Banjir Molase, Bencana Paling Aneh dalam Sejarah Boston
https://www.belajarsampaimati.com/2026/10/banjir-molase-bencana-paling-aneh-dalam.html
![]() |
| Ilustrasi/bbc.com |
Orang-orang di North End, Boston, mula-mula mengira suara itu berasal dari kereta layang. Wajar. Pada siang hari, kawasan Commercial Street memang tidak pernah benar-benar sunyi: roda gerobak, derap kuda, mesin kendaraan, suara buruh, dan bunyi kereta elevated railway bercampur jadi kebisingan kota yang sudah begitu biasa sehingga telinga penduduk nyaris tidak perlu memperhatikannya. Beberapa petugas pemadam kebakaran bahkan sedang duduk makan siang dan bermain kartu di dekat Engine 31.
Kemudian tangki itu pecah.
Bukan tangki air, bukan minyak, bukan bahan peledak. Molase. Cairan manis berwarna cokelat tua yang biasanya berakhir di dapur atau pabrik makanan. Pada 15 Januari 1919, sebuah tangki baja setinggi sekitar 15 meter di Commercial Street robek dan melepaskan sekitar 2,3 juta galon molase ke jalan-jalan North End. Jumlahnya kira-kira 26 juta pon. Cairan itu bergerak dengan kecepatan yang diperkirakan mencapai 35 mil per jam pada bagian awal alirannya. Dua puluh satu orang tewas, sekitar 150 orang terluka.
Kalau fakta itu dibaca terlalu cepat, otak cenderung menganggapnya sebagai lelucon sejarah. Molase? Membunuh 21 orang? Bahkan nama peristiwanya terdengar seperti sesuatu yang dibuat oleh penulis komedi yang kehabisan ide. Orang Boston sendiri membutuhkan waktu untuk menjelaskan kepada orang luar bahwa mereka sedang membicarakan tragedi sungguhan. Tidak ada punchline. Tidak ada bagian lucu setelahnya.
Tangki milik Purity Distilling Company berdiri di kawasan pelabuhan, dekat Copp’s Hill, di tengah lingkungan padat yang dihuni keluarga pekerja, banyak di antaranya imigran Italia dan Irlandia. Tingginya sekitar 50 kaki dan diameternya sekitar 90 kaki. Tangki tersebut dibangun pada 1915 untuk menyimpan molase yang kemudian difermentasi menjadi alkohol industri.
Ketika Amerika Serikat masih berperang dalam Perang Dunia I, alkohol industri mempunyai hubungan langsung dengan produksi amunisi. Setelah perang berakhir pada November 1918, tangki itu tetap penuh karena perusahaan masih memiliki molase yang harus diproses.
Beberapa hari sebelum bencana, kapal dari Puerto Rico mengirimkan muatan baru. Tangki hampir penuh: sekitar 2,3 juta galon. Itu baru keempat kalinya tangki tersebut diisi mendekati kapasitas maksimumnya. Dua hari kemudian, pada siang yang relatif hangat untuk musim dingin Boston, baja dan paku kelingnya menyerah.
Penelitian teknik modern menunjukkan bahwa desain tangki memang bermasalah: dinding bajanya terlalu tipis untuk beban sebesar itu dan sambungan rivet menghadapi tekanan yang berlebihan. Perusahaan juga sudah menerima keluhan mengenai kebocoran tangki, tetapi tindakan yang dilakukan lebih banyak berupa menambal kebocoran daripada membongkar persoalan strukturnya.
Detail kebocoran itu membuat tragedinya terasa semakin menyebalkan. Tangki tersebut tidak tiba-tiba menjadi berbahaya pada pukul 12.30. Ia sudah memberikan tanda. Molase menetes keluar. Bunyi logam terdengar. Penduduk sekitar terbiasa dengan suara tangki, dan bahkan anak-anak kadang bermain di sekitarnya. Orang hidup bersama benda berbahaya cukup lama sampai benda itu kehilangan aura bahayanya. Itu salah satu kebiasaan manusia yang paling mahal.
Sekitar tengah hari, pekerja mengambil waktu makan. Di dekat tangki, anak-anak sedang mencari kayu bakar. Antonio Di Stasio dan saudara perempuannya, Maria, yang keduanya berusia sepuluh tahun, berada di kawasan tersebut bersama Pasquale Iantosca. Ketiga anak itu kemudian terseret ke dalam bencana. Maria tewas karena tersedak dan tenggelam dalam molase; Pasquale meninggal setelah terkena gerbong kereta; Antonio selamat dengan cedera berat.
Kecepatan molase jadi bagian paling mengerikan dari cerita ini. Kita terbiasa membayangkan molase sebagai sesuatu yang lambat. Bahkan bahasa Inggris memiliki ungkapan slow as molasses. Cairan itu memang kental, tetapi 2,3 juta galon yang dilepaskan sekaligus bukan lagi persoalan konsistensi makanan. Beratnya menghasilkan energi yang luar biasa.
Gelombang awalnya menghantam jalan, rumah, kendaraan, tiang listrik, dan struktur elevated railway. Beberapa perkiraan kontemporer menyebut tinggi gelombang belasan hingga puluhan kaki; penelitian kemudian menempatkan ukuran awalnya lebih rendah daripada angka-angka fantastis yang pernah muncul di surat kabar, tetapi tetap cukup besar untuk menghancurkan blok-blok bangunan.
Petugas pemadam kebakaran yang berada di sekitar sana tidak sedang menunggu bencana. Mereka sedang makan dan bermain kartu. Detail kecil semacam itu terus mengganggu saya ketika membaca kisah tersebut.
Kita sering mengingat bencana melalui gambar setelah kejadian: bangunan hancur, jalan penuh lumpur, mayat, mobil rusak. Sejarah kemudian membuat semuanya tampak seolah-olah orang-orang yang berada di sana memang sedang menjalani hari yang istimewa. Padahal mereka sedang makan siang. Seseorang mungkin baru saja memegang kartu. Seseorang mungkin sedang memikirkan pekerjaan sore. Seorang anak sedang mencari kayu.
Setelah gelombang berhenti, persoalannya berubah bentuk. Molase yang mengalir cepat mulai mendingin dan jadi semakin kental. Para korban terperangkap di dalamnya. Tim penyelamat harus bekerja di antara puing-puing bangunan dan permukaan lengket yang menutupi jalan. Tubuh manusia dan bangkai kuda tertutup lapisan cokelat. Pekerjaan pembersihan berlangsung berbulan-bulan. Air laut di Boston Harbor berubah kecokelatan, sementara bau molase dilaporkan tetap terasa di kawasan tersebut untuk waktu yang sangat lama.
Perusahaan kemudian mencoba mempertahankan diri dari tuntutan hukum dengan menyiratkan bahwa tangki mungkin dihancurkan oleh kaum anarkis. Tuduhan itu tidak bertahan. Kasus hukum yang menyusul menjadi perkara penting dalam sejarah hukum Amerika, karena penggugat berhasil menunjukkan tanggung jawab perusahaan atas konstruksi dan kegagalan tangki. Perusahaan akhirnya harus membayar penyelesaian lebih dari satu juta dolar.
Yang membuat kisah ini bertahan selama lebih dari satu abad bukan cuma keanehannya. Kalau tangkinya berisi bensin, semua orang akan segera memahami ceritanya. Kalau berisi bahan peledak, tragedinya terasa masuk akal. Molase membuat kita berhenti sebentar. Otak perlu beberapa detik untuk menerima bahwa benda yang identik dengan pancake dan roti jahe dapat menghancurkan sebuah lingkungan.
Mungkin karena itu foto-foto bencana tersebut terasa begitu ganjil. Orang berdiri di antara puing-puing, permukaan jalan mengilap oleh lapisan cokelat, bagian tangki terpelintir, struktur kereta layang rusak. Mata mencari sesuatu yang tampak seperti penyebab tragedi besar. Tidak ketemu. Yang terlihat hanyalah makanan dalam jumlah yang tidak masuk akal.
Pada musim panas, warga North End bahkan masih mencium aroma molase di udara. Beberapa laporan menyebut bau tersebut bertahan selama bertahun-tahun; ingatan lokal tentangnya jauh lebih panjang lagi.
Begitulah salah satu bencana paling mematikan dalam sejarah Boston bermula: sebuah tangki yang bocor, sebuah pengiriman baru dari Puerto Rico, cuaca yang mendadak lebih hangat, makan siang, permainan kartu, anak-anak mencari kayu bakar, kemudian suara logam yang pecah.
Sesudah itu, Commercial Street berwarna cokelat. Dan orang-orang harus belajar membersihkan molase dari kota mereka.
Catatan terkait: Ledakan Tunguska Mengguncang Siberia, Orang Melihat Langit Terbelah


