Petra, Kota Masa Lalu yang Terus Hidup di Zaman Modern

Ilustrasi milik BSM
Batu merah muda Petra membuat manusia tampak kecil. Siq (ngarai) yang sempit membawa pengunjung melewati dinding batu setinggi puluhan meter sebelum tiba-tiba membuka pandangan ke Al-Khazneh, bangunan yang begitu terkenal sampai-sampai banyak orang merasa sudah mengenalnya sebelum pernah datang ke Yordania. Kamera terangkat hampir serempak. Orang berhenti. Debu menempel di sepatu. Seekor kuda lewat. Seorang lelaki menawarkan perjalanan dengan unta.

Untuk beberapa detik, semuanya cocok dengan bayangan tentang kota kuno yang dibawa dari rumah.

Petra memang mudah membuat manusia sekarang terasa seperti gangguan kecil. Nabatea, makam batu, gurun, Indiana Jones, kerajaan yang hilang. Pengunjung datang membawa masa lalu di kepala mereka, kemudian berjalan melewati orang-orang yang sebenarnya hidup di sana dan bekerja untuk kehidupan yang sangat kekinian: hotel, restoran, transportasi, toko suvenir, pemandu, kuda, unta, dan berbagai jasa yang tumbuh di sekitar situs arkeologi paling terkenal di Yordania itu.

Wadi Musa, kota yang menjadi pintu utama menuju Petra, tidak hidup pada abad pertama sebelum Masehi. Orang-orang di sana membayar listrik, mengurus sekolah anak, mencari pekerjaan, membuka restoran, mengelola hotel, dan memikirkan harga barang. 

Penelitian terhadap masyarakat Petra bahkan menunjukkan bahwa penduduk setempat melihat pariwisata dengan campuran yang cukup biasa bagi orang yang penghasilannya berkaitan dengan kedatangan orang asing: pekerjaan dan investasi bertambah, layanan berkembang, tetapi biaya hidup dan harga properti juga menjadi persoalan. Dalam satu survei terhadap 341 penduduk kawasan Petra, 4,28 dari skala 5 menyatakan bahwa pariwisata meningkatkan biaya hidup, sementara 4,46 menyatakan mereka tetap mendorong lebih banyak wisatawan datang.

Angka itu terasa lebih manusiawi kalau kita berhenti membayangkan “masyarakat lokal” sebagai satu kelompok yang berbicara dengan satu suara. Orang yang bekerja sebagai pemandu mungkin memandang wisatawan dengan cara berbeda dari guru sekolah. Pemilik hotel memiliki kepentingan berbeda dari keluarga yang tinggal lebih jauh dari gerbang Petra. Orang yang menjual kerajinan membutuhkan keramaian yang bagi orang lain mungkin terasa melelahkan.

Petra memang bergantung besar pada ekonomi semacam itu. Tetapi ketergantungan ekonomi tidak berarti seseorang berubah menjadi profesinya.

Wisatawan sering tidak punya banyak waktu untuk mengetahui perbedaannya. 

Mereka bertemu seorang lelaki dengan keledai, maka lelaki itu menjadi “orang Petra yang membawa keledai”. Mereka bertemu pemandu yang fasih menjelaskan sejarah Nabatea, maka ia menjadi “guide”. Mereka membeli syal dari seorang perempuan, maka perempuan itu menjadi “penjual suvenir”. Mereka naik unta, mengambil foto, memberi tip, kemudian pergi. Orang yang tadi berdiri di depan mereka menghilang dari pandangan bersama dengan perannya.

Padahal kehidupan seseorang hampir selalu lebih panjang daripada transaksi yang kita lakukan dengannya.

Nama seseorang, keluarga, rumah, teman, pendidikan, utang, kegagalan, kebiasaan makan, pertandingan sepak bola yang ia tonton, orang yang ia cintai—semua bagian itu lenyap karena wisatawan hanya membutuhkan satu fungsi darinya selama lima belas menit.

Saya kira manusia memang buruk dalam melihat orang yang hanya ditemuinya sebentar. Kita menyederhanakan orang asing supaya dunia cepat terbaca. Polisi menjadi polisi. Sopir taksi menjadi sopir taksi. Pelayan menjadi pelayan. Pemandu wisata menjadi suara yang menjelaskan tempat. Sesudah tugas selesai, kita tidak lagi punya alasan untuk memikirkan mereka.

Petra memperlihatkan kebiasaan itu dalam bentuk yang sangat jelas, karena latarnya terlalu kuat.

UNESCO mencatat bahwa suku Bdul, kelompok Bedouin yang secara historis tinggal di kawasan Petra, direlokasi dari tempat tinggal musiman mereka di cekungan Petra ke desa Umm Sayhoun lebih dari dua puluh tahun sebelum laporan tersebut, antara lain untuk membantu melindungi lingkungan arkeologis. Orang-orang Bdul sendiri kemudian tetap terlibat dalam ekonomi pariwisata di sekitar situs.

Kalimat tentang relokasi itu terdengar administratif jika dibaca sebagai dokumen warisan dunia. Dalam kehidupan manusia, pindah dari satu tempat tinggal ke tempat lain tentu bukan urusan administratif belaka.

Ada sejarah yang jauh lebih rumit di balik seorang penunggang unta yang terlihat oleh wisatawan hanya selama lima menit.

Hal semacam itu membuat istilah “lokal” terasa agak tidak nyaman. Lokal menurut siapa? Terhadap apa? Seseorang yang lahir di Wadi Musa dapat mempunyai hubungan yang jauh lebih rumit dengan Petra daripada seorang wisatawan yang baru saja membaca tiga paragraf tentang Nabatea di Wikipedia. Orang yang bekerja di gerbang situs mungkin hafal kebiasaan pengunjung dari Jepang, Prancis, Amerika, atau Indonesia, tetapi wisatawan itu sendiri mungkin hanya mengingatnya sebagai “orang yang menawarkan unta”.

Penelitian tentang persepsi masyarakat Petra menunjukkan bahwa keterlibatan dalam pariwisata mempengaruhi cara penduduk menilai dampaknya. Studi lain terhadap 467 penduduk dari enam komunitas di kawasan Petra menemukan bahwa persepsi terhadap dampak ekonomi merupakan aspek paling penting dalam hubungan mereka dengan perkembangan pariwisata, sementara jarak tempat tinggal dari situs juga mempengaruhi persepsi tersebut.

Artinya, bahkan orang yang kita sebut “masyarakat lokal” tidak memiliki satu pengalaman terhadap Petra.

Petra sendiri juga bukan benda mati yang tinggal menunggu difoto. Situs itu mengalami tekanan wisata yang meningkat, terutama di titik-titik padat seperti Siq, sementara pengelola harus memikirkan konservasi, pertumbuhan permukiman, ekonomi lokal, dan hubungan dengan komunitas sekitar. UNESCO bahkan menjalankan proyek berkelanjutan untuk Petra dan Wadi Rum yang mencakup pelibatan komunitas lokal, pelatihan pariwisata dan perhotelan, serta penciptaan kesempatan ekonomi bagi usaha milik perempuan.

Masa lalu ternyata membutuhkan banyak pekerjaan masa kini agar tetap terlihat seperti masa lalu.

Kalau dipikir-pikir, itu agak lucu. Wisatawan datang untuk melihat kota Nabatea yang telah bertahan ribuan tahun, tetapi pengalaman mereka bergantung pada jaringan manusia modern yang sangat besar. Orang yang membuat hotel tetap bersih. Orang yang memasak sarapan. Sopir yang mengantar dari Amman. Pemandu yang menjelaskan Dushara. Penjaga situs. Pedagang. Teknisi. Pengemudi kendaraan. Orang yang mengangkut barang.

Tanpa mereka, pengalaman “kembali ke masa lalu” akan berhenti menjadi pengalaman yang nyaman.

Masalahnya bukan bahwa wisatawan tidak mengetahui semua itu. Tidak mungkin seseorang mengetahui seluruh kehidupan orang yang ditemuinya dalam perjalanan. Yang lebih menarik adalah betapa cepat kita merasa sudah mengetahui seseorang hanya karena telah melihat pekerjaannya.

Seorang pemandu menjelaskan bahwa Petra pernah menjadi pusat perdagangan. Ia menunjukkan saluran air Nabatea. Ia menunjuk makam. Wisatawan mendengarkan, mengangguk, mungkin bertanya tentang Indiana Jones. Pemandu menjawab. Lima belas menit kemudian kelompok bergerak pergi.

Kita tahu banyak tentang sejarah yang ia ceritakan. Kita hampir tidak tahu apa-apa tentang orang yang menceritakannya.

Di luar gerbang, Wadi Musa terus berjalan dengan ritmenya sendiri. Restoran menunggu pelanggan. Mobil berhenti di depan hotel. Anak-anak pulang sekolah. Orang-orang yang bekerja di Petra mungkin sedang menghitung penghasilan hari itu, memikirkan pekerjaan besok, atau sekadar ingin sampai rumah sebelum makan malam.

Petra masih berada di sana, tentu saja. Batu-batu merah, makam, tangga, Siq, Al-Khazneh. Kamera masih mengarah ke tebing.

Seorang lelaki selesai membantu seorang wisatawan turun dari unta. Ia menerima uang, memasukkannya ke saku, lalu membawa hewan itu pergi. Wisatawan tadi sudah berbalik menuju makam berikutnya.

Lelaki itu terus berjalan ke arah yang tidak masuk foto.


Related

Geografi 7658152017514975352

Posting Komentar

Jangan menyisipkan link ke dalam komentar, karena akan ditandai sebagai spam.

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item