Mary Lindell, Wanita Keras Kepala yang Melawan Jerman
https://www.belajarsampaimati.com/2026/10/mary-lindell-wanita-keras-kepala-yang.html
![]() |
| Ilustrasi/telegraph.co.uk |
Pada sebuah peron di Pau, Prancis, Mary Lindell sedang menunggu empat penerbang ketika Gestapo datang menjemputnya. Ia mengenakan seragam Palang Merah, pakaian yang secara resmi seharusnya membuatnya tampak seperti perawat, bukan pengatur jalur pelarian. Empat lelaki yang ditunggunya akan dibawa menyeberangi Pyrenees menuju Spanyol. Tanggalnya 22 November 1943.
Beberapa minggu sebelumnya, putranya, Maurice, telah ditangkap dan disiksa. Putranya yang lain, Octave—dipanggil Oky—sudah menghilang ke dalam sistem kamp tahanan Jerman. Mary sendiri tahu bahwa namanya sedang dicari. Ia tetap datang ke stasiun.
Kisah Mary Lindell sering dirapikan menjadi cerita tentang seorang perempuan Inggris yang membantu penerbang Sekutu melarikan diri dari Prancis. Versi itu benar, tetapi terlalu bersih. Mary bukan figur yang mudah dimasukkan ke dalam kategori “pahlawan”. Ia keras kepala, suka bertengkar, sangat percaya pada penilaiannya sendiri, dan bahkan orang-orang Inggris yang bekerja dengannya menganggapnya sulit dikendalikan.
James Langley, perwira MI9 yang mengenalnya, mengatakan Mary sangat berani tetapi ingin melakukan segala sesuatu dengan caranya sendiri dan tidak suka mematuhi instruksi. Seorang sejarawan bahkan mencatat bahwa sifat itulah yang ikut menjelaskan mengapa namanya kemudian kalah populer dibanding tokoh-tokoh perlawanan yang lebih mudah disukai.
Saya justru menyukai bagian tersebut, karena perang tidak selalu menghasilkan manusia yang menyenangkan. Mary lahir sebagai Ghita Mary Lindell di Sutton, London, pada 11 September 1895, dari keluarga berada. Pada Perang Dunia I, ia bekerja sebagai perawat, termasuk bersama French Red Cross, dan memperoleh Croix de Guerre Prancis pada 1918. Setelah menikah dengan Count Marie Joseph de Milleville, ia menetap di Prancis. Ketika Jerman menyerbu pada 1940, Mary tinggal di Paris bersama tiga anaknya. Suaminya sedang berada di Amerika Selatan.
Paris kemudian dipenuhi tentara yang terputus dari satuan mereka, penerbang yang jatuh, dan orang-orang yang seharusnya sudah menjadi tawanan. Mary mulai membantu mereka bergerak menuju wilayah Prancis yang belum diduduki Jerman.
Ia menemukan sebuah peternakan dekat Sauveterre-de-Béarn yang berada di sekitar garis demarkasi. Di Mauléon-Licharre ada seorang pensiunan perwira Inggris, Mayor William Higgins, yang bersedia membantu orang-orang melewati perbatasan menuju Spanyol. Mary, anak-anaknya, dan Michèle Cambards—pacar remaja Oky—mengantar para pelarian dengan kereta dari Paris menuju Sauveterre. Kemudian operasi dipindahkan ke Ruffec.
Cara kerja seperti itu tidak memiliki kemewahan yang biasanya kita asosiasikan dengan operasi rahasia. Seorang ibu membawa anak. Seorang lelaki berpura-pura menjadi mekanik. Seseorang mendapat izin Jerman untuk mengantar seorang anak ke selatan agar bertemu orang tuanya, padahal orang yang duduk bersamanya di kendaraan adalah tentara Inggris yang sedang melarikan diri. Dokumen, pakaian, aksen, tiket kereta, dan alasan perjalanan, menjadi perlengkapan kerja. Mary memanfaatkan kekacauan administratif pendudukan dengan cara yang sangat praktis: kalau Jerman memberikan izin untuk membawa seorang anak, manfaatkan izin itu untuk membawa orang lain juga.
Pada 1941, Abwehr (dinas intelijen militer Jerman) menangkap Mary di Paris. Ia dijatuhi hukuman sembilan bulan penjara. Maurice mendapat hukuman sebelas bulan. Mary keluar pada November tahun itu, lalu kembali ke pekerjaan yang sama. Ia memakai nama samaran “Marie” dan “Marie-Claire”; dari situlah nama Marie-Claire Line muncul.
Setelah merasa penangkapannya yang kedua hanya tinggal soal waktu, ia menyeberang ke wilayah Vichy. Seorang wakil konsul Amerika di Lyon, George Whittington, membantunya memperoleh izin keluar dengan menggambarkannya sebagai “stranded English governess”. Pada Juli 1942 ia berhasil mencapai London.
Normalnya orang yang lolos dari penjara Gestapo akan menjaga jarak dari Prancis. Mary justru mengajukan permohonan kepada MI9 agar dikirim kembali.
MI9 sempat ragu. Wajar. Perempuan itu baru saja keluar dari penjara, dan tampaknya memiliki bakat khusus untuk membuat dirinya sendiri berada dalam masalah. Namun MI9 akhirnya menerimanya. Pada malam 26–27 Oktober 1942, sebuah pesawat Lysander membawanya kembali ke Prancis dan mendaratkannya dekat Ussel, di Corrèze. Nama operasinya Marie-Claire. Ia kembali ke Ruffec dan membangun jaringan itu lagi.
Salah satu orang pertama yang ditanganinya adalah dua Royal Marines, Herbert “Blondie” Hasler dan William Sparks, dua anggota Operation Frankton yang kemudian dikenal sebagai Cockleshell Heroes. Mereka mendarat di pesisir Saint-Genès-de-Blaye pada 12 Desember 1942 setelah serangan terhadap kapal-kapal Jerman di Bordeaux. Mary membantu mereka keluar dari wilayah berbahaya tersebut. Sparks kemudian mengingat kejanggalan melihat komandannya menerima perintah dari “seorang perempuan kecil”. Anehnya, tidak butuh waktu lama untuk memahami siapa yang memegang kendali.
Beberapa minggu kemudian, pada Desember 1942, Mary sendiri mengalami kecelakaan. Sebuah mobil menabrak sepeda yang dikendarainya. Ia terluka parah, lengannya memakai sling (gendongan), tubuhnya penuh perban. Ia tetap membantu dua pelarian. Detail itu terasa hampir konyol sekaligus tragis jika tidak mengandung risiko yang sebenarnya: seorang perempuan yang baru saja tertabrak mobil, masih sakit, terus mengurus orang-orang yang jika tertangkap akan menjadi urusan Gestapo.
Markas Marie-Claire di Ruffec bahkan menggunakan Hôtel de France milik François dan Germaine Rouillon. Bangunannya besar, memiliki beberapa pintu masuk, halaman belakang yang dapat menyembunyikan kendaraan, serta kamar-kamar yang selalu bisa ditemukan. Masalahnya, hotel itu juga menampung perwira Jerman dan memasang bendera swastika di samping tricolore Prancis. Mary tetap menjadikannya markas. Ada kualitas nekat yang sulit disamarkan di sana. Ia tidak bekerja di tempat yang aman; ia bekerja di tempat yang menurutnya cukup berguna.
Jaringan tersebut berkembang, sementara lingkaran keluarga Mary mulai runtuh. Maurice ditangkap di Lyon pada Mei 1943 dan disiksa. Barbé, putri Mary, berusaha mendapatkan pembebasannya dengan membayar 60.000 franc kepada Klaus Barbie, kepala Gestapo Lyon yang kelak dikenal sebagai “Butcher of Lyon”. Oky ditangkap setelah itu dan dikirim ke kamp; ia tidak pernah kembali. Mary sendiri memiliki harga di kepalanya. Ia mengganti identitas menjadi Comtesse de Moncy.
Pada fase itulah sifat keras kepala Mary menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar karakter buruk. Ia pernah berselisih dengan seorang perwira intelijen Inggris yang ingin segera dievakuasi. Mary menolak, dengan alasan jalurnya diperuntukkan bagi penerbang. Ia juga bertengkar dengan salah satu pemandu penting, Comtesse Pauline Barré de Saint-Venant, yang memakai nama samaran Alice Laroche dan Marie-Odile. Setelah pertengkaran itu, Mary memindahkan operasi dari Ruffec ke Pau, dekat Pyrenees.
Jaringan tersebut kemudian terus bergerak, dengan orang-orang yang datang dari berbagai wilayah Prancis dan diteruskan menuju Spanyol atau jaringan lain.
Jumlah orang yang diselamatkan Mary tidak mudah dihitung. Sumber berbeda memberikan angka berbeda, karena Marie-Claire berhubungan dengan jalur pelarian lain. Perkiraan konservatif menyebut sekitar seratus penerbang Sekutu; organisasi sejarah jalur pelarian memperkirakan beberapa ratus evader (personel militer Sekutu yang terdampar di wilayah musuh) pernah bergerak melalui jaringan yang terhubung dengannya.
Ketidakpastian angka justru masuk akal. Jalur pelarian bukan perusahaan dengan buku kas. Satu orang bisa masuk melalui Marie-Claire, berpindah ke jaringan lain, menyeberang ke Pyrenees bersama kelompok berbeda, lalu dicatat dua kali atau tidak dicatat sama sekali.
Pada 22 November 1943, Mary datang ke stasiun Pau untuk menjemput empat penerbang. Gestapo sudah menunggunya. Ia ditangkap bersama Geneviève Favre. Beberapa sumber mencatat, Mary berusaha melarikan diri ketika dipindahkan dengan kereta. Ia melompat dari kereta dan ditembak penjaga Jerman di kepala. Seorang dokter Luftwaffe di Tours mengoperasinya dan menyelamatkan nyawanya. Setelah itu ia dipindahkan ke Dijon, dirantai, dan ditempatkan dalam sel isolasi.
September 1944, Mary tiba di Ravensbrück. Tubuh yang sudah ditembak di kepala dan baru pulih dari luka dibawa ke kamp perempuan yang terkenal karena kerja paksa, kelaparan, penyakit, dan pembunuhan sistematis. Ia justru memperoleh pekerjaan di rumah sakit kamp. Kemampuan keperawatannya dari masa Perang Dunia I kembali berguna. Ia kemudian menjadi figur pemimpin bagi perempuan Inggris dan Amerika yang ditahan di sana.
Bagian terakhir itu hampir terlalu aneh untuk sebuah biografi. Mary, yang sebelumnya membuat jalur rahasia untuk mengeluarkan orang dari Prancis, kini berada di tempat yang dirancang untuk membuat manusia hilang. Ia mulai mencatat nama-nama perempuan Inggris dan Amerika yang ditahan Jerman. Informasi itu diselundupkan keluar.
Pada hari-hari terakhir perang, ia berhasil bernegosiasi untuk pembebasan 47 perempuan Inggris dan Amerika melalui Palang Merah Swedia. Ia sendiri dibebaskan pada 25 April 1945.
Mary Lindell pulang ke Prancis setelah perang. Ia menerima Croix de Guerre kedua, Order of the British Empire, dan Medal of Freedom Amerika Serikat. Ia kemudian menjadi perwakilan Royal Air Forces Escaping Society di Prancis.
Namanya tetap menyisakan rasa tidak nyaman. Bahkan orang yang menulis biografinya bertahun-tahun kemudian mengaku semula skeptis terhadap berbagai cerita tentang Mary, dan menduga sebagian kisahnya telah dibesar-besarkan. Setelah menelusuri arsip dan kesaksian lain, ia justru menemukan begitu banyak bukti yang menguatkan cerita-cerita tersebut sampai mengakui bahwa ia mungkin terlalu cepat meragukannya.
Mary meninggal di Prancis pada Januari 1987. Usianya 91 tahun. Beberapa puluh tahun sebelumnya ia sudah ditembak di kepala, dipenjara, diburu Gestapo, kehilangan seorang putra ke dalam kamp, kehilangan putra lain untuk sementara karena penyiksaan, kembali menyusup ke Prancis setelah lolos ke Inggris, kemudian dikirim ke Ravensbrück.
Ia punya reputasi sebagai perempuan yang sulit. Mungkin memang begitu. Orang yang mencoba menyuruh Mary Lindell berhenti tampaknya harus mencoba berkali-kali.
Catatan terkait: Noor Inayat Khan, Penulis Cerita Anak yang Jadi Agen Rahasia


