Semua Mimpi Terlihat Tak Masuk Akal Sebelum Jadi Kenyataan

Ilustrasi/kompas.com
Ada kalimat-kalimat yang terasa seperti slogan motivasi murahan. Dibaca sekali, disukai, lalu menghilang bersama ratusan kutipan lain yang lewat di layar ponsel. Tapi kalimat yang saya temukan memiliki nasib berbeda. Kalimat itu muncul di media sosial, tanpa penulis yang jelas.

"The entire point of life is to take action on your dreams that seems crazy to most but feel like destiny to you." Inti dari seluruh kehidupan adalah mengambil tindakan terhadap impianmu yang tampak gila bagi kebanyakan orang, tetapi terasa seperti takdir bagimu.

Bagi saya, kekuatan kalimat itu bukan terletak pada kata "mimpi", tapi pada frasa yang lebih mengganggu: tampak gila bagi kebanyakan orang, tetapi terasa seperti takdir bagimu.

Kata "gila" dan "takdir" jarang duduk berdampingan. Yang satu adalah penilaian sosial. Yang lain adalah pengalaman personal. Yang satu datang dari luar. Yang lain tumbuh dari dalam. Ketika keduanya bertabrakan, lahirlah banyak kisah yang kemudian memenuhi buku sejarah. Sebelum berhasil, hampir semuanya terlihat seperti kesalahan.

Kita bisa melihat hal itu pada kisah dua bersaudara pemilik toko sepeda di Dayton, Ohio. Pada awal abad ke-20, Wilbur Wright dan Orville Wright menghabiskan waktu mengutak-atik kayu, kain, baling-baling, dan perhitungan aerodinamika yang membuat sebagian orang mengernyitkan dahi. Dunia saat itu memiliki profesor-profesor teknik ternama. Mereka hanya mekanik sepeda. Ketika koran-koran membahas kemungkinan manusia terbang, banyak yang menganggapnya hiburan intelektual, bukan proyek nyata. Burung memang terbang. Manusia tidak.

Pada 17 Desember 1903 di Kitty Hawk, North Carolina, pesawat mereka akhirnya mengudara selama 12 detik. Dua belas detik terdengar konyol jika dibandingkan dengan penerbangan antarbenua masa kini. Dua belas detik bahkan lebih pendek daripada waktu yang dibutuhkan untuk memanaskan kopi instan. Namun dunia berubah karena dua orang bersikeras mengejar sesuatu yang bagi banyak orang tampak tidak masuk akal.

Kisah seperti itu sering diceritakan setelah berhasil. Bagian yang tidak nyaman biasanya dibuang. Orang suka membaca tentang kemenangan. Orang jarang tertarik pada bertahun-tahun keraguan yang mendahuluinya.

Saya justru tertarik pada bagian yang dibuang itu. Pada malam-malam ketika seseorang mulai mempertanyakan dirinya sendiri. Ketika rekening bank menipis. Ketika keluarga mulai bertanya kapan ia akan berhenti. Ketika teman-temannya sudah membeli rumah sementara ia masih mengejar sesuatu yang bahkan belum memiliki bentuk yang jelas.

Di wilayah itulah kalimat tadi diuji. Karena hampir semua mimpi terlihat masuk akal setelah menjadi kenyataan.

Steve Jobs, yang mendirikan perusahaan teknologi dari garasi, kini dipandang visioner. Padahal tahun 1976, seorang pemuda berambut panjang yang menjual Volkswagen miliknya demi membiayai perusahaan komputer terdengar jauh lebih dekat dengan sosok nekat daripada nabi teknologi. 

J.K. Rowling kini menjadi salah satu penulis paling terkenal di dunia. Sebelum Harry Potter diterbitkan, ia adalah ibu tunggal yang hidup dengan bantuan negara, dan berkali-kali menerima surat penolakan dari penerbit. Jika Rowling mengatakan bahwa dia sedang mengejar impian menjadi penulis terkenal, orang-orang pasti akan mencibir.

Masyarakat memiliki kebiasaan aneh. Mereka mengejek kegagalan yang belum terbukti, lalu mengagumi kegilaan yang berhasil. Polanya hampir selalu sama. Kita hidup di dunia yang memuja hasil, bukan proses.

Seseorang yang bertaruh besar pada impiannya akan disebut berani jika sukses. Orang yang mengambil risiko serupa dan gagal sering disebut ceroboh. Jarak antara dua label itu kadang hanya ditentukan oleh satu kejadian.

Saya tidak sepenuhnya nyaman dengan bagian "terasa seperti takdir". Kata itu berbahaya. Banyak orang menghancurkan hidupnya karena menganggap setiap dorongan emosional sebagai panggilan semesta. Dunia penuh dengan proyek gagal yang dijalankan oleh orang-orang yang sangat yakin terhadap dirinya sendiri.

Masalahnya, hidup juga penuh dengan penyesalan yang berasal dari arah sebaliknya. Mereka yang terlalu lama meminta izin. Mereka yang menunggu kepastian. Mereka yang menghabiskan puluhan tahun menjadi penonton bagi hidupnya sendiri.

Di sinilah kalimat tersebut mulai terasa menarik. Kalimat itu tidak berbicara tentang mempercayai mimpi. Kalimat itu berbicara tentang bertindak atas mimpi. Tindakan adalah bagian yang sering hilang dalam literatur motivasi. Bermimpi itu mudah. Menyusun rencana masih cukup mudah. Membaca buku tentang kesuksesan bahkan lebih mudah lagi.

Mengambil langkah pertama sering terasa seperti mengangkat benda yang terlalu berat.

Tubuh manusia bereaksi aneh terhadap ketidakpastian. Jantung berdetak lebih cepat. Tangan terasa dingin. Pikiran mulai memproduksi skenario kegagalan secara massal. Orang bisa membayangkan seratus cara dirinya gagal sebelum ia bahkan memulai satu langkah.

Saya curiga banyak impian mati bukan karena tidak mungkin diwujudkan, tetapi karena pemiliknya terlalu lama berdiskusi dengan rasa takut.

Ketika orang berbicara tentang keberanian, mereka sering membayangkan tentara yang berlari di medan perang atau petualang yang menyeberangi samudra. Bentuk keberanian yang lebih umum justru jauh lebih membosankan. Mengirim naskah pertama ke penerbit. Membuka usaha kecil di ruko yang bahkan belum tentu didatangi pelanggan. Mengajukan beasiswa ke universitas yang tampak terlalu bergengsi. Pindah ke tempat baru tanpa jaringan sosial yang jelas.

Keberanian sering terlihat sangat biasa dari luar. Karena yang tampak sering kali hanya tubuh yang tetap duduk di kursi. Tangan hanya menekan tombol kirim. Tidak ada musik heroik. Tidak ada tepuk tangan.

Ketika Nelson Mandela masih dipenjara di Pulau Robben, banyak orang menganggap perjuangannya tidak realistis. Rezim apartheid tampak terlalu kuat untuk digoyahkan. Mandela menghabiskan 27 tahun hidupnya di penjara. Dua puluh tujuh tahun. Angka itu sulit dipahami. Sebagian mahasiswa bahkan belum berusia selama itu. Sebagian perusahaan rintisan sudah lahir, berjaya, lalu bangkrut dalam rentang waktu yang lebih pendek.

Impian sering menuntut kesabaran yang tidak romantis. 

Film-film suka mempercepat waktu. Kehidupan nyata tidak. Sebagian besar hari terasa membosankan. Pekerjaan diulang. Kemajuan nyaris tidak terlihat. Orang bangun pagi dan melakukan hal yang sama lagi. Mungkin itulah bagian yang membuat banyak orang menyerah. Mereka mengira takdir akan terasa megah setiap saat.

Kenyataannya jauh lebih berdebu. Seorang penulis menatap layar kosong. Seorang atlet mengulang gerakan yang sama ribuan kali. Seorang ilmuwan menghabiskan bertahun-tahun untuk eksperimen yang gagal. Bentuk luar aktivitas itu tidak selalu tampak seperti perjalanan menuju sesuatu yang besar.

Saya juga berpikir masyarakat sering terlalu cepat menyebut sesuatu "gila". Sebutan itu sering menjadi jalan pintas intelektual. Ketika seseorang berkata "sebuah gagasan mustahil", kadang yang sebenarnya ia maksud adalah, "saya tidak bisa membayangkannya."

Dua kalimat tersebut berbeda jauh.

Orang-orang yang hidup pada tahun 1800-an tidak bisa membayangkan percakapan video lintas benua. Orang-orang yang hidup pada tahun 1950-an tidak membayangkan miliaran manusia membawa komputer di saku mereka. Ketidakmampuan membayangkan sesuatu bukan bukti bahwa hal tersebut tidak mungkin.

Meski begitu, saya juga tidak menyukai kultus mimpi yang berlebihan. Dunia modern kadang memperlakukan setiap hasrat pribadi sebagai misi suci. Tidak semua keinginan layak dikejar. Tidak semua obsesi layak dikorbankan untuknya. Sebagian mimpi memang perlu ditinggalkan. Sebagian ambisi memang lahir dari ego, bukan panggilan yang lebih dalam. Pembedanya sering baru terlihat setelah bertahun-tahun berjalan.

Mungkin itulah sebabnya saya menyukai kalimat tadi. Kalimat itu tidak menjanjikan keberhasilan. Kalimat itu juga tidak mengatakan dunia akan memahami pilihan kita. Ia hanya mengingatkan bahwa hidup jadi sangat sempit ketika seluruh keputusan kita ditentukan oleh penilaian orang lain.

Banyak orang meninggal dalam keadaan aman. Karier aman. Pendapat aman. Pilihan aman. Impian yang aman.

Ketika usia sudah jauh berjalan, sebagian orang mulai menghitung bukan apa yang gagal mereka capai, tetapi apa yang tidak pernah mereka coba sama sekali.

Di meja kerja yang sepi pada larut malam, suara kipas komputer berdengung pelan, mata mulai perih karena terlalu lama menatap layar, kopi di cangkir sudah dingin sejak satu jam lalu. Pada saat-saat seperti itu, pendapat mayoritas terasa sangat jauh. Yang tersisa hanya pertanyaan sederhana: apakah besok pagi pekerjaan ini akan dilanjutkan lagi atau tidak.

Sebagian hidup tampaknya memang bergantung pada jawaban kecil terhadap pertanyaan yang terus datang berulang-ulang.

Related

Hoeda's Note 5149354124743227943

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item