Soal Kemungkinan dan Cara Pikiran Mempermainkan Manusia

Ilustrasi milik BSM
Seseorang mengatakan, “Saya bisa membayangkan itu terjadi,” dan entah bagaimana kalimat itu terasa seperti argumen. Padahal ia belum memberikan angka, data, frekuensi, atau bukti apa pun. Ia hanya berhasil membuat sebuah kejadian hidup di dalam kepala kita.

Itulah bagian yang agak mengganggu dari cara manusia memperkirakan kemungkinan. Kita sering mengira sedang bertanya, “Seberapa mungkin hal ini terjadi?” Padahal yang diam-diam kita tanyakan adalah, “Seberapa mudah saya membuat kejadian ini berjalan di kepala saya?”

Daniel Kahneman dan Amos Tversky memberi nama pada mekanisme itu: simulation heuristic. Dalam bab The Simulation Heuristic yang terbit dalam Judgment under Uncertainty: Heuristics and Biases pada 1982, mereka menggambarkan penilaian mental sebagai semacam simulasi. Pikiran mengambil kondisi awal, memasukkan beberapa keadaan, mengubah satu-dua hal, kemudian melihat apakah hasil yang diinginkan terasa mudah dicapai. Semakin mudah suatu hasil dibangun secara mental, semakin masuk akal hasil itu terasa.

Kita bisa merasakan mekanisme itu tanpa melakukan eksperimen psikologi apa pun. Bayangkan seseorang terlambat naik pesawat karena terjebak macet lima belas menit. Pesawat kemudian mengalami kecelakaan. Sangat mungkin orang-orang di sekitarnya akan berkata, “Seandainya dia berangkat lima menit lebih awal...” Kalimat itu terasa begitu konkret karena kita dapat menjalankan ulang filmnya. Jalan raya masih sama, mobil masih sama, orang yang sama masih duduk di kursi yang sama; kita hanya menggeser satu kejadian kecil. Lima menit. Pikiran segera menghasilkan dunia alternatif tempat orang tersebut masih hidup.

Bandingkan dengan seseorang yang membeli tiket lotere dan tidak menang. Kita juga bisa mengatakan, “Seandainya nomor yang dipilih berbeda.” Secara matematis, perubahan satu angka memang dapat mengubah hasil. Tetapi sensasi psikologisnya tidak sama. Kita tidak melihat jalur alternatif itu dengan jelas. Tidak ada satu kejadian kecil yang terasa sebagai penyebab kegagalan. Karena itu, penyesalan setelah kecelakaan yang sebenarnya sering jauh lebih menyakitkan daripada kegagalan yang secara probabilistik sama-sama mungkin.

Kahneman dan Tversky memang tertarik pada hal semacam itu: mental undoing, kemampuan pikiran untuk membatalkan sebagian kejadian yang sudah terjadi dan membangun kembali hasil yang berbeda. Mereka menemukan bahwa pikiran tidak mengubah masa lalu secara acak. Kita cenderung membuang kejadian yang terasa tidak biasa atau mengubah bagian yang sedang menjadi pusat perhatian.

Masalahnya, kemampuan membuat simulasi yang lancar sering menyusup ke penilaian probabilitas.

Kita membaca berita tentang seorang pendaki yang tersesat di gunung. Ceritanya lengkap: kabut turun, baterai telepon habis, jalur bercabang, sepatu licin, suhu turun setelah matahari tenggelam. Dalam beberapa detik kita sudah mempunyai film pendek di kepala. Kita bisa melihat orang itu berjalan sendirian, tangan dingin, layar ponsel tinggal 3 persen, napas mulai berat. Gunung mendadak terasa sangat berbahaya.

Padahal tidak ada satu pun gambar mental tersebut yang memberi tahu kita probabilitas sebenarnya.

Tversky dan Kahneman sudah menyinggung persoalan imaginability itu bahkan dalam pembahasan mereka mengenai penilaian risiko: bahaya dapat terasa sangat besar ketika banyak konsekuensinya mudah digambarkan secara jelas, sementara bahaya lain bisa diremehkan justru karena sulit dibayangkan.

Itu membuat cerita menjadi alat yang sangat kuat untuk mengubah persepsi risiko. Statistik berkata, “Kemungkinan kejadian X adalah sekian.” Cerita berkata, “Begini rasanya ketika X terjadi.”

Otak kita rupanya jauh lebih senang bekerja dengan kalimat kedua.

Penelitian yang lebih baru menunjukkan hubungan semacam itu masih dapat diamati. Dalam penelitian mengenai persepsi risiko terkait kejadian iklim, misalnya, kemudahan membayangkan konsekuensi suatu kejadian berkorelasi dengan persepsi risiko dan persepsi probabilitas. Dalam satu sampel besar penelitian tersebut, kemudahan imajinasi berkorelasi sekitar 0,44 dengan probabilitas yang dirasakan. Korelasi tentu bukan bukti bahwa imajinasi menyebabkan penilaian itu, tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa “mudah dibayangkan” dan “terasa mungkin” memang sering berjalan bersama.

Ada sesuatu yang ganjil di sini. Kita mempunyai alat statistik yang dapat mengatakan bahwa suatu kejadian hanya mempunyai peluang satu banding sejuta. Kita memahami secara intelektual apa arti satu banding sejuta. Tetapi ketika seseorang memberikan cerita yang sangat rinci tentang satu kejadian semacam itu kepada kita, angka tersebut bisa kehilangan sebagian kekuatannya. 

Seseorang yang memenangkan lotere terdengar biasa saja kalau hanya disebut sebagai angka. Satu dari sekian juta tiket. Setelah diberi nama, umur, kota, nomor tiket, tempat kerjanya, kios tempat tiket dibeli, dan adegan ketika ia memeriksa enam angka satu per satu, kejadian yang sangat langka itu berubah menjadi sesuatu yang hampir bisa disentuh.

Cerita telah melakukan pekerjaan yang seharusnya dilakukan probabilitas.

Hal semacam itu juga bisa bergerak ke arah sebaliknya. Risiko yang sangat nyata tetapi abstrak sering terasa seperti tidak ada. Kegagalan sistem, kombinasi beberapa kesalahan kecil, kerusakan perangkat yang tidak terlihat, atau kejadian yang membutuhkan sepuluh langkah sebelum menghasilkan bencana, sangat sulit divisualisasikan. Tidak ada satu adegan yang menempel kuat di kepala. Tidak ada film pendek.

Pesawat yang jatuh mudah dibayangkan. Rangkaian kesalahan administratif selama enam bulan yang perlahan membuat sebuah sistem menjadi rapuh jauh lebih membosankan.

Padahal bencana sering lahir dari hal yang membosankan.

Saya kira itu salah satu alasan mengapa orang dapat merasa sangat yakin terhadap kemungkinan sebuah kejadian setelah mendengar penjelasan yang bagus. Penjelasan itu memberi jalur kepada kita. Begitu jalurnya tersedia, kita dapat menjalankannya: A menyebabkan B, B memicu C, C menghasilkan D. Kepala terasa penuh. Kita mengira informasi bertambah karena skenarionya semakin lengkap.

Padahal kelengkapan cerita dan kemungkinan kejadian adalah dua hal yang berbeda.

Eksperimen tentang risiko juga memperlihatkan betapa cara menyajikan informasi dapat mengubah imaginability. Ben Newell dan rekan-rekannya, misalnya, meneliti bagaimana format statistik mempengaruhi kemampuan orang membayangkan kejadian berprobabilitas rendah. Dalam beberapa eksperimen tentang hasil seperti terkena luka atau memenangkan lotere, format frekuensi—misalnya “20 dari 2.000”—dapat membuat angka lebih mudah dibayangkan dibandingkan bentuk persentase yang sangat kecil. Penelitian itu juga menemukan bahwa imaginability memang memainkan peran dalam cara orang memikirkan kejadian berprobabilitas rendah, meskipun mekanisme tepatnya lebih rumit daripada sekadar “semakin mudah dibayangkan, semakin dipercaya.”

Ini bagian yang saya suka dari penelitian semacam itu: pikiran manusia tidak sedang bodoh. Ia sedang menggunakan jalan pintas yang masuk akal untuk sesuatu yang memang sulit dilakukan. Menghitung probabilitas nyata dari kehidupan sehari-hari hampir selalu mustahil. Kita tidak membawa tabel distribusi, data dasar, dan kalkulator statistik, ketika menerima telepon dari teman yang berkata, “Tadi hampir kecelakaan.”

Kita langsung membuat adegannya. Mobil dari arah kanan. Motor muncul. Rem diinjak. Setengah detik. Suara klakson.

Adegan itu begitu mudah berjalan di kepala sehingga tubuh pun ikut bereaksi. Bahu menegang. Perut terasa mengeras. Kita mungkin mengucapkan, “Untung selamat.” Setelah itu, tanpa sadar, kita mulai menilai bahwa kecelakaan seperti tadi memang sangat mudah terjadi.

Padahal satu-satunya hal yang telah terbukti adalah bahwa kita berhasil membayangkannya dengan lancar.

Saya kira di situlah kekacauan kecilnya. Pikiran tidak hanya memakai imajinasi untuk memahami dunia. Ia memakai imajinasi untuk memperkirakan dunia. Dua fungsi itu kadang terlalu dekat. Sebuah kemungkinan yang mempunyai jalan cerita yang jelas memperoleh keuntungan psikologis dibandingkan kemungkinan yang membutuhkan sepuluh langkah, tiga tabel, dan sedikit kesabaran.

Risiko yang punya gambar mendapat perhatian. Risiko yang hanya punya distribusi probabilitas menunggu di sudut halaman.

Kita kemudian bertanya mengapa orang begitu takut terhadap sesuatu yang jarang terjadi, atau begitu tenang terhadap sesuatu yang secara statistik lebih mungkin. Jawabannya kadang sangat sederhana dan agak memalukan: yang satu sudah menjadi film di kepala kita, yang lain belum.

Angka itu masih berupa angka. Ceritanya sudah berjalan.


Related

Psikologi 1432218478531356816

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item