Seorang Bayi Meninggal karena Dijadikan Konten oleh Perawatnya

Ilustrasi/halodoc.com
Seorang bayi dengan berat 1,5 kilogram lahir ke dunia dalam keadaan rapuh. Tubuh sekecil itu bahkan belum selesai bernegosiasi dengan kehidupan. Kulitnya tipis. Sistem pernapasannya belum matang. Kemampuannya menjaga suhu tubuh sendiri belum sempurna. Dalam dunia neonatologi, bayi seperti itu bukan sekadar bayi kecil. Ia adalah pasien berisiko tinggi. Setiap derajat suhu penting. Setiap menit penting. Setiap prosedur harus dipikirkan dengan hati-hati.

Di tengah kondisi seperti itu, menurut tuduhan keluarga yang kemudian ramai di media sosial, seorang bayi prematur di Tasikmalaya justru dijadikan objek pemotretan dan konten oleh pihak klinik.

Kalau tuduhan tersebut benar, ada sesuatu yang jauh lebih mengganggu daripada sekadar dugaan kelalaian medis.

Ada cara pandang yang sedang berubah di masyarakat kita. Cara pandang yang membuat kamera sering kali tiba lebih dulu daripada nurani.

Kisah ini meledak ke publik melalui unggahan akun Instagram yang mengaku sebagai keluarga korban. Kemarahan dalam tulisan-tulisannya terasa mentah, tidak rapi, penuh huruf kapital, penuh tanda seru yang berlebihan. Banyak orang mungkin menganggapnya terlalu emosional. Saya justru curiga tulisan semacam itu sering kali muncul ketika seseorang sudah melewati titik ketika bahasa yang tenang tidak lagi cukup.

Keluarga menuduh bayi prematur tersebut difoto dan direkam tanpa izin. Mereka juga menuduh pelayanan medis yang buruk sejak proses persalinan. Tuduhan lain yang muncul bahkan lebih serius: bayi dengan berat lahir sekitar 1,5 kilogram itu disebut tidak mendapat penanganan yang semestinya, lalu dipulangkan dalam waktu yang sangat cepat.

Tentu saja tuduhan bukanlah putusan pengadilan. Penyelidikan hukum diperlukan untuk menentukan fakta-fakta yang sebenarnya terjadi. Tetapi bahkan sebelum proses hukum selesai, satu aspek dari cerita ini sudah menampar banyak orang: mengapa sebuah kamera berada begitu dekat dengan bayi yang sedang berjuang hidup?

Pertanyaan itu terasa semakin relevan karena kita hidup di zaman yang aneh. Restoran tidak lagi hanya menjual makanan. Mereka menjual foto makanan. Pantai tidak lagi hanya menjadi tempat menikmati laut. Mereka menjual latar belakang Instagram. Kafe tidak lagi hanya menyajikan kopi. Mereka menjual sudut-sudut yang bisa direkam.

Pernikahan direkam. Pemakaman direkam. Lamaran direkam. Kelahiran direkam. Operasi direkam. Kecelakaan direkam. Kadang-kadang seseorang bahkan belum selesai menolong korban kecelakaan ketika ponsel sudah terangkat.

Dunia modern secara perlahan menciptakan insentif yang sangat aneh. Perhatian menjadi mata uang. Konten menjadi komoditas. Algoritma tidak peduli apakah sesuatu itu sakral atau tidak. Algoritma hanya peduli apakah orang berhenti menggulir layar mereka selama beberapa detik.

Seorang bayi prematur yang sangat kecil memiliki nilai medis. Di mata sebagian orang, bayi yang sama mungkin memiliki nilai konten. Kalimat terakhir itu membuat saya tidak nyaman.

Lebih tidak nyaman lagi karena saya curiga fenomenanya jauh lebih luas daripada satu kasus di Tasikmalaya.

Lihat saja bagaimana rumah sakit, klinik kecantikan, tempat persalinan, hingga praktik dokter gigi sekarang berlomba-lomba membangun kehadiran digital. Sebagian tentu dilakukan secara wajar sebagai bentuk promosi layanan. Masalah muncul ketika batas antara pasien dan bahan pemasaran mulai kabur.

Pasien berubah menjadi materi publikasi. Kesedihan berubah menjadi engagement. Keberhasilan operasi berubah menjadi konten. Bayi baru lahir berubah menjadi materi branding.

Di atas kertas, semuanya terlihat profesional. Musik lembut. Video estetik. Pencahayaan hangat. Sudut kamera yang manis. Yang tidak terlihat adalah pertanyaan sederhana: apakah orang yang direkam benar-benar menjadi prioritas utama saat itu?

Saya terus teringat pada detail berat badan bayi dalam kasus ini: 1,5 kilogram. Cobalah mengambil sekantong gula pasir di dapur. Beratnya kira-kira satu kilogram. Tambahkan setengah kilogram lagi. Itulah kira-kira berat tubuh yang sedang dipersoalkan dalam kasus ini.

Tubuh sekecil itu sedang berusaha bernapas. Sedang berusaha menjaga suhu. Sedang berusaha bertahan.

Di unit NICU rumah sakit besar, bayi-bayi seperti itu sering berada dalam lingkungan yang sangat terkontrol. Suhu dijaga. Cahaya diatur. Kebisingan diminimalkan. Dokter dan perawat memahami bahwa pasien mereka berada pada batas yang sangat tipis antara stabil dan tidak stabil.

Kemudian media sosial datang dengan logikanya sendiri. Semua harus terlihat. Semua harus direkam. Semua harus bisa dipamerkan.

Saya tidak sedang berbicara tentang satu klinik. Saya sedang berbicara tentang penyakit budaya yang lebih luas.

Penyakit itu tidak selalu tampak berbahaya karena sering hadir dalam bentuk yang menyenangkan. Video lucu. Foto manis. Dokumentasi yang tampaknya tidak merugikan siapa pun.

Masalahnya, budaya memiliki kecenderungan menggeser batas sedikit demi sedikit. Hari ini merekam makan siang. Besok merekam pasien. Minggu depan merekam seseorang yang sedang menangis. Tahun depan merekam bayi prematur yang bahkan tidak mampu memberikan persetujuan atas keberadaannya sendiri.

Ketika segala sesuatu dapat dijadikan konten, kemampuan manusia untuk mengatakan "ini seharusnya tidak direkam" mulai melemah. Kata "privasi" kehilangan tenaga. Kata "martabat" terdengar kuno. Kata "etika" dianggap menghambat kreativitas.

Kita memasuki wilayah yang membuat saya semakin gelisah: banyak orang tidak lagi bertanya apakah mereka boleh melakukan sesuatu. Mereka hanya bertanya apakah mereka bisa melakukannya. Perbedaan antara kedua pertanyaan itu besar sekali.

Teknologi selalu memberi manusia kemampuan baru. Kamera yang semakin murah. Penyimpanan yang semakin besar. Platform yang semakin luas. Etika seharusnya menjadi rem. Sayangnya, rem sering kalah menarik dibanding pedal gas.

Dalam laporan yang beredar, keluarga korban mengekspresikan kemarahan luar biasa. Sebagian orang mungkin fokus pada pilihan kata-kata mereka yang keras. Saya justru tertarik pada sumber kemarahan tersebut.

Keluarga tampaknya tidak hanya marah karena kehilangan seorang bayi. Mereka marah karena merasa bayi itu diperlakukan sebagai objek. Objek perawatan yang tidak memadai. Objek dokumentasi. Objek konten. Objek promosi.

Ada perbedaan besar antara seorang pasien dan sebuah objek. Pasien memiliki martabat. Objek memiliki fungsi. Pasien memiliki hak. Objek memiliki kegunaan. Perbedaan itu tampak sederhana sampai seseorang melupakannya.

Saya membayangkan seorang anggota keluarga membuka media sosial dan menemukan foto bayi yang bahkan belum sempat hidup lama. Mata terasa panas. Jantung berdebar tidak teratur. Tangan gemetar memegang ponsel. Rasa marah bercampur dengan rasa kehilangan yang belum sempat diproses.

Sebagian luka lahir karena kematian. Sebagian lain lahir karena cara kematian itu diperlakukan.

Kasus ini pada akhirnya akan ditentukan oleh penyelidikan, bukti medis, saksi, dan proses hukum. Pengadilan memiliki tugas memeriksa fakta-fakta yang sebenarnya terjadi. Itu wilayah yang berbeda.

Yang mengganggu saya justru sesuatu yang lebih besar dan lebih sulit diadili. Kita sedang hidup dalam masa ketika kamera semakin dekat dengan setiap aspek kehidupan manusia. Sementara itu, rasa malu untuk tidak merekam sesuatu semakin tipis.

Bayi baru lahir. Pasien kritis. Orang yang sedang berduka. Korban kecelakaan. Orang yang pingsan di jalan. Kadang saya membuka media sosial, dan menemukan begitu banyak peristiwa yang beberapa tahun lalu mungkin akan dianggap terlalu pribadi untuk dipublikasikan.

Layar menyala. Video diputar. Orang-orang memberi tanda suka. 

Seseorang di balik kamera mungkin sedang menghitung jumlah tayangan.

Related

Indonesia 3365167019371821760

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item