Lima, Kota yang Hidup di Tempat Paling Kering di Bumi

Ilustrasi milik BSM
Lima punya masalah yang terdengar seperti kesalahan geografi. Kota sebesar itu berdiri di tepi Samudra Pasifik, di sebuah wilayah yang secara praktis adalah gurun, dengan langit yang sering kelabu dan udara lembap, tetapi hujan yang turun dari langit hampir tidak pernah cukup untuk membasahi kota. Angka rata-ratanya membuat orang yang terbiasa dengan kota tropis mengerutkan dahi: sekitar 13 milimeter hujan per tahun menurut World Bank. 

Beberapa sumber bahkan mencatat angka rata-rata yang lebih rendah, tergantung periode dan stasiun pengukuran. Untuk kota metropolitan berpenduduk lebih dari 10 juta jiwa, angka itu terasa seperti lelucon. 

Keluar dari Bandara Jorge Chávez menuju pusat Lima, kesan pertama yang mungkin muncul justru bukan kekeringan. Udara terasa basah. Langit pucat. Musim dingin membawa kabut pesisir yang disebut garúa, gerimis sangat halus yang kadang menempel di permukaan tetapi tidak pernah berubah menjadi hujan tropis yang benar-benar turun. World Bank menggambarkan musim dingin Lima sebagai sejuk, lembap, berangin, dan kelabu. 

Gurun, dalam bayangan kita, mestinya panas, kuning, kering, dengan matahari yang kejam. Lima bisa kelihatan muram seperti kota yang sedang menunggu hujan, padahal hujan itu sendiri hampir tidak datang.

Keanehan itu berasal dari laut. Arus Humboldt yang dingin mengalir di sepanjang pesisir Peru, sementara kondisi atmosfer di kawasan pantai membuat udara lembap menghasilkan lapisan awan rendah dan kabut. Pegunungan Andes di sebelah timur juga mengubah pola hujan. Uap air yang masuk dari timur dan mengalami pengangkatan di Andes menghasilkan curah hujan jauh lebih besar di kawasan pegunungan daripada di pantai. Lima terjebak di sisi yang kering. Ia memiliki kelembapan, tetapi kelembapan itu tidak otomatis menjadi hujan.

Kota itu kemudian hidup dengan trik yang agak kasar: airnya harus datang dari tempat lain.

Tiga sungai utama yang menopang sistem air Lima adalah Rímac, Chillón, dan Lurín. Ketiganya bermuara ke Pasifik, tetapi sumber airnya berada di Andes. World Bank mencatat bahwa metropolitan Lima dan Callao bergantung pada ketiga sungai tersebut, ditambah air tanah dan sistem danau di wilayah pegunungan.

Jadi ketika seorang penduduk Lima membuka keran di apartemen di Miraflores atau mengisi ember di kawasan padat di San Juan de Lurigancho, air yang keluar dari sana memiliki hubungan yang jauh lebih erat dengan pegunungan Andes daripada dengan awan kelabu yang menggantung di atas kota.

Rímac sangat penting, sampai namanya terasa seperti bagian dari anatomi Lima. Sungai itu mengalir melewati kota dan telah menjadi bagian dari perkembangan ekonomi serta sejarah urban Lima selama berabad-abad. Persoalannya, sungai yang membawa air dari pegunungan juga membawa semua problem yang menempel pada wilayah hulunya: perubahan penggunaan lahan, pertanian, pertambangan, kebutuhan kota, dan perubahan iklim. Sungai bukan keran yang bisa diputar lebih besar ketika populasi bertambah.

Hal itu sebenarnya sudah dipahami jauh sebelum Lima menjadi kota metropolitan modern. Masyarakat pra-Inca di Andes mengembangkan teknik yang sekarang kembali dipelajari para ilmuwan. Di kawasan Huamantanga, sekitar 3.500 meter di atas permukaan laut, sistem yang dikenal sebagai amunas atau mamanteo mengalihkan air pada musim hujan ke lereng tertentu agar air meresap ke tanah. Air tersebut bergerak melalui bawah permukaan dan muncul kembali sebagai mata air beberapa minggu kemudian. 

Penelitian Boris Ochoa-Tocachi dan koleganya menemukan bahwa sistem berusia sekitar 1.400 tahun itu dapat menahan air rata-rata sekitar 45 hari sebelum muncul kembali; pemodelan mereka memperkirakan penerapan sistem tersebut secara luas di wilayah sumber air Lima berpotensi menunda sekitar 99 juta meter kubik aliran per tahun dan meningkatkan aliran musim kering rata-rata sekitar 7,5 persen.

Saya suka bagian itu, karena ia mengacaukan gambaran sederhana tentang kota modern versus masyarakat kuno. Ketika kota menghadapi kekurangan air, solusi yang terdengar modern belum tentu selalu lebih pintar. Orang-orang Huamantanga tidak membangun bendungan beton raksasa untuk memaksa alam patuh. Mereka membaca lereng. Mereka memahami bahwa air yang tampak hilang belum tentu benar-benar hilang. Air bisa dimasukkan ke tanah dan dipanggil kembali ketika musim berubah.

Lima juga memiliki sejarah yang lebih tua daripada Lima zaman kolonial dalam mengelola air. Di kompleks Pachacamac, sekitar 40 kilometer tenggara pusat kota modern, penelitian arkeologi menemukan jaringan kolam, kanal, mata air dan saluran yang terhubung dengan lanskap Sungai Lurín. Kompleks keagamaan itu berkembang selama lebih dari seribu tahun, dan air tidak hanya dipakai untuk kebutuhan praktis; kolam dan kanal juga terkait dengan fungsi ritual.

Di tempat seperti itu, pengelolaan air dan kehidupan sosial tidak pernah benar-benar terpisah.

Kemampuan itu sekarang menghadapi masalah yang lebih besar daripada sekadar kekurangan hujan. Populasi Lima membesar, konsumsi air meningkat, dan sumber air pegunungan mengalami tekanan perubahan iklim. Pegunungan Andes Peru sangat penting bagi pasokan air musim kering. Salju dan es di pegunungan menyimpan air dan melepaskannya secara perlahan, sementara banyak gletser Peru telah menyusut. Penelitian iklim menunjukkan bahwa perubahan masa depan dapat menghasilkan kombinasi yang tidak nyaman: peningkatan hujan ekstrem sekaligus kekeringan yang lebih berat.

Itu bagian yang agak menyebalkan dari persoalan Lima. Orang bisa melihat foto gletser yang mencair dan menganggap persoalannya sederhana: pemanasan global menyebabkan es berkurang, lalu air berkurang. Sistem hidrologi tidak sesopan itu. Hujan bisa bertambah pada waktu tertentu, sementara kekeringan meningkat pada waktu lain. Salju yang dulu bertahan di dataran tinggi bisa mencair lebih cepat. Air yang seharusnya tersimpan sebagai es menjadi aliran lebih cepat. Dalam jangka pendek, pencairan dapat membantu aliran; dalam jangka panjang, cadangan alami tersebut mengecil. Penelitian terbaru tentang Andes Peru menunjukkan betapa rumitnya hubungan salju, es, suhu, dan limpasan sungai.

Sementara itu, di Lima, orang tetap mencuci piring, mandi, menyiram toilet, memasak, mencuci pakaian, mengisi kolam renang, menyiram taman. Kota tidak bisa menunggu sistem iklim menyelesaikan perdebatan akademiknya. Satu juta lebih penduduk yang hidup dengan akses layanan air yang tidak setara membuat persoalannya jadi sangat fisik: tangki, pipa, truk air, pompa, sambungan rumah, jam aliran.

Ironinya terasa paling jelas ketika kabut datang. Jalanan bisa lembap. Rambut terasa sedikit basah. Jaket menyimpan dingin yang tidak benar-benar dingin. Pandangan ke gedung-gedung Lima menjadi pucat. Orang luar mungkin mengira kota sedang memperoleh air dari langit. Padahal sebagian besar air yang membuat metropolis itu tetap berjalan datang dari pegunungan jauh di timur.

Lima pada dasarnya tinggal di sebuah gurun sambil meminjam air dari Andes. Kalimat itu terdengar sederhana sampai kita mengikuti perjalanan setetes airnya: awan di pegunungan, hujan musiman, tanah yang menyerap air melalui sistem kuno Huamantanga, sungai Rímac yang turun menuju pantai, instalasi pengolahan, jaringan pipa, keran rumah, gelas di meja makan.

Di luar jendela, garúa masih menempel di kaca. Airnya hampir tidak cukup untuk membuat kaca perlu dilap.


Related

Geografi 1811173871681496598

Posting Komentar

Jangan menyisipkan link hidup ke dalam komentar, karena akan ditandai sebagai spam.

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item