Boko Haram, Masalah yang Lahir dari Hilangnya Harapan Pada Pemerintah
https://www.belajarsampaimati.com/2026/08/boko-haram-masalah-yang-lahir-dari.html
![]() |
| Ilustrasi/thesoufancenter.org |
Bau mesiu dan daging terbakar pernah jadi aroma yang begitu biasa di Maiduguri, sampai orang-orang berhenti menoleh ketika mendengar ledakan.
Kalau kalimat itu terdengar berlebihan, coba lihat foto-foto kota tersebut pada awal 2010-an. Pos pemeriksaan militer di setiap sudut. Truk lapis baja berdebu. Wajah-wajah muda yang terlihat jauh lebih tua dari umur mereka. Di beberapa lingkungan, orang belajar membedakan suara tembakan AK-47 dan senapan mesin berat seperti orang kota lain membedakan suara bus dan sepeda motor.
Nigeria sudah memiliki banyak masalah sebelum Boko Haram muncul. Korupsi, kemiskinan, ketimpangan antara utara dan selatan, politik yang sering lebih sibuk membagi kekuasaan daripada membangun negara. Boko Haram tidak lahir dari ruang kosong. Kelompok itu tumbuh di tanah yang sudah retak.
Nama Boko Haram lebih terkenal daripada nama resminya. Secara resmi, mereka menyebut diri Jama’atu Ahlis Sunna Lidda’awati wal-Jihad. Terlalu panjang. Terlalu rumit. Dunia lebih memilih nama julukan yang diberikan masyarakat setempat; Boko Haram, yang secara kasar sering diterjemahkan sebagai “pendidikan Barat adalah haram”.
Pusat awal gerakan itu berada di Maiduguri, ibu kota Negara Bagian Borno, wilayah panas dan berdebu di timur laut Nigeria yang lebih dekat ke Chad dan Niger daripada ke pusat kekuasaan di Abuja. Pemimpinnya bernama Mohammed Yusuf.
Ada sesuatu yang sering hilang ketika orang membahas tokoh ekstremis. Mereka membayangkan sosok monster sejak lahir. Kenyataannya lebih mengganggu. Yusuf adalah penceramah yang karismatik. Ia mampu menarik ribuan pengikut muda. Banyak di antara mereka bukan fanatik agama sejak awal. Mereka adalah orang-orang yang marah, frustrasi, menganggur, dan hidup di daerah yang nyaris ditinggalkan negara.
Video-video lama Yusuf masih tersedia. Ia berbicara dengan tenang. Tidak berteriak. Tidak terlihat seperti orang yang sedang membangun salah satu kelompok paling mematikan di Afrika. Ketenangan kadang jauh lebih berbahaya daripada kemarahan.
Tahun 2009 menjadi titik patah. Bentrok antara pengikut Boko Haram dan aparat keamanan berkembang menjadi pemberontakan terbuka. Pertempuran pecah di beberapa kota. Ratusan orang tewas. Pasukan Nigeria akhirnya menghancurkan markas kelompok tersebut.
Mohammed Yusuf ditangkap hidup-hidup. Beberapa jam kemudian, ia muncul dalam kondisi tewas. Video jenazahnya beredar luas. Pemerintah mungkin mengira cerita selesai di sana. Justru sebaliknya.
Kematian Yusuf mengubahnya menjadi martir di mata para pengikutnya. Kepemimpinan berpindah ke tangan Abubakar Shekau, sosok yang jauh lebih brutal, jauh lebih tidak terduga, dan tampaknya menikmati teror sebagai pertunjukan.
Shekau memiliki kebiasaan aneh. Ia sering muncul dalam video propaganda sambil tertawa. Bukan tertawa gugup atau tertawa canggung. Tapi tertawa seperti seseorang yang benar-benar menikmati apa yang sedang terjadi.
Pertengahan dekade berikutnya, Boko Haram berubah menjadi mesin pembunuh. Desa-desa dibakar. Masjid dibakar. Gereja dibakar. Pasar dibakar. Bahkan umat Muslim yang menolak mereka ikut dibantai.
Serangan demi serangan membuat angka korban jadi kabur. Sepuluh orang tewas. Lima puluh orang tewas. Seratus orang tewas. Pikiran manusia kesulitan memahami jumlah besar. Angka-angka itu akhirnya terdengar seperti statistik cuaca.
Salah satu yang paling mengerikan terjadi di Baga pada awal 2015. Kota kecil di tepi Danau Chad itu nyaris dihapus dari peta. Rumah-rumah dibakar. Warga melarikan diri ke semak belukar. Organisasi hak asasi manusia memperkirakan jumlah korban mencapai ratusan hingga mungkin lebih dari seribu orang. Tidak ada yang benar-benar tahu.
Mayat terlalu banyak. Kawasan terlalu kacau. Laporan terlalu bertabrakan. Dunia luar tetap lebih mengenal Chibok. Nama sebuah kota kecil yang sebelumnya nyaris tidak dikenal siapa pun.
Sebelumnya, April 2014, truk-truk Boko Haram memasuki sekolah menengah putri pemerintah. Mereka menculik 276 siswi.
Dua ratus tujuh puluh enam. Angka yang cukup besar untuk mengguncang dunia, tetapi cukup kecil untuk memiliki wajah. Foto-foto para siswi itu menyebar ke seluruh planet. Seragam sekolah. Senyum remaja. Mata yang belum sempat melihat banyak hal.
Tagar #BringBackOurGirls muncul di mana-mana. Tokoh dunia ikut berbicara. Michelle Obama mengangkat papan bertuliskan slogan tersebut. Perhatian internasional akhirnya datang. Masalahnya, perhatian tidak selalu menghasilkan solusi.
Sebagian siswi berhasil melarikan diri. Sebagian dibebaskan bertahun-tahun kemudian melalui negosiasi. Sebagian lagi tetap hilang.
Bayangkan menjadi orang tua di Chibok. Sepuluh tahun berlalu. Telepon berdering. Setiap suara perempuan muda mungkin membuat jantung berdebar. Setiap ketukan pintu mungkin terasa berbeda.
Nigeria menghabiskan miliaran dolar untuk perang melawan Boko Haram. Tentara dikerahkan. Jet tempur diterbangkan. Operasi militer diumumkan dengan nama-nama besar dan optimistis. Kenyataannya sering lebih berantakan.
Tentara Nigeria memang berhasil merebut kembali banyak wilayah. Boko Haram kehilangan sebagian besar “kekhalifahan” yang pernah mereka banggakan. Kota-kota yang dulu mereka kuasai kembali berada di bawah pemerintah.
Peta berubah. Kuburan tetap ada. Kamp-kamp pengungsi juga tetap ada.
Sekitar Maiduguri, kamp pengungsian pernah menampung ratusan ribu orang. Tenda putih membentang sejauh mata memandang. Anak-anak bermain di tanah kering yang berubah menjadi lumpur ketika hujan datang.
Saya membaca kesaksian seorang pekerja kemanusiaan yang menggambarkan suara malam di kamp-kamp tersebut. Bayi menangis. Batuk. Orang-orang berbicara pelan. Generator tua berdengung. Suara-suara biasa.
Justru suara biasa itulah yang terasa menyakitkan. Mereka terdengar seperti kehidupan normal yang dipaksa bertahan di tempat yang tidak normal.
Boko Haram sendiri pecah menjadi beberapa faksi. Sebagian bergabung dengan ISIS dan membentuk cabang yang dikenal sebagai Islamic State West Africa Province, atau ISWAP. Persaingan internal bahkan menyebabkan kematian Abubakar Shekau pada 2021. Kematian Shekau tidak mengakhiri krisis.
Banyak orang luar memandang konflik itu sebagai perang agama. Penjelasan itu terlalu malas.
Agama memang bagian dari cerita, tetapi cerita lengkapnya jauh lebih kusut. Kemiskinan ekstrem. Pemerintahan yang gagal hadir. Korupsi yang merajalela. Perbatasan yang sulit dikendalikan. Senjata yang mengalir dari konflik lain. Generasi muda yang tumbuh tanpa pekerjaan dan tanpa harapan yang jelas.
Ketika semua masalah itu menumpuk, ideologi ekstrem masuk seperti api yang menemukan rumput kering.
Nigeria hari ini masih membawa bekas luka tersebut ke mana-mana. Pergi ke Borno, Yobe, atau Adamawa, orang akan menemukan desa yang dibangun ulang. Sekolah yang dibangun ulang. Jalan yang dibangun ulang. Kata “dibangun ulang” muncul terlalu sering.
Seorang anak yang berumur lima tahun, ketika Boko Haram mulai menguasai berita, kini sudah dewasa. Sebagian besar hidupnya berlangsung di bawah bayang-bayang konflik.
Generasi yang lahir saat penculikan Chibok terjadi, sekarang sudah cukup umur untuk masuk universitas. Kalau universitasnya masih berdiri. Kalau keluarganya masih punya uang. Kalau mereka tidak tumbuh di kamp pengungsi. Kalau mereka berhasil melewati semua yang menghantam wilayah itu selama lebih dari satu dekade.
Maiduguri masih berdiri. Pasar-pasar masih buka. Bus masih berangkat dari terminal. Pedagang masih berteriak menawarkan barang. Anak-anak masih bermain sepak bola di jalanan berdebu. Kehidupan selalu punya kebiasaan keras kepala untuk terus berjalan.
Seekor kambing melintas di depan pos militer. Pedagang teh menuangkan minuman panas ke gelas-gelas kecil. Seorang anak laki-laki mengayuh sepeda yang bannya hampir kempis. Di kejauhan, dinding bekas ledakan masih terlihat menghitam.
Catatan terkait: Jean-Paul Marat Ditikam di Bak Mandi, Revolusi Prancis Kian Berdarah


