Nasib Anak-anak Korban Perang yang Mengungsi di Balachadi

Ilustrasi milik BSM
Anak-anak itu datang ke India dengan tubuh yang belum selesai tumbuh, tetapi pengalaman yang sudah terlalu tua untuk ukuran umur mereka. Sebagian pernah dideportasi dari Polandia ke wilayah Uni Soviet. Sebagian kehilangan orang tua. Sebagian mengalami kelaparan yang membuat tubuh menyusut dan kulit rusak. Mereka melewati stasiun-stasiun, gerbong, jalan gurun, perbatasan, kamp transit, kapal, dan akhirnya sebuah negeri yang bahkan namanya mungkin hanya mereka kenal dari peta. 

Pada April 1942, rombongan anak Polandia pertama mencapai British India. Mereka tidak datang sebagai turis, tentu saja. Mereka datang sebagai anak-anak yang sudah terlalu lama hidup dalam keadaan darurat.

Tempat pertama mereka bukan Balachadi, tetapi perjalanan menuju ke sana. Sebanyak 94 anak, bersama empat pengasuh dan seorang imam bernama Father Franciszek Pluta, mencapai Quetta pada 9 April 1942. Dari sana sebagian rombongan bergerak menuju Karachi dan kemudian India. Jalur yang ditempuh para pengungsi dari Uni Soviet menuju Asia Selatan melewati wilayah yang terasa absurd pada peta modern: Ashgabat, Persia, Afghanistan, perbatasan British India, Karachi, Bombay. Beberapa anak menempuh jalur darat melalui Asia Tengah dan Afghanistan. Sebagian lainnya dievakuasi melalui Iran setelah persetujuan yang memungkinkan warga Polandia meninggalkan Uni Soviet pada 1942.

Mereka sudah membawa tubuh yang rusak sebelum menginjak tanah India. Catatan sejarah tentang rombongan pertama menyebut anak-anak termuda dalam kondisi sangat buruk: kelaparan, avitaminosis, penyakit kulit. Mereka memerlukan perawatan medis intensif setelah tiba di Bandra, dekat Bombay. Bandra bukan tempat tujuan akhir. Anak-anak tersebut ditempatkan sementara di sana sambil menunggu pemindahan ke pemukiman yang lebih layak. Pada Juli 1942 mereka dibawa ke Balachadi, dekat Jamnagar, di wilayah kerajaan Nawanagar.

India pada waktu itu masih berada di bawah kekuasaan Inggris, tetapi keputusan yang mengubah nasib anak-anak tersebut datang dari seorang penguasa India: Maharaja Digvijaysinhji Ranjitsinhji Jadeja, Jam Saheb dari Nawanagar. Ia mempunyai sebuah kediaman musim panas di Balachadi, dekat Laut Arab, dan bersedia memberikan tanah untuk mendirikan pemukiman anak Polandia. Tempat yang semula merupakan bagian dari lingkungan peristirahatan seorang maharaja berubah menjadi rumah bagi anak-anak yang baru saja keluar dari salah satu episode paling brutal dalam sejarah Eropa Timur. 

Institute of National Remembrance Polandia mencatat bahwa pemukiman itu mulai dibangun pada Juli 1942 dan menampung sekitar 650 anak, sementara sumber resmi Polandia menggunakan angka sekitar 1.000 untuk keseluruhan anak yang akhirnya mendapat perlindungan Jam Saheb. Perbedaan angka muncul karena rombongan dan kapasitas pemukiman berubah sepanjang periode tersebut.

Jam Saheb tidak sekadar menyediakan tanah. Ia ikut memikirkan bentuk tempat tersebut. Kawasan Balachadi ditanami pohon, termasuk pisang dan pepaya, serta bunga. Sekitar enam puluh rumah sederhana dibangun untuk membentuk sebuah lingkungan tempat anak-anak dapat tinggal. Father Franciszek Pluta menjadi salah satu tokoh penting dalam pengelolaannya. Bagi anak-anak yang baru keluar dari Soviet, detail semacam pohon buah tentu terasa jauh lebih konkret daripada diplomasi antara pemerintah Polandia di pengasingan, Inggris, dan Uni Soviet. Mereka perlu makan. Mereka perlu tempat tidur. Mereka perlu sekolah.

Sekolah menjadi bagian penting dari proyek tersebut. National Archives Inggris mencatat bahwa pemukiman Polandia di India memiliki sekolah, rumah sakit, kantor pos, bahkan pemadam kebakaran. Balachadi secara khusus dirancang agar anak-anak dapat memperoleh kembali sesuatu yang sebelumnya dirampas dari mereka: rutinitas. Bangun pagi. Belajar. Makan. Bermain. Beribadah. Bertengkar dengan teman. Tidur. Hal-hal kecil yang terdengar remeh ketika dibaca dalam keadaan damai ternyata menjadi kemewahan bagi anak yang masa kecilnya telah berlangsung di bawah deportasi.

Di sanalah istilah “anak-anak dari Gulag” perlu ditangani hati-hati. Tidak semua anak itu merupakan tahanan Gulag secara teknis. Banyak keluarga Polandia dideportasi oleh aparat Soviet ke pemukiman khusus, daerah pengasingan, kolkhoz, atau wilayah kerja paksa. Sebagian mengalami kondisi yang sangat dekat dengan dunia kamp: kerja berat, kekurangan makanan, penyakit, dingin, dan kematian. 

Setelah pakta Sikorski–Mayski pada 1941 dan pembentukan Angkatan Darat Polandia di bawah Jenderal Władysław Anders, pintu keluar dari Uni Soviet terbuka untuk sementara. Ribuan warga sipil mengikuti evakuasi militer pada 1942. Sekitar 116.000 warga Polandia akhirnya keluar melalui rute-rute evakuasi menuju Iran, termasuk sekitar 37.000 warga sipil. Anak-anak yang kemudian berada di India merupakan bagian kecil dari arus manusia tersebut.

Perjalanan mereka memiliki ironi geografis yang kasar. Mereka berasal dari kota-kota Polandia seperti Lwów, Wilno, Brest, dan puluhan kota kecil serta desa, kemudian dibuang ribuan kilometer ke timur oleh Uni Soviet. Untuk menyelamatkan mereka, orang-orang Polandia harus membawa mereka ribuan kilometer lagi ke selatan. 

Dari iklim Eropa Timur mereka menuju Asia Tengah, kemudian Iran, Afghanistan, Pakistan sekarang, atau jalur laut menuju India. Anak yang sebelumnya mengenal salju mungkin mendapati dirinya berada di bawah matahari Gujarat yang keras. Kulit yang baru saja melewati kekurangan gizi harus menyesuaikan diri dengan panas dan kelembapan. Tubuh mereka belum sempat mengerti apa yang terjadi.

Balachadi memberi mereka beberapa tahun yang hampir terasa tidak masuk akal setelah semua perjalanan tersebut. Foto-foto dari arsip memperlihatkan anak-anak dalam kelompok, mengikuti kegiatan sekolah, bermain, menghadiri pertunjukan, dan berdiri bersama Jam Saheb. Dokumentasi itu penting, karena foto anak-anak pengungsi mudah berubah menjadi gambar penderitaan. Di Balachadi, kamera sesekali menangkap anak yang sedang menjadi anak-anak. Rambut disisir. Seragam dikenakan. Tubuh berdiri tegak. Wajah masih muda.

Jam Saheb sering mengunjungi mereka. Ia mempunyai ketertarikan terhadap Polandia yang sudah muncul sebelum perang melalui hubungannya dengan Ignacy Jan Paderewski, pianis, komponis, dan politikus Polandia. Institute of National Remembrance mencatat bahwa ketika Jenderal Anders atau Jenderal Władysław Sikorski berbicara mengenai bagaimana kebaikan Jam Saheb dapat dibalas, sang maharaja dikisahkan meminta sebuah hal yang terdengar sangat sederhana: kelak, di Polandia yang telah merdeka, sebuah jalan di Warsawa diberi namanya. Hari ini memang terdapat Good Maharaja Square di distrik Ochota, Warsawa, dengan monumen untuknya.

Perang belum selesai ketika kehidupan di Balachadi mulai terasa normal. Justru itu bagian yang paling kejam. Anak-anak dapat sekolah, bermain, dan tumbuh, sementara masa depan mereka tetap menggantung pada nasib Polandia. 

Pada 1943, pemukiman Polandia yang lebih besar dibuka di Valivade dekat Kolhapur. Sekitar 4.500 orang Polandia, terutama anak-anak dan kaum muda, kemudian tinggal di sana. Tempat itu berkembang menjadi sebuah kota kecil Polandia: sekolah dasar, sekolah menengah, gereja, rumah sakit, perpustakaan, bengkel, toko, taman kanak-kanak, teater amatir, kegiatan kepanduan. Sebuah koran dua mingguan bernama Polak w Indiach bahkan mempunyai suplemen anak-anak berjudul Słoniątko Indyjskie, Gajah Kecil India.

Balachadi bertahan sampai 1946. Anak-anak kemudian dipindahkan ke Valivade. Perpindahan itu berlangsung setelah mereka menghabiskan beberapa tahun di tempat yang awalnya hanya dimaksudkan sebagai perlindungan sementara. Perang sudah selesai, tetapi kepulangan tidak otomatis menjadi pilihan. Polandia akan berada di bawah dominasi Soviet. Bagi anak-anak yang keluarganya sudah dihancurkan oleh deportasi Soviet, gagasan untuk dikirim kembali ke Polandia yang berada dalam orbit Moskwa terasa mengerikan. Mereka mungkin tidak mempunyai kata-kata politik untuk menjelaskannya. Orang dewasa yang mendampingi mereka punya cukup banyak.

Jam Saheb bersama Father Pluta dan perwira penghubung Inggris, Letnan Kolonel Geoffrey Clark, kemudian mengambil langkah yang sangat tidak biasa. Setelah perang, mereka membantu memperoleh pengakuan hukum terhadap status anak-anak tersebut sehingga mereka tidak dipaksa kembali ke Polandia yang dikuasai komunis. IPN mencatat bahwa mereka secara kolektif mengadopsi anak-anak yang dinyatakan yatim, sebuah keputusan yang memungkinkan masa depan mereka ditentukan tanpa repatriasi paksa.

Beberapa tahun sebelumnya, anak-anak itu masih berada di wilayah Soviet dengan perut kosong. Sekarang persoalannya sudah berubah: siapa yang berhak menentukan negara tempat mereka akan hidup?

Dokumen yang tersisa membuat kisah tersebut terasa lebih kasar daripada versi monumentalnya. Arsip IPN kini menyimpan daftar sekitar 5.000 nama pengungsi yang pernah dikirim ke India, bersama foto, dokumen administrasi, kronik kepanduan yang digambar tangan, dan catatan kehidupan sehari-hari. Nama-nama itu mengembalikan skala manusia yang sering hilang ketika angka “116.000 pengungsi Polandia” disebut. Lima digit tidak mempunyai wajah. Sebuah daftar nama punya.

Seorang anak yang berumur delapan tahun pada 1942 akan menjadi remaja ketika perang berakhir. Anak berusia tiga tahun akan menghabiskan sebagian besar ingatan masa kecilnya di India. Bagi sebagian mereka, India kemudian menjadi bagian dari identitas masa kecil yang tidak kalah nyata daripada Polandia. Mereka belajar bahasa, makan makanan setempat, melihat pohon-pohon tropis, mengenal panas yang berbeda dari panas Eropa, dan bersekolah di tempat yang dibangun khusus karena mereka pernah kehilangan rumah.

Foto-foto Balachadi memperlihatkan anak-anak berdiri di bawah matahari, kadang bersama Jam Saheb. Di belakang mereka terdapat rumah-rumah sederhana yang dibangun untuk menampung orang-orang yang secara administratif disebut pengungsi.

Mereka mungkin belum tahu bahwa beberapa tahun kemudian pemukiman itu akan kosong. Yang mereka tahu saat itu mungkin hanya sekolah dimulai pagi-pagi sekali, dan di luar rumah pohon-pohon yang ditanam Jam Saheb sudah mulai tumbuh.


Related

Sejarah 4881494702249533305

Posting Komentar

Jangan menyisipkan link ke dalam komentar, karena akan ditandai sebagai spam.

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item