Atefeh Sahaaleh, Gadis yang Diperkosa dan Digantung di Iran

Ilustrasi/linkedin.com
Seorang hakim memasang jerat tali gantungan di leher seorang gadis remaja. Bahkan setelah bertahun-tahun membaca kisah-kisah kelam dari berbagai negara, detail itu masih terasa mengganggu. 

Bukan karena eksekusi mati adalah hal yang belum pernah terjadi. Sejarah penuh dengan hukuman mati. Yang membuat kasus Atefeh Sahaaleh terus menghantui adalah cara seluruh peristiwa itu tampak seperti rangkaian kegagalan manusia yang bertumpuk: kegagalan keluarga, kegagalan perlindungan sosial, kegagalan hukum, kegagalan negara, dan kegagalan orang-orang dewasa yang seharusnya melindungi seorang anak. 

Di kota Neka, Iran utara, dekat pesisir Laut Kaspia, sebuah derek konstruksi berdiri di ruang publik pada Agustus 2004. Bagi sebagian orang yang berkumpul saat itu, peristiwa tersebut mungkin terlihat seperti pelaksanaan hukum. Bagi banyak pengamat internasional yang kemudian mempelajari kasusnya, yang terlihat justru sesuatu yang jauh lebih mengerikan: seorang remaja perempuan yang dihukum oleh sistem yang tampaknya telah memutuskan kesalahannya jauh sebelum pengadilan selesai.

Nama gadis itu Atefeh Rajabi Sahaaleh. Sebagian laporan Barat menuliskan usianya enam belas tahun ketika dieksekusi. Dokumen-dokumen yang muncul setelah kematiannya menunjukkan tanggal lahir yang mendukung angka tersebut. 

Di sisi lain, berkas yang diajukan ke Mahkamah Agung Iran pada saat proses hukum sempat mencantumkan usia yang lebih tua. Perselisihan mengenai umur itu bukan sekadar masalah administratif. Dalam hukum internasional, perbedaan beberapa tahun dapat menjadi garis pembatas antara pelanggaran berat hak asasi manusia dan prosedur yang secara formal dianggap sah oleh negara pelaksana.

Kisah hidup Atefeh sebelum pengadilan sudah terasa seperti novel yang ditulis terlalu kejam. Ia lahir di Mashhad. Ibunya meninggal ketika ia masih kecil akibat kecelakaan mobil. Seorang adiknya dilaporkan meninggal tenggelam. Ayahnya mengalami kecanduan narkotika. Kehidupan rumah tangga yang stabil nyaris tidak pernah benar-benar hadir. Ia kemudian diasuh oleh kakek dan neneknya.

Sejumlah jurnalis Iran yang menelusuri kasus tersebut menggambarkannya sebagai gadis yang cerdas, aktif, dan emosional. Gambaran itu terasa penting. Korban sering berubah menjadi angka ketika masuk arsip sejarah. Kita membaca "remaja perempuan dieksekusi" lalu bergerak ke paragraf berikutnya. Padahal yang sedang dibicarakan adalah seseorang yang pernah tertawa, pernah marah, pernah mengobrol dengan teman, pernah berjalan di jalanan Neka sambil memikirkan hal-hal yang biasanya dipikirkan anak seusianya.

Tuduhan yang menyeretnya ke pengadilan berkaitan dengan hubungan seksual yang oleh aparat dipandang sebagai pelanggaran moralitas dan kesucian. Di sinilah cerita mulai memasuki wilayah yang dipenuhi kontradiksi. 

Menurut berbagai laporan yang muncul setelah eksekusi, Atefeh mengaku bahwa dirinya telah dieksploitasi secara seksual selama bertahun-tahun oleh seorang pria bernama Ali Darabi, mantan anggota Garda Revolusi yang jauh lebih tua darinya dan telah berkeluarga. Sejumlah aktivis hak asasi manusia menggambarkan hubungan tersebut sebagai eksploitasi dan pemerkosaan berulang terhadap seorang anak.

Ketika membaca rincian usia mereka, sulit mengabaikan ketimpangannya. Atefeh masih remaja. Darabi berusia lebih dari lima puluh tahun.

Dalam banyak masyarakat, pertanyaan pertama yang muncul biasanya sederhana: mengapa perhatian hukum justru lebih berat tertuju kepada anak perempuan itu? Pertanyaan tersebut tidak pernah benar-benar hilang dari kasus ini.

Berbagai organisasi hak asasi manusia juga mengangkat tuduhan bahwa selama masa penahanan, Atefeh mengalami perlakuan buruk dan kekerasan seksual. Sebagian klaim itu sulit diverifikasi secara independen, karena keterbatasan akses terhadap dokumen resmi dan kuatnya sensor pada masa itu. Namun tuduhan-tuduhan tersebut terus muncul dalam laporan-laporan yang dibuat setelah kematiannya.

Persidangannya sendiri kemudian menjadi bagian paling terkenal dari keseluruhan tragedi. Hakim yang menangani perkara itu adalah Haji Rezai, seorang tokoh yang memiliki kekuasaan besar di wilayah tersebut. Menurut berbagai kesaksian yang dikumpulkan kemudian, Atefeh kehilangan kendali emosinya di ruang sidang. Ia melepas jilbabnya. Ia memprotes proses hukum yang menurutnya tidak adil. Ia menuntut agar pria dewasa yang terlibat dengannya turut dihukum. Dalam beberapa versi cerita yang beredar luas, ia bahkan melemparkan sepatunya ke arah hakim.

Saya tidak tahu bagaimana ekspresi orang-orang di ruang sidang saat itu. Saya hanya membayangkan seorang remaja yang menyadari hidupnya sedang runtuh di depan matanya.

Orang dewasa sering memuji keberanian berbicara. Kita mengajari anak-anak untuk membela diri ketika diperlakukan tidak adil. Dalam ruang sidang tertentu, tindakan yang sama dapat dibaca sebagai pembangkangan.

Sebagian pengamat kemudian menilai ledakan emosi Atefeh justru memperburuk posisinya. Beberapa organisasi internasional juga menyatakan bahwa ia kemungkinan memiliki gangguan psikologis atau kondisi kesehatan mental yang semestinya dipertimbangkan dalam proses hukum. Klaim itu terus diperdebatkan, tetapi muncul cukup sering dalam berbagai laporan independen sehingga tidak bisa begitu saja diabaikan.

Eksekusi dilaksanakan pada 15 Agustus 2004. Foto-foto yang beredar setelah peristiwa itu sulit dilupakan. Sebuah derek. Kerumunan orang. Tubuh seorang gadis muda yang digantung di ruang terbuka.

Banyak eksekusi sepanjang sejarah dilakukan jauh dari pandangan publik. Negara modern sering menyembunyikan kematian di balik tembok penjara. Eksekusi Atefeh berlangsung di depan orang banyak. Kengerian publik memiliki fungsi politiknya sendiri.

Kontroversi semakin membesar ketika laporan-laporan mulai muncul bahwa usia Atefeh saat dieksekusi kemungkinan masih enam belas tahun. Iran saat itu merupakan penandatangan Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik, yang melarang eksekusi terhadap pelaku kejahatan yang masih di bawah umur ketika tindak pidana terjadi.

Kasus ini kemudian menarik perhatian dunia. Amnesty International mengutuk eksekusi tersebut. Pengacara, jurnalis, dan aktivis Iran mempertanyakan prosedur hukum yang digunakan. Media internasional mulai menyorot Neka, kota yang sebelumnya nyaris tidak dikenal di luar Iran. Tekanan terus meningkat. 

Ironisnya, sebagian perkembangan yang paling mencengangkan justru muncul setelah Atefeh meninggal. Berbagai laporan menyebutkan bahwa pihak keluarga telah berulang kali menunjukkan dokumen identitas yang mencatat usia sebenarnya. Kritik terhadap penanganan perkara semakin keras. Beberapa sumber bahkan melaporkan bahwa aparat keamanan Iran kemudian menyelidiki sejumlah pihak yang terkait dengan kasus tersebut.

Lalu muncul salah satu detail paling absurd dalam seluruh cerita ini. Mahkamah Agung Iran dilaporkan mengeluarkan keputusan yang secara anumerta memberikan pengampunan kepada Atefeh.

Pengampunan setelah seseorang dieksekusi. Sulit menemukan kombinasi kata yang lebih menyakitkan daripada itu. Apa sebenarnya fungsi pengampunan ketika orang yang hendak diampuni sudah dimakamkan?

Tubuhnya tidak kembali. Masa mudanya tidak kembali. Nama baiknya tidak kembali.

Dokumen pengampunan tersebut justru membuat tragedinya terasa semakin telanjang. Seolah sistem yang sama yang telah menjatuhkan hukuman kemudian mengakui, dengan cara yang terlambat dan canggung, bahwa sesuatu telah berjalan sangat salah.

Dua tahun setelah kematiannya, jurnalis Monica Garnsey dan Arash Sahami membantu mendokumentasikan kasus tersebut dalam film BBC. Dunia kembali melihat foto-foto Atefeh. Wajah remaja yang tidak tampak seperti simbol politik. Tidak tampak seperti ancaman negara. Tidak tampak seperti sosok yang biasanya dibayangkan orang ketika mendengar kata "penjahat".

Arsip kadang memiliki kebiasaan aneh. Ribuan perkara hukum menghilang tanpa jejak. Beberapa kasus bertahan selama puluhan tahun karena satu detail yang tidak bisa diterima akal sehat.

Dalam kasus Atefeh Rajabi Sahaaleh, detail itu mungkin adalah seorang hakim yang berdiri di bawah derek, seorang gadis yang berteriak bahwa dirinya diperlakukan tidak adil, dan sebuah surat pengampunan yang datang ketika semuanya sudah selesai.


Related

Internasional 2664224051086682619

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item