Brain Death dan Pertanyaan Terbesar dalam Sejarah Manusia

Ilustrasi/medicalnewstoday.com
Tubuh seorang perempuan muda terbaring di sebuah rumah sakit di Los Angeles. Jantungnya masih berdetak. Darah masih mengalir. Kulitnya masih hangat ketika disentuh. Mesin monitor masih memantulkan garis-garis hijau yang bergerak naik turun. 

Jika seseorang masuk ke ruangan itu tanpa penjelasan apa pun, ia akan berkata bahwa pasien tersebut masih hidup. Tapi dokter-dokter di ruangan yang sama berkata sebaliknya. Perempuan itu sudah mati. 

Dua kalimat itu terdengar seperti kesalahan logika. Faktanya, keduanya bisa benar sekaligus.

Selama ribuan tahun, kematian tampak sederhana. Orang berhenti bernapas. Jantung berhenti berdetak. Tubuh jadi dingin. Selesai. Tidak ada filsafat rumit. Tidak ada komite etik. Tidak ada perdebatan hukum. Tidak ada konferensi medis internasional.

Teknologi menghancurkan kesederhanaan itu.

Ketika ventilator modern muncul pada pertengahan abad ke-20, dokter tiba-tiba memiliki kemampuan yang sebelumnya mustahil: menjaga paru-paru tetap bekerja meskipun otak sudah mengalami kerusakan yang sangat parah. Jantung masih bisa berdetak karena oksigen tetap masuk. Ginjal masih menghasilkan urin. Luka masih bisa sembuh. Rambut masih bisa tumbuh.

Dengan bantuan ventilator, seseorang bisa tampak hidup selama berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan. Masalahnya, bagian yang membuat manusia jadi manusia mungkin sudah tidak ada lagi.

Pada 1968, komite Harvard menerbitkan laporan yang mengubah sejarah kedokteran. Mereka memperkenalkan konsep yang kini dikenal sebagai "brain death" atau kematian otak. Gagasan dasarnya mengerikan sekaligus masuk akal: jika seluruh fungsi otak telah hilang secara permanen dan tidak dapat dipulihkan, manusia tersebut dianggap telah mati meskipun jantungnya masih berdetak.

Cobalah berhenti sejenak pada kalimat itu.

Mati. Jantung masih berdetak. Mati. Dada masih naik turun. Mati. Kulit masih hangat. Peradaban manusia tidak pernah dirancang untuk menerima paradoks seperti itu.

Di ruang-ruang tunggu rumah sakit, perdebatan sering berubah menjadi mimpi buruk emosional. Seorang ibu memegang tangan anaknya yang hangat dan menangis ketika dokter menjelaskan bahwa anaknya sudah meninggal. Tangan hangat terasa hidup bagi naluri manusia yang berkembang selama ratusan ribu tahun. Penjelasan neurologis tidak selalu mampu mengalahkan naluri tersebut.

Kasus-kasus seperti itu terjadi setiap hari di berbagai negara. Tubuh manusia ternyata lebih aneh daripada yang dibayangkan.

Setelah kematian otak dinyatakan, banyak fungsi biologis masih dapat berlangsung. Sistem kekebalan masih bekerja untuk sementara waktu. Proses penyembuhan luka masih dapat terjadi. Pencernaan masih dapat berjalan jika nutrisi diberikan. Pada beberapa kasus yang sangat langka dan mengundang kontroversi, perempuan yang mengalami kematian otak bahkan dapat mempertahankan kehamilan selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan hingga bayi cukup matang untuk dilahirkan.

Bayi lahir. Ibunya sudah mati. Bayi lahir dari tubuh yang secara hukum dan medis telah dinyatakan sebagai jenazah.

Saya tidak tahu bagaimana seseorang membaca kalimat itu tanpa sedikit merasa dunia bergeser beberapa milimeter dari tempatnya semula.

Perdebatan jadi lebih liar ketika para filsuf masuk ke arena. Jika manusia mati ketika otaknya mati, bagian otak mana yang sebenarnya penting? Seluruh otak? Batang otak? Kesadaran? Memori? Kepribadian?

Pertanyaan-pertanyaan itu terdengar abstrak sampai seseorang yang kita kenal terbaring di ranjang rumah sakit.

Di Inggris, di Amerika Serikat, di Jepang, di Jerman, tim medis dan ahli etika berdebat selama puluhan tahun mengenai definisi yang tampaknya sederhana: kapan tepatnya manusia berhenti menjadi manusia?

Tidak semua negara bahkan menggunakan standar yang sama. Jepang pernah memiliki resistensi kuat terhadap konsep kematian otak. Sebagian masyarakat merasa jantung yang masih berdetak berarti kehidupan masih ada. Pengaruh budaya, agama, sejarah, dan pengalaman publik terhadap transplantasi organ, bercampur menjadi satu.

Transplantasi organ memperumit semuanya. Fakta yang jarang disadari banyak orang: sebagian besar organ yang digunakan untuk transplantasi terbaik berasal dari donor yang mengalami kematian otak.

Masuk akal secara biologis.

Jika jantung benar-benar berhenti terlalu lama, banyak organ mulai rusak karena kekurangan oksigen. Donor kematian otak memungkinkan jantung tetap memompa darah sehingga ginjal, hati, paru-paru, dan organ lain masih dalam kondisi baik ketika diambil untuk menyelamatkan nyawa orang lain.

Di sinilah ketegangan moral muncul. Dokter harus benar-benar yakin bahwa seseorang memang telah mati sebelum organ diambil. Kesalahan sekecil apa pun tidak dapat diperbaiki. Tekanan emosionalnya luar biasa. Tangan berkeringat. Tenggorokan kering. Lampu ruang operasi yang terang menyilaukan mata. 

Setiap prosedur pemeriksaan neurologis harus dilakukan dengan ketelitian yang hampir obsesif. Refleks pupil. Refleks kornea. Refleks muntah. Respons terhadap nyeri. Tes apnea untuk memastikan tubuh tidak lagi memiliki dorongan bernapas sendiri. Daftar pemeriksaannya panjang karena konsekuensinya terlalu besar. Kematian yang dulu tampak seperti garis kini lebih menyerupai wilayah perbatasan.

Sejarah manusia penuh dengan ketakutan dikubur hidup-hidup. Ketakutan itu tidak sepenuhnya irasional. Pada abad ke-18 dan ke-19, banyak cerita beredar mengenai orang yang diduga meninggal, tetapi ternyata masih hidup. Sebagian kisah mungkin legenda, sebagian lain memiliki dasar fakta. Kedokteran pada masa itu jauh lebih terbatas dalam memastikan kematian.

Ironisnya, teknologi modern yang seharusnya membuat semuanya lebih jelas justru menciptakan teka-teki baru yang lebih rumit.

Kita sekarang mampu menjaga tubuh tetap berjalan ketika otak sudah hancur. Kita mampu menggantikan fungsi paru-paru. Kita mampu menggantikan fungsi ginjal. Kita mampu menopang sirkulasi. Kemampuan memperpanjang proses biologis membuat definisi kematian jadi semakin sulit disentuh.

Peradaban kuno tidak pernah membayangkan situasi seperti itu. Aristoteles tidak pernah membayangkannya. Galen tidak pernah membayangkannya. Ibnu Sina tidak pernah membayangkannya. Para ahli fikih abad pertengahan, yang memperdebatkan nyawa dan kematian, juga tidak pernah membayangkannya.

Mereka hidup dalam dunia ketika kematian dapat dilihat.

Kita hidup dalam dunia ketika kematian harus diinterpretasikan.

Kadang saya membayangkan seorang dokter muda yang baru pertama kali berdiri di samping pasien dengan kematian otak. Monitor berbunyi pelan. Udara ruangan berbau antiseptik. Keluarga pasien berdiri di belakangnya. Jantung pasien masih berdetak stabil pada layar.

Dokter itu tahu pasien telah meninggal.

Keluarga mungkin belum mampu menerima.

Tubuh di hadapan mereka tampak lebih hidup daripada banyak mayat yang pernah dilihat manusia sepanjang sejarah.

Di luar jendela rumah sakit, lalu lintas bergerak seperti biasa. Orang-orang membeli kopi. Anak-anak berangkat sekolah. Burung-burung hinggap di kabel listrik. Dunia tidak memberi tanda apa pun bahwa salah satu pertanyaan terbesar dalam sejarah manusia sedang berlangsung beberapa meter dari sana.

Tubuh seseorang masih hangat. Tapi ia dinyatakan sudah mati. 

Monitor terus berbunyi.


Related

Tubuh Manusia 1652119966117651592

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item