Buku Kecil Misterius yang Menunggu 50 Tahun untuk Pulang
https://www.belajarsampaimati.com/2026/10/buku-kecil-misterius-yang-menunggu-50.html
![]() |
| Ilustrasi milik BSM |
Buku kecil itu disimpan Albert Elsbernd selama hampir setengah abad di laci paling bawah meja kerjanya. Ia memasukkannya ke dalam kotak sepatu, bersama dokumen asuransi mobil, rekening bank, dan foto anak-anak. Benda yang pernah berada di sebuah bangunan yang dihantam artileri di Filipina, pernah menjadi milik seorang teknisi pesawat Jepang berusia 21 tahun, kemudian berpindah ke tangan seorang anak Amerika berusia 14 tahun, akhirnya tinggal di antara kertas-kertas rumah tangga. Tidak ada museum, tidak ada vitrin. Hanya laci.
Albert Elsbernd pertama kali melihat buku itu pada 1945. Ia masih terlalu muda untuk menjadi prajurit. Seorang tentara Amerika yang pulang dari Filipina membawanya sebagai suvenir dan memberikannya kepada pacar kakak perempuan Albert, yang kemudian menyerahkannya kepada anak laki-laki itu.
Buku tersebut ditemukan di sebuah meja dalam bangunan yang sudah berlubang-lubang akibat tembakan artileri. Albert membuka halaman-halamannya dan mendapati tulisan Jepang yang tidak dapat dibacanya. Justru karena tidak mengerti isinya, buku itu terasa lebih misterius. Ia tahu benda tersebut milik “enemy soldier”, seorang prajurit musuh yang sungguh-sungguh berada di perang yang selama itu hanya ia kenal sebagai sesuatu yang jauh.
Albert menyimpannya sebagai benda perang. Pada usia empat belas tahun, itu masuk akal. Anak-anak bisa mengoleksi hampir apa saja yang bagi orang dewasa memiliki arti berbeda: selongsong peluru, lencana, foto tentara, pisau, buku. Benda perang mudah berubah menjadi benda petualangan ketika kematian belum benar-benar dipahami. Albert sendiri kelak mengingat bahwa ia mempunyai “wild aspirations about war and battles”. Buku Jepang itu, dengan tulisan yang tidak bisa ia baca, memberi sensasi bahwa ia sedang memegang sesuatu yang berasal langsung dari dunia perang.
Kemudian hidupnya berjalan. Albert ikut Perang Korea. Ia menjadi polisi di Cincinnati selama hampir tiga puluh tahun. Ia menikah, memiliki anak, bekerja, menua. Buku kecil bersampul kulit itu tetap berada di kotak sepatu. Setiap kali membersihkan laci, ia melihatnya. Ia tidak membuangnya.
Perubahan sikap Albert tidak datang dari membaca isi buku tersebut. Ia tetap tidak mampu menerjemahkannya. Pemicu yang jauh lebih pribadi justru datang dari keluarganya sendiri. Seorang sepupunya terbunuh di Jerman dalam Perang Dunia II, hanya tiga bulan setelah berusia 18 tahun. Albert melihat bagaimana bibinya berduka karena hampir tidak mempunyai cukup foto atau benda peninggalan untuk disimpan sebagai kenangan. Pengalaman tersebut membuat buku milik tentara Jepang tadi terasa berbeda. Kalau keluarganya sendiri kehilangan seorang anak muda dengan begitu sedikit benda yang tersisa, bagaimana dengan keluarga pemuda yang menulis buku itu?
Gagasan tersebut menetap lama sekali.
Albert mencoba menerjemahkan buku itu beberapa kali. Ia mencari petunjuk yang mungkin mengarah kepada pemiliknya, tetapi tidak berhasil. Ia bahkan tidak tahu apakah nama yang tercantum di dalamnya masih bisa dilacak. Perang sudah lewat hampir lima puluh tahun. Jepang sudah berubah. Filipina sudah berubah. Albert sendiri sudah menjadi lelaki 64 tahun.
Buku itu tetap di laci.
Kisah ini mungkin akan berakhir sebagai salah satu dari ribuan benda perang yang tidak pernah kembali kepada siapa pun, kalau bukan karena keponakannya, Mark Elsbernd. Mark tinggal di California, dan bekerja sebagai insinyur manufaktur di Dataproducts Corp., perusahaan yang ketika itu merupakan bagian dari Hitachi. Pada suatu malam mereka makan di sebuah restoran di Burbank. Albert mengeluarkan buku tersebut dari sakunya dan menunjukkannya kepada Mark. Ia mengatakan bahwa dirinya sudah terlalu lama menyimpan benda itu. Buku tersebut, menurutnya, milik orang lain.
Ada detail yang sangat khas Albert dalam percakapan itu. Ia bahkan memberi instruksi kedua: kalau Mark tidak menemukan siapa pun yang menginginkannya, buang saja buku tersebut ke laut. Dengan begitu, setidaknya buku itu bisa bergerak kembali menuju Jepang. Pemiliknya sendiri tidak pernah berhasil pulang.
Mark tidak membuangnya. Ia membawa buku tersebut kepada Katsuhide Kato, seorang eksekutif Hitachi asal Jepang. Kato membaca buku itu dari awal sampai akhir. Bagi Kato, tulisan tersebut langsung memiliki nilai yang tidak dimiliki Albert selama puluhan tahun: ia bisa dibaca. Ia tahu apa yang sedang dipegangnya.
Buku itu mencatat data pribadi, pergerakan militer, catatan tentang pesawat, dan pengalaman penulisnya selama beberapa bulan pada 1945. Buku kecil itu masih memiliki label harga 300 yen. Hampir seluruhnya ditulis dalam bahasa Jepang; hanya tiga kata bahasa Inggris yang ditemukan di dalamnya: “stainless steel plates”.
Nama pemiliknya ternyata Kazumi Nemoto.
Nemoto bukan infanteri yang tewas dalam adegan heroik yang bisa dipasang di poster. Ia seorang teknisi pesawat Angkatan Laut Jepang. Ia berada di Filipina pada saat perang sudah bergerak menuju kehancuran bagi pasukan Jepang. Buku hariannya mencatat hal-hal militer, tetapi juga sesuatu yang jauh lebih biasa: kesedihan karena tidak sempat bertemu saudaranya ketika memperoleh cuti. Ia menulis tentang malaria yang menyebar di antara tentara Jepang pada musim semi 1945. Penyakit itu membunuh begitu banyak orang sehingga para penerjemah yang memeriksa buku tersebut menduga malaria mungkin ikut menyebabkan kematian Nemoto. Catatan terakhirnya dibuat tidak lama sebelum ia meninggal pada 24 April 1945. Usianya 21 tahun.
Tanggal kematian itu mengubah buku tersebut menjadi benda yang jauh lebih berat.
Seorang pemuda Jepang menulis beberapa halaman tentang kehidupannya, penyakit, pesawat, gerakan militer, dan keluarganya. Ia tidak tahu bahwa halaman-halaman itu akan tertinggal di Filipina. Ia tidak tahu seorang anak Amerika akan membawanya pulang. Ia tidak tahu anak tersebut akan menyimpannya sepanjang hidupnya. Nemoto bahkan tidak tahu bahwa hampir lima puluh tahun kemudian seorang lelaki Amerika akan merasa bersalah karena masih memiliki buku miliknya.
Albert kemudian meminta bantuan Mark untuk menemukan keluarga Nemoto.
Koneksi Hitachi ternyata sangat berguna. Kato menghubungi Hiroshi Gonmori, eksekutif senior Hitachi yang pernah bertugas dalam penerbangan Angkatan Laut Jepang di Filipina. Mereka mencoba mencari data militer Nemoto. Pencarian awal tidak berhasil. Setelah itu mereka meminta bantuan media Jepang. Sebuah surat kabar menerbitkan pengumuman dengan judul yang kurang lebih berbunyi: “Please Help Search for Soldier Nemoto’s Family.”
Keesokan harinya, seseorang menelepon.
Namanya Hiroshi Nemoto. Ia adalah keponakan Kazumi, berusia 70 tahun, dan tinggal di Samekawa, sebuah kota kecil di Fukushima, sekitar 200 mil sebelah utara Tokyo. Hiroshi merupakan anak bungsu dari tujuh bersaudara. Selama bertahun-tahun ia sudah tidak berharap menemukan benda peninggalan pamannya. Perang telah berlangsung terlalu lama untuk memberi banyak harapan. Foto, surat, seragam, buku harian—semua benda kecil yang biasanya membuat seseorang yang telah mati tetap memiliki bentuk di dalam ingatan keluarga—sudah lama dianggap hilang.
Mark kemudian terbang ke Jepang untuk mengembalikan buku tersebut.
Pada 30 November 1994, ia bertemu Hiroshi di Samekawa. Pertemuan itu berlangsung sekitar tiga jam. Mereka mengunjungi desa dan sebuah monumen perang untuk para pemuda Samekawa yang meninggal. Mark mengatakan bahwa jantungnya berdebar ketika akhirnya berhadapan dengan Hiroshi.
Mereka membungkuk satu sama lain. Berjabat tangan.
Mark menyerahkan buku tersebut. “Sir, this diary belongs with you, not us,” katanya.
Sebuah benda yang selama hampir lima puluh tahun berada di Cincinnati akhirnya berada di Fukushima.
Hiroshi kemudian mengajak Mark berkeliling desa. Mereka pergi ke tempat pemakaman dan monumen untuk orang-orang Samekawa yang mati dalam perang. Mark datang sebagai keponakan lelaki Amerika yang menemukan sebuah buku. Ia pulang dari pertemuan itu dengan perasaan bahwa ia mengenal Kazumi, meskipun mereka tidak pernah bertemu.
Kisah ini memiliki bagian yang mengganggu karena tidak pernah benar-benar bisa diselesaikan. Buku itu tidak mengembalikan Kazumi Nemoto. Ia tidak memberi jawaban pada keluarganya tentang menit-menit terakhir kehidupannya. Tidak ada adegan ketika seorang anak muda Jepang tiba-tiba muncul kembali melalui benda peninggalannya. Yang kembali hanyalah buku kecil bersampul kulit, dengan tulisan yang sebagian besar dibuat oleh tangan seseorang yang meninggal pada usia 21 tahun.
Albert berada ribuan kilometer jauhnya di Cincinnati ketika buku tersebut dikembalikan. Ia tidak ikut menyaksikan Hiroshi menerimanya. Ia hanya menunggu kabar dari Mark.
Bertahun-tahun sebelumnya, ia pernah memegang buku itu sebagai anak laki-laki dan merasa sedang memegang sesuatu yang misterius karena tulisan di dalamnya tidak bisa dibaca.
Pada usia 64 tahun, ia memegangnya dengan cara yang sama sekali berbeda. Ia tidak lagi ingin tahu apa yang dilakukan musuh. Ia ingin tahu siapa yang menunggu buku itu pulang.
Catatan terkait: Simon Trakinski Menghitung Kereta Perang yang Lewat


