Iwan Fals, Musisi yang Menjadi Legenda Hidup Musik Indonesia

Ilustrasi/bola.com
Ada generasi yang mengenal Iwan Fals dari kaset yang diputar berulang-ulang sampai pita suaranya kusut. Generasi lain mengenalnya dari CD, radio, YouTube, Spotify, atau potongan video konser yang beredar di ponsel. Medianya berubah, cara orang mendengarkan musik berubah, bahkan bahasa percakapan berubah, tetapi nama Iwan Fals tetap saja muncul. 

Lagu yang dibuat puluhan tahun lalu masih terdengar di warung kopi, panggung kampus, acara komunitas, gitar pengamen, sampai ruang keluarga. Orang bisa lupa tahun lagu itu direkam, tetapi ingat bagian yang hendak dinyanyikan.

Nama aslinya Virgiawan Listanto. Ia lahir di Jakarta pada 3 September 1961, kemudian tumbuh dan bersekolah di Bandung. Sebelum menjadi nama besar, ia menjalani kehidupan yang jauh dari kemewahan industri musik. Ia pernah mengamen dan tampil dari satu tempat ke tempat lain. Pengalaman itu penting karena banyak lagu awal Iwan Fals terasa memiliki jarak yang sangat pendek dengan kehidupan sehari-hari: guru, pedagang, anak sekolah, pegawai, orang miskin, tentara, penguasa, perempuan yang ditinggalkan, lelaki yang bingung dengan hidupnya. 

Album “Sarjana Muda” yang dirilis Musica Studio pada 1981 menjadi titik penting. Di sana terdapat “Guru Oemar Bakri”, lagu tentang guru yang bekerja keras dengan penghasilan yang tak seberapa. Nama Oemar Bakri kemudian menjadi semacam karakter nasional. Orang tidak perlu mengenal seluruh diskografi Iwan Fals untuk mengetahui siapa Oemar Bakri. Album itu juga memuat lagu “Sarjana Muda”, “Hatta”, “Doa Pengobral Dosa”, dan “Si Tua Sais Pedati”. 

Kekuatan Iwan Fals sejak awal terletak pada kemampuannya membuat persoalan yang sangat spesifik terdengar dekat dengan orang yang tidak mengalami persoalan tersebut. 

Seorang anak sekolah mungkin tidak pernah menjadi guru seperti Oemar Bakri, tetapi tahu bagaimana rasanya melihat orang dewasa bekerja keras dan tetap kekurangan. Seorang mahasiswa pada 1980-an mungkin tidak tinggal di kawasan yang disebut dalam lagu-lagunya, tetapi memahami rasa jengkel terhadap harga-harga yang naik dan kehidupan yang terasa semakin sempit.

“Galang Rambu Anarki” memperlihatkan kemampuan itu dengan cara yang lebih pribadi. Galang, putra sulungnya, lahir pada 1 Januari 1982. Iwan Fals menjadikan kelahiran anaknya sebagai lagu, tetapi kegembiraan tersebut langsung berhadapan dengan kenaikan harga dan keresahan ekonomi. Anak yang baru lahir belum mengerti apa-apa; orang tuanya sudah harus menghitung harga susu dan kebutuhan rumah tangga. Lagu itu terdengar personal sekaligus sosial karena keduanya memang tidak pernah benar-benar terpisah dalam kehidupan seseorang. 

Karier Iwan Fals kemudian bergerak sangat cepat. “Opini” pada 1982, “Sumbang” pada 1983, “Sugali” dan “Barang Antik” pada 1984, “KPJ” dan “Sore Tugu Pancoran” pada 1985, “Ethiopia” dan “Aku Sayang Kamu” pada 1986, “Lancar” dan “Wakil Rakyat” pada 1987, lalu “1910” pada 1988. Daftar itu terasa melelahkan hanya dengan membacanya. Ia menghasilkan album dengan kecepatan yang sekarang hampir tidak masuk akal bagi musisi yang bekerja dengan tuntutan produksi modern. 

Di masa itu, persoalannya juga bukan sekadar apakah sebuah lagu akan laku. Iwan Fals beberapa kali berhadapan dengan aparat karena lagu-lagunya. Pada 1984, ia diperiksa setelah membawakan “Demokrasi Nasi” dan “Mbak Tini” di Pekanbaru. Lagu-lagu yang belum tentu bisa ditemukan dalam bentuk rekaman resmi itu justru menjadi bagian dari legenda Iwan Fals. 

“Surat Buat Wakil Rakyat” kemudian membuat kritiknya semakin terang. Konser-konsernya pernah dibatalkan, bahkan ia pernah dicekal tampil di TVRI.

Menariknya, Iwan tidak pernah sepenuhnya menjadi penyanyi demonstrasi. Kalau hanya melihat “Bento”, “Bongkar”, “Wakil Rakyat”, atau “Tikus-Tikus Kantor”, orang bisa mengira seluruh dunianya dibangun dari kemarahan politik. Padahal di katalog yang sama terdapat “Yang Terlupakan”, “Aku Sayang Kamu”, “Kumenanti Seorang Kekasih”, “Ujung Aspal Pondok Gede”, dan begitu banyak lagu yang sama sekali tidak membutuhkan spanduk untuk bisa bekerja.

Bergabungnya ia dengan SWAMI pada 1989 memperbesar lagi jangkauan itu. Bersama Sawung Jabo, Naniel, Nanoe, Inisisri, Jockie Suryoprayogo, dan Toto Tewel, Iwan Fals berada dalam kelompok yang melahirkan “Bento” dan “Bongkar”. 

Setahun kemudian, ia terlibat dalam Kantata Takwa bersama nama-nama seperti W.S. Rendra, Sawung Jabo, Setiawan Djodi, dan Jockie Suryoprayogo. Konser Kantata Takwa di Stadion Utama Gelora Bung Karno pada 1990 kemudian menjadi salah satu peristiwa besar dalam sejarah pertunjukan musik Indonesia.

Di sini, reputasi Iwan Fals sebagai legenda mulai terasa agak aneh. Legenda biasanya muncul setelah seseorang selesai berkarya, ketika orang lain mulai menyusun arsip, penghargaan, dan cerita masa lalu. Iwan Fals justru memperoleh status semacam itu ketika kariernya masih berjalan. Lagu-lagunya sudah menjadi milik publik sementara orangnya masih terus membuat lagu. Itu pencapaian yang sulit ditandingi. 

Kehidupannya sendiri kemudian mengalami patahan besar ketika Galang meninggal pada April 1997. Galang saat itu juga bermusik, dan menjadi gitaris band Bunga. Setelah kehilangan tersebut, Iwan Fals menghilang cukup lama dari aktivitas musik. Ia kembali dengan album “Suara Hati” pada 2002, dan lagu “Hadapi Saja” membawa kesedihan itu masuk ke dalam karya. 

Mendengarkan lagu tersebut setelah mengetahui kisah di belakangnya membuat beberapa bagian terasa lebih berat; gitar dan suara manusia tiba-tiba tidak lagi terdengar sebagai produksi studio semata. 

Sesudah itu Iwan Fals tetap bekerja. “Manusia Setengah Dewa” pada 2004, “Iwan Fals in Love” pada 2005, “50:50” pada 2007, “Keseimbangan” pada 2010, “Raya” pada 2013, “SATU” pada 2015, sampai karya-karya berikutnya menunjukkan bahwa kariernya tidak berhenti pada romantisme masa lalu. Bahkan Apple Music masih mencatat rilisan “Ibu” pada November 2025.

Di titik itu, ukuran kebesaran Iwan Fals terasa lebih masuk akal jika dilepaskan dari jumlah album atau panjang karier. Ia berhasil menciptakan lagu yang tidak terlalu bergantung pada zamannya sendiri. “Guru Oemar Bakri” tetap dapat dimengerti ketika persoalan guru berubah. “Wakil Rakyat” tetap bisa diputar ketika anggota parlemen berganti. “Galang Rambu Anarki” tetap bekerja sebagai lagu tentang kecemasan orang tua meskipun harga susu, televisi, dan bentuk keluarga sudah berubah.

Musisi lain bisa membuat lagu yang sangat bagus. Musisi lain juga bisa kritis, produktif, populer, atau mempunyai penggemar lintas generasi. Gabungan semuanya jauh lebih jarang. Iwan Fals memiliki katalog yang terlalu besar untuk direduksi menjadi satu citra: penyanyi protes, pengamen yang menjadi bintang, penyair jalanan, atau legenda musik Indonesia. Semua label itu benar, tetapi masing-masing hanya mengambil satu bagian. 

Mungkin karena itu pengganti Iwan Fals tidak pernah benar-benar muncul. Bukan karena Indonesia kekurangan penyanyi atau pencipta lagu. Persoalannya, seorang pengganti harus menggantikan seluruh ekosistem yang sudah terbentuk selama puluhan tahun: suara, lagu, kontroversi, karakter, kesederhanaan, sejarah Orde Baru, kehilangan Galang, SWAMI, Kantata Takwa, konser, penggemar, sampai lagu-lagu yang tiba-tiba dinyanyikan orang lain tanpa mereka tahu siapa yang pertama kali menulisnya.

Kadang yang terdengar hanya petikan gitar dan suara orang menyanyikan “Bento” di tempat yang entah di mana. Orang-orang di sekitarnya mungkin tidak sedang membicarakan Iwan Fals. Mereka hanya menyanyikannya. Lagu berjalan sendiri. Iwan Fals bahkan tidak berada di sana ketika lagu itu dinyanyikan.


Related

Tokoh 168520688366158885

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item