Menjemput Jasad Siti Maemunah di Tengah Perang Mematikan
https://www.belajarsampaimati.com/2026/10/menjemput-jasad-siti-maemunah-di-tengah.html
![]() |
| Ilustrasi milik BSM |
Sebuah negara bisa terasa sangat jauh, sampai rudal jatuh dan meledak di tempat orang Indonesia sedang bekerja.
Siti Maemunah binti Muhtar Bisri, perempuan asal Sukabumi yang bekerja sebagai pekerja rumah tangga pada keluarga Kuwait, berada di Lebanon ketika perang Israel-Hizbullah pecah pada Juli 2006. Ia sedang ikut majikannya berlibur. Pada 13 Juli, sehari setelah Hizbullah menyerang posisi Israel dan menculik dua tentara Israel, serangan udara Israel menghantam Lebanon. Siti Maemunah termasuk korban. Usianya baru 24 tahun. Kabar tentang kematiannya sampai ke KBRI Beirut melalui Kedutaan Kuwait. Identifikasi kemudian dilakukan antara lain melalui rambut dan gigi.
Kisahnya memberi ukuran yang lebih nyata tentang apa arti “evakuasi WNI” daripada angka yang biasanya muncul dalam berita. Evakuasi terdengar administratif: pemerintah mengidentifikasi warga, menyediakan kendaraan, menentukan rute, kemudian membawa mereka keluar. Di lapangan, setiap kata itu bisa berarti menunggu jalan dibuka, mencari kendaraan yang bersedia masuk, memastikan seseorang masih hidup, menghubungi keluarga melalui sambungan komunikasi yang putus-putus, lalu berharap perjalanan berikutnya tidak terkena bom.
Perang Lebanon 2006 berkembang sangat cepat. Setelah serangan Hizbullah pada 12 Juli, Israel melancarkan operasi militer besar-besaran. Bandara internasional Beirut dibom dan ditutup, pelabuhan diblokade, jalan dan jembatan dihantam ledakan. Evakuasi warga asing pun menjadi operasi besar bagi banyak negara. Amerika Serikat pada akhirnya mengevakuasi hampir 15.000 warganya, sementara Inggris menggunakan kapal dan helikopter dalam Operation Highbrow. Australia menjalankan Operation RAMP dan mengevakuasi ribuan orang.
Indonesia menghadapi persoalan yang lebih kecil skalanya, tetapi tidak otomatis lebih sederhana. WNI di Lebanon tidak terkonsentrasi dalam satu rombongan yang tinggal di hotel dekat bandara. Sebagian bekerja sebagai pekerja rumah tangga, sebagian tinggal di wilayah yang berbeda, sebagian mungkin memiliki dokumen dan akses komunikasi yang tidak sama. KBRI Beirut sampai menggunakan televisi, surat kabar, dan radio, untuk meminta WNI yang masih berada di Lebanon menghubungi perwakilan RI jika membutuhkan evakuasi.
Pada saat situasi memburuk, staf KBRI sendiri ikut terdorong keluar dari Beirut. Duta Besar RI untuk Lebanon, Abdullah Syarwani, beserta puluhan WNI, dievakuasi ke Suriah. Staf yang masih bertahan di Beirut tinggal dalam jumlah sangat terbatas. Pada akhir Juli, menurut laporan ANTARA, KBRI hanya menyisakan satu diplomat dan beberapa staf lokal untuk menangani situasi.
Kalau membaca laporan-laporan sezaman, suasananya terasa berbeda dari gambaran operasi militer yang sering kita lihat dalam film. Tidak ada musik besar ketika konvoi bergerak. Tidak ada garis depan yang jelas. Yang ada hanyalah jalan yang mungkin masih bisa dilewati pagi ini dan sudah menjadi sasaran beberapa jam kemudian.
Jalur keluar menuju Suriah jadi sangat penting. Beirut terletak di pesisir Mediterania, tetapi laut tidak otomatis berarti jalan aman. Pelabuhan-pelabuhan Lebanon terkena blokade dan serangan. Karena itu, bagi warga Indonesia, keluar melalui darat menuju Damaskus menjadi bagian penting dari evakuasi. Puluhan WNI yang berhasil keluar dari Lebanon berada di Suriah, tetapi mereka belum otomatis bisa pulang ke Indonesia. Sebagian masih harus menunggu pengaturan transportasi dan tiket.
Siti Maemunah mengalami versi yang lebih tragis dari persoalan tersebut. Jenazahnya berada di Tyre, Lebanon Selatan, kawasan yang sangat berbahaya. Rumah sakit tempat jenazah berada sempat masuk dalam kondisi terblokade. Pemerintah Indonesia tidak bisa begitu saja mengirim mobil untuk mengambilnya. Bahkan membawa jenazah keluar dari rumah sakit memerlukan bantuan militer Lebanon.
Kesempatan datang pada 30 Juli ketika Israel mengumumkan jeda 48 jam dalam operasi militernya, setelah tekanan internasional, menyusul serangan di Qana yang menewaskan lebih dari 60 orang, banyak di antaranya anak-anak. KBRI memanfaatkan jeda itu. Militer Lebanon membantu menyediakan kendaraan patroli. Jenazah Siti Maemunah akhirnya dapat dibawa keluar dari Tyre dan tiba di KBRI Beirut pada sore hari.
Detail mobil patroli itu justru menempel di kepala. Sebab benda yang digunakan untuk mengevakuasi seseorang dari perang bukan selalu kendaraan yang terlihat gagah. Kadang kendaraan patroli militer yang kebetulan tersedia. Kadang mobil yang harus melewati jalan yang baru saja dihantam ledakan. Kadang orang-orang hanya menghitung jarak dan waktu.
Sehari setelah jenazah tiba di Beirut, proses berikutnya dimulai. Jenazah diserahkan kepada KBRI Damaskus dan dibawa melalui jalan darat dengan pengawalan keamanan. Dari Damaskus, perjalanan diteruskan dengan pesawat. Pada 2 Agustus, jenazah Siti Maemunah diberangkatkan dari Bandara Internasional Damaskus menuju Indonesia. Tim gabungan Departemen Luar Negeri dan Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi mendampinginya. Ia dijadwalkan tiba di Bandara Soekarno-Hatta pada 3 Agustus.
Ada sesuatu yang tidak nyaman dari fakta bahwa Siti berada di Lebanon bukan sebagai wartawan perang, tentara, diplomat, atau pekerja kemanusiaan. Ia pekerja rumah tangga yang sedang ikut majikannya berlibur. Sebuah liburan keluarga Kuwait membawanya ke negara yang beberapa hari kemudian menjadi medan perang. Identitasnya sebagai orang Indonesia baru sangat penting ketika pemerintah harus mencari jenazahnya.
Kasus seperti itu juga memperlihatkan satu kelemahan dari cara kita biasanya mengingat operasi evakuasi. Kita cenderung mengingat negara sebagai satu kesatuan: “Indonesia mengevakuasi WNI dari Lebanon.” Kalimat itu benar, tetapi terlalu bersih. Di baliknya terdapat orang-orang yang tidak ingin meninggalkan rumah, orang yang tidak tahu harus pergi ke mana, orang yang tidak punya kendaraan, orang yang menunggu kabar dari keluarga, dan petugas kedutaan yang tetap berada di wilayah berbahaya ketika sebagian besar warga sudah pergi.
Pada saat itu Indonesia belum memiliki pengalaman seperti sekarang dalam merancang skenario evakuasi maritim dari Lebanon. Kehadiran TNI dalam misi Lebanon justru berkembang sesudah perang. UNIFIL dibentuk kembali dengan mandat yang diperluas setelah konflik 2006, dan Indonesia mulai mengirim kontingen dalam jumlah besar. TNI kemudian menjadi salah satu negara kontributor penting dalam misi tersebut. Satgas Maritim TNI bergabung dengan UNIFIL mulai 2009, ketika KRI Diponegoro-365 dikirim sebagai bagian dari Maritime Task Force.
Perubahan itu menghasilkan sesuatu yang menarik: pengalaman perang 2006 kemudian ikut membentuk cara Indonesia memikirkan evakuasi warga negara dari Lebanon. Pada 2024, ketika situasi Lebanon kembali memburuk, TNI dan Kementerian Luar Negeri secara resmi menguji rencana kontinjensi evakuasi WNI melalui laut. Dalam latihan tersebut, KRI Diponegoro-365 dipersiapkan sebagai opsi untuk membawa WNI dari Lebanon menuju Siprus jika jalur udara tidak memungkinkan. TNI menjelaskan bahwa kapal perang memiliki kekebalan diplomatik sebagai bagian dari pertimbangan keamanan penggunaannya.
Jadi, kalau kisah 2006 diceritakan sebagai cerita tentang kapal perang Indonesia yang masuk ke Lebanon untuk menjemput WNI, ceritanya terdengar gagah tetapi sumber sezaman tidak mendukung gambaran tersebut. Kapal perang itu lebih tepat ditempatkan sebagai bagian dari evolusi kemampuan dan perencanaan Indonesia setelah pengalaman perang tersebut, bukan sebagai kendaraan utama evakuasi WNI pada Juli 2006.
Yang terjadi pada 2006 justru lebih berantakan.
Orang-orang keluar dari Lebanon menuju Suriah. Sebagian menunggu di Damaskus. KBRI Beirut berusaha menemukan mereka. Seorang perempuan dari Sukabumi tertinggal sebagai jenazah di Tyre. Jeda perang selama 48 jam membuka kesempatan yang sangat sempit untuk membawanya keluar. Militer Lebanon menyediakan mobil patroli. KBRI Beirut menerima jenazah itu. Sehari setelahnya, perjalanan darat menuju Damaskus dimulai.
Sebuah perang besar sering masuk buku sejarah melalui nama negara, operasi militer, resolusi PBB, jumlah korban, dan peta wilayah. Siti Maemunah masuk melalui jalan yang lebih kecil: rambut dan gigi untuk identifikasi, sebuah rumah sakit di Tyre, mobil patroli militer Lebanon, perjalanan darat menuju Damaskus, dan sebuah penerbangan yang membawa tubuhnya semakin jauh dari tempat ia meninggal.
Sementara puluhan WNI lain masih menunggu di Suriah untuk tahu kapan mereka bisa pulang.
Catatan terkait: Pray For Indonesia: Bencana di Tengah Semangat Kemerdekaan
.jpg)

