Banyak Masjid Dihancurkan di China, Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Ilustrasi milik BSM
Sebuah masjid bisa hilang tanpa ledakan. Tanpa asap. Tanpa gambar dramatis yang memenuhi layar televisi. Kubah dicopot. Menara dibongkar. Tempat wudhu diratakan.

Dari udara, bangunannya mungkin masih terlihat seperti bangunan biasa. Dari jalan raya, orang yang melintas mungkin tidak langsung sadar bahwa sesuatu telah berubah. Seorang pejabat dapat menyebutnya renovasi. Dokumen resmi dapat menyebutnya konsolidasi. Sebuah laporan administrasi mungkin hanya menuliskan beberapa kalimat pendek dan angka-angka.

Angka sering kali jauh lebih dingin daripada kenyataan yang mereka wakili.

Laporan Human Rights Watch yang dirilis pada 2023 memotret proses semacam itu di wilayah Ningxia dan Gansu, dua kawasan di China utara yang memiliki populasi Muslim Hui dalam jumlah besar. Para peneliti menggunakan dokumen publik, citra satelit, serta kesaksian warga untuk menelusuri perubahan yang terjadi selama beberapa tahun. Hasilnya tidak menggambarkan satu peristiwa besar yang terjadi dalam satu malam. Gambaran yang muncul justru menyerupai pengikisan perlahan.

Satu kubah menghilang. Satu menara menghilang. Satu ruang wudhu dihancurkan. Beberapa bangunan utama diratakan.

Ritmenya administratif. Hampir membosankan jika hanya dibaca sebagai laporan birokrasi. Mungkin karena itulah dampaknya sering tidak terasa bagi orang yang hidup ribuan kilometer jauhnya.

Ningxia bukan nama yang sering muncul dalam percakapan sehari-hari di Indonesia. Banyak orang bahkan lebih mudah menunjuk lokasi New York daripada Yinchuan, ibu kota Ningxia. Padahal wilayah itu menyimpan sejarah Islam yang panjang. Muslim Hui telah hidup di sana selama berabad-abad. Mereka berbicara bahasa Mandarin. Wajah mereka sering kali tidak berbeda dari mayoritas penduduk Han. Sebagian keturunan pedagang yang datang melalui Jalur Sutra berabad-abad lalu.

Islam di China bukan pendatang baru. Ketika Dinasti Ming masih berdiri, ketika armada Cheng Ho berlayar ke Asia Tenggara, komunitas Muslim telah menjadi bagian dari lanskap sosial China. Fakta itu sering tenggelam karena perhatian dunia lebih banyak tertuju pada Xinjiang dan etnis Uyghur.

Ningxia jauh lebih tenang. Jauh lebih sunyi. Mungkin terlalu sunyi.

Laporan HRW menyebut bahwa pemerintah China menggunakan istilah "konsolidasi" untuk menjelaskan pengurangan jumlah masjid. Dari sudut pandang negara, argumennya terdengar administratif: terlalu banyak tempat ibadah, sebagian dianggap tidak memenuhi regulasi, sebagian memiliki unsur arsitektur yang dianggap tidak sesuai dengan arah kebijakan terbaru.

Pemerintah China menolak tuduhan bahwa kebijakan tersebut melanggar kebebasan beragama. Beijing menegaskan bahwa warga tetap memiliki hak menjalankan agama sesuai hukum yang berlaku, dan bahwa langkah-langkah tersebut berkaitan dengan pengelolaan urusan keagamaan serta penanggulangan ekstremisme.

Kalimat-kalimat resmi seperti itu selalu menarik untuk diamati. Bahasanya sangat rapi. Sangat terkontrol. Sangat steril.

Di sisi lain, laporan para peneliti menunjukkan sesuatu yang jauh lebih konkret. Hannah Theaker dari Universitas Plymouth dan David Stroup dari Universitas Manchester memeriksa perubahan fisik yang terlihat dari citra satelit. Mereka menemukan masjid-masjid yang kehilangan ciri-ciri arsitektur Islamnya. Theaker bahkan menyoroti penghancuran fasilitas wudhu sebagai langkah yang secara praktis membuat sebuah masjid tidak lagi dapat berfungsi sebagaimana mestinya.

Ruang wudhu mungkin terdengar seperti detail kecil bagi orang luar. Tapi bukan detail kecil bagi jamaah. Coba bayangkan seseorang datang untuk shalat berjamaah. Bangunan masjid masih berdiri. Dinding masih ada. Atap masih ada. Tapi tempat bersuci sudah tidak ada. Bangunan itu masih terlihat hidup dari kejauhan, tetapi sebagian organ vitalnya telah dicabut.

Saya terus memikirkan satu hal ketika membaca kisah semacam itu. Negara modern memiliki kemampuan yang luar biasa dalam mengubah kenyataan tanpa harus menggunakan kekerasan yang terlihat.

Pada abad-abad sebelumnya, kekuasaan sering dipamerkan melalui penaklukan yang gamblang. Tentara datang. Bangunan dibakar. Orang tahu apa yang sedang terjadi. Birokrasi abad ke-21 bekerja lebih halus. Formulir. Perizinan. Standarisasi. Penyesuaian arsitektur. Konsolidasi.

Sebuah kata bisa terdengar seperti pekerjaan tata kota biasa, padahal konsekuensinya menyentuh identitas, keyakinan, dan kehidupan sehari-hari ribuan orang.

China beberapa tahun terakhir memang menjalankan kebijakan yang sering disebut para peneliti sebagai "sinisisasi" agama, yakni upaya agar praktik-praktik keagamaan lebih selaras dengan identitas nasional dan arah politik negara. Salib gereja pernah diturunkan di beberapa wilayah. Simbol-simbol keagamaan tertentu dimodifikasi. Masjid-masjid mengalami perubahan bentuk. 

Kubah menjadi sasaran yang menarik. Kubah sebenarnya bukan bagian wajib dalam Islam. Banyak masjid awal Islam tidak memiliki kubah. Masjid-masjid di Afrika Barat memiliki bentuk berbeda. Masjid-masjid tradisional Jawa pun tidak selalu berkubah.

Masalahnya bukan soal kubah semata. Masalahnya terletak pada pertanyaan siapa yang berhak menentukan bagaimana identitas keagamaan boleh tampil di ruang publik. Pertanyaan semacam itu jarang dibahas secara jujur.

Negara ingin mengendalikan simbol. Komunitas ingin mempertahankan simbol. Benturannya terjadi pada bangunan.

Di Zhongwei, kota yang memiliki lebih dari satu juta penduduk, otoritas setempat pernah melaporkan modifikasi terhadap ratusan masjid dan situs keagamaan. Di Jingui, lebih dari seratus lokasi dengan karakter arsitektur Islam disebut telah "diperbaiki". Kata "diperbaiki" dalam konteks ini menarik. Kata itu biasanya membuat orang membayangkan sesuatu yang rusak sedang dibuat lebih baik.

Kata yang sama bisa berarti sesuatu yang sangat berbeda ketika digunakan dalam bahasa politik.

Mata seseorang bisa pedih setelah berjam-jam menatap citra satelit yang diperbesar. Titik-titik abu-abu di layar komputer berubah menjadi kubah, halaman, bangunan utama. Peneliti memeriksa gambar tahun demi tahun. Mereka membandingkan satu foto dengan foto berikutnya. Di satu gambar masih terlihat. Di gambar berikutnya sudah tidak ada.

Kerja semacam itu terasa hampir absurd. Nasib sebuah komunitas kadang dapat dibaca dari perubahan beberapa piksel.

Perdebatan mengenai kebijakan China biasanya langsung berubah menjadi pertarungan ideologi. Sebagian orang akan membela pemerintah China apa pun yang terjadi. Sebagian lain akan menerima setiap kritik terhadap China tanpa memeriksa detailnya. Kedua kubu sering membuat diskusi menjadi dangkal.

Saya lebih tertarik pada bangunannya. Bangunan tidak pandai berbohong. Jika sebuah menara masih berdiri, ia berdiri. Jika sebuah menara sudah hilang, ia hilang. Jika sebuah tempat wudhu telah diratakan, orang tidak dapat berwudhu di sana lagi. Seorang pejabat bisa menyebut proses itu konsolidasi. Seorang aktivis bisa menyebutnya represi.

Sementara itu, di sebuah desa di Ningxia, seseorang yang terbiasa mendengar suara langkah jamaah menuju masjid mungkin mendapati jalur yang sama tampak berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.

Foto satelit berikutnya sudah menunggu untuk diambil.


Related

Internasional 5241828273348940105

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item