Mary Coomer dan Perjalanan Pulang yang Tak Direncanakan

Ilustrasi/nam.ac.uk
Orang-orang Prancis menertawakan ketika melihat mereka berjalan melintasi Paris. Mary Coomer masih mengingatnya dengan jelas dalam wawancara yang direkam pada 1995. 

Rombongan perempuan Inggris itu berjalan dari satu stasiun menuju Gare Montparnasse. Warga Prancis berjalan di samping mereka, bertanya-tanya mengapa Inggris mengirim perempuan ke Prancis ketika perang sudah berlangsung. Apakah mereka akan menjadi juru masak? Tidak. Petugas komunikasi? Bukan. Seorang perempuan Prancis akhirnya menebak fungsi mereka dengan cara yang membuat Mary tertawa ketika menceritakannya puluhan tahun kemudian: mungkin mereka dikirim untuk “menghibur” para tentara.

Mary tidak marah pada pertanyaan atau pernyataan itu. Ia malah tertawa ketika mengingatnya.

Itulah salah satu hal yang membuat rekamannya terasa begitu manusiawi. Ingatan tentang perang tidak selalu datang sebagai tragedi yang menggelegar. Kadang ia kembali sebagai lelucon lama yang masih membuat seseorang tertawa, meskipun orang yang mengucapkannya sudah meninggal puluhan tahun sebelumnya dan dunia yang melatarinya sudah lenyap.

Mary Coomer, née Oldnall, lahir di Wolverley dekat Kidderminster pada 1917. Ia belajar di Manchester Art College dan bekerja sebagai desainer tekstil di Manchester. Pada 1938, setahun sebelum Inggris menyatakan perang terhadap Jerman, ia bergabung dengan Auxiliary Territorial Service, ATS, sebagai bagian dari 21st East Lancashire Company. 

ATS baru dibentuk pada September 1938 sebagai organisasi perempuan Angkatan Darat Inggris. Perempuan-perempuan di dalamnya tidak dimaksudkan menjadi infanteri. Mereka mengisi pekerjaan yang memungkinkan laki-laki dikirim ke peran lain: administrasi, telepon, transportasi, logistik, pemeliharaan, dan berbagai pekerjaan teknis.

Mary termasuk generasi pertama yang masuk ketika bentuk organisasi itu sendiri belum mapan. Seragam saja belum tentu pas. Ia kemudian mengingat bahwa pada masa awal ATS hanya tersedia tiga ukuran pakaian: kecil, sedang, besar. Tubuhnya berada di posisi yang salah terhadap semuanya. Ukuran kecil terlalu sempit, ukuran sedang terlalu panjang, ukuran besar terlalu besar. Mereka tidak diperbolehkan memotong seragam agar sesuai tubuh; pakaian hanya bisa dilipat atau dinaikkan.

Hal semacam itu mudah terdengar remeh. Dalam organisasi militer, justru detail remeh sering memberi tahu kita bagaimana sebuah lembaga sebenarnya bekerja. Tentara sedang bersiap menghadapi perang terbesar abad ke-20, sementara perempuan yang baru direkrut belum memiliki seragam yang benar-benar pas.

Mary terpilih menjadi salah satu perempuan ATS pertama yang dikirim ke Prancis bersama British Expeditionary Force. Ia pergi sebagai clerical sub-leader (pengawas yunior). Pada awal 1940, ia tiba di Paris bersama rombongan ATS. Mereka berjalan melintasi kota menuju Montparnasse sebelum melanjutkan perjalanan ke Le Mans. Warga Prancis memperhatikan mereka sepanjang jalan. Pertanyaan mereka sebenarnya masuk akal. Tentara perempuan masih merupakan sesuatu yang asing bagi Prancis, sedangkan kehadiran mereka di tengah pasukan Inggris mengisyaratkan bahwa Inggris menganggap perang itu cukup serius untuk membawa perempuan sejauh itu.

Le Mans tidak menyambut mereka dengan barak yang mengesankan. Mary dan rombongannya ditempatkan di sebuah bangunan di jalan kecil antara Place de la République dan pasar. Dame Helen Gwynne-Vaughan, pemimpin ATS, sebelumnya memberi tahu mereka bahwa akomodasi telah diperiksa dan seharusnya bagus. Mary punya penilaian lain. Tidak ada kamar mandi. Hanya empat wastafel yang tersebar di dua lantai. Bangunan tersebut biasa digunakan para petani yang datang ke pasar, mungkin untuk menginap atau makan. Kondisinya buruk.

Kecoak menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Mary mengatakan bahwa ketika lampu dapur dimatikan, mereka bisa mendengar kecoak bergerak. Ia tertawa ketika mengucapkannya dalam rekaman. Suara tawa itu justru membuat detail tersebut lebih tajam. Kita tidak perlu deskripsi panjang tentang penderitaan. Cukup satu dapur, lampu dimatikan, kemudian bunyi kecoak di dalam gelap.

Perang belum terasa seperti perang besar di sana. Belum.

Mary bertemu seorang gadis Prancis berusia enam belas tahun bernama Hélène Charnassé, yang orang tuanya menjalankan toko bunga di sudut Place de la République. Hélène biasa menemani Mary berjalan ke kantor. Gadis itu berbicara kepadanya dalam bahasa Inggris, Mary menjawab dalam bahasa Prancis. Hubungan kecil semacam itu tumbuh di tengah pekerjaan administrasi dan rutinitas militer.

Suatu pagi Hélène mengatakan bahwa radio mereka memberitakan pasukan Jerman sudah bergerak menembus Belgia. Itu berarti Jerman akan semakin dekat ke garis Maginot. Orang tua Hélène cemas, terutama karena kakaknya yang belum berusia delapan belas tahun mungkin akan dipanggil masuk militer Prancis.

Bagi Mary, kabar itu mengubah sesuatu. Sebelumnya perang hadir lewat potongan-potongan informasi, sinyal, laporan, dan obrolan. Sekarang tentara Jerman bergerak menuju mereka.

Mereka diperintahkan bersiap untuk evakuasi. 

Pada Mei 1940, serangan Jerman terhadap Prancis dan negara-negara Benelux menghancurkan posisi Sekutu dengan kecepatan yang mengejutkan. British Expeditionary Force mundur menuju pantai. Dunkirk menjadi pusat evakuasi besar-besaran. Sementara itu, unit-unit yang berada lebih jauh ke selatan juga harus memikirkan jalan keluar mereka sendiri.

ATS di Le Mans mendapat perintah bersiap. Mary dan rekan-rekannya dikumpulkan dan dimasukkan ke dalam kereta. Ia mengingat kereta itu penuh sesak. Mereka bukan satu-satunya orang yang ingin pergi. Biarawati Inggris yang mengajar di Prancis berusaha ikut. Orang-orang Inggris yang tinggal di Prancis berusaha mencari jalan pulang. Pengungsi sipil bergerak bersama mereka.

Seorang petugas pengendali pergerakan memberi peringatan yang sangat spesifik: di mana pun mereka berhenti, mereka harus berusaha memastikan anggota ATS naik kapal dan keluar menuju Inggris. Jika perempuan-perempuan itu tertinggal di Prancis dalam seragam, mereka dapat ditangkap dan dimasukkan ke kamp tawanan. Warga sipil atau pekerja organisasi seperti Salvation Army dan YWCA menghadapi risiko interniran.

Kalimat itu mengubah seragam ATS menjadi sesuatu yang berbahaya. Seragam yang sebelumnya menjadi tanda bahwa Mary adalah bagian dari organisasi militer Inggris sekarang dapat menjadi bukti yang membuatnya ditahan.

Kereta bergerak melalui Prancis yang sedang runtuh. Tidak ada musik latar. Tidak ada kepastian tentang pelabuhan mana yang akan dicapai.

Orang-orang membawa apa yang sempat mereka bawa. Sebagian tidak tahu apakah rumah mereka masih berdiri. Sebagian tidak tahu apakah anggota keluarga sudah melarikan diri. Mary hanya tahu bahwa mereka harus sampai ke Inggris. 

Mereka akhirnya dapat dievakuasi. 

Mary kembali ke Inggris pada 1940, tetapi perang tidak selesai untuknya. Ia justru masuk ke bagian perang yang lebih aneh: pekerjaan teknis. Ia mencalonkan diri sebagai Experimental Gunnery Assistant di Shoeburyness Ranges, Essex. Di sana ia bekerja pada pengujian perlengkapan dan senjata untuk Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Angkatan Udara. Ia mengingat betapa kekurangan peralatan Inggris setelah Dunkirk. Senjata-senjata tua dari Perang Dunia I bahkan masih digunakan dan dimodifikasi agar dapat dipakai kembali.

Perempuan yang beberapa bulan sebelumnya menyeberangi Prancis dengan kereta evakuasi sekarang bekerja di lapangan percobaan senjata.

Perang memang seperti itu. Ia memindahkan manusia dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain, tanpa peduli apakah kehidupan sebelumnya sudah selesai dicerna.

Mary kemudian naik pangkat. Ia menjadi sergeant, kemudian staff sergeant, dan akhirnya Regimental Sergeant Major. Ia ikut dalam pelatihan perempuan untuk posisi senior. Pada satu titik ia dikirim ke Brockenhurst di New Forest untuk mengikuti kursus enam minggu sebelum bertugas di wilayah lain.

Ada satu komentar Mary yang menurut saya lebih keras daripada banyak kisah heroik.

Ketika perempuan ATS mulai bekerja pada tugas-tugas yang sebelumnya dikerjakan laki-laki, sebagian laki-laki tidak menyukai mereka. Mary memahami alasannya: pekerjaan tertentu memberi fasilitas, tunjangan bahaya, tempat tinggal yang bagus, dan kehidupan militer yang relatif nyaman untuk laki-laki. Kehadiran perempuan mengancam pengaturan tersebut. Mary tidak menyembunyikan bahwa perempuan sering kali ternyata sama bagusnya dalam menggunakan instrumen teknis.

Ia juga mengingat satu hal lain: ketika mereka berdiri berjaga, laki-laki membawa senapan. Perempuan ATS kadang hanya diberi gagang sapu.

Museum Angkatan Darat Inggris kemudian menggunakan kenangan Mary itu sebagai salah satu kutipan dalam sejarah ATS. Gagang sapu untuk berjaga ketika perang sedang berlangsung.

Kalimat tersebut lucu, sampai kita ingat bahwa mereka benar-benar berada dalam organisasi militer dan benar-benar mungkin diserang. Negara membutuhkan tenaga perempuan, tetapi membutuhkan waktu untuk mengakui bahwa perempuan yang bekerja untuk negara itu mungkin juga membutuhkan senjata sungguhan.

Mary Coomer bertugas di ATS dari 1938 sampai 1945. Setelah perang, hidupnya bergerak kembali ke dunia sipil. Puluhan tahun kemudian, pada 17 Mei 1995, ia duduk untuk wawancara yang kini tersimpan di National Army Museum. Rekamannya baru ditemukan dan ditampilkan kembali sebagai bagian dari proyek Hidden Voices. Tiga kaset menyimpan cerita tentang bergabung dengan ATS, Prancis, evakuasi, Shoeburyness, promosi, dan penugasan setelahnya.

Yang tersisa sekarang bukan hanya catatan bahwa Mary pernah berada di Prancis. Kita memiliki suaranya. Ia tertawa ketika mengingat kecoak. Ia tertawa ketika mengingat orang Prancis yang mengira perempuan Inggris dikirim ke Prancis untuk menghibur tentara.

Ia mengingat Hélène Charnassé, gadis enam belas tahun yang berjalan bersamanya menuju kantor. Ia mengingat kereta yang terlalu penuh. Ia mengingat peringatan agar ATS jangan sampai tertinggal. Ia mengingat Dunkirk dan kebingungan tentang ke mana mereka harus pergi. Ia mengingat bahwa ketika berdiri berjaga, mereka diberi gagang sapu.

Pada akhirnya wawancara itu tidak terdengar seperti pidato seorang veteran. Mary bercerita sambil sesekali tertawa, mengoreksi ingatannya sendiri, mencari nama, berhenti sebentar.

Kemudian ia sampai pada satu bagian tentang perjalanan pulang. Kereta penuh. Orang-orang terus naik. Biarawati. Warga Inggris. Pengungsi. Perempuan ATS. Semua ingin keluar dari Prancis.

Mary tidak tahu apakah mereka akan mendapatkan kapal. Mereka hanya terus bergerak menuju pantai.


Related

Tokoh 6055116360582588485

Posting Komentar

Jangan menyisipkan link ke dalam komentar, karena akan ditandai sebagai spam.

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item