Mencari Marrakesh Asli di Tengah Kota yang Terus Berubah

Ilustrasi milik BSM
Seorang wisatawan masuk ke souk (pasar) Marrakesh dengan niat yang terdengar sangat tulus: ia ingin melihat kehidupan lokal. Ia ingin jalan yang sempit, lampu kuningan, karpet Berber, sandal kulit, tumpukan rempah, suara pedagang memanggil pembeli, dan mungkin segelas teh mint yang dituangkan dari teko tinggi sampai berbusa. Ia tidak ingin pusat perbelanjaan. Ia tidak ingin toko serba ada. Ia ingin sesuatu yang terasa asli.

Kalimat “saya ingin yang autentik” mungkin salah satu kalimat paling berguna bagi industri pariwisata.

Medina (kota tua) Marrakesh memang menyediakan hampir semua bahan yang diperlukan untuk memenuhi keinginan itu. Kawasan bersejarah seluas sekitar 700 hektare tersebut masih merupakan kota yang hidup, dengan rumah, souk, fondouk (penginapan tradisional zaman dulu), kegiatan kerajinan, dan perdagangan tradisional. UNESCO bahkan menggunakan istilah living historic town untuk menggambarkannya. Marrakesh bukan lokasi arkeologi yang disterilkan dari kehidupan sehari-hari; orang masih bekerja di dalamnya. Pengrajin masih membuat barang. Pedagang masih menjual barang. Penduduk masih melewati gang-gang yang sama untuk menjalankan urusan mereka.

Karena itu, pengalaman “lokal” di Marrakesh terasa begitu meyakinkan.

Seorang pengunjung dapat masuk ke souk dan melihat seorang lelaki memukul logam dengan palu kecil. Bunyi “ting, ting, ting” memantul di antara dinding. Bau kulit bercampur dengan aroma jintan, kayu, debu, dan asap makanan. Tangannya mungkin menyentuh permukaan teko kuningan yang masih hangat. Beberapa meter kemudian seseorang menawarkan sandal kulit dengan warna merah tua. Pedagang mengatakan barang itu dibuat oleh pengrajin lokal. Wisatawan merasa telah menemukan sesuatu yang tidak mungkin ditemukan di rumahnya.

Pedagang itu tahu persis perasaan tersebut. Ia juga mungkin benar.

Di situlah persoalannya jadi lebih rumit daripada cerita tentang turis yang ditipu. Pengrajin yang menjual produk kepada wisatawan tidak harus berpura-pura menjadi orang lain. Karpet memang bagian dari tradisi kerajinan Maroko. Kerajinan logam, kulit, kayu, keramik, tekstil, dan berbagai bentuk pekerjaan tangan, memang mempunyai sejarah panjang dalam ekonomi Marrakesh. Laporan Bank Dunia tentang rehabilitasi medina menggambarkan sektor kerajinan sebagai salah satu fondasi ekonomi kota, bersama pariwisata, perdagangan, transportasi, konstruksi, dan jasa.

Jadi ketika seorang pedagang menjelaskan bahwa sebuah barang dibuat secara tradisional, ia belum tentu sedang memainkan peran untuk wisatawan. Bisa jadi ia sedang menjual barang yang memang dibuat dalam tradisi yang ia kenal sejak kecil. Yang berubah adalah siapa yang berdiri di depannya dan apa yang diinginkan orang itu dari barang tersebut.

Wisatawan membeli sandal. Ia juga membeli cerita tentang sandal itu.

Souk kemudian menjadi ruang yang agak aneh. Barang memiliki harga, tetapi suasananya ikut dijual. Karpet tidak hanya menjadi karpet; ia menjadi bukti bahwa seseorang telah menemukan “Maroko yang sebenarnya”. Teko tidak hanya menjadi benda dapur; ia menjadi benda yang akan diletakkan di ruang tamu di Amsterdam, Berlin, Seoul, atau Jakarta, agar pemiliknya dapat mengatakan bahwa ia membawanya pulang dari Marrakesh. Rempah-rempah bahkan dapat menjadi semacam suvenir yang bisa dicium.

Keaslian ternyata bisa masuk koper.

Jemaa el-Fna memperlihatkan persoalan itu dengan lebih telanjang. UNESCO mencatat alun-alun tersebut sebagai ruang budaya yang sejak lama menjadi tempat bertemunya penduduk lokal dan orang dari luar. Sepanjang hari hingga malam, tempat itu dipakai untuk perdagangan, makanan, pengobatan tradisional, penceritaan, musik, ramalan, henna, dan berbagai bentuk hiburan. Para pendongeng, musisi Gnaoua, penari, dan seniman jalanan, bukan tambahan baru yang ditempelkan untuk turis; praktik-praktik itu memang merupakan bagian dari kehidupan sosial tempat tersebut.

Masalah muncul ketika kehidupan semacam itu semakin banyak dilihat melalui mata wisatawan.

Thomas Beardslee, dalam penelitian etnografis mengenai Jemaa el-Fna, menunjukkan sesuatu yang jauh lebih menarik daripada sekadar “pariwisata merusak budaya”. Program pelestarian warisan budaya takbenda UNESCO di alun-alun itu dimaksudkan untuk melindungi praktik tradisional, tetapi gagasan tentang praktik yang “autentik” dapat berbenturan dengan rutinitas sehari-hari para seniman yang bekerja di sana. Seorang musisi membutuhkan ruang, kebiasaan, pendapatan, dan kondisi kerja tertentu; konsep tentang bagaimana sebuah tradisi seharusnya ditampilkan belum tentu cocok dengan semuanya.

Itu bagian yang sering hilang ketika kita berbicara tentang pelestarian budaya. Kita suka membayangkan budaya sebagai benda yang harus disimpan dalam bentuk asli, padahal orang yang menjalaninya harus membayar sewa rumah, membeli makanan, mengganti alat kerja, dan pulang sebelum malam terlalu larut. Tradisi yang hidup harus mencari nafkah.

Wisatawan, sebaliknya, datang dengan fantasi yang berbeda. Mereka mencari Marrakesh yang tidak berubah. Mereka ingin masuk ke gang yang tampak tua dan merasa telah keluar dari dunia modern. Mereka ingin melihat perdagangan yang terasa langsung, kasar, personal. Mereka bahkan dapat merasa kecewa ketika pedagang menggunakan kalkulator, menerima pembayaran kartu, berbicara bahasa Inggris dengan lancar, atau menyebut harga dalam euro.

Padahal kemampuan pedagang beradaptasi justru merupakan bagian dari kehidupan kota itu sendiri.

Penelitian tentang perkembangan pariwisata di medina Marrakesh menunjukkan bahwa pariwisata, investasi, lembaga negara, pengelola warisan, pengrajin, agen perjalanan, dan pemilik properti, ikut membentuk ulang ruang tersebut. Studi itu tidak menggambarkan perubahan sebagai hasil dari satu kelompok saja. Kebijakan negara mempunyai pengaruh besar terhadap bagaimana pariwisata berkembang dan bagaimana ruang medina digunakan.

Itu membuat pertanyaan tentang autentisitas semakin menjengkelkan. Siapa yang berhak menentukan bahwa sesuatu masih asli? Wisatawan? Pemandu? Pedagang? Pemerintah? UNESCO?

Seorang pengrajin yang mengganti bahan karena bahan lama terlalu mahal mungkin dianggap telah mengurangi keaslian produknya oleh wisatawan yang membayar dengan kartu kredit dari iPhone. Seorang pedagang yang belajar beberapa kata bahasa Prancis, Inggris, Jerman, Spanyol, dan Mandarin agar bisa menjual lebih banyak barang dapat dianggap sedang “berkomersialisasi”, padahal kemampuan membaca pelanggan mungkin justru merupakan keterampilan dagang yang sangat masuk akal.

Wisatawan sendiri membawa versi komersialisasi yang lebih halus. Ia memilih restoran karena interiornya terlihat tradisional. Ia memilih riad (rumah tradisional) karena foto kamar mandinya terlihat tua dan indah. Ia memilih kelas memasak karena ingin belajar membuat tagine (semur khas Maroko) dari “keluarga lokal”. Ia membeli karpet karena penjualnya mengatakan motif tersebut mempunyai kisah turun-temurun. Ia mengunggah foto semuanya dengan keterangan tentang “Marrakesh yang autentik”.

Ia sedang membeli pengalaman tentang kehidupan orang lain, kemudian membawa pulang versinya.

Marrakesh tidak perlu dianggap sebagai korban. Itu akan terlalu mudah. Kota itu telah lama menjadi pusat perdagangan, pertukaran budaya, kerajinan, dan pertemuan manusia dari luar. Jemaa el-Fna sendiri merupakan ruang yang sejak lama menerima orang dari berbagai tempat. UNESCO justru mencatat bahwa kebudayaan alun-alun tersebut terus beradaptasi dengan konteks kontemporer. Ancaman yang mereka catat juga datang dari urbanisasi, spekulasi properti, pembangunan infrastruktur, dan tekanan pariwisata.

Keaslian tidak pernah benar-benar diam.

Yang membuat Marrakesh menarik adalah wisatawan datang untuk mencari sesuatu yang mereka anggap tidak berubah, sementara orang yang mereka datangi harus terus berubah agar dapat hidup. Pedagang mempelajari bahasa baru. Pengrajin menyesuaikan desain. Restoran menyusun menu untuk selera orang asing. Pemandu mengubah cerita sesuai kelompok yang dibawanya. Pemilik riad memotret kamar dari sudut tertentu karena tahu persis gambar seperti apa yang akan membuat orang memesan. Semua itu dapat terjadi tanpa satu pun orang merasa sedang berbohong.

Seorang pedagang bisa sungguh-sungguh mencintai pekerjaannya sekaligus tahu bahwa wisatawan menyukai kata “tradisional”. Seorang pengrajin bisa mempertahankan teknik lama sekaligus membuat warna baru karena pelanggan Prancis menyukainya. Seorang pencerita bisa mengulang kisah yang sama setiap malam dan tetap menganggapnya bagian dari kebudayaannya.

Mungkin justru karena itu istilah “autentik” terlalu miskin untuk menggambarkan Marrakesh.

Wisatawan masuk ke souk dengan keinginan melihat kehidupan yang tidak dibuat untuknya. Ia berhenti di depan seorang penjual, menyentuh karpet, bertanya dari mana asalnya, menawar harga, mencium aroma kulit yang menusuk hidung. Pedagang itu menjawab. Mereka berbicara tentang barang, uang, negara asal, cuaca, perjalanan.

Wisatawan pulang dengan karpet.

Pedagang tetap di sana, menunggu pelanggan berikutnya yang juga ingin melihat Marrakesh yang sebenarnya.


Related

Geografi 1737757975461784095

Posting Komentar

Jangan menyisipkan link ke dalam komentar, karena akan ditandai sebagai spam.

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item