Khaled Mashal di Tengah Pusaran Propaganda Israel dan Palestina

Ilustrasi/terrorism-info.org
Asap perang selalu menghasilkan dua jenis korban. Korban pertama mudah dikenali: tubuh yang tertimbun reruntuhan, anak-anak yang kehilangan rumah, keluarga yang menunggu kabar dari rumah sakit yang listriknya mati. Korban kedua lebih sulit dilihat karena tidak berdarah. Ia hidup dalam ruang informasi. Ia muncul ketika fakta, propaganda, kemarahan, identitas, dan kepentingan politik, bercampur menjadi satu lumpur yang lengket.

Nama Khaled Mashal berdiri tepat di tengah lumpur itu.

Di internet, seseorang dapat menemukan dua sosok Khaled Mashal yang hampir tidak memiliki hubungan satu sama lain. Pada satu versi, ia digambarkan sebagai pejuang Palestina yang menghabiskan hidupnya melawan pendudukan Israel. Pada versi lain, ia tampil sebagai manipulator kaya raya yang hidup nyaman di Doha sambil mengorbankan rakyat Gaza demi kepentingannya sendiri. 

Kedua gambaran itu beredar sangat luas. Keduanya memiliki pendukung yang fanatik. Keduanya sering disampaikan dengan keyakinan mutlak.

Masalah mulai muncul ketika keyakinan menggantikan bukti.

Mashal lahir di Silwad, dekat Ramallah, pada 1956. Ketika Perang Enam Hari meletus tahun 1967 dan Israel menduduki Tepi Barat, keluarganya pindah ke Kuwait. Di negeri minyak itulah ia tumbuh, belajar fisika di Universitas Kuwait, dan mulai aktif dalam gerakan Islam yang kemudian berkembang menjadi Hamas. Riwayat hidupnya tidak berbeda jauh dari banyak tokoh politik Palestina; generasi yang dibentuk oleh pengungsian, perpindahan, dan pengalaman kehilangan tanah air.

Puluhan tahun kemudian, dunia mengenalnya melalui sebuah adegan yang terasa seperti naskah film mata-mata.

Amman, Yordania, September 1997.

Dua agen Mossad mengikuti Mashal di dekat kantor Hamas. Salah satu dari mereka menyemprotkan racun ke telinganya. Operasi tersebut gagal. Para agen tertangkap. Raja Hussein marah besar. Krisis diplomatik meledak. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, terpaksa mengirim penawar racun agar Mashal tidak meninggal.

Peristiwa itu nyata. Kedengarannya tetap tidak masuk akal meskipun sudah berulang kali ditulis dalam buku sejarah. 

Tubuh Mashal selamat. Karier politiknya justru membesar.

Selama bertahun-tahun, ia menjadi salah satu wajah paling dikenal dari Hamas. Ia tinggal di pengasingan, berpindah dari Yordania ke Suriah, lalu ke Qatar. Sementara itu Gaza mengalami blokade, perang berkala, kemiskinan, dan kehancuran yang terus berulang. Kontras visualnya sangat mencolok. Seorang pemimpin organisasi Palestina tinggal di hotel-hotel dan kawasan elite Doha. Banyak warga Gaza hidup di bawah tekanan ekonomi yang luar biasa.

Kontras semacam itu hampir pasti akan memunculkan kecurigaan. Pertanyaan yang muncul cukup sederhana: dari mana uang para pemimpin Hamas berasal?

Di sinilah wilayah yang sering berubah menjadi rawa propaganda.

Memang benar berbagai laporan internasional selama bertahun-tahun menunjukkan bahwa Hamas memiliki sumber dana yang kompleks. Bantuan dari Iran, jaringan donatur, bisnis, investasi, hingga berbagai mekanisme keuangan lain pernah dilaporkan oleh media, lembaga intelijen, dan peneliti Timur Tengah. Struktur pendanaan kelompok bersenjata hampir selalu rumit. IRA di Irlandia, FARC di Kolombia, Hizbullah di Lebanon, semuanya memiliki pola serupa.

Klaim bahwa Khaled Mashal memiliki kekayaan pribadi miliaran dolar sering muncul dalam artikel-artikel politik dan media partisan. Angka-angkanya berubah-ubah secara aneh. Kadang satu miliar. Kadang dua miliar. Kadang lebih. Ketika ditelusuri lebih jauh, sumber perhitungannya sering kabur. Nama analis disebut tanpa metodologi yang jelas. Dokumen keuangan jarang muncul.

Di wilayah konflik, angka sering berubah menjadi senjata.

Banyak orang mengira propaganda selalu berupa kebohongan total. Kenyataannya lebih rumit. Propaganda yang efektif biasanya terdiri atas fakta-fakta nyata yang dicampur dengan asumsi, dugaan, dan interpretasi yang tidak bisa diverifikasi. Hasil akhirnya terasa meyakinkan karena sebagian isinya memang benar.

Mashal memang tinggal di Qatar. Hamas memang menerima dukungan dari Iran. Hamas memang melakukan serangan terhadap Israel. Israel memang melakukan operasi militer yang menewaskan warga sipil Palestina. Seluruh kalimat itu benar.

Kesimpulan yang dibangun di atasnya bisa sangat berbeda, tergantung siapa yang sedang berbicara.

Ruang diskusi publik kemudian berubah jadi pertandingan identitas. Banyak orang berhenti bertanya apakah suatu klaim dapat dibuktikan. Mereka lebih tertarik mengetahui apakah klaim tersebut menguntungkan kubu yang mereka dukung. Mata jadi selektif. Telinga jadi selektif. Kemarahan jadi selektif.

Saya selalu merasa konflik Palestina-Israel menghasilkan salah satu fenomena paling aneh dalam politik modern. Orang-orang yang tinggal ribuan kilometer dari Gaza sering berbicara dengan keyakinan yang lebih absolut daripada mereka yang hidup di sana. Seorang pegawai kantor di Jakarta dapat yakin seratus persen bahwa Hamas adalah penyelamat Palestina. Orang lain di London bisa sama yakinnya bahwa Hamas adalah akar seluruh penderitaan Palestina. Tingkat kepastian keduanya sering berbanding terbalik dengan jumlah informasi yang mereka miliki.

Konflik panjang memiliki kemampuan mengubah manusia menjadi penonton yang memilih tim favorit. Mereka kemudian mencari fakta-fakta yang mendukung pilihan tersebut.

Khaled Mashal sendiri merupakan figur yang sulit dipisahkan dari kenyataan bahwa Hamas melakukan serangan terhadap warga sipil Israel, dan di banyak negara dikategorikan sebagai organisasi teroris. Pada saat yang sama, sebagian rakyat Palestina melihat Hamas sebagai kelompok perlawanan terhadap pendudukan yang telah berlangsung puluhan tahun. Dua pandangan itu hidup berdampingan, saling bertabrakan, dan tidak pernah benar-benar bertemu.

Suara ledakan sering kali lebih sederhana daripada percakapan tentang penyebab ledakan.

Di Doha, gedung-gedung kaca berdiri berkilau di bawah matahari Teluk Persia. Di Gaza, banyak keluarga masih mengukur waktu berdasarkan perang yang satu dan perang berikutnya. Khaled Mashal menghabiskan sebagian besar hidup politiknya jauh dari tanah tempat ia lahir. Banyak pemimpin Palestina lain mengalami hal serupa. Pengasingan menjadi kondisi permanen.

Keadaan itu sendiri sudah melahirkan pertanyaan yang tidak nyaman. Apa yang terjadi ketika pemimpin sebuah perjuangan hidup jauh dari orang-orang yang diperjuangkannya?

Pertanyaan tersebut layak diajukan. Pertanyaan yang sama pernah diajukan kepada banyak pemimpin revolusi, gerakan kemerdekaan, organisasi gerilya, bahkan pemerintahan di pengasingan sepanjang sejarah.

Sebagian menjawabnya dengan integritas. Sebagian lagi tidak.

Di tengah banjir artikel yang saling bertentangan, saya justru lebih tertarik pada hal yang lebih sederhana. Setiap kali membaca klaim besar tentang tokoh seperti Khaled Mashal—entah ia disebut pahlawan suci atau penjahat sempurna—alarm kecil di kepala saya langsung menyala. Manusia nyata hampir tidak pernah sesederhana poster propaganda.

Di layar ponsel, wajah Khaled Mashal tetap muncul. Kadang disertai bendera Palestina. Kadang disertai foto roket. Kadang disertai angka kekayaan fantastis yang belum jelas asal-usulnya. Kadang disertai seruan dukungan. Kadang disertai seruan kebencian.

Jempol terus menggulir layar. Perang informasi berjalan jauh lebih cepat daripada perang yang sesungguhnya.

Related

Internasional 5459137452994817802

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item