Migrasi Muslim di Eropa, Xenofobia, dan Masa Depan Peradaban Barat
https://www.belajarsampaimati.com/2026/07/migrasi-muslim-di-eropa-xenofobia-dan.html
![]() |
| Ilustrasi/cnbcindonesia.com |
Suara paling keras dalam perdebatan migrasi Eropa sering kali bukan berasal dari parlemen, bukan dari universitas, bahkan bukan dari para migran sendiri. Suara paling keras justru datang dari video berdurasi tiga puluh detik yang direkam dengan ponsel. Catatan ini adalah lanjutan catatan sebelumnya: Dua Penumpang Bertengkar di Bus, Orang-orang Ngamuk di Media Sosial.
Sebuah pertengkaran di dalam bus. Seorang perempuan berhijab. Seorang perempuan Jerman. Kalimat-kalimat tajam. Wajah-wajah tegang. Kamera berguncang sedikit. Cukup. Internet langsung bekerja.
Dalam hitungan menit, video seperti itu berubah menjadi referendum mini tentang masa depan peradaban Barat.
Kelompok pertama berkata: lihat, inilah bukti bahwa migrasi telah gagal. Pendatang datang, menikmati keamanan dan kesejahteraan Eropa, lalu mengeluh tentang budaya negara yang menerima mereka.
Kelompok kedua membalas: lihat, inilah bukti xenofobia yang semakin terbuka. Muslim tidak pernah benar-benar diterima. Mereka selalu dianggap tamu, bahkan setelah bertahun-tahun tinggal di sana.
Kedua kubu biasanya berteriak begitu keras, hingga satu hal yang lebih menarik justru hilang dari perhatian.
Pertengkaran semacam itu semakin sering muncul, karena proyek multikulturalisme Eropa sendiri sedang memasuki masa krisis kepercayaan.
Bukan runtuh. Belum. Krisis kepercayaan. Dua hal berbeda.
Selama puluhan tahun, elite politik Eropa menjual gagasan yang terdengar sangat masuk akal. Dunia semakin terhubung. Manusia dapat hidup berdampingan tanpa terlalu mempersoalkan asal-usul, agama, dan identitas budaya. Pendatang datang. Ekonomi tumbuh. Masyarakat jadi lebih beragam. Semua orang menang.
Masalahnya, kehidupan manusia tidak pernah sesederhana grafik ekonomi. Manusia tidak hanya membutuhkan pekerjaan. Mereka membutuhkan rasa memiliki.
Manusia tidak hanya membutuhkan rumah. Mereka membutuhkan perasaan bahwa tempat itu adalah rumah mereka. Masalah mulai muncul ketika dua kelompok berbeda mengklaim ruang yang sama sebagai rumah, tetapi memiliki gagasan berbeda tentang bagaimana rumah itu seharusnya terlihat.
Lihat beberapa kota di Eropa Barat. Marseille. Malmö. Rotterdam. Brussels. Berlin. Di banyak lingkungan tertentu, seorang pendatang dapat hidup di hampir seluruh hidupnya tanpa benar-benar masuk ke budaya mayoritas. Bahasa asli masih digunakan. Toko-toko melayani komunitas yang sama. Lingkaran sosial berputar di dalam kelompok yang sama.
Banyak akademisi menyebutnya segregasi sosial. Warga lokal sering menyebutnya dengan istilah yang jauh lebih kasar.
Percakapan publik mengenai hal ini sering terasa tidak jujur. Sebagian kalangan progresif terlalu lama berpura-pura bahwa semua kritik terhadap migrasi berasal dari kebencian. Sebagian kelompok kanan terlalu lama berpura-pura bahwa seluruh masalah Eropa berasal dari migran. Kedua posisi itu malas secara intelektual.
Ketika seorang perempuan yang datang ke negara lain mulai menuntut masyarakat setempat mengikuti preferensi agamanya, publik lokal akan marah. Kemarahan itu dapat dipahami.
Ketika warga lokal mulai memandang setiap perempuan berhijab sebagai ancaman budaya, itu juga menghasilkan kebuntuan yang sama.
Seseorang yang pindah ke Jepang lalu marah karena orang Jepang terlalu Jepang, akan dianggap aneh. Seseorang yang pindah ke Arab Saudi lalu marah karena masyarakat terlalu Arab, juga akan dianggap aneh. Logika yang sama berlaku di mana saja. Migrasi selalu mengandung unsur adaptasi.
Kata yang sering hilang adalah adaptasi.
Banyak perdebatan publik sekarang seolah-olah bergerak dari dua ekstrem yang sama-sama tidak realistis. Satu sisi berharap pendatang melebur total hingga nyaris kehilangan identitas asal. Sisi lain berharap masyarakat tuan rumah terus-menerus menyesuaikan diri tanpa batas.
Tidak ada masyarakat dalam sejarah yang benar-benar bekerja seperti itu. Asimilasi total jarang terjadi. Penyesuaian tanpa batas juga tidak pernah bertahan lama.
Saya justru tertarik pada sesuatu yang lebih dalam daripada pertengkaran dalam video tersebut. Perempuan Jerman dalam rekaman itu mengucapkan kalimat yang terdengar kasar: "Kalau tidak suka, pulanglah ke negaramu."
Kalimat semacam itu sudah lama menjadi simbol nasionalisme defensif. Dulu dianggap tabu. Kini semakin sering terdengar. Perubahan itu tidak muncul dari ruang kosong.
Ketika jutaan orang mulai merasa identitas nasional mereka berubah lebih cepat daripada kemampuan mereka untuk memahaminya, reaksi semacam itu muncul dengan sendirinya.
Banyak elite politik Eropa tampak terkejut oleh fenomena ini. Saya justru heran mengapa mereka terkejut. Identitas kolektif adalah salah satu kekuatan paling keras kepala dalam sejarah manusia. Agama runtuh, kerajaan runtuh, ideologi runtuh. Identitas kelompok sering bertahan jauh lebih lama.
Orang dapat menerima pendatang. Orang dapat menerima perbedaan. Orang dapat menerima perubahan. Yang jauh lebih sulit diterima adalah perasaan kehilangan kendali atas perubahan tersebut.
Bagian yang membuat saya gelisah bukan perempuan berhijab dalam video itu. Bukan pula perempuan Jerman yang membalasnya. Keduanya hanyalah gejala. Gejalanya kebetulan sedang duduk di dalam bus. Penyakit yang lebih besar berada di luar bus.
Selama bertahun-tahun, banyak negara Eropa mengimpor tenaga kerja tanpa benar-benar memikirkan integrasi jangka panjang. Mereka membutuhkan pekerja. Mereka tidak terlalu memikirkan seperti apa masyarakat mereka tiga puluh atau empat puluh tahun kemudian.
Tagihan sosial dari keputusan itu sekarang mulai jatuh tempo. Sebagian dibayar dalam bentuk polarisasi politik. Sebagian dibayar dalam bentuk ketidakpercayaan sosial. Sebagian dibayar dalam bentuk video-video pendek yang membuat jutaan orang saling membenci tanpa pernah bertemu.
Saya tidak terlalu tertarik pada siapa yang memenangkan pertengkaran tersebut. Tidak ada yang menang. Perempuan di bus itu pulang membawa kemarahannya. Penonton di internet pulang membawa kemarahan mereka masing-masing.
Algoritma memperoleh jutaan tayangan. Itu satu-satunya pihak yang benar-benar mendapat keuntungan.
Bus terus melaju. Kota tetap bergerak. Komentar terus bertambah. Seseorang mengetik kata "deportasi". Seseorang lain mengetik kata "rasisme". Seorang sopir bus mungkin sedang melihat lampu lalu lintas berubah hijau.


