Ulasan Novel The Brethren (Majelis) Karya John Grisham

Ilustrasi/bookquote.net
Novel The Brethren mungkin salah satu karya John Grisham yang paling aneh. Aneh dalam arti yang baik. Pembaca yang datang dengan harapan menemukan pengacara muda idealis, ruang sidang yang menegangkan, atau pertarungan hukum yang rumit, akan segera sadar bahwa mereka sedang berada di wilayah yang berbeda. 

Buku ini tidak dibuka dengan sidang besar atau pembunuhan sensasional, tetapi dengan tiga mantan hakim yang sedang menjalani hukuman penjara di sebuah penjara federal bernama Trumble, Florida. Ketiganya tua, licik, agak menyedihkan, dan sama sekali bukan tokoh yang biasanya dijadikan pusat sebuah thriller.

Nama kelompok mereka adalah "The Brethren". Persaudaraan. Sebuah klub kecil yang anggotanya terdiri dari tiga hakim yang telah jatuh dari singgasana hukum. Joe Roy Spicer dari Texas, Finn Yarber dari Mississippi, dan Hatlee Beech dari South Carolina. Mereka menghabiskan hari-hari dengan mengurus pengaduan sesama narapidana, membaca surat, bergosip, dan mencoba mempertahankan ilusi bahwa mereka masih penting.

Tidak terdengar seperti bahan baku novel thriller laris jutaan eksemplar. Grisham justru melihat sesuatu yang menarik dalam reruntuhan manusia.

Ketiga hakim itu bukan orang baik. Mereka masuk penjara karena korupsi, penyuapan, penggelapan, dan berbagai bentuk kebusukan yang ironisnya mereka hukum ketika masih mengenakan jubah hakim. Mereka adalah produk sempurna dari salah satu tema favorit Grisham: institusi yang terlihat terhormat sering kali menyimpan pembusukan yang tidak kalah parah dibanding dunia kriminal.

Dari sebuah ruang kecil di penjara, ketiganya menjalankan penipuan sederhana. Mereka memasang iklan personal palsu di majalah gay, menyamar sebagai pria muda, lalu membangun hubungan surat-menyurat dengan pria-pria kaya yang kesepian. Setelah memperoleh informasi pribadi yang cukup, mereka mulai memeras para korbannya secara diam-diam.

Skema itu tampak kecil. Murahan, bahkan. Sampai mereka memilih korban yang salah. Atau korban yang terlalu besar.

Di titik itulah The Brethren mulai menunjukkan bentuk aslinya. Korban yang mereka target ternyata seorang pria yang sedang meniti jalan menuju Gedung Putih. Namanya Aaron Lake, seorang kongresman tampan, veteran perang, pahlawan publik, dan kandidat presiden yang sedang dipoles dengan sangat hati-hati oleh mesin politik Amerika.

Grisham kemudian melakukan sesuatu yang menurut saya lebih menarik daripada sekadar menulis thriller. Ia membelah novel menjadi dua dunia yang tampaknya tidak berkaitan. Satu dunia adalah penjara federal yang pengap, penuh narapidana, kantin murahan, dan surat-surat cinta palsu. Dunia lain adalah Washington, markas besar CIA, konsultan politik, lembaga survei, dan operasi rahasia bernilai miliaran dolar.

Perlahan, dua dunia itu bertabrakan.

Ketika membaca novel ini, saya terus merasa bahwa Grisham sebenarnya sedang menertawakan Amerika. Tawa yang pahit. Tawa yang muncul dari seseorang yang mengenal sistem dari dalam. Sebelum jadi novelis, Grisham adalah pengacara dan anggota legislatif negara bagian Mississippi. Ia tahu bagaimana kekuasaan bekerja ketika pintu ruang rapat ditutup.

Banyak novel politik menggambarkan konspirasi besar dengan nada heroik. The Brethren lebih sinis. Kekuasaan di sini tidak terasa agung. Kekuasaan terasa seperti sekelompok pria yang duduk di meja konferensi sambil menghitung angka survei, mengelola skandal, dan memanipulasi persepsi publik.

Aaron Lake sendiri menarik karena ia hampir tidak memiliki kedalaman psikologis yang besar. Sebagian pembaca menganggap itu kelemahan. Saya justru melihatnya sebagai bagian dari rancangan novel. Aaron Lake bukan manusia sepenuhnya. Ia produk politik. Ia seperti figur yang diproduksi oleh fokus grup, konsultan media, dan lembaga intelijen.

Dalam banyak adegan, tokoh yang paling berkuasa justru terasa paling kosong. 

Sebaliknya, tiga hakim tua yang korup dan menjijikkan malah terasa hidup. Mereka serakah. Mereka cerewet. Mereka penuh prasangka. Mereka terus bertengkar soal uang. Mereka mengeluh tentang makanan penjara. Mereka menyimpan majalah-majalah murahan. Mereka manusia.

Salah satu hal yang membuat The Brethren berbeda dari novel Grisham yang lain adalah absennya figur moral yang jelas. Dalam The Firm, pembaca tahu siapa yang harus didukung. Dalam The Client, simpati mengalir kepada Mark Sway dan Reggie Love. Dalam A Time to Kill, meskipun kompleks, pusat moral cerita masih cukup jelas.

Dalam The Brethren, semua orang tampak bermasalah. Para hakim adalah penjahat. Politisi manipulatif. Intelijen licik. Media mudah dikendalikan. Orang kaya punya rahasia. Tidak ada tokoh yang bisa dijadikan tempat beristirahat secara moral. Mungkin karena itulah novel ini terasa lebih dingin dibanding karya-karya Grisham yang lain.

Dingin itu juga muncul dari cara Grisham menggambarkan mesin keamanan nasional Amerika. Salah satu subplot terpenting novel ini melibatkan operasi rahasia CIA yang berusaha menciptakan presiden ideal demi kepentingan anggaran pertahanan dan proyek-proyek militer masa depan. 

Ketika novel ini terbit pada 2000, sebagian pembaca menganggap premis tersebut agak berlebihan. Setelah dua dekade terakhir dipenuhi berbagai perdebatan tentang pengaruh lembaga intelijen, manipulasi informasi, operasi psikologis, dan hubungan erat antara politik serta industri pertahanan, novel ini terasa jauh lebih masuk akal dibanding saat pertama kali diterbitkan. 

Saya tidak mengatakan Grisham sedang membuat ramalan. Ia hanya memahami satu hal sederhana: uang dalam jumlah besar akan selalu mencari cara untuk mengendalikan kekuasaan.

Di tengah semua itu, penjara Trumble tetap menjadi lokasi paling menarik dalam novel. Grisham memiliki bakat luar biasa dalam menggambarkan rutinitas. Bunyi pintu baja yang dibuka setiap pagi. Wajah narapidana yang sama. Aroma kopi murahan. Surat-surat yang datang melalui ruang penyortiran. Kalender yang bergerak lambat.

Banyak thriller takut terhadap rutinitas karena dianggap membosankan. Grisham memahami bahwa rutinitas adalah bahan bakar ketegangan.

Pembaca terus sadar bahwa kehidupan di Trumble berjalan seperti biasa, sementara badai politik sedang berkumpul di luar tembok penjara.

Buku ini memang tidak sempurna. Beberapa kritikus menilai akhir ceritanya terlalu tergesa-gesa. Kritik itu cukup masuk akal. Setelah membangun jaringan konspirasi yang begitu besar, penyelesaiannya terasa lebih cepat daripada yang diharapkan. Beberapa karakter pendukung juga berfungsi lebih sebagai alat plot daripada manusia utuh.

Tetapi kelemahan itu tidak menghapus hal yang paling saya sukai dari The Brethren: keberaniannya menjadi aneh.

John Grisham saat itu sudah menjadi raksasa penerbitan. Ia bisa saja terus mengulang formula yang aman. Pengacara muda. Sidang besar. Putusan mengejutkan. Buku laris.

Sebaliknya, ia menulis novel tentang tiga hakim tua korup yang menjalankan bisnis pemerasan dari dalam penjara, sambil tanpa sengaja mengacaukan pemilihan presiden Amerika Serikat.

Gagasan seperti itu terdengar seperti cerita yang muncul pukul dua dini hari setelah terlalu banyak minum kopi.

Ketika buku ditutup, yang paling tertinggal bukan intriknya. Bukan pula konspirasi politiknya. Yang tersisa justru gambaran tiga pria tua di sebuah penjara Florida, duduk di meja, membuka surat demi surat, merasa lebih pintar daripada semua orang di luar sana.

Untuk sementara, mereka memang benar. Sampai telepon tertentu mulai berdering di Washington.


Related

Buku 2902382910191304503

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item