‘Malèna’: Seorang Bocah, Seorang Mbakyu, dan Kekerasan Sosial
https://www.belajarsampaimati.com/2026/09/malena-seorang-bocah-seorang-mbakyu-dan.html
![]() |
| Ilustrasi/ok.ru |
Renato Amoroso mendapatkan sepeda baru, Italia memasuki perang, dan pada hari yang sama ia melihat Malèna untuk pertama kalinya. Urutannya sebenarnya sederhana. Sepeda bisa dikendarai setiap sore. Perang akan mengubah seluruh kehidupan di Sisilia. Malèna, perempuan bergaun gelap yang berjalan melewati jalan Castelcutò dengan langkah tenang, akan menguasai pikiran Renato jauh lebih lama daripada dua peristiwa lainnya.
Giuseppe Tornatore menempatkan tiga kejadian itu dalam satu hari dengan sengaja. “Malèna” dibuka dari ingatan seorang Renato yang sudah dewasa, kemudian membawa kita kembali ke masa ketika ia masih berusia sekitar tiga belas tahun. Monica Bellucci menjadi Maddalena “Malèna” Scordia, perempuan muda yang suaminya, Nino, sedang pergi berperang. Giuseppe Sulfaro memainkan Renato.
Tempatnya Castelcutò, kota kecil Sisilia fiktif yang panas, berdebu, penuh laki-laki yang duduk di jalan dan perempuan yang punya terlalu banyak waktu untuk membicarakan kehidupan orang lain. Filmnya dirilis pada 2000, ditulis dan disutradarai Tornatore, dengan musik Ennio Morricone.
Yang membuat “Malèna” susah dilupakan bukan sekadar Monica Bellucci. Itu terlalu mudah. Bellucci memang luar biasa cantik, dan film ini sama sekali tidak berpura-pura sebaliknya. Kamera Tornatore mengikutinya ketika ia berjalan melewati alun-alun, menuju toko, melewati para lelaki yang mendadak berhenti melakukan urusan mereka. Renato melihatnya. Teman-temannya melihatnya. Para lelaki dewasa melihatnya. Bahkan para perempuan yang membencinya melihatnya. Malèna menjadi tontonan sebelum ia menjadi manusia.
Di sanalah film mulai jauh lebih menarik daripada kisah “anak laki-laki jatuh cinta kepada perempuan cantik”.
Renato belum memahami ketertarikan pada wanita, tetapi tubuhnya sudah memahami sesuatu. Ia memandang Malèna dengan campuran rasa ingin tahu, ketakjuban, malu, dan hasrat yang belum mempunyai nama. Ia mengikutinya. Ia mengintip rumahnya. Ia membayangkan dirinya bersama Malèna dalam adegan-adegan yang sengaja dibuat menyerupai film-film lama. Fantasinya kadang heroik, kadang erotis, kadang konyol.
Washington Post, pada masa perilisan film, menangkap bagian itu dengan sangat baik: Renato adalah anak yang sedang mengalami “full onslaught” hasrat seksual sekaligus fantasi romantis, dan imajinasinya dibentuk oleh film-film yang ia kenal.
Saya kira banyak penonton laki-laki mengenali sesuatu yang sangat memalukan di sana.
Bukan berarti pernah melakukan persis apa yang dilakukan Renato. Pengalaman pubertas jarang bekerja sebegitu literal. Yang familiar adalah mekanismenya: seseorang tiba-tiba jadi sangat penting hanya karena tubuh kita bereaksi kepadanya. Wajah tertentu muncul ketika sedang mandi. Nama tertentu muncul ketika sedang sendirian. Jalan pulang dipilih karena kemungkinan berpapasan dengannya lebih besar. Kita belum mengenal orang itu, tetapi sudah membangun versi dirinya yang sangat lengkap di kepala.
Renato bahkan mencuri pakaian Malèna. Film tidak memperlakukan kejadian itu sebagai deklarasi romantis. Ia ketahuan, dipermalukan, dihukum orang tuanya. Detail kecil itu penting karena memperlihatkan betapa berantakannya proses tersebut. Renato sedang tumbuh menjadi laki-laki, tetapi belum tahu apa yang harus dilakukan dengan dorongan yang datang bersama pertumbuhan itu.
Tornatore cukup cerdik untuk membuat Renato tidak sepenuhnya menjijikkan. Kalau anak itu hanya seorang pengintip mesum, film akan segera kehilangan simpati. Renato justru memiliki semacam kesetiaan khayalan kepada Malèna. Ia ingin menjadi pelindungnya. Ia marah ketika orang-orang membicarakannya. Ia membayangkan dirinya sebagai lelaki yang suatu hari cukup dewasa untuk menyelamatkan perempuan yang sekarang bahkan tidak mengetahui keberadaannya.
Masalahnya, Malèna memang tidak membutuhkan Renato. Itulah bagian yang membuat hubungan mereka terasa menyedihkan. Hubungan itu sebenarnya hanya berlangsung di satu arah. Renato mengenal kebiasaan Malèna, mengetahui ke mana ia pergi, memperhatikan siapa yang berbicara dengannya, membangun fantasi tentang dirinya. Malèna hampir tidak mengenal Renato sama sekali. Dalam kehidupan Malèna, Renato adalah seorang anak laki-laki yang sesekali terlihat. Dalam kehidupan Renato, Malèna adalah pusat semesta.
Roger Ebert justru menyerang film ini karena persoalan tersebut. Menurutnya, Malèna terlalu sering diperlakukan sebagai gambar erotis, sementara kehidupan batinnya sendiri kurang berkembang. Kritik itu tidak remeh. Malèna memang hampir menjadi objek yang dilihat semua orang, termasuk penonton.
Tetapi saya kira ketidaknyamanan tersebut juga bagian dari kekuatan film.
Tornatore membuat kita merasakan bagaimana sebuah komunitas mengubah seorang perempuan menjadi benda yang bisa dibicarakan. Para lelaki menginginkannya. Para perempuan membencinya. Ketika suaminya jauh, gosip mulai bekerja. Ketika muncul kabar bahwa Nino meninggal, posisinya semakin rapuh. Pekerjaannya sebagai guru terancam oleh reputasi yang sebenarnya dibentuk orang lain. Perang memperburuk semuanya, karena perempuan sendirian memiliki lebih sedikit perlindungan sosial dan ekonomi.
Malèna tidak melakukan sesuatu yang cukup untuk membuat dirinya pantas menerima semua kebencian itu. Justru itulah persoalannya. Kecantikannya dianggap sebagai tindakan.
Kemudian perang masuk ke dalam cerita dengan cara yang tidak selalu terasa seperti film perang. Tidak banyak pertempuran besar. Tidak ada strategi militer. Kita melihat perang dari kota kecil, dari kabar kematian suami, kekurangan ekonomi, tentara asing, rumor, perubahan kekuasaan. Ketika situasi politik berubah dan Italia dibebaskan Sekutu, kemarahan masyarakat mencari sasaran. Malèna menjadi salah satu sasaran paling mudah.
Adegan penghinaan terhadap Malèna adalah salah satu bagian paling kasar dalam film. Perempuan-perempuan yang sebelumnya membicarakannya menyeretnya keluar, memukulinya, mencukur rambutnya, dan mempermalukannya di depan orang banyak. Secara visual, Tornatore membuat adegan itu terasa lebih menyakitkan, karena kita sudah terlalu lama melihat Malèna sebagai objek kecantikan. Tubuh yang sebelumnya menjadi sumber tatapan kini menjadi sasaran kekerasan.
Ada ironi yang sangat pahit di sana: orang-orang yang selama bertahun-tahun mengonsumsi kecantikan Malèna tiba-tiba merasa berhak menghukumnya karena menjadi perempuan yang mereka sendiri bayangkan.
Renato menyaksikan semuanya.
Pada bagian itu, film mulai bergerak dari kisah pubertas menuju sesuatu yang lebih keras. Renato tidak lagi hanya belajar mengenai perempuan. Ia sedang belajar bahwa imajinasinya sendiri tidak mampu menyelamatkan orang yang ia cintai. Ia bisa mengikuti Malèna dari kejauhan, bisa membayangkan dirinya sebagai pahlawan, bisa mengumpulkan potongan-potongan informasi tentang hidupnya. Ketika kekerasan sungguhan datang, ia hanyalah anak tiga belas tahun.
Tahun-tahun berlalu. Renato tumbuh. Malèna menghilang dari hidupnya. Kemudian ia mendengar kabar bahwa Malèna kembali ke Castelcutò bersama Nino, yang ternyata masih hidup setelah menjadi tawanan perang. Pertemuan mereka pada akhirnya justru sangat sederhana. Renato sudah bukan anak yang sama. Malèna juga bukan lagi perempuan yang sama dalam ingatannya.
Bagian itu menurut saya jauh lebih bagus daripada kalau film memilih memberi mereka percintaan.
Karena selama film berlangsung, Renato sebenarnya tidak jatuh cinta kepada Malèna sebagai manusia. Ia jatuh cinta kepada Malèna yang dibentuk oleh pandangannya sendiri. Ia mencintai perempuan yang berjalan di jalan kota, perempuan yang disentuh cahaya matahari, perempuan yang ditatap para lelaki, perempuan yang muncul dalam fantasi seksualnya. Malèna yang nyata jauh lebih rumit: seorang istri, anak seorang profesor, seorang perempuan yang kehilangan pekerjaan, seorang perempuan yang kelaparan, seorang perempuan yang dituduh, dipermalukan, dan berusaha bertahan.
Ketika Renato dewasa mengingat semuanya, jarak antara dua Malèna itu jadi terasa. Yang satu hidup dalam ingatan. Yang satu pernah benar-benar hidup.
Karena itu saya memahami mengapa “Malèna” menjadi film yang terus dibicarakan meskipun kritik terhadapnya juga cukup keras. Rotten Tomatoes mencatat skor kritikus 54 persen dari 78 ulasan, sementara skor penonton mencapai 84 persen dari lebih dari 25.000 penilaian. Perbedaan itu masuk akal. Film ini memang indah sekaligus membuat tidak nyaman. Ia erotis sekaligus kejam. Ia lucu dalam menggambarkan anak laki-laki yang baru menemukan hasrat, kemudian mendadak berubah menjadi kisah tentang kekerasan sosial terhadap seorang perempuan.
Bellucci sendiri hampir terlalu sempurna untuk peran tersebut. Itulah paradoksnya. Kalau pemerannya kurang cantik, seluruh mekanisme sosial dalam film kehilangan tenaga. Kalau terlalu cantik, seperti yang terjadi di sini, penonton ikut terjebak dalam cara pandang masyarakat Castelcutò. Kita melihat Malèna melalui mata Renato. Kita menikmati gambar yang sama. Kita mengerti mengapa semua orang memperhatikannya.
Kemudian Tornatore menghukum kita dengan memperlihatkan apa akibatnya ketika seorang manusia hanya diperlakukan sebagai gambar.
Saya masih menganggap bagian Renato yang paling kuat justru bukan adegan erotisnya. Yang melekat adalah anak laki-laki yang bersepeda keliling kota, mencari-cari perempuan yang mungkin lewat, kemudian pulang dengan kepala penuh sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan kepada ayah dan ibunya. Usianya terlalu muda untuk memahami cinta, terlalu tua untuk menganggap semua itu sekadar permainan.
Ia hanya tahu bahwa besok ia ingin melihat Malèna lagi. Itu mungkin memang bentuk cinta pertama yang paling jujur sekaligus paling konyol: mencintai seseorang yang tidak tahu bahwa kita sedang mencintainya.
Bertahun-tahun kemudian Renato bertemu Malèna lagi. Ia sudah bisa berbicara sebagai lelaki dewasa. Malèna berdiri di depannya bersama suaminya. Mereka berbicara sebentar.
Kemudian Malèna pergi.
Renato berdiri di sana dengan semua kenangan masa pubertasnya yang mendadak terasa jauh lebih kecil daripada perempuan yang selama bertahun-tahun ia simpan di kepalanya.
Catatan terkait: A Quiet Place (2018), Kebisingan yang Kalah oleh Ancaman Maut


