Robert Kiyosaki Berbicara Soal Utang 1 Miliar Dolar di Las Vegas

Ilustrasi/phoenixmag.com
Lampu-lampu kasino di Las Vegas selalu punya cara aneh untuk membuat uang terasa tidak nyata. Angka cuma angka. Nol tinggal ditambah nol. Di kota itu, orang bisa kehilangan rumah dalam semalam sambil tetap tersenyum dan memesan wiski lagi. Di kota yang sama, Robert Kiyosaki membangun sebagian besar mitologinya; uang bukan soal bekerja keras, tapi soal memahami permainan.

Lalu keluar kalimat yang terdengar seperti ancaman sekaligus lelucon mafia, “Jika kamu berutang 20 juta dolar ke bank dan tak bisa membayarnya, kamu punya masalah. Jika kamu berutang 1 miliar dolar dan tak bisa membayarnya, masalahnya ada di bank.”

Kalimat itu sudah beredar sejak lama di dunia finansial. Kadang dikaitkan dengan pengusaha minyak Texas, kadang dengan taipan real estate, kadang dengan bankir Eropa era 1970-an. Kiyosaki cuma menghidupkannya lagi dengan gaya khasnya; senyum santai, nada setengah mengejek, seolah sistem keuangan modern sebenarnya cuma kasino raksasa yang kebetulan memakai jas Armani dan gedung kaca. Lucunya, kalimat itu bukan omong kosong total.

Bank memang takut pada utang kecil yang gagal bayar, tetapi bank jauh lebih takut pada utang raksasa yang gagal bayar. Tahun 2008, dunia melihat bagaimana institusi seperti Lehman Brothers runtuh dan membuat pasar global seperti terkena serangan jantung massal. Orang-orang di New York berdiri di trotoar sambil memegang kardus berisi barang kantor. Dasi masih terpasang. Mata kosong. Kamera televisi merekam semuanya seperti film dokumenter kiamat kapitalisme.

Sementara itu, pemerintah Amerika Serikat menggelontorkan bailout ratusan miliar dolar untuk menyelamatkan bank-bank lain. Bukan karena pemerintah baik hati. Tapi karena kalau bank-bank besar itu jatuh, ATM bisa berhenti bekerja, gaji orang tidak cair, supermarket lumpuh. Sistem keuangan modern terlalu saling terkait. Satu gedung terbakar, seluruh kota mencium asapnya. 

Kiyosaki memahami psikologi itu. Ia bukan ekonom akademis. Ia penjual cerita. Dan ia sangat ahli membaca kecemasan kelas menengah.

Buku Rich Dad Poor Dad laku puluhan juta kopi karena ia mengatakan sesuatu yang diam-diam ingin dipercaya banyak orang; kerja keras saja tidak cukup. Sekolah tidak mengajarkan uang. Orang miskin bekerja demi uang, orang kaya membuat uang bekerja untuk mereka. Kalimat-kalimatnya pendek, agresif, mudah diingat. Hampir terdengar seperti kutipan motivasi yang ditempel di dinding gym.

Kenyataannya lebih berantakan. Kiyosaki berkali-kali tersangkut masalah hukum, gugatan bisnis, utang perusahaan, seminar finansial kontroversial. Pada 2012, perusahaan Rich Global LLC miliknya bangkrut setelah kalah gugatan terhadap The Learning Annex. Banyak kritikus finansial menganggap nasihat investasinya terlalu spekulatif, terlalu glamor, terlalu bergantung pada utang.

Tapi ia justru bangga soal utang. Di wawancara-wawancara terbaru, Kiyosaki sering bicara tentang “good debt”. Utang bagus. Utang produktif. Ia mengklaim memiliki utang lebih dari satu miliar dolar untuk membeli properti dan aset. Nada suaranya hampir terdengar erotis saat membahas leverage. Seolah utang besar bukan beban, tapi steroid finansial.

Sebagian orang mendengar itu dan merasa tercerahkan. Sebagian lain mendengar itu sambil berkeringat dingin.

Coba bayangkan pegawai bank BCA cabang kecil di Tegal atau Semarang yang memeriksa pengajuan KPR pasangan muda dengan gaji gabungan 11 juta rupiah per bulan. Mereka dimintai slip gaji, mutasi rekening, NPWP, BI checking, semua diperiksa seperti interogasi halus. Satu cicilan telat, telepon mulai datang. Dua cicilan telat, nada suara berubah. Tiga cicilan telat, rumah bisa melayang.

Orang kecil harus membuktikan dirinya layak dipercaya. Orang besar hanya cukup terlalu besar untuk dijatuhkan. Itu bagian yang membuat kalimat Kiyosaki terasa pahit. Sistem modern memang sering memperlakukan risiko secara berbeda, tergantung ukuran dompet. Pada 1998, hedge fund raksasa Long-Term Capital Management nyaris menghancurkan pasar finansial global setelah strategi matematis mereka runtuh. Federal Reserve ikut turun tangan mengatur penyelamatan. Bayangkan jika warung nasi goreng bangkrut lalu Bank Indonesia datang membantu.

Malam hari di distrik Canary Wharf, London, lampu kantor bank investasi masih menyala pukul dua pagi. Analis muda tidur sebentar di sofa kantor sementara laptop terbuka. Spreadsheet penuh angka hijau-merah berkedip seperti monitor rumah sakit. Banyak dari mereka belum genap tiga puluh tahun, tetapi sudah mengendalikan transaksi ratusan juta dolar. Dunia finansial modern kadang terasa seperti video game yang dimainkan orang-orang insomnia dengan kokain legal bernama kafein.

Kiyosaki memahami daya tarik psikologis permainan itu. Utang besar menciptakan sensasi kekuasaan. Orang yang meminjam 10 juta dolar diperlakukan berbeda dibanding orang yang meminjam 10 ribu dolar. Semakin besar skala uang, semakin aneh relasi moralnya. Pada level tertentu, utang berhenti terasa personal. Ia berubah jadi instrumen strategis.

Kota-kota modern dibangun di atas utang. Gedung pencakar langit di Jakarta Selatan, jalan tol, startup teknologi bakar uang, bahkan negara-negara. Amerika Serikat bahkan punya utang nasional lebih dari 34 triliun dolar. Jepang lebih gila lagi jika dibandingkan PDB-nya. Sistem global tidak berjalan meski ada utang. Sistem global berjalan karena ada utang.

Saya mereka “aneh” saat benar-benar menyadari kenyataan itu. Kertas uang yang kita pegang, lahir dari janji. Bank menciptakan kredit dari keyakinan bahwa masa depan akan cukup stabil untuk membayar semuanya kembali. Seluruh sistem bertumpu pada kepercayaan kolektif. Sedikit mirip ritual keagamaan modern, cuma altar diganti Bloomberg Terminal.

Kiyosaki suka memainkan ketakutan tentang runtuhnya dolar, inflasi, krisis besar berikutnya. Ia mendorong emas, perak, Bitcoin. Kadang terdengar paranoid. Kadang terdengar masuk akal. Dunia memang sedang bergerak ke arah yang terasa rapuh. Orang bekerja lebih keras tetapi rumah makin sulit dibeli. Generasi muda melihat miliarder terbang dengan jet pribadi, sementara mereka menghitung harga telur di supermarket.

Kalimat tentang utang miliaran dolar terdengar lucu sampai kita sadar banyak konglomerat memang hidup seperti itu. Donald Trump selama puluhan tahun membangun kerajaan properti dengan leverage agresif. Pengusaha China seperti Xu Jiayin dari Evergrande Group membangun imperium raksasa berbasis utang sebelum akhirnya retak dan mengguncang ekonomi China.

Ketika orang miskin gagal bayar, mereka kehilangan rumah. Ketika konglomerat gagal bayar, pemerintah mengadakan rapat darurat.

Pahit di mulut kadang muncul saat membaca berita finansial terlalu lama. Angka-angka jadi absurd. Seribu dolar. Sejuta dolar. Semiliar dolar. Saya pikir, otak manusia sebenarnya tidak dirancang memahami skala sebesar itu. Kita lebih mudah memahami suara motor di gang depan rumah dibanding derivatif senilai 400 miliar dolar.

Mungkin karena itu tokoh seperti Kiyosaki tetap populer. Ia menyederhanakan monster kompleks bernama ekonomi menjadi narasi yang bisa dicerna sambil minum kopi. Musuhnya jelas; sistem sekolah, pekerja kantoran, pajak, bank sentral. Pahlawannya jelas; investor berani, pemilik aset, pengambil risiko.

Padahal sering kali dunia nyata jauh lebih kumal dibanding seminar motivasi hotel bintang lima.

Ada orang yang bangkrut karena terlalu percaya nasihat leverage agresif. Ada keluarga kehilangan rumah karena investasi properti gagal. Ada pria usia lima puluh tahun yang diam-diam menatap tagihan pinjaman online pukul tiga pagi sementara istrinya tidur.

Utang besar memang bisa menjadi senjata. Kadang juga menjadi lubang kubur yang dilapisi marmer mengilap.

Kiyosaki masih tertawa di depan kamera. Masih bicara soal peluang di tengah krisis. Masih terdengar seperti orang yang menikmati kekacauan finansial sebagaimana petinju menikmati aroma darah di ring.

Lampu-lampu kasino Las Vegas tetap menyala. Mesin slot berbunyi nyaring. Seseorang baru saja kalah 8.000 dolar dan masih memesan bourbon lagi.


Related

Peristiwa 9139882498268964980

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item