudayaan Indonesia. Penulis yang dibaca oleh jutaan orang sering lebih cepat dilupakan daripada penulis yang dibahas oleh seribu akademisi. Rak-rak buku bekas menjadi museum yang tidak resmi untuk nama-nama seperti dirinya. Kadang sebuah novel Abdullah Harahap muncul di antara tumpukan buku sekolah lama, majalah lawas, dan kamus yang sampulnya sudah lepas. Ketika buku itu diangkat, debu tipis beterbangan. Bau kertas tua naik perlahan.

Nama penulisnya masih tercetak jelas. Abdullah Harahap.

Di bawahnya biasanya ada judul yang terdengar seperti peringatan untuk tidak membaca sendirian pada malam hari.

Related

Tokoh 265474307696805939

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item