Tang Ping, Cara Anak Muda China Menghadapi Kehidupan Penuh Stres
https://www.belajarsampaimati.com/2026/07/tang-ping-cara-anak-muda-china.html
![]() |
| Ilustrasi/welcometothejungle.com |
Pukul sembilan malam, lampu di sebuah kantor teknologi di Shenzhen masih menyala terang. Deretan monitor memantulkan cahaya kebiruan ke wajah para programmer yang belum pulang. Di meja kerja ada gelas kopi yang sudah dingin, bungkus makanan cepat saji, kadang kasur lipat kecil yang diselipkan di sudut ruangan.
Beberapa kilometer dari sana, seorang siswa SMA sedang mengerjakan soal matematika tambahan, setelah menyelesaikan les malam. Orang tuanya berharap ia bisa masuk Universitas Tsinghua atau Peking University.
Di apartemen lain, seorang pegawai muda membuka aplikasi media sosial dan membaca postingan tentang "tang ping"—rebahan. Bukan rebahan dalam arti tidur siang. Rebahan sebagai sikap hidup. Rebahan sebagai penolakan diam-diam terhadap perlombaan yang terasa tidak pernah selesai.
Banyak orang di luar China memandang negara itu melalui dua lensa yang sama-sama menyederhanakan. Kelompok pertama melihat gedung pencakar langit Shanghai, jaringan kereta cepat yang menghubungkan ribuan kilometer wilayah, pelabuhan raksasa Ningbo-Zhoushan, pabrik-pabrik modern di Guangdong, dan menyimpulkan bahwa China adalah kisah sukses tanpa cela.
Kelompok kedua melihat sensor internet, kamera pengawas, penangkapan aktivis, dan menyimpulkan bahwa seluruh negeri adalah mesin penindas yang berjalan tanpa hambatan.
Kedua gambaran itu kehilangan sesuatu yang penting; jutaan orang biasa yang hidup di tengah keberhasilan ekonomi luar biasa sekaligus tekanan yang sangat nyata. Kehidupan sehari-hari sering jauh lebih rumit daripada slogan politik atau grafik pertumbuhan ekonomi.
Kecepatan transformasi China sulit dilebih-lebihkan. Pada akhir 1970-an, setelah masa panjang kekacauan politik dan ekonomi, negara itu masih relatif miskin. Reformasi yang dimulai oleh Deng Xiaoping mengubah arah sejarah. Kota-kota seperti Shenzhen yang dulunya cuma kawasan kecil dekat Hong Kong berkembang menjadi megapolitan berpenduduk belasan juta orang.
Ratusan juta orang keluar dari kemiskinan dalam beberapa dekade. Angka-angka itu begitu besar sampai kehilangan makna emosional. Ketika membaca bahwa ratusan juta orang mengalami kenaikan taraf hidup, otak sulit membayangkannya. Kita lebih mudah membayangkan seorang anak yang kini bisa kuliah dibandingkan memahami transformasi masyarakat dalam skala tersebut.
Keberhasilan sebesar itu tidak muncul dari ruang kosong. Negara China modern dibangun dengan obsesi terhadap produktivitas, pendidikan, dan kompetisi. Sejak usia dini, banyak anak tumbuh dalam sistem yang menanamkan satu pesan sederhana; jika tidak berlari lebih cepat, orang lain akan mendahului.
Puncak dari tekanan itu sering muncul dalam gaokao, ujian masuk universitas nasional yang mungkin menjadi salah satu ujian paling menentukan nasib di dunia. Di beberapa kota, polisi menutup jalan agar peserta ujian tidak terganggu kebisingan. Orang tua menunggu berjam-jam di luar lokasi ujian. Industri les privat bernilai miliaran dolar tumbuh di sekeliling sistem tersebut sebelum pemerintah mulai membatasinya beberapa tahun lalu. Seorang remaja di Hangzhou atau Chengdu sering kali hidup dengan jadwal yang membuat banyak pekerja dewasa di negara lain merasa lelah hanya dengan membacanya.
Kritik terhadap tekanan akademik bukan hal baru di China. Media lokal, akademisi, hingga pejabat pemerintah sendiri berkali-kali mengeluhkan beban belajar yang berlebihan. Tingkat miopia pada pelajar jadi begitu tinggi, sehingga pemerintah menjadikannya isu kesehatan publik.
Di beberapa sekolah, siswa belajar dari pagi hingga malam. Tidak semua sekolah seperti itu, tentu saja. China terlalu besar untuk digambarkan dengan satu pola. Tapi tetap saja, cukup banyak pengalaman serupa muncul sehingga menjadi bagian dari percakapan nasional. Ketika sebuah masyarakat menempatkan pendidikan sebagai salah satu jalur utama mobilitas sosial, persaingan mudah berubah jadi perlombaan yang memakan hampir seluruh ruang hidup.
Dunia kerja menghadirkan versi dewasanya. Istilah "996" jadi terkenal karena terdengar absurd sekaligus masuk akal dalam konteks tertentu; bekerja dari pukul sembilan pagi hingga sembilan malam, enam hari seminggu.
Banyak perusahaan teknologi menyangkal bahwa jadwal tersebut diterapkan secara resmi, tetapi laporan dari pekerja menunjukkan bahwa budaya semacam itu memang pernah tersebar luas di sejumlah sektor. Tokoh seperti Jack Ma sempat memuji etos kerja keras tersebut, memicu perdebatan besar di internet China. Para pendukung melihatnya sebagai harga yang harus dibayar untuk pertumbuhan ekonomi dan inovasi. Para pengkritik melihatnya sebagai bentuk eksploitasi yang dibungkus retorika ambisi.
Ada detail yang sering luput dari pembahasan luar negeri. Banyak pekerja muda China tidak marah karena mereka bekerja keras. Mereka marah karena merasa kerja keras tidak lagi menjamin hasil yang dijanjikan.
Harga properti di kota-kota besar melonjak tajam selama bertahun-tahun. Apartemen kecil di Beijing atau Shanghai bisa bernilai setara puluhan tahun gaji pekerja biasa. Persaingan kerja semakin ketat karena jumlah lulusan universitas terus meningkat. Posisi sosial yang dahulu tampak dapat diraih melalui kerja keras kini terasa semakin jauh.
Ketika seseorang bekerja dua belas jam sehari dan tetap merasa masa depannya tidak bergerak, kelelahan berubah bentuk menjadi sinisme.
Dari suasana itulah muncul istilah "tang ping" atau "berbaring datar". Gerakan itu mulai mendapat perhatian luas sekitar 2021 setelah sebuah postingan daring yang ditulis seorang pengguna internet jadi viral. Pesannya sederhana; berhenti ikut perlombaan yang tidak masuk akal. Tidak harus mengejar rumah mahal. Tidak harus berlomba memperoleh status sosial tertentu. Tidak harus mengorbankan seluruh hidup demi target produktivitas.
Tang ping terdengar hampir konyol ketika diterjemahkan secara harfiah. Rebahan. Berbaring datar. Sulit membayangkan slogan politik yang lebih tidak heroik. Justru di situlah kekuatannya. Banyak gerakan sosial menawarkan revolusi. Tang ping menawarkan kelelahan.
Pemerintah China tidak menyukai gagasan tersebut. Media pemerintah mengkritiknya. Sebagian diskusi tentang tang ping dibatasi atau dihapus dari platform daring. Alasannya mudah dipahami. Sebuah negara yang dibangun di atas narasi kerja keras kolektif tentu tidak nyaman dengan filosofi yang mendorong orang mengurangi partisipasi dalam perlombaan ekonomi.
Tang ping bukan ancaman politik dalam arti tradisional. Tidak ada manifesto besar. Tidak ada organisasi revolusioner. Yang muncul adalah sesuatu yang lebih sulit ditangani; penarikan diri secara diam-diam.
Sensor internet memperumit seluruh lanskap itu. Banyak orang di luar China membayangkan sensor sebagai tombol besar yang menutup seluruh percakapan. Kenyataannya lebih rumit dan lebih aneh.
Warga China masih berdebat, mengeluh, bercanda, dan mengkritik banyak hal setiap hari di platform domestik seperti Weibo atau WeChat. Ruang geraknya berubah-ubah. Sebagian topik sangat sensitif. Sebagian lain relatif terbuka. Pengguna internet mengembangkan bahasa kode, permainan kata, meme, dan berbagai cara kreatif untuk menghindari penyensoran. Hubungan antara masyarakat dan sensor sering terasa seperti permainan kejar-kejaran yang tidak pernah selesai.
Hal yang menurut saya paling menarik bukanlah sensor itu sendiri atau budaya kerja itu sendiri. Yang menarik adalah benturan antara keberhasilan ekonomi dan kelelahan psikologis.
Banyak negara bermimpi memiliki pertumbuhan ekonomi seperti China. Banyak keluarga di China menikmati tingkat kemakmuran yang tidak pernah dibayangkan oleh generasi kakek-nenek mereka. Pada saat yang sama, muncul lapisan masyarakat yang merasa hidup mereka berubah jadi rangkaian ujian tanpa akhir; ujian masuk sekolah, ujian masuk universitas, evaluasi kerja, target karier, target pendapatan, target membeli rumah, target menikah, target memiliki anak. Daftar itu terus bertambah.
Seorang pekerja muda di Beijing pernah menggambarkan situasinya dengan kalimat yang sederhana dan agak pahit. Ia mengatakan bahwa ketika masih kecil, semua orang berkata hidup akan lebih mudah setelah masuk universitas. Setelah masuk universitas, orang berkata semuanya akan lebih mudah setelah mendapatkan pekerjaan. Setelah mendapat pekerjaan, muncul target berikutnya. Kalimat itu tidak terdengar revolusioner. Tidak terdengar filosofis. Tidak terdengar seperti slogan gerakan sosial. Justru karena itu ia terasa mengganggu.
Di stasiun kereta bawah tanah Guomao pada jam sibuk, ribuan orang masih bergerak cepat menuju kantor-kantor pencakar langit. Di kampus-kampus terbaik, mahasiswa masih belajar hingga larut malam. Di pusat data, pabrik, laboratorium, dan perusahaan rintisan, mesin pertumbuhan China terus berdengung. Sementara itu seseorang membuka ponsel, membaca satu postingan tentang tang ping, tersenyum tipis, menutup layar, dan membiarkan kereta melaju ke terowongan berikutnya.


