Al-Farghani, Astronom Paling Menakjubkan dalam Sejarah Islam
https://www.belajarsampaimati.com/2026/09/al-farghani-astronom-paling-menakjubkan.html
![]() |
| Ilustrasi milik BSM |
Seorang ilmuwan dari Asia Tengah pernah menghitung ukuran Bumi dengan ketelitian yang mencengangkan. Mencengangkan, karena ia melakukannya lebih dari seribu tahun sebelum satelit, sebelum teleskop modern, sebelum kapal uap, bahkan sebelum sebagian besar wilayah Eropa memiliki universitas. Beberapa abad kemudian, seorang pelaut Genoa bernama Christopher Columbus membaca karya ilmuwan itu, salah memahami angka-angkanya, lalu berlayar ke arah yang salah dan menemukan benua yang tidak ia cari.
Nama ilmuwan itu adalah Abu al-Abbas Ahmad ibn Muhammad ibn Kathir al-Farghani.
Hari ini ia lebih dikenal dengan nama Al-Farghani atau Alfraganus dalam tradisi Latin. Sebagian orang mengenalnya sebagai astronom. Sebagian mengenalnya sebagai matematikawan. Sebagian lagi mengenalnya karena kesalahan Columbus. Saya cenderung melihatnya sebagai salah satu tokoh yang memperlihatkan betapa dunia Islam abad kesembilan jauh lebih kosmopolitan daripada gambaran populer yang sering beredar sekarang.
Al-Farghani lahir di wilayah Farghana, sebuah lembah subur di Asia Tengah yang sekarang terbagi antara Uzbekistan, Kyrgyzstan, dan Tajikistan. Nama keluarganya berasal dari daerah itu. Jika seseorang berdiri di Lembah Fergana hari ini, ia akan melihat pegunungan, kebun buah, lahan pertanian, dan jalur-jalur yang sejak lama menjadi bagian dari jaringan perdagangan Eurasia. Tempat itu berjarak ribuan kilometer dari Mekkah dan Madinah. Fakta sederhana itu sering dilupakan ketika orang membicarakan sejarah Islam. Banyak tokoh terpenting peradaban Islam lahir jauh dari Jazirah Arab.
Pada masa Al-Farghani muda, Asia Tengah sedang menghasilkan generasi ilmuwan yang luar biasa. Daerah Transoxiana dan Khurasan menjadi sumber bakat intelektual bagi Kekhalifahan Abbasiyah. Dari kawasan yang sama, kelak muncul nama-nama seperti Al-Khwarizmi, Al-Biruni, dan Ibn Sina.
Al-Farghani akhirnya berangkat ke Baghdad, kota yang saat itu menyerupai magnet raksasa bagi orang-orang berbakat. Sulit menemukan kota lain dalam sejarah yang menyedot begitu banyak ilmuwan dari berbagai bangsa sekaligus. Bahasa Arab menjadi bahasa ilmu pengetahuan. Orang Persia, Arab, Suriah, Yahudi, Kristen Nestorian, dan pendatang dari Asia Tengah, bekerja dalam jaringan intelektual yang sama.
Ia tiba pada masa pemerintahan Al-Ma’mun, penguasa yang memiliki obsesi serius terhadap astronomi. Obsesi itu bukan sekadar hobi aristokrat. Al-Ma’mun mendanai observatorium, ekspedisi ilmiah, penerjemahan karya-karya Yunani, dan penelitian matematika. Banyak penguasa membiayai peperangan. Al-Ma’mun membiayai pengukuran planet. Al-Farghani menjadi bagian dari proyek ilmiah besar itu.
Salah satu episode paling menarik dalam hidupnya terjadi ketika tim astronom Abbasiyah mencoba mengukur ukuran Bumi. Orang sering membayangkan bahwa manusia baru mengetahui bentuk dan ukuran Bumi setelah era modern. Gagasan itu keliru. Para ilmuwan Yunani telah lama mengetahui bahwa Bumi berbentuk bulat. Ilmuwan Abbasiyah mewarisi pengetahuan tersebut dan berusaha memperbaiki angka-angkanya.
Ekspedisi dilakukan di dataran Sinjar, dekat Mosul, menurut sebagian sumber; sementara sumber lain menyebut wilayah dekat Palmyra di Suriah. Para ilmuwan mengukur jarak yang diperlukan untuk mengubah posisi bintang tertentu sebesar satu derajat di langit. Metodenya sederhana untuk dijelaskan, rumit untuk dilaksanakan. Mereka harus bergerak melintasi medan terbuka, melakukan pengamatan berulang, menghitung sudut secara akurat, dan memastikan kesalahan sekecil mungkin.
Saya membayangkan panas yang memantul dari tanah, debu yang masuk ke mata, alat ukur yang harus dijaga kestabilannya, dan para ilmuwan yang menghabiskan malam-malam panjang mengamati langit tanpa cahaya kota modern.
Hasilnya cukup mengesankan. Nilai yang mereka peroleh untuk keliling Bumi sangat dekat dengan angka sebenarnya. Tidak sempurna, tentu saja, tetapi jauh lebih baik daripada yang sering diasumsikan orang tentang ilmu pengetahuan abad pertengahan.
Nama Al-Farghani paling terkenal melalui bukunya yang berjudul Jawami’ Ilm al-Nujum wa Usul al-Harakat al-Samawiyya—ringkasan astronomi yang didasarkan pada karya Claudius Ptolemaios. Buku itu bukan sekadar ringkasan biasa. Al-Farghani mengambil sistem astronomi yang sangat kompleks dan menjelaskannya dengan bahasa yang lebih mudah dipahami.
Tugas semacam itu sering diremehkan. Banyak orang menganggap penemu lebih penting daripada penyusun atau penyederhana. Padahal sebagian besar pengetahuan bertahan justru karena ada orang yang mampu menjelaskannya secara jernih. Buku Al-Farghani menjadi salah satu teks astronomi paling berpengaruh selama berabad-abad. Karya itu diterjemahkan ke bahasa Latin pada abad ke-12 dan beredar luas di Eropa.
Berabad-abad sesudah kematiannya, mahasiswa di Paris dan Bologna mempelajari astronomi melalui Alfraganus. Buku tersebut memuat berbagai data astronomi: diameter planet, ukuran Bumi, jarak benda-benda langit, struktur kosmos menurut model Ptolemaik. Banyak angka di dalamnya ternyata bertahan sangat lama dalam tradisi ilmiah Barat.
Ada bagian hidup Al-Farghani yang jarang dibahas karena tidak berhubungan langsung dengan astronomi. Ia pernah bekerja di Mesir.
Pada masa pemerintahan Al-Mutawakkil, Al-Farghani terlibat dalam proyek rekayasa yang berkaitan dengan Sungai Nil. Salah satu proyek paling terkenal adalah pembangunan alat pengukur tinggi permukaan air, yang dikenal sebagai Nilometer di Pulau Rawda, Kairo. Struktur itu masih ada hingga sekarang.
Ketika melihat foto-fotonya, saya selalu teringat bahwa para ilmuwan Abbasiyah tidak hidup sepenuhnya di dunia teori. Mereka juga harus berurusan dengan batu, lumpur, air, dan administrasi pemerintahan. Nilometer bukan benda kecil. Tingkat kenaikan air Nil menentukan pajak, panen, dan stabilitas ekonomi Mesir. Kesalahan pengukuran dapat mempengaruhi kehidupan jutaan orang.
Riwayat hidupnya juga menyimpan episode yang agak memalukan. Sejarawan abad pertengahan mencatat bahwa Al-Farghani pernah terlibat dalam proyek kanal yang bermasalah. Kesalahan perencanaan menyebabkan saluran tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Nama ilmuwan sering dibersihkan dari kegagalan oleh para pengagumnya. Kisah Al-Farghani menunjukkan sesuatu yang lebih realistis. Orang yang mampu menghitung ukuran Bumi masih bisa membuat kesalahan teknik.
Saya justru menyukai detail semacam itu. Terlalu banyak biografi ilmuwan berubah menjadi kisah suci yang steril.
Karya Al-Farghani terus hidup setelah ia meninggal sekitar pertengahan abad kesembilan. Terjemahan Latin karyanya dibuat oleh tokoh-tokoh seperti Gerard of Cremona dan John of Seville. Nama Alfraganus kemudian masuk ke perpustakaan Eropa, berdampingan dengan Ptolemaios, Aristotle, dan Euclid.
Pengaruhnya muncul di tempat-tempat yang tidak terduga. Ketika Columbus menghitung ukuran dunia menjelang pelayarannya ke barat, ia menggunakan kombinasi sumber yang mencakup Al-Farghani. Masalahnya, ia salah memahami satuan yang digunakan. Hasil perhitungannya membuat Bumi tampak lebih kecil daripada ukuran sebenarnya.
Kesalahan Columbus sering dibicarakan sebagai kisah keberanian. Saya melihatnya dengan cara yang sedikit berbeda. Seorang navigator Italia berlayar melintasi Atlantik karena salah membaca karya seorang astronom Asia Tengah yang hidup tujuh abad sebelumnya.
Al-Farghani sendiri mungkin tidak pernah membayangkan hal seperti itu. Ia hidup di dunia unta, kapal layar kayu, manuskrip, dan observatorium sederhana. Langit yang diamatinya masih dipenuhi bola-bola kristal dalam model kosmologi Ptolemaik. Amerika belum masuk peta siapa pun yang ia kenal.
Di Kairo, Nil tetap mengalir melewati Nilometer yang pernah ia bantu bangun. Di Eropa, salinan Alfraganus berpindah dari satu perpustakaan ke perpustakaan lain. Di Asia Tengah, lembah Farghana terus menghasilkan generasi baru yang bahkan mungkin tidak lagi mengenal namanya.
Pada malam yang cerah, jika seseorang berdiri di tepi Sungai Nil dan mengangkat kepala ke arah bintang-bintang yang sama yang pernah dihitung Al-Farghani, sebagian angka yang ia tulis lebih dari seribu tahun lalu masih cukup dekat dengan kenyataan untuk membuat banyak ilmuwan modern takjub.
Catatan terkait: Kushyar ibn Labban, Pakar Astronomi dan Matematika Komputasional
.jpg)

