Turis Perempuan di Kairo dan Persoalan yang Menyebalkan
https://www.belajarsampaimati.com/2026/10/turis-perempuan-di-kairo-dan-persoalan.html
![]() |
| Ilustrasi milik BSM |
Di dekat Khan el-Khalili, seorang perempuan asing mungkin sedang memilih sebotol parfum ketika percakapan dengan penjual tiba-tiba berubah arah. Ia datang untuk membeli sesuatu. Orang di depannya melihat hal lain: perempuan sendirian, turis, mungkin Eropa, mungkin Amerika, mungkin hanya seseorang yang tidak tahu bagaimana sebuah ruang bekerja. Tatapan jadi lebih lama. Pertanyaan jadi lebih pribadi. Harga barang mungkin masih bisa ditawar, tetapi jarak tubuh sudah ikut masuk ke dalam transaksi.
Kairo sering diperkenalkan kepada turis melalui benda-benda yang tidak bergerak: piramida, mumi, masjid, Sungai Nil, batu-batu tua yang tetap berada di tempatnya selama ribuan tahun. Pengalaman seorang wisatawan perempuan justru bisa berubah karena sesuatu yang jauh lebih sederhana: siapa yang menatapnya ketika ia berjalan.
Penelitian Lorraine Brown dan Hanaa Osman, tentang wisatawan perempuan di Mesir, menarik karena mereka tidak memulai dari pertanyaan apakah Mesir aman atau tidak. Mereka bertanya bagaimana gender mengubah pengalaman seseorang yang sedang berwisata. Mereka mewawancarai wisatawan perempuan dan menemukan bahwa perhatian laki-laki yang tidak diinginkan serta pelecehan seksual membuat sebagian peserta mengubah perilaku mereka selama perjalanan. Cara berpakaian, cara bergerak, tempat yang didatangi, bahkan cara berinteraksi dengan laki-laki, dapat dipikirkan ulang karena mereka harus menegosiasikan norma sosial yang tidak mereka kenal.
Kata yang penting di sini adalah menegosiasikan.
Turis datang dengan asumsi bahwa dirinya membawa kebebasan tertentu. Ia membayar tiket pesawat. Memesan hotel. Membeli makanan. Membawa paspor. Ia datang sebagai konsumen yang memilih ke mana hendak pergi. Status sebagai wisatawan memberi rasa bahwa ia sementara berada di luar kehidupan sehari-hari sebuah tempat.
Tapi tubuhnya tetap berada di dalam kehidupan sehari-hari tempat tersebut.
Itu membuat perjalanan perempuan berbeda dari sekadar persoalan “budaya lokal berbeda dengan budaya Barat”. Kalimat semacam itu terlalu rapi. Yang terjadi di jalan jauh lebih kasar. Seorang perempuan mungkin harus memperkirakan apakah pakaian tertentu akan menarik perhatian. Ia mungkin memilih taksi dengan lebih hati-hati. Ia mungkin tidak ingin berjalan sendirian di tempat tertentu. Ia mungkin memikirkan apakah harus tersenyum ketika seseorang mengajaknya bicara atau justru mengabaikannya. Keputusan-keputusan kecil yang biasanya tidak masuk buku panduan menjadi bagian dari itinerary.
Brown dan Osman menemukan bahwa ruang-ruang wisata di Mesir yang mereka teliti sangat didominasi laki-laki. Salah satu peserta bahkan menggambarkan museum, toko, taksi, dan staf wisata, sebagai ruang yang hampir seluruhnya diisi laki-laki. Bagi turis perempuan, ketidakhadiran perempuan lokal dalam ruang wisata bukan sekadar statistik demografis. Ia mengubah cara seorang pendatang membaca situasi.
Saya kira bagian itu sering terlewat ketika orang membicarakan perjalanan sebagai pengalaman “keluar dari zona nyaman”. Kalimat itu terdengar indah karena menganggap ketidaknyamanan sebagai bahan pertumbuhan pribadi. Bagi perempuan yang terus-menerus diawasi atau diganggu, ketidaknyamanan bukan eksperimen psikologis. Ia adalah sesuatu yang harus dihitung.
Seberapa jauh saya berjalan? Dengan siapa? Kalau orang itu mengikuti saya, apa yang harus saya lakukan? Bolehkah saya duduk di sini? Apakah saya terlalu ramah? Pertanyaan-pertanyaan itu tidak perlu diucapkan keras-keras. Justru karena sudah menjadi perhitungan internal, ia mengubah perjalanan tanpa terlihat oleh orang lain.
Perempuan lokal tentu mengalami dunia yang berbeda. Di sinilah penggunaan istilah “budaya Mesir” secara sembarangan jadi berbahaya. Mesir bukan satu blok manusia dengan satu perilaku. Perempuan Mesir, perempuan asing yang tinggal lama di Kairo, turis Eropa yang datang selama lima hari, dan perempuan Muslim dari negara lain, tidak menempati posisi sosial yang sama. Bahkan wisatawan perempuan dalam penelitian Brown dan Osman memiliki pengalaman yang berbeda-beda. Penelitian itu sendiri bersifat kualitatif dan eksploratif; ia tidak bisa dipakai untuk mengatakan bahwa setiap perempuan yang mengunjungi Mesir pasti mengalami pelecehan.
Tetapi justru karena itu hasilnya terasa lebih manusiawi. Mereka memperlihatkan proses kecil ketika seorang wisatawan mulai mengubah dirinya untuk menghadapi tempat yang ia kunjungi.
Pakaian jadi keputusan sosial. Tatapan jadi informasi. Laki-laki yang ramah dan laki-laki yang membuat tidak nyaman harus dibedakan dengan cepat, sering kali tanpa cukup waktu untuk memastikan. Tubuh sendiri menjadi sesuatu yang harus dikelola.
Konsep male gaze biasanya terdengar seperti istilah akademis yang terlalu besar untuk sebuah perjalanan wisata. Laura Mulvey menggunakannya dalam kajian film untuk membicarakan cara perempuan ditempatkan sebagai objek pandangan laki-laki. Dalam penelitian tentang pariwisata, Fiona Jordan dan Cara Aitchison kemudian membahas bagaimana perempuan yang bepergian sendirian mengalami kekuasaan, pengawasan, dan seksualisasi, melalui tatapan laki-laki. Tubuh wisatawan perempuan dapat menjadi sesuatu yang “terlihat” bahkan ketika ia sendiri sedang berusaha melihat tempat yang dikunjunginya.
Kairo memberi bentuk yang sangat konkret pada persoalan itu.
Turis biasanya datang untuk melihat. Ia ingin melihat masjid, pasar, piramida, manusia, kendaraan, sungai, makanan, pintu-pintu tua. Kamera diangkat. Mata bergerak. Catatan dibuat. Ia merasa dirinya sebagai subjek yang mengamati kota.
Tatapan orang lain dapat berbalik arah. Tiba-tiba ia yang diamati.
Perubahan kecil itu bisa terasa sangat fisik. Bahu menegang. Langkah jadi lebih cepat. Tangan menggenggam ponsel lebih kuat. Mata mulai mencari perempuan lain di sekitar. Seorang turis yang sebelumnya berjalan tanpa banyak berpikir mungkin mulai memilih sisi trotoar tertentu.
Tidak ada museum yang menjelaskan perubahan itu. Tidak ada audio guide. Buku panduan pun biasanya hanya mengatakan agar wisatawan berpakaian sopan dan berhati-hati.
Persoalannya, nasihat semacam itu dapat dengan mudah berubah menjadi beban yang seluruhnya diletakkan pada perempuan. Penelitian Elisa Wynne-Hughes tentang buku panduan Lonely Planet dan Rough Guide untuk Mesir pada periode 2005–2015 menunjukkan bagaimana nasihat mengenai pelecehan seksual dapat membentuk gambaran tertentu tentang laki-laki Muslim yang dianggap mengancam, dan mendorong perempuan untuk mengubah perilaku demi perlindungan diri. Penulisnya bahkan menunjukkan bahwa bahasa buku panduan dapat membawa asumsi politik yang jauh lebih besar daripada sekadar tip perjalanan.
Itu bagian yang membuat saya tidak terlalu nyaman dengan genre “travel tips for women”.
Pakai pakaian panjang. Jangan berjalan sendirian. Jangan terlalu ramah. Jangan menatap laki-laki. Jangan pergi ke tempat tertentu. Gunakan sopir yang dipercaya.
Semuanya mungkin berguna sebagai strategi keselamatan. Tetapi ketika daftar itu semakin panjang, terjadi pergeseran yang aneh: lingkungan yang membuat seseorang merasa harus berhati-hati perlahan menjadi sesuatu yang dianggap harus dikelola oleh orang yang rentan terhadap gangguan.
Perempuan belajar menjadi turis dengan cara yang berbeda. Ia belajar membaca ruangan sebelum menikmati ruangan.
Kairo juga memperlihatkan bagaimana status sebagai orang asing dapat bekerja dua arah. Turis bisa dianggap menarik karena berasal dari luar. Ia dapat memperoleh perhatian, bantuan, keramahan, atau rasa ingin tahu. Pada saat yang sama, identitas “turis perempuan” membuatnya mudah dikategorikan. Orang lain mungkin mengira ia memiliki uang, kebebasan seksual, nilai-nilai tertentu, atau perilaku yang dianggap berbeda dari perempuan lokal.
Satu kategori menempel di atas kategori lain. Asing. Perempuan. Turis. Mungkin muda. Mungkin sendirian. Mungkin kaya. Mungkin mudah dibujuk.
Manusia yang datang dengan nama dan sejarah pribadi yang panjang mendadak dibaca melalui beberapa label sederhana.
Hal itu juga terjadi di kota-kota lain, tentu saja. Perempuan berjalan sendirian di Paris, New York, Delhi, Jakarta, atau Tokyo, tidak pernah sepenuhnya terbebas dari cara orang lain membaca tubuhnya. Yang membuat Kairo penting bagi pembahasan ini adalah bahwa wisatawan datang membawa asumsi tertentu tentang bagaimana seorang turis seharusnya bergerak, sementara ia memasuki masyarakat dengan aturan gender yang tidak seluruhnya ia pahami.
Perjalanan membuat seseorang menjadi asing dua kali: asing bagi tempat yang didatangi, dan kadang-kadang asing bagi dirinya sendiri.
Seorang perempuan yang biasanya berjalan santai mungkin mendapati dirinya menghitung langkah menuju hotel. Perempuan yang terbiasa berbicara langsung mungkin mulai memilih kalimat yang lebih pendek. Orang yang merasa dirinya mandiri mungkin tiba-tiba merasa lega ketika seorang teman laki-laki berjalan di sampingnya.
Perasaan lega itu sendiri agak menyebalkan. Sebab ia menunjukkan bahwa kebebasan bergerak ternyata tidak hanya ditentukan oleh keberanian pribadi. Ia juga ditentukan oleh bagaimana tubuh seseorang dibaca oleh orang lain.
Di sebuah jalan dekat pasar, suara pedagang bercampur dengan klakson dan mesin kendaraan. Bau rempah menempel di udara. Orang-orang bergerak rapat. Seorang perempuan berhenti sebentar untuk mengambil foto, mengangkat kamera ke arah sebuah bangunan, lalu menurunkannya ketika seseorang memanggil dari belakang.
Ia tidak memotret lagi.
Kameranya masih berada di tangannya.
Catatan terkait: Negara-negara yang Berbahaya bagi Wisatawan Wanita


