Gus Mus: Ulama, Penyair, Figur Budaya, dan Sesepuh Bangsa
https://www.belajarsampaimati.com/2026/08/gus-mus-ulama-penyair-figur-budaya-dan.html
![]() |
| Ilustrasi/suaramuslim.net |
Keributan selalu lebih mudah menjadi berita daripada ketenangan. Seseorang yang berbicara dengan suara tinggi akan diubah menjadi potongan video berdurasi tiga puluh detik, dibagikan ribuan kali, lalu menghilang seminggu kemudian. Seseorang yang berbicara pelan sering dianggap tidak menghasilkan apa-apa.
Aneh juga, nama KH. Ahmad Mustofa Bisri—yang lebih akrab disebut Gus Mus—tetap bertahan dalam ingatan publik selama puluhan tahun justru tanpa mengikuti aturan permainan itu. Ia tidak membangun pengaruh melalui kemarahan. Ia membangunnya melalui kesabaran yang nyaris membosankan bagi logika media sosial.
Rembang bukan kota yang sering muncul dalam percakapan nasional. Jalur Pantura lebih dikenal sebagai tempat truk-truk melintas menuju Surabaya atau Semarang. Di kota itulah Gus Mus mengasuh Pesantren Raudlatut Thalibin, melanjutkan jejak ayahnya, KH. Bisri Mustofa, ulama besar yang menulis Tafsir Al-Ibriz dalam bahasa Jawa beraksara Arab Pegon.
Lingkungan seperti itu biasanya melahirkan ulama yang sangat kuat pada tradisi kitab. Gus Mus memang demikian. Ia belajar di Lirboyo, Krapyak, kemudian menempuh pendidikan di Universitas Al-Azhar, Kairo. Riwayat semacam itu cukup untuk membuat seseorang hidup nyaman sebagai ahli fikih yang hanya berbicara soal hukum agama. Jalan hidup Gus Mus justru berbelok ke wilayah yang jauh lebih cair.
Orang sering lupa bahwa Gus Mus juga seorang pelukis. Ia menulis puisi. Ia membuat esai. Kalimat-kalimatnya kadang lebih dekat kepada sastra daripada ceramah. Saya selalu menganggap urutannya penting. Banyak ulama berkesenian sebagai hobi. Gus Mus tampak seperti seniman yang memilih hidup sebagai ulama. Perbedaannya terasa ketika membaca puisinya atau melihat lukisannya. Bahasa agama di tangannya tidak kehilangan kesakralan, tetapi juga tidak berubah menjadi pagar yang memisahkan manusia satu sama lain.
Cobalah perhatikan cara ia berbicara dalam sebuah wawancara. Hampir tidak pernah tergesa-gesa menjawab. Tatapannya sering turun sesaat sebelum mulai menyusun kalimat. Kadang ia tersenyum kecil mendengar pertanyaan yang sebenarnya cukup provokatif. Tempo seperti itu terasa asing sekarang. Dunia digital mendorong semua orang bereaksi secepat mungkin. Gus Mus justru tampak sengaja memperlambat dirinya. Ketika kecepatan dianggap keunggulan, ia seperti menolak ikut berlomba.
Banyak tokoh agama memperoleh pengaruh dengan memperjelas batas antara "kami" dan "mereka". Cara itu efektif. Manusia memang mudah bersatu ketika diberi musuh bersama. Gus Mus memilih jalan yang jauh lebih melelahkan. Ia berkali-kali berbicara tentang kasih sayang, tentang menghormati sesama manusia, tentang pentingnya menjaga akhlak sebelum sibuk menilai keyakinan orang lain. Pendekatan seperti itu sering membuat sebagian orang menganggapnya terlalu lunak. Kritik semacam itu sudah lama mengikutinya.
Saya justru menganggap kelunakan itu sering disalahpahami. Orang mengira berbicara lembut berarti tidak memiliki pendirian. Kenyataannya tidak begitu. Gus Mus memiliki posisi yang jelas dalam banyak persoalan, mulai dari kebangsaan, intoleransi, hingga ekstremisme agama. Bedanya, ia tidak menikmati pertengkaran. Perdebatan baginya tampak sebagai sarana mencari jalan keluar, bukan panggung untuk mempermalukan lawan.
Pesan semacam itu sebenarnya lebih sulit dijalankan daripada berteriak. Kemarahan memiliki tenaga alami. Ketenangan harus dilatih setiap hari. Mata bisa memerah ketika menghadapi fitnah. Tenggorokan bisa terasa kering ketika mendengar tuduhan yang terus berulang. Orang yang memilih tetap tenang sering menghabiskan energi jauh lebih besar daripada orang yang memilih membalas.
Pengaruh Gus Mus juga memperlihatkan sesuatu yang menarik tentang Nahdlatul Ulama. Organisasi sebesar NU melahirkan banyak tokoh dengan karakter yang sangat berbeda. KH Hasyim Asy'ari dikenal sebagai pendiri, Abdurrahman Wahid menjadi simbol demokrasi dan pluralisme, sementara Gus Mus berkembang sebagai figur budaya. Jalur yang ditempuhnya tidak bertumpu pada jabatan. Ia memang pernah menjadi Pelaksana Tugas Rais Aam PBNU setelah wafatnya KH Maimun Zubair, tetapi orang mengenalnya jauh sebelum posisi itu datang.
Media sosial sering memperlihatkan cuplikan ceramah Gus Mus yang dipenuhi tawa jamaah. Banyak yang mengira humor adalah daya tarik utamanya. Dugaan itu terlalu dangkal. Humor hanya pintu masuk. Yang membuat orang bertahan mendengarkan justru kemampuannya memandang manusia secara utuh. Pendosa tidak selalu diperlakukan sebagai musuh. Orang yang berbeda keyakinan tidak otomatis menjadi ancaman. Dunia tidak dibelah menjadi hitam dan putih dengan garis lurus.
Kesan seperti itu mungkin lahir dari kebiasaannya bergelut dengan sastra. Penyair jarang percaya bahwa satu kalimat mampu menjelaskan seluruh kenyataan. Puisi mengajarkan bahwa manusia selalu lebih rumit daripada definisi. Mungkin karena itulah Gus Mus terdengar lebih nyaman mengajak orang merenung daripada mengeluarkan vonis.
Saya sering merasa sebagian ceramah agama kehilangan sesuatu ketika terlalu sibuk berbicara tentang aturan. Manusia hadir hanya sebagai objek yang harus diatur. Ketakutan dipelihara. Rasa bersalah dipupuk. Gus Mus membawa unsur lain ke dalam percakapan: keindahan. Mungkin banyak orang tidak menyadarinya, karena keindahan tidak selalu muncul dalam bentuk lukisan atau puisi. Cara memandang orang lain dengan hormat juga bentuk keindahan. Cara berbicara tanpa mempermalukan lawan bicara pun bentuk keindahan.
Pendekatan itu jelas tidak memuaskan semua pihak. Kelompok konservatif kadang menganggapnya terlalu toleran. Sebagian kalangan sekuler tetap menganggap ia terlalu religius. Posisi di tengah seperti itu memang tidak pernah nyaman. Orang yang berdiri di dua kutub biasanya lebih mudah mendapat tepuk tangan daripada orang yang memilih tetap berada di antara keduanya.
Ruang publik Indonesia beberapa tahun terakhir semakin dipenuhi orang-orang yang pandai memproduksi kemarahan. Judul dibuat sekeras mungkin. Wajah dipasang semarah mungkin. Mikrofon menangkap suara yang meninggi. Algoritma menyukai semua itu karena emosi menghasilkan klik. Di tengah suasana seperti itu, Gus Mus tampak seperti peninggalan dari zaman lain. Anehnya, peninggalan itu masih terasa relevan.
Saya kadang membayangkan seorang anak muda menemukan video Gus Mus secara tidak sengaja setelah berjam-jam menonton potongan ceramah yang penuh teriakan. Volume suaranya mendadak turun. Ritmenya berubah. Tidak banyak gestur dramatis. Kamera bahkan nyaris membosankan. Mungkin sebagian orang langsung menutup videonya. Sebagian lagi bertahan beberapa menit lebih lama. Tempo napasnya ikut melambat. Wajah yang sejak tadi tegang mulai mengendur.
Rasanya cukup masuk akal bila orang-orang seperti Gus Mus semakin jarang lahir. Dunia hari ini lebih menghargai kecepatan berbicara daripada kedalaman berpikir. Orang diminta memiliki pendapat tentang segala hal, secepat mungkin, sebelum topiknya digantikan topik lain. Sementara itu, seorang kiai sepuh di Rembang masih menulis puisi, masih melukis, masih menerima tamu di pesantrennya, sementara jalan Pantura tetap dipenuhi deru mesin truk yang melintas hampir tanpa henti.
Catatan terkait: Muhammad al-Fazari dan Batu-bata Pertama Zaman Keemasan Islam


