Al-Khazini, Mantan Budak yang Menjadi Ilmuwan Besar di Zamannya

Ilustrasi/republika.co.id
Sebuah timbangan berdiri diam di sebuah ruangan di kota Marw. Tidak ada yang heroik pada benda itu. Tidak ada kilatan pedang, tidak ada pasukan berkuda, tidak ada pidato besar. Hanya logam, lengan penyeimbang, pemberat, dan ketelitian yang nyaris obsesif. Namun dari benda semacam itulah Abu al-Fath Abd al-Rahman Mansur al-Khazini mencoba memahami dunia.

Saya selalu merasa Al-Khazini termasuk salah satu tokoh paling kurang dihargai dalam sejarah ilmu pengetahuan Islam. Nama-nama seperti Ibn Sina, Al-Biruni, atau Al-Khwarizmi, masih sering muncul dalam buku populer. Al-Khazini jarang mendapat tempat yang sama, padahal ia bekerja pada persoalan yang sangat mendasar: bagaimana mengukur kenyataan secara tepat.

Kita mengetahui cukup sedikit tentang kehidupan pribadinya. Bahkan asal-usulnya sendiri mengandung lapisan ironi yang menarik. Julukan "al-Khazini" berasal dari kata “khazin”, penjaga gudang atau bendahara. Menurut sumber-sumber klasik, Al-Khazini awalnya merupakan seorang budak asal Yunani atau Bizantium yang dimiliki oleh seorang pejabat Seljuk di Merv. Nama kota itu muncul terus dalam kisah hidupnya.

Marw pada abad ke-11 dan ke-12 bukan kota pinggiran. Kota tersebut merupakan salah satu pusat intelektual terbesar di Asia Tengah. Kafilah dagang melintas. Para astronom melakukan pengamatan langit. Para matematikawan bekerja dengan tabel-tabel angka. Para ulama dan penyair memenuhi majelis-majelis ilmu. Seorang budak muda tumbuh di lingkungan seperti itu.

Nasib hidup manusia kadang bergerak melalui jalur yang aneh. Banyak budak dalam sejarah hilang tanpa meninggalkan jejak. Al-Khazini justru berkembang menjadi salah satu ilmuwan terpenting pada masanya. Sumber-sumber abad pertengahan menggambarkan tuannya menyadari kecerdasannya, lalu memberinya pendidikan yang sangat baik. Pendidikan tersebut mencakup matematika, astronomi, mekanika, dan berbagai cabang ilmu alam.

Perubahan status sosialnya sendiri cukup luar biasa. Dari budak menjadi ilmuwan istana. Perjalanan semacam itu tidak umum bahkan di dunia Islam yang relatif lebih terbuka terhadap mobilitas sosial dibanding banyak masyarakat sezamannya.

Al-Khazini hidup pada masa Kesultanan Seljuk sedang berada dalam fase kuat. Nama yang sering muncul dalam kaitannya adalah Sultan Sanjar, penguasa besar Seljuk yang memerintah wilayah luas dari pusat kekuasaannya di Marw. Dukungan istana memberi Al-Khazini sesuatu yang sangat dibutuhkan oleh ilmuwan: waktu, sumber daya, dan akses terhadap instrumen.

Kita sering membicarakan ilmu pengetahuan seolah-olah hanya soal kecerdasan. Kenyataannya, ilmu pengetahuan juga membutuhkan logam, kayu, ruang kerja, alat ukur, dan uang. Al-Khazini memahami alat ukur dengan cara yang hampir intim.

Karyanya yang paling terkenal adalah Kitab Mizan al-Hikmah atau Buku Neraca Kebijaksanaan. Judulnya terdengar filosofis, tetapi isi buku tersebut sangat teknis. Buku itu selesai ditulis sekitar tahun 1121 M, dan merupakan salah satu karya paling penting dalam sejarah mekanika dan hidrostatika.

Membaca ringkasan isinya kadang terasa mengejutkan. Kita menemukan pembahasan mengenai gravitasi, berat jenis, keseimbangan benda, pengukuran massa, prinsip-prinsip Archimedes, dan rancangan instrumen yang sangat rinci.

Al-Khazini mencintai angka. Ia juga mencintai ketelitian. Dalam Mizan al-Hikmah, ia menjelaskan berbagai jenis timbangan presisi tinggi yang digunakan untuk menentukan berat jenis logam, batu permata, cairan, dan benda-benda lain. Pengukuran berat jenis mungkin terdengar membosankan bagi pembaca modern. Padahal kemampuan membedakan emas asli dari campuran logam lain memiliki nilai ekonomi yang sangat besar.

Pedagang membutuhkan pengukuran akurat. Pengrajin membutuhkan pengukuran akurat. Negara membutuhkan pengukuran akurat. Al-Khazini bekerja di wilayah yang berada di antara sains dan kebutuhan praktis sehari-hari.

Ketika membaca bagian-bagian tertentu dari karyanya, saya membayangkan suasana laboratoriumnya. Cahaya masuk dari jendela sempit. Sebuah bejana berisi air diletakkan di atas meja. Logam diturunkan perlahan ke dalam cairan. Mata mengikuti gerakan jarum timbangan. Napas tertahan sesaat agar tidak mengganggu pengamatan.

Dunia Al-Khazini bukan dunia teori yang melayang bebas. Dunia itu penuh benda-benda yang harus ditimbang.

Karyanya juga memperlihatkan ketertarikan pada persoalan gravitasi. Ia membahas konsep berat sebagai gaya yang berubah, bergantung pada posisi benda terhadap pusat bumi. Itu bukan teori gravitasi dalam pengertian Newtonian, tentu saja. Menyebutnya "penemu gravitasi" akan jadi penyederhanaan yang buruk. Namun uraian-uraiannya menunjukkan upaya serius memahami mengapa benda memiliki berat, dan bagaimana berat itu berperilaku.

Banyak ilmuwan abad pertengahan puas mengutip otoritas lama. Al-Khazini sering memeriksa ulang. Ia menghormati para pendahulu seperti Archimedes, Euclid, dan Al-Biruni, tetapi penghormatan tersebut tidak membuatnya berhenti mengukur sendiri.

Nama Al-Biruni layak disebut di sini. Pengaruh Al-Biruni terhadap Al-Khazini sangat besar. Dalam banyak hal, Al-Khazini melanjutkan tradisi ilmiah yang telah dibangun Al-Biruni: pengukuran presisi, perhatian terhadap data empiris, dan usaha mengurangi kesalahan observasi.

Beberapa halaman Mizan al-Hikmah terasa seperti dialog lintas generasi antara dua ilmuwan yang sama-sama percaya bahwa angka lebih dapat dipercaya daripada retorika.

Karya penting lainnya adalah al-Zij al-Sanjari. Sebuah zij merupakan kumpulan tabel astronomi yang digunakan untuk menghitung posisi benda-benda langit. Judulnya diambil dari nama Sultan Sanjar.

Astronomi pada masa itu bukan sekadar hobi mengamati bintang. Kalender, navigasi, penentuan waktu ibadah, dan berbagai kebutuhan administratif, bergantung pada perhitungan astronomis. Kesalahan kecil bisa menghasilkan konsekuensi praktis yang besar.

Al-Khazini menyusun data astronomi dengan ketelitian yang sama, yang ia gunakan saat bekerja dengan timbangan. Dari bumi ia bergerak ke langit. Dari logam ia bergerak ke planet. Perpindahan semacam itu terasa alami dalam dunia intelektual abad pertengahan.

Satu hal yang sering saya sukai dari Al-Khazini adalah tidak adanya aura "jenius eksentrik" yang biasanya mengelilingi tokoh sejarah populer. Ia tidak meninggalkan kisah dramatis seperti Ibn Firnas yang jatuh saat mencoba terbang. Ia tidak menjadi pusat legenda alkimia seperti Jabir ibn Hayyan. Ia tidak memicu kontroversi teologis sebesar Ibn Sina.

Kita mengenalnya terutama melalui pekerjaan yang sangat teliti. Melalui angka. Melalui alat. Melalui pengukuran. Mungkin karena itu namanya kurang terkenal. Kebanyakan orang lebih mudah mengingat seseorang yang melompat dari menara dibanding seseorang yang menyempurnakan timbangan.

Riwayat hidup Al-Khazini setelah pertengahan abad ke-12 mulai menghilang ke dalam kabut sejarah. Tahun kematiannya sendiri tidak diketahui secara pasti. Sebagian besar sejarawan memperkirakan ia wafat setelah tahun 1130 M.

Yang tersisa adalah manuskrip-manuskripnya. Lembar demi lembar yang membahas massa jenis. Lembar demi lembar yang membahas keseimbangan. Lembar demi lembar yang berusaha mengurangi kesalahan pengukuran sekecil mungkin.

Ketika banyak penulis abad pertengahan berbicara tentang dunia melalui simbol dan alegori, Al-Khazini berkali-kali kembali kepada timbangan.

Sebuah logam diletakkan di satu sisi. Pemberat ditempatkan di sisi lain. Jarum bergerak perlahan. Ia menunggu sampai benar-benar diam.

Related

Tokoh 5842822625522740369

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item