Enam Jam Tangan yang Ditukar Satu Jam: Catatan dari Perang Dunia II

Ilustrasi milik BSM
Seorang tentara Soviet mengangkat lengan bajunya dan memperlihatkan enam atau delapan jam tangan. Semuanya masih terpasang di lengannya, bertumpuk seperti gelang yang sangat buruk selera. Ia menunjuk sebuah jam milik seorang lelaki Hungaria, dan menawarkan seluruh koleksinya sebagai tukaran.

Tawaran itu seharusnya membuat orang curiga. Enam atau delapan jam untuk satu jam terdengar seperti perdagangan yang dilakukan oleh orang yang tidak mengerti harga barang yang sedang ia tawarkan.

Memang begitu.

Tentara Soviet itu tidak tahu bahwa jam mekanis harus diputar agar tetap berjalan.

Kisah kecil itu dicatat oleh Martin Weiss, seorang penyintas Yahudi yang berusia 16 tahun ketika perang berakhir. Weiss sedang dalam perjalanan pulang setelah dibebaskan dari kamp Gunskirchen, bagian dari kompleks Mauthausen. Pada awal Mei 1945, ia dan penyintas lain naik kereta menuju Budapest. Kereta itu penuh sesak. Orang-orang bergelantungan pada sisi gerbong, sebagian naik ke atap. 

Di perjalanan, mereka melewati Bratislava, kemudian bergerak menuju Budapest. Di dalam gerbong, tentara Soviet mondar-mandir mencari barang rampasan. Salah seorang dari mereka berhenti ketika melihat seorang lelaki memakai jam tangan. Ia langsung menawarkan enam atau delapan jam yang sudah melingkari lengannya. Lelaki Hungaria itu menyerahkan jamnya yang sudah diputar. Tentara Soviet mengambilnya, memberikan seluruh jam di lengannya, dan pergi. Ia tidak menyadari bahwa jam-jam yang dibawanya akan berhenti.

Adegan itu hampir lucu. Hampir.

Masalahnya adalah tahun 1945, Hungaria, dan seorang tentara dari pasukan yang baru saja menghancurkan kekuatan Jerman di Eropa. Tawa terasa salah tempat, tetapi absurditasnya terlalu telanjang untuk diabaikan. Seorang prajurit yang telah menempuh ribuan kilometer perang membawa enam atau delapan jam di pergelangan tangan, mungkin hasil rampasan dari beberapa rumah, kemudian menukarnya dengan satu jam yang nilainya mungkin justru lebih rendah menurut logika perdagangan biasa.

Ia tidak tahu cara kerja benda yang begitu ia inginkan. Itulah bagian yang membuat kisah ini melekat.

Jam tangan menjadi salah satu benda yang sangat dicari oleh tentara Soviet di wilayah Eropa Timur pada 1944–1945. Kisah tentang mereka yang meminta, mengambil, menukar, atau mengumpulkan jam, muncul berulang kali dalam kesaksian orang-orang yang bertemu Tentara Merah. 

Sándor Márai, dalam memoarnya tentang Hungaria, juga mencatat kegemaran tentara Soviet terhadap jam tangan. Ia melihat tentara yang menggulung lengan baju dan memperlihatkan beberapa jam sekaligus, seolah-olah sedang memamerkan medali. Márai mencoba mencari penjelasan: mungkin kelangkaan jam di Uni Soviet, mungkin nilainya sebagai barang barter, mungkin sekadar karena benda itu mudah dibawa dan mudah dipahami nilainya. Ia sendiri tidak memperoleh jawaban yang memuaskan.

Kita perlu berhenti sebentar pada kata jam.

Jam adalah benda yang sangat biasa di Eropa sebelum perang. Ia ada di pergelangan tangan, berdetak tanpa banyak perhatian, dilihat ketika seseorang ingin melihat pukul berapa, kemudian diabaikan begitu saja. Selama kehidupan berjalan normal, orang hampir tidak memikirkan bagaimana benda tersebut bekerja. Putar kenopnya. Jarum bergerak. Selesai.

Bagi seseorang yang tidak terbiasa dengan mekanisme tersebut, jam yang jarumnya berhenti mungkin tampak rusak. Jam yang diberikan oleh orang lain mungkin tampak jauh lebih baik karena “masih hidup”. Jam yang sudah berhenti bisa dibuang atau ditukar lagi. Seseorang dapat memiliki delapan jam dan tidak ada satu pun yang jarumnya bergerak. 

Tentara Soviet dalam kisah Martin Weiss tampaknya mengalami hal itu. Ia menginginkan benda yang menunjukkan waktu, tetapi tidak memahami ritual kecil yang membuat benda tersebut tetap hidup.

Kekeliruan itu memberikan gambaran yang sangat manusiawi tentang jarak pengalaman antara pasukan Soviet dan masyarakat Eropa yang mereka masuki. Bagi orang Hungaria yang memiliki jam mekanis, memutar kenop adalah pengetahuan sehari-hari. Bagi tentara yang mungkin berasal dari desa Soviet yang miskin, jam tangan bisa menjadi benda asing, mahal, langka, sekaligus sangat menarik. Uni Soviet mengalami kekurangan barang konsumsi kronis, terutama setelah industrialisasi paksa, kolektivisasi, dan perang yang menghabiskan sumber daya luar biasa besar. Jam tangan bukan barang yang mudah didapat oleh setiap orang.

Jam juga kecil. Ia bisa dimasukkan ke saku. Bisa dipakai. Bisa ditukar. Bisa dicuri tanpa perlu mengangkat meja. Nilainya langsung terbaca.

Márai bahkan menulis bahwa setelah pasukan Soviet pergi, ia membayangkan hampir tidak akan tersisa jam di seluruh negeri. Ia melihat tentara mengumpulkannya dengan gairah seorang kolektor. Pengamatan itu tentu datang dari seorang warga sipil Hungaria yang hidup di tengah ketakutan dan kekacauan, sehingga tidak bisa diperlakukan sebagai gambaran sempurna tentang seluruh Tentara Merah. 

Kesaksian lain menunjukkan perilaku Soviet sangat beragam: terdapat penjarahan dan kekerasan, tetapi juga prajurit yang memberi makanan, membantu warga, atau memperlakukan anak-anak dengan baik.

Martin Weiss memberi kita potongan yang lebih kecil. Ia tidak sedang menulis sejarah ekonomi Uni Soviet. Ia hanya melihat seorang tentara. Tentara itu mendekati seorang lelaki. Ia menunjuk jam. Kemudian ia menggulung lengan bajunya. Enam atau delapan jam.

Bayangkan benda-benda kecil itu berdenting ketika lengannya bergerak. Kaca-kaca jam saling berbenturan. Tali kulit atau logam bergesekan. Debu perjalanan menempel pada seragam. Tentara itu mungkin merasa sangat puas dengan kekayaannya. Beberapa jam kemudian, enam atau delapan jam tersebut mungkin berhenti satu demi satu. Tidak ada yang lebih menyedihkan daripada barang rampasan yang ternyata tidak bisa digunakan.

Lelaki Hungaria itu menyerahkan satu jam. Tentara Soviet menyerahkan enam atau delapan. Transaksi selesai.

Kisah itu juga tidak bisa dipisahkan dari konteks perjalanan Weiss sendiri. Ia baru berusia 16 tahun dan baru saja keluar dari Gunskirchen. Dari kamp ia bergerak menuju Budapest bersama orang-orang yang juga sedang mencari jalan pulang. Ketika tiba di Budapest, ia melihat kota dalam kehancuran. 

Dalam kesaksiannya, ia mengatakan bahwa hampir tidak ada bangunan yang masih berdiri dan bahwa ia memandang penderitaan warga Hungaria dengan kemarahan, karena menurutnya mereka telah menjadi bagian dari dunia Nazi. Setelah itu perjalanan diteruskan. Tentara Soviet muncul di kereta, mencari barang.

Perjalanan pulang tersebut kemudian berubah menjadi perjalanan lain yang hampir kacau. Weiss dan kelompoknya mencapai perbatasan Hungaria dan Karpatska Rus, sekarang bagian dari Ukraina. Mereka harus berganti kereta. Yang tersedia hanya kereta barang. Kereta itu ternyata bergerak kembali ke arah Hungaria. Mereka masih berada di kawasan stasiun ketika menyadari kesalahan tersebut, dan akhirnya memutuskan melompat dari kereta yang bergerak. 

Weiss sendiri kemudian berjalan sekitar lima mil menuju Bilka setelah mendengar bahwa kakaknya, Mendl, masih hidup di sana. Ia tidak membawa uang. Ia berusia 16 tahun. Ia tidak mengenal daerah tersebut. Ia sendiri mengatakan bahwa sampai bertahun-tahun kemudian ia tidak mengerti bagaimana ia berhasil sampai ke sana.

Jam tangan itu hanyalah satu menit dalam perjalanan tersebut. Satu menit yang sangat kecil. Justru karena kecil, ia terasa jujur.

Sejarah perang cenderung menyukai benda-benda besar: tank, pesawat, senjata, bendera, jembatan, peta. Kesaksian manusia sering menyimpan benda yang lebih remeh. Sepasang sepatu. Sebatang rokok. Sebuah sendok. Jam tangan.

Barang-barang seperti itu menunjukkan bagaimana perang masuk ke kehidupan sehari-hari. Seorang tentara tidak hanya membawa senapan dan amunisi. Ia membawa barang yang ia ambil dari rumah seseorang. Seorang warga sipil tidak hanya kehilangan kebebasan atau keamanan. Ia kehilangan jam dari pergelangan tangannya.

Kemudian, dalam satu transaksi yang ganjil, ia mendapat enam atau delapan jam sebagai gantinya.

Jam-jam tersebut mungkin berdetak sebentar. Mungkin satu jam berhenti lebih dulu. Mungkin dua. Mungkin semuanya.

Tidak ada catatan tentang apa yang dilakukan tentara itu ketika ia menyadari bahwa tidak satu pun bekerja. Martin Weiss tidak menulis bagian tersebut.

Kereta terus bergerak.


Related

Sejarah 5368882399406371682

Posting Komentar

Jangan menyisipkan link ke dalam komentar, karena akan ditandai sebagai spam.

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item