Léo Major, Satu Orang Membebaskan Kota dari Pasukan Jerman

Léo Major, Satu Orang Membebaskan Kota dari Pasukan Jerman
Ilustrasi milik BSM
Ketika seorang prajurit kehilangan penglihatan pada satu matanya, naluri militer biasanya cukup sederhana: keluarkan dia dari garis depan. Léo Major justru menolak. Ia masih bisa melihat dengan mata yang lain, katanya, dan masih bisa bertempur. Ia diberi perban, kembali ke unit, lalu beberapa tahun kemudian orang yang sama akan berjalan sendirian menuju sebuah kota Belanda yang masih dipenuhi tentara Jerman, dan membuat garnisun di sana percaya bahwa pasukan Kanada dalam jumlah besar sedang bergerak masuk.

Nama kotanya Zwolle. 

Kisah Léo Major terdengar terlalu cocok untuk film perang, sampai detail-detail kecilnya mulai diperiksa. Ia lahir di New Bedford, Massachusetts, pada 23 Januari 1921, dari keluarga Kanada-Prancis, kemudian tumbuh di Montréal. Ketika Perang Dunia II pecah, ia bergabung dengan The Régiment de la Chaudière, resimen infanteri Kanada yang berasal dari Québec. Unit itu mendarat di Normandia pada Juni 1944 sebagai bagian dari 3rd Canadian Infantry Division. Major bukan perwira. Ia prajurit biasa.

Pada D-Day, ia mendarat di Pantai Juno. Beberapa bulan berikutnya dihabiskan dalam pertempuran yang semakin jauh dari pantai dan semakin dekat dengan kekacauan. Di Scheldt, Belgia, ia ikut menangkap kendaraan lapis baja Jerman. Dalam salah satu operasi, ia berhasil merebut kendaraan pengangkut amunisi berlapis baja yang kemudian digunakan untuk membantu unitnya. Ia memang punya reputasi sebagai orang yang sangat berani, agak keras kepala, dan tidak terlalu tertarik pada batas nyaman antara keberanian dan kegilaan.

Mata kirinya rusak parah ketika ia terlibat dalam penghancuran sebuah kendaraan lapis baja Jerman. Ledakan membuat serpihan masuk ke wajahnya. Penglihatannya pada mata tersebut hilang.

Dokter ingin mengevakuasinya. Major menolak. Ia meminta penutup mata dan kembali ke unit. Ada bagian dari kisah ini yang sering diceritakan sebagai lelucon keberanian maskulin—seolah-olah menolak kehilangan satu mata adalah bukti bahwa seorang prajurit memiliki mental baja. Saya justru lebih tertarik pada hal yang lebih praktis: perang membutuhkan tubuh manusia dalam kondisi tertentu, dan Major memutuskan sendiri bahwa tubuhnya masih memenuhi syarat. Ia terus bertempur.

Beberapa bulan kemudian perang membawanya ke Belanda, ke wilayah yang jauh lebih datar daripada Normandia, dan sama sekali tidak cocok dengan gambaran heroik tentang medan perang. Desa-desa, kanal, jalan berlumpur, rumah-rumah bata. Tentara Jerman masih bertahan di beberapa kota. Salah satunya Zwolle.

Pada awal April 1945, pasukan Kanada sedang mendekati kota tersebut. Zwolle penting sebagai jalur komunikasi dan posisi Jerman di kawasan itu, tetapi komando Kanada juga tidak ingin menghancurkan kota dengan bombardir besar-besaran. Pertempuran perkotaan bisa berubah menjadi pembantaian warga sipil dengan cepat.

Dua prajurit dari Régiment de la Chaudière, Léo Major dan Willy Arseneault, menerima tugas pengintaian. Mereka diminta menyusup ke sekitar Zwolle untuk mencari informasi mengenai kekuatan Jerman.

Mereka masuk pada malam hari. Keduanya bergerak melewati wilayah yang masih dikuasai Jerman. Major membawa senapan, pistol, granat, dan beberapa perlengkapan dasar. Ia mengenakan pakaian tempur lengkap. Arseneault bersamanya.

Kemudian keadaan berubah. Arseneault tewas setelah mereka bertemu tentara Jerman. Major memutuskan meneruskan misi sendirian. Di sinilah kisah tersebut berubah dari operasi pengintaian menjadi sesuatu yang hampir konyol.

Major masuk ke Zwolle dan mulai mencari posisi tentara Jerman. Ia menembak, melempar granat, bergerak dari satu tempat ke tempat lain, kemudian menghubungi atau mendatangi lokasi-lokasi yang ia yakini ditempati tentara Jerman. Beberapa sumber menggambarkan bahwa ia menggunakan senjata dan granat untuk menciptakan kesan seolah-olah unit yang jauh lebih besar sedang menyerang kota. Ia juga menangkap beberapa tentara Jerman.

Yang membuat cerita ini aneh adalah skalanya. Léo Major seorang diri. Garnisun Jerman memiliki jauh lebih banyak orang.

Tetapi perang tidak selalu diputuskan oleh jumlah yang tercantum di daftar personel. Kadang keputusan dibuat oleh apa yang terdengar di kegelapan: tembakan dari arah yang berbeda, ledakan granat, gerakan cepat, seseorang berteriak, kendaraan bergerak, kemudian tembakan lain dari sudut yang tidak terlihat. Major memanfaatkan kebingungan tersebut.

Ia mendatangi markas lokal Jerman dan memberi tahu komandan bahwa pasukan Kanada sudah mengepung kota. Ia juga mengancam akan menyerang jika mereka tidak mundur. Detail percakapan itu berbeda dalam beberapa versi kisah, dan bagian paling dramatisnya memang telah diperbesar oleh cerita-cerita populer. Yang lebih aman dikatakan: aksi Major malam itu membuat pasukan Jerman kehilangan gambaran yang jelas mengenai ukuran dan posisi pasukan Kanada yang sebenarnya.

Beberapa tentara Jerman mundur.

Major kemudian bergerak sepanjang kota, menembaki posisi tertentu, dan menciptakan suara pertempuran yang membuat ancaman Kanada terdengar lebih besar daripada kenyataan. Pada pagi hari, pasukan Kanada masuk ke Zwolle.

Kota itu relatif utuh. Itulah hasil yang paling penting.

Major kemudian pergi mencari jasad Arseneault. Ia menemukannya, dan membawanya kembali ke garis Kanada. Arseneault dimakamkan di Kanada War Cemetery di Adegem, Belgia.

Major menerima Distinguished Conduct Medal. Ia menolak medali itu pada awalnya, karena menurutnya ia tidak melakukan sesuatu yang luar biasa. Sikap semacam itu terdengar bagus setelah dibersihkan oleh waktu. Ketika seseorang baru saja melewati malam dengan satu mata, kehilangan temannya, bergerak sendirian di kota musuh, lalu kembali membawa jenazah temannya, mungkin istilah “luar biasa” memang terasa seperti bahasa kantor.

Perang Dunia II selesai beberapa minggu kemudian. Major tidak selesai dengan perang.

Pada 1950, ketika Perang Korea pecah, ia kembali menjadi prajurit. Ia bertugas dalam 2nd Battalion, Royal 22e Régiment. Kali ini ia menghadapi pasukan Korea Utara dan China. Pengalaman di Normandia dan Zwolle membentuk cara bertempurnya, tetapi Korea memberikan medan yang berbeda: pegunungan, suhu yang menggigit, dan posisi pertahanan yang berubah menjadi perang jarak dekat.

Pada Februari 1951, Major terlibat dalam Pertempuran Hill 355, salah satu posisi penting selama Perang Korea. Unit Kanada menghadapi serangan besar China. Major kembali berada di garis depan.

Kisah militernya semakin aneh ketika ia memperoleh Distinguished Conduct Medal kedua. Ia menjadi salah satu dari sedikit tentara Kanada yang menerima DCM dua kali dalam dua perang berbeda.

Satu mata. Dua perang. Dua Distinguished Conduct Medal. Angka-angka itu mudah dijadikan legenda. Manusia di baliknya jauh lebih berantakan.

Major tidak menjalani hidup seperti karakter film perang yang selesai ketika kredit mulai berjalan. Ia menikah dengan Pauline, memiliki anak, kemudian bekerja setelah meninggalkan militer. Ia tinggal di Montréal dan menjalani kehidupan yang jauh lebih biasa daripada reputasinya. Pada 2008, ketika usianya sudah 87 tahun, pemerintah Kanada memberinya penghargaan tambahan atas jasa militernya. Ia meninggal pada 12 Oktober 2008.

Kisah Zwolle tetap menjadi bagian paling liar dari hidupnya, karena inti ceritanya sangat sederhana: seorang prajurit dengan satu mata yang masih berfungsi berjalan sendirian ke kota yang dikuasai musuh, dan membuat garnisun Jerman memperkirakan ancaman yang lebih besar daripada kenyataan.

Detail semacam itu membuat saya sedikit tidak nyaman ketika kisah Major disebut sebagai “aksi heroik”. Kata itu terlalu bersih. Malam tersebut penuh suara tembakan, tubuh seorang teman yang mati, ketakutan tentara Jerman, dan seorang pria yang mungkin tidak sepenuhnya tahu apakah rencananya akan berhasil. Ia hanya terus bergerak karena berhenti berarti memberi kesempatan kepada lawan untuk menyadari bahwa ia sendirian.

Pagi datang. Tentara Kanada masuk ke Zwolle. Penduduk keluar dari rumah-rumah mereka. Jalan-jalan kota masih berdiri. Mayoritas bangunan tidak berubah menjadi puing.

Beberapa jam sebelumnya, Léo Major masih sendirian di antara tentara Jerman. Ia kemudian pulang membawa satu hal yang tidak tercatat dalam daftar medali: kota itu masih punya rumah untuk dimasuki ketika perang selesai.


Related

Sejarah 2913838720157273271

Posting Komentar

Jangan menyisipkan link ke dalam komentar, karena akan ditandai sebagai spam.

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item