Istanbul, Kota yang Telah Berdiri Selama Dua Ribu Tahun

Ilustrasi milik BSM
Istanbul adalah kota yang membuat kalimat “berada di dua benua” terdengar kurang sebagai fakta geografis dan lebih sebagai gangguan permanen terhadap logika. Di satu sisi Bosphorus, Eropa. Beberapa menit kemudian kapal feri merapat di sisi lain, dan Asia dimulai. Orang membawa tas belanja, anak sekolah, kopi dalam gelas kertas, rokok yang masih menyala. Tidak ada upacara ketika benua berganti. Kapal bergerak, burung camar berteriak, mesin bergetar di bawah kaki, kemudian dermaga berikutnya.

Persoalannya jauh lebih besar daripada dua benua. Istanbul pernah menjadi Byzantium, Constantinople, kemudian Istanbul; pernah menjadi pusat kekuasaan Romawi, Romawi Timur, dan Ottoman. UNESCO menyebut kota itu telah memainkan peran politik, agama, dan budaya, selama lebih dari 2.000 tahun, dengan posisi strategis di antara Balkan dan Anatolia, Laut Hitam dan Laut Mediterania.

Kota itu tidak sekadar kebetulan berdiri di persimpangan. Kekaisaran-kekaisaran besar memilih tempat itu karena persimpangan tersebut bernilai.

Nama awalnya Byzantium. Koloni Yunani itu berdiri di sekitar Tanduk Emas dan Bosphorus, posisi yang memberikan pelabuhan alami sekaligus kendali atas jalur air. Kaisar Constantine I kemudian menjadikan kota tersebut sebagai ibu kota Kekaisaran Romawi pada abad ke-4 dan memberinya nama Constantinople. Kota baru itu dibangun dengan ambisi yang sangat besar: hippodrome, istana, gereja, forum, tembok. Constantinople menjadi pusat dunia Romawi Timur selama berabad-abad. Tembok darat Theodosius II yang panjangnya sekitar 6,5 kilometer kemudian menjadi salah satu sistem pertahanan paling mengesankan pada zamannya.

Kota seperti itu mengembangkan kebiasaan menganggap dirinya penting.

Hagia Sophia memperlihatkan tingkat kepercayaan diri tersebut dengan sangat jelas. Dibangun kembali pada masa Kaisar Justinianus pada 532–537, bangunan itu selama berabad-abad menjadi gereja utama Kekaisaran Bizantium dan pusat Patriarkat Ortodoks Yunani. Kubahnya begitu besar sehingga ketika berdiri di bawahnya, ukuran ruangan terasa agak tidak masuk akal. Batu dan mosaik dibuat untuk menunjukkan bahwa kekuasaan politik dan agama dapat mengambil bentuk arsitektur.

Pada 1453, Mehmed II datang dengan pasukan Ottoman. Constantinople telah berkali-kali diserang sepanjang sejarahnya, tetapi kali ini pertahanannya runtuh. Salah satu kisah paling terkenal dari pengepungan tersebut adalah bagaimana kapal-kapal Ottoman dipindahkan melalui daratan untuk menghindari rantai pertahanan di mulut Golden Horn. Sumber UNESCO mencatat sekitar 70 kapal ditarik melintasi bukit untuk masuk ke teluk dari arah yang tidak diduga.

Kota itu kemudian menjadi ibu kota Ottoman.

Perubahan rezim tidak berarti kota dibersihkan dari masa sebelumnya. Ottoman justru mengambil kota yang sudah penuh dengan bangunan, jalan, tembok, dan simbol kekuasaan, lalu menambahkan milik mereka sendiri. Hagia Sophia berubah menjadi masjid. Topkapı Palace dibangun di semenanjung yang menghadap Bosphorus. Kompleks Fatih didirikan. Sinan kemudian merancang Süleymaniye Mosque pada abad ke-16. Blue Mosque muncul pada abad ke-17. UNESCO menggambarkan lanskap Istanbul sebagai hasil penumpukan karya arsitektur Bizantium dan Ottoman selama berabad-abad.

Hasilnya agak aneh ketika dilihat dari satu titik. Kubah Hagia Sophia, kubah Süleymaniye, dan menara-menara masjid, muncul dalam satu garis langit. Semuanya berasal dari masa berbeda, dibangun oleh kekuasaan berbeda, tetapi sekarang berdiri berdampingan sebagai bagian dari Istanbul yang sama. Kota itu tidak memiliki kebiasaan menghapus kemenangan lama. Ia menimpanya dengan kemenangan berikutnya.

Topkapı sendiri cukup untuk menjelaskan skala kekuasaan yang pernah berkumpul di sana. Dari istana tersebut, para sultan Ottoman mengendalikan wilayah yang membentang jauh melampaui Anatolia. Ruang-ruang istana, halaman, paviliun, dapur, dan bangunan administrasinya membentuk semacam kota kecil untuk kekuasaan. Dari tepi halaman tertentu, Bosphorus terlihat di bawah. Kapal lewat. Di seberang sana Asia.

Hal semacam itu membuat geografi Istanbul terasa sangat fisik. Orang tidak sedang membaca bahwa kota itu berada di dua benua. Mereka melihatnya.

Feri adalah salah satu cara paling sederhana untuk memahami kota tersebut. Dari Eminönü menuju Kadıköy, perjalanan berlangsung singkat. Air Bosphorus dan Golden Horn memisahkan kawasan-kawasan yang secara historis memiliki karakter berbeda, tetapi lalu lintas manusia justru membuat pemisahan itu tidak terlalu berarti. Orang berangkat dari sisi Eropa untuk bekerja di Asia, atau sebaliknya. Kapal feri dipenuhi kendaraan kecil kehidupan sehari-hari: kantong belanja, sepatu kerja, koran, ponsel, anak-anak yang tertidur di bahu orang tua. Camar mengikuti kapal karena tahu manusia membawa makanan.

Istanbul yang kita kenal sekarang juga bukan lagi ibu kota politik Turki. Ketika Republik Turki berdiri, Ankara dipilih sebagai ibu kota pada 1923.

Istanbul kehilangan fungsi yang selama berabad-abad membuatnya menjadi pusat pemerintahan kekaisaran. Anehnya, kehilangan itu tidak membuat kota mengecil secara historis. Ia justru terus tumbuh sebagai pusat perdagangan, pelabuhan, industri, budaya, dan hubungan internasional. UNESCO mencatat bahwa setelah Ankara menjadi ibu kota, Istanbul tetap memainkan peran besar sebagai pusat komersial, industri, dan budaya.

Di sanalah kota itu mulai terasa lebih rumit daripada slogan “East meets West”.

Ungkapan tersebut terlalu bersih. Istanbul tidak mempertemukan dua benda yang berdiri rapi di masing-masing sisi meja. Kota itu mempertemukan agama, bahasa, perdagangan, migrasi, kekuasaan, makanan, musik, kelas sosial, dan kebiasaan yang sudah bercampur selama berabad-abad. Bahkan istilah “Eropa” dan “Asia” sendiri tidak cukup untuk menjelaskan apa yang terjadi di jalan-jalannya.

Pergilah ke Grand Bazaar, dan logikanya berubah lagi. Ribuan toko, lorong, karpet, lampu, keramik, kulit, perhiasan, aroma kopi dan makanan. Tempat itu mempunyai sejarah yang panjang sebagai pusat perdagangan dan dibangun serta diperluas dalam periode Ottoman. Beberapa menit dari sana, Sultanahmet dipenuhi bangunan yang oleh pengunjung dianggap sebagai wajah Istanbul: Hagia Sophia, Blue Mosque, Hippodrome, Basilica Cistern.

Turis biasanya melihat semuanya sebagai satu paket.

Sejarahnya jauh lebih kasar. Hippodrome Constantinople dulu menjadi tempat perlombaan kereta dan arena politik massa. Obelisk Theodosius yang masih berdiri di sana berasal dari Mesir kuno dan dibawa ke Constantinople pada masa Romawi. Kota itu bahkan tidak hanya menumpuk imperium di atas dirinya sendiri; ia juga memindahkan benda-benda dari wilayah lain untuk memperbesar simbol kekuasaannya.

Basilica Cistern berada di bawah tanah, dengan ratusan kolom yang berdiri di air gelap. Dua kepala Medusa digunakan sebagai alas kolom, posisinya salah satunya terbalik dan yang lain menyamping. Tidak jelas persis bagaimana kepala-kepala tersebut sampai di sana. Istanbul mempunyai terlalu banyak benda yang sudah tua sehingga bahkan benda aneh pun bisa kehilangan dokumentasi asal-usulnya.

Itu mungkin bagian paling khas dari Istanbul: skala sejarahnya terlalu besar untuk disusun menjadi cerita yang rapi.

Byzantium tidak lenyap ketika Constantinople muncul. Constantinople tidak lenyap ketika Ottoman merebutnya. Ottoman tidak lenyap ketika Republik Turki memilih Ankara sebagai ibu kota. Semua pemerintahan berganti, tetapi batu, jalan, pelabuhan, makam, masjid, gereja, pasar, dan garis pantai tetap dipakai oleh orang berikutnya.

Menjelang sore, cahaya di Bosphorus berubah keemasan. Dari kapal, sisi Eropa dan Asia tampak sekaligus. Minaret berdiri di belakang gedung apartemen, kapal tanker bergerak jauh di tengah selat, dan jembatan menggantung di antara dua daratan.

Seseorang di geladak mungkin sedang memotret Eropa dari Asia.

Beberapa menit kemudian kapal akan merapat.


Related

Geografi 190212840409949447

Posting Komentar

Jangan menyisipkan link ke dalam komentar, karena akan ditandai sebagai spam.

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item