Pertumbuhan Orang Kaya-Raya Akan Naik Drastis di Indonesia

Ilustrasi milik BSM
Angka 81,7 persen terdengar sangat mengejutkan, khususnya ketika dilekatkan pada pertumbuhan jumlah orang super kaya di sebuah negara. Indonesia memang diproyeksikan menjadi negara dengan pertumbuhan populasi ultra-kaya tercepat di dunia sampai 2031, meski angka itu tidak berarti Indonesia akan memiliki orang superkaya paling banyak di dunia. 

Knight Frank memperkirakan jumlah orang Indonesia dengan kekayaan bersih sedikitnya US$30 juta, naik dari 3.833 orang pada 2026 menjadi 6.966 orang pada 2031. Kenaikannya 81,7 persen. 

Angka 6.966 itu sebenarnya aneh ketika ditempelkan pada Indonesia yang berpenduduk lebih dari 280 juta jiwa. Kurang dari tujuh ribu orang diproyeksikan masuk klub kekayaan yang ambang bawahnya saja mencapai US$30 juta. Dengan kurs yang berubah-ubah, nilainya kira-kira ratusan miliar rupiah per orang. Mereka bukan sekadar orang kaya yang memiliki rumah bagus, beberapa mobil, dan tabungan yang membuat hidup nyaman. 

Kategori UHNWI (ultra-high-net-worth individual) yang dipakai Knight Frank memang dimulai dari kekayaan bersih US$30 juta. Lebih ganjil lagi ketika angka itu dibandingkan dengan Amerika Serikat. Indonesia tumbuh 81,7 persen, Amerika Serikat “hanya” 54,1 persen. 

Kalau membaca tabel tanpa melihat jumlah awal, orang bisa membayangkan Indonesia sedang menyalip Amerika dalam penciptaan kekayaan. Kenyataannya jauh berbeda. Amerika memiliki sekitar 251.352 UHNWI pada 2026 dan diproyeksikan mencapai 387.422 pada 2031. Indonesia bergerak dari 3.833 menjadi 6.966. Pertumbuhan persentase Indonesia jauh lebih tinggi karena titik mulanya jauh lebih kecil.

Itu bagian yang sering hilang ketika statistik kekayaan dipindahkan dari laporan riset ke judul berita. Persentase adalah benda yang licin. Kenaikan dari 100 menjadi 200 orang berarti pertumbuhan 100 persen; kenaikan dari 1 juta menjadi 1,2 juta hanya 20 persen. Orang pertama mendapat judul berita yang jauh lebih menggelegar, meskipun jumlah tambahannya tidak ada artinya jika dibandingkan dengan populasi kedua.

Indonesia kebetulan berada pada posisi yang sangat menarik dalam tabel Knight Frank. Pertumbuhan 81,7 persen menempatkannya di urutan pertama, disusul Arab Saudi 63,2 persen dan Polandia 62,6 persen. Vietnam mencapai 59 persen, Australia 58,5 persen, Amerika Serikat 54,1 persen, Filipina 48,9 persen, dan Singapura 46,4 persen. Daftar tersebut hanya mencakup negara yang memiliki lebih dari 500 UHNWI pada 2026.

Indonesia juga tidak memulai perlombaan dari nol. Knight Frank mencatat jumlah UHNWI Indonesia sebenarnya sudah naik dari 2.805 orang pada 2021 menjadi 3.833 pada 2026, pertumbuhan 36,6 persen dalam lima tahun. Proyeksi berikutnya jauh lebih agresif: tambahan lebih dari 3.100 orang dalam lima tahun. Artinya, seseorang yang hari ini belum masuk klub US$30 juta bisa saja berada di sana pada 2031, setidaknya menurut model yang digunakan Knight Frank.

Pertanyaan yang lebih mengganggu justru muncul ketika kita bertanya dari mana kekayaan sebesar itu datang.

Indonesia memiliki pasar domestik yang luar biasa besar. Sebuah perusahaan tidak selalu harus menemukan pelanggan di London, New York, atau Shanghai untuk tumbuh menjadi sangat besar. Dua ratus delapan puluh juta lebih penduduk menciptakan pasar yang bisa menopang perusahaan ritel, perbankan, makanan, telekomunikasi, properti, transportasi, teknologi, hingga layanan digital. Ketika kepemilikan perusahaan berada di tangan beberapa orang atau keluarga, pertumbuhan nilai perusahaan dapat berubah menjadi pertumbuhan kekayaan pribadi yang sangat cepat.

Komoditas memberi cerita lain. Batu bara, nikel, sawit, energi, dan berbagai mata rantai industri ekstraktif, telah melahirkan kelompok pengusaha dengan kekayaan besar. Sekarang lapisan itu bertemu dengan ekonomi digital. Pembayaran digital, fintech, perdagangan daring, teknologi finansial, dan perusahaan berbasis platform, menciptakan jenis kekayaan yang berbeda dari kekayaan komoditas generasi sebelumnya. Knight Frank sendiri menunjuk pasar domestik besar serta sektor seperti komoditas dan keuangan digital sebagai faktor yang membantu penciptaan kekayaan Indonesia.

Perubahan itu sebenarnya bisa dilihat dari angka yang lebih kecil. Indonesia diproyeksikan memiliki 33 miliarder pada 2026 dan 49 pada 2031, naik sekitar 49 persen. Angka miliarder tentu berbeda dari UHNWI karena seseorang dengan kekayaan US$30 juta masuk kategori UHNWI, sementara miliarder berada jauh di atas ambang itu. Namun keduanya memperlihatkan arah yang sama: lapisan paling atas ekonomi Indonesia sedang bertambah.

Ada persoalan yang terasa lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari ketika angka itu ditempatkan di sebelah kondisi masyarakat luas. Kekayaan yang tumbuh sangat cepat di puncak tidak otomatis berarti kesejahteraan tumbuh dengan kecepatan yang sama sampai ke bawah. Seseorang dapat melihat gedung apartemen mewah baru di Jakarta, mobil impor melewati Jalan Jenderal Sudirman, restoran dengan harga makan malam yang setara upah bulanan pekerja, kemudian membuka laporan Knight Frank dan menemukan bahwa jumlah manusia dengan kekayaan lebih dari US$30 juta sedang melonjak.

Dua pemandangan tersebut bisa berlangsung pada hari yang sama.

Justru karena itu, saya lebih tertarik pada angka 3.833 daripada 81,7 persen. Tiga ribu delapan ratus tiga puluh tiga orang adalah jumlah yang cukup kecil untuk membentuk jaringan sosial yang sangat eksklusif. Mereka dapat bertemu di ruang rapat, acara investasi, sekolah tertentu, kawasan hunian tertentu, klub bisnis, forum keluarga, atau meja makan yang harga satu botol anggurnya sudah membuat sebagian orang menghitung ulang saldo rekening. 

Kekayaan sebesar itu juga tidak berhenti pada pemiliknya. Ia memiliki anak, pasangan, penasihat investasi, pengacara, bankir, manajer aset, perusahaan keluarga, properti, dan kelak warisan.

Knight Frank mencatat bahwa secara global jumlah UHNWI meningkat dari 551.435 orang pada 2021 menjadi 713.626 pada 2026. Dalam lima tahun saja, 162.191 orang baru melewati ambang US$30 juta. Itu berarti rata-rata sekitar 89 orang setiap hari menyeberangi batas tersebut di seluruh dunia. Model yang sama memproyeksikan jumlah global mencapai 948.241 orang pada 2031.

Asia-Pasifik mengambil bagian besar dalam perubahan itu. Populasi UHNWI kawasan tersebut tercatat 219.310 orang pada 2026 dan diproyeksikan mencapai 272.530 pada 2031. Indonesia hanya salah satu bagian kecil dari gelombang itu, meskipun pertumbuhannya paling cepat. 

Asia Tenggara bahkan memperlihatkan pola yang cukup mencolok. Indonesia, Vietnam, Filipina, Singapura, dan Thailand secara bersama-sama diproyeksikan memiliki lebih dari 22.000 UHNWI pada 2031, naik dari lebih 14.000 pada 2026. Empat negara ASEAN masuk sepuluh besar pertumbuhan tercepat dalam daftar Knight Frank: Indonesia, Vietnam, Filipina, dan Singapura. 

Singapura menarik karena posisinya berbeda. Negara itu hanya memiliki sebagian kecil populasi Indonesia, tetapi pada 2026 diperkirakan memiliki 7.171 UHNWI—lebih banyak daripada Indonesia—dan jumlahnya diproyeksikan mencapai 10.495 pada 2031. Indonesia tumbuh lebih cepat, tetapi Singapura tetap memiliki konsentrasi kekayaan yang jauh lebih tinggi.

Maka berita tentang “Indonesia menjadi negara dengan pertumbuhan orang superkaya tercepat di dunia” sebenarnya berbicara tentang sesuatu yang lebih spesifik: bukan Indonesia akan memiliki manusia terkaya paling banyak, bukan pula kekayaan Indonesia akan mengalahkan Amerika. Laporan itu sedang menunjukkan betapa cepat lapisan paling atas ekonomi Indonesia membesar dari basis yang relatif kecil.

Model Knight Frank adalah proyeksi, bukan daftar manusia yang sudah memiliki uang tersebut di rekening pada pagi hari. Lembaga itu menggunakan Wealth Sizing Model untuk mengukur berbagai kelompok kekayaan secara global. Proyeksi 2031 dapat berubah karena harga aset, pasar saham, nilai perusahaan, kebijakan ekonomi, kurs, perubahan industri, bahkan kejadian politik yang sekarang belum terlihat.

Tetap saja, angka 6.966 cukup untuk membuat sebuah negara berubah wajah di bagian tertentu. Mereka membutuhkan pengelola kekayaan. Mereka membeli rumah. Mereka mendirikan perusahaan keluarga. Mereka membutuhkan penasihat pajak, pengacara warisan, private banking, manajer investasi, sekolah untuk anak-anak, perjalanan bisnis, dan kadang-kadang rumah kedua di luar negeri. 

Knight Frank bahkan mencatat bahwa family office semakin menjadi struktur standar bagi kelompok ultra-kaya, dan bahwa keluarga-keluarga semacam itu semakin mencari investasi langsung, real estat, data center, layanan kesehatan, logistik, serta berbagai aset bernilai tambah.

Pada suatu pagi di Jakarta, seseorang mungkin masuk lift gedung perkantoran sambil memegang kopi seharga puluhan ribu rupiah. Orang di sebelahnya mengenakan kemeja biasa dan memeriksa ponsel. Tidak ada tanda khusus yang menunjukkan bahwa nilai saham, perusahaan keluarga, emas, atau aset lain yang ia miliki mungkin bernilai puluhan juta dolar. 

Menurut statistik Knight Frank, jumlah orang seperti itu mungkin akan jauh lebih banyak pada 2031. Statistik tidak pernah memberi tahu kita siapa yang berada di dalam lift.


Related

Indonesia 4395648302171079933

Posting Komentar

Jangan menyisipkan link ke dalam komentar, karena akan ditandai sebagai spam.

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item