Masalah di Venice, Keindahan Kota yang Menghasilkan Ironi
https://www.belajarsampaimati.com/2026/10/masalah-di-venice-keindahan-kota-yang.html
![]() |
| Ilustrasi/architecturaldigest.com |
Seorang perempuan membawa dua kantong belanja melewati sebuah jembatan kecil di Cannaregio. Tiga orang berhenti di belakangnya. Kamera terangkat. Mereka tidak sedang memotret perempuan itu, tentu saja. Mereka memotret kanal, jembatan, cahaya di air, rumah-rumah tua yang catnya mulai mengelupas. Perempuan tadi hanya kebetulan lewat di tengah komposisi yang dianggap indah. Ia mungkin sedang pulang membawa susu dan sayuran. Orang-orang di belakangnya sedang mengumpulkan kenangan.
Perbedaan kecil semacam itu membuat Venice terasa aneh bagi orang yang tinggal di dalamnya. Hampir semua benda yang digunakan untuk kehidupan sehari-hari sekaligus dapat menjadi objek wisata: jendela, pintu kayu, tangga, jemuran, perahu, halte vaporetto, gang sempit, toko kelontong, bahkan seseorang yang sedang menyeberang sambil membawa kantong belanja.
Kota itu tidak mempunyai batas yang nyaman antara tempat hidup dan tempat untuk dilihat. Jalan menuju rumah seseorang bisa menjadi latar belakang foto pernikahan. Halaman tempat anak bermain bisa berada beberapa meter dari kelompok turis yang sedang mencari sudut terbaik untuk memotret kanal.
UNESCO sudah lama mencatat perubahan fungsi semacam itu. Tekanan pariwisata yang sangat tinggi telah mendorong perubahan penggunaan banyak bangunan di pusat bersejarah Venice: rumah penduduk berubah menjadi akomodasi, kegiatan produksi tradisional dan layanan untuk warga digantikan oleh kegiatan yang berkaitan dengan wisata. UNESCO bahkan menyebut perubahan tersebut sebagai ancaman terhadap identitas serta integritas sosial dan budaya kota.
Angkanya membuat persoalan itu lebih kasar. Pada 2025, jumlah penduduk yang tinggal di pusat bersejarah Venice hanya sekitar 47.600 orang, jauh di bawah puncak populasi pada pertengahan abad ke-20. Populasi bergerak ke daratan utama, sementara bangunan di kota lama semakin banyak memiliki fungsi nonhunian atau digunakan untuk akomodasi wisata.
Bayangan populer tentang Venice justru bekerja dengan arah sebaliknya. Kita mengenalnya sebagai kota yang tidak berubah: kanal, gondola, jembatan, batu bata, Piazza San Marco, kubah Santa Maria della Salute. Dalam foto, Venice terlihat seperti tempat yang sudah selesai dibuat berabad-abad lalu dan tinggal menunggu manusia datang mengaguminya.
Masalahnya, kota yang “selesai” tidak cocok untuk kehidupan sehari-hari.
Orang harus membuang sampah. Anak-anak harus pergi sekolah. Orang tua perlu membeli obat. Tukang ledeng harus mengangkut peralatan. Restoran menerima kiriman bahan makanan. Seseorang mungkin sedang terburu-buru karena terlambat bekerja, tetapi jalan di depannya dipenuhi orang yang berhenti mendadak untuk memotret jembatan. Seorang turis tidak punya alasan untuk peduli bahwa orang di belakangnya sedang mengejar jadwal kapal. Ia sedang berlibur. Orang yang tinggal di sana tidak.
Vaporetto memberikan contoh yang bagus, karena kendaraan itu sekaligus merupakan transportasi umum dan bagian dari pengalaman wisata. Wisatawan naik kapal untuk melihat Venice dari air. Penduduk menggunakannya untuk bergerak dari satu bagian kota ke bagian lain. Bagi wisatawan, perjalanan melewati Grand Canal dapat menjadi salah satu bagian terbaik hari itu. Bagi seseorang yang harus pergi bekerja, kapal yang terlalu penuh hanya berarti harus menunggu berikutnya.
Tidak ada yang salah dengan wisatawan yang mengagumi kota. Justru itulah sumber ironi terbesar Venice. Kota itu begitu indah sehingga cara orang luar melihatnya dapat mengganggu cara orang dalam menggunakannya.
Pemerintah kota sampai memperkenalkan Venice Access Fee, sebuah sistem yang membuat sebagian pengunjung harian harus membayar biaya masuk pada hari dan jam tertentu. Pada 2026, skema eksperimental berlaku pada 60 hari antara 3 April dan 26 Juli, pukul 08.30 sampai 16.00, dengan biaya €5 jika dibayar lebih awal dan €10 jika dibayar mendekati tanggal kunjungan. Penduduk Venice sendiri dikecualikan.
Kebijakan itu terdengar seperti urusan administrasi sampai kita memikirkan maknanya: sebuah kota yang secara historis terbuka bagi siapa pun sekarang harus mulai menghitung siapa yang masuk dan kapan mereka masuk. Pada 2025, lebih dari 720.000 voucher pengunjung harian berbayar diterbitkan selama 54 hari penerapan sistem tersebut. Pemerintah kota mengumpulkan sekitar €5,4 juta.
UNESCO bahkan merekomendasikan pengurangan jumlah wisatawan secara signifikan karena, tanpa langkah semacam itu, autentisitas dan integritas Venice dapat semakin terkompromikan.
Ada sesuatu yang agak ganjil ketika sebuah kota harus membatasi orang yang ingin melihatnya, agar kota tersebut tetap bisa dihuni.
Lebih ganjil lagi karena banyak wisatawan sebenarnya datang dengan niat yang sangat baik. Mereka ingin menikmati arsitektur, makan pasta, naik gondola, melihat matahari memantul di kanal. Mereka tidak datang untuk menghancurkan kehidupan penduduk. Sebagian besar mungkin bahkan tidak pernah berpikir bahwa berdiri terlalu lama di sebuah jembatan dapat menghambat orang lain yang ingin lewat. Mereka melihat kerumunan sebagai bagian dari pengalaman Venice. Penduduk melihat kerumunan sebagai kondisi lalu lintas.
Perbedaan persepsi semacam itu terjadi terus-menerus.
Seorang wisatawan berhenti di sebuah gang karena dindingnya bagus untuk difoto. Seorang kurir harus melewatinya dengan troli. Dua orang berfoto di depan sebuah pintu. Pemilik rumah membuka pintu dari dalam dan harus menyelip di antara tubuh-tubuh yang berdiri di luar. Sepasang pria dan wanita duduk di anak tangga gereja sambil makan bekal. Orang yang hendak masuk gereja harus meminta mereka bergeser.
Tidak satu pun kejadian itu dramatis. Justru itu persoalannya. Kehidupan kota jarang hancur dalam satu kejadian besar. Ia berubah melalui gangguan kecil yang terlalu biasa untuk masuk berita.
Perubahan fungsi rumah bahkan lebih serius. Ketika sebuah apartemen menghasilkan lebih banyak uang sebagai akomodasi wisata daripada sebagai rumah untuk penduduk, keputusan ekonomi yang sangat masuk akal bagi pemiliknya dapat menghasilkan perubahan sosial yang sangat besar. Satu rumah berubah fungsi. Kemudian rumah sebelah. Toko yang melayani warga tutup karena pelanggan hariannya berkurang. Sebuah toko suvenir masuk. Harga sewa naik. Keluarga pindah ke Mestre atau wilayah daratan. Jumlah orang yang tinggal di pusat kota berkurang sedikit lagi. UNESCO mencatat proses semacam itu secara langsung dalam evaluasinya terhadap Venice.
Pada satu tahap, wisatawan mulai datang untuk melihat “kehidupan Venice” setelah kehidupan itu sendiri semakin sulit dipertahankan. Itu bagian yang paling tidak nyaman.
Orang mungkin memesan kamar di sebuah bangunan tua karena ingin merasakan hidup seperti orang Venesia. Mereka berjalan di gang-gang yang sunyi, memuji betapa autentiknya suasana, kemudian kembali ke apartemen yang dulunya mungkin merupakan rumah seseorang. Tidak perlu ada niat buruk. Bahkan tidak perlu ada orang yang melakukan sesuatu yang ilegal. Sistemnya sendiri sudah cukup untuk menghasilkan ironi.
Kota wisata memang membutuhkan penduduk agar tidak berubah menjadi dekorasi. Tetapi penduduk yang tinggal di dalamnya harus menerima kenyataan bahwa kehidupan mereka ikut menjadi bagian dari produk yang dijual. Jendela rumah mereka masuk ke Instagram. Jemuran menjadi detail “autentik”. Orang yang mengayuh perahu menjadi elemen komposisi. Anak sekolah yang berlari melewati campo dapat dianggap mempercantik suasana.
Kesadaran bahwa diri sendiri sedang dilihat mungkin mengubah cara seseorang menggunakan ruang. Kita tahu rasanya ketika menyadari ada kamera diarahkan kepada kita. Tubuh jadi sedikit kaku. Langkah berubah. Wajah disiapkan. Di Venice, kesadaran itu dapat menjadi kondisi kota.
Orang yang tinggal di sana mungkin tidak memikirkan wisatawan setiap menit. Mereka tetap punya masalah yang jauh lebih biasa: tagihan, pekerjaan, keluarga, sakit kepala, belanjaan yang terlalu berat. Justru karena kehidupan mereka biasa, kehadiran wisatawan kadang terasa begitu asing. Orang luar datang untuk mengalami sesuatu yang bagi penduduk tidak perlu “dialami”. Ia hanya perlu dilakukan.
Seorang wisatawan dapat menghabiskan €80 untuk naik gondola selama empat puluh menit. Penduduk yang naik vaporetto mungkin sedang membawa belanjaan dan menghitung apakah masih sempat membeli sesuatu sebelum toko tutup. Dua orang berada di atas air yang sama, melihat bangunan yang sama, mencium bau air laguna yang sama ketika angin berubah. Yang satu sedang menikmati Venice. Yang lain sedang pulang.
Kota itu masih begitu indah. Mungkin justru terlalu indah untuk dibiarkan sendirian.
Pada sebuah jembatan, orang berhenti lagi. Mereka mundur beberapa langkah untuk mendapatkan seluruh kanal dalam bingkai. Seorang lelaki tua muncul dari pintu rumah di belakang mereka, mengangkat tangan, memberi tanda agar mereka bergeser karena ia ingin lewat. Kamera masih menyala. Lelaki itu menunggu sebentar, memegang kantong belanjaannya, sampai ruang terbuka.
Catatan terkait: Bagaimana Sepeda Bisa Sangat Populer di Kopenhagen


