Kisah Para Pedagang di Lagos Beradaptasi dengan Ketimpangan
https://www.belajarsampaimati.com/2026/10/kisah-para-pedagang-di-lagos.html
![]() |
| Ilustrasi milik BSM |
Ketika hujan mulai mengisi jalan-jalan Lagos, sebagian orang mencari tempat berteduh. Sebagian lain memindahkan barang dagangan ke tempat yang lebih tinggi sebelum air mencapai lutut.
Amina, seorang pedagang di Oshodi yang diwawancarai dalam penelitian terbaru tentang pekerja informal Lagos, menggunakan cara yang sangat praktis: barang dipindahkan, kegiatan jualan disesuaikan, mesin penggiling dipakai bersama saudarinya, dan ketika kerusakan datang ia dapat mengandalkan ajo, kelompok simpan-pinjam bergilir yang berfungsi seperti tabungan darurat. Air naik. Barang bergerak. Uang berpindah tangan. Hari kerja berubah bentuk. Besok orang kembali berjualan.
Kisah seperti itu mudah sekali dimasukkan ke dalam kategori “kemiskinan perkotaan”, kemudian selesai. Foto seorang pedagang berdiri di tengah genangan, caption tentang perjuangan hidup, beberapa angka tentang pendapatan rendah, mungkin satu kalimat tentang kurangnya bantuan pemerintah. Lagos kemudian menjadi latar penderitaan. Orang yang bekerja di dalamnya berubah menjadi korban.
Penelitian Gbenga Akinlolu Shadare yang terbit pada 2026 justru mengganggu cara pandang semacam itu. Ia mewawancarai 45 pekerja informal, mengadakan enam focus group discussion dengan asosiasi pekerja, dan menghabiskan 150 jam dalam observasi partisipatif di Makoko, Oshodi, dan Lagos Island. Yang ia temukan bukan sekumpulan manusia yang hanya menunggu keadaan membaik. Para pekerja terus mengubah strategi: mencari sumber penghasilan tambahan, memanfaatkan jaringan keluarga dan kelompok simpan-pinjam, mengubah rute dan lokasi kerja, berorganisasi melalui asosiasi dagang, serta mencampur sumber daya pemerintah dengan mekanisme yang mereka bangun sendiri.
Detail semacam itu membuat kata “bertahan hidup” terasa sederhana.
Seorang pedagang tidak hanya mempunyai pekerjaan. Ia mempunyai beberapa kemungkinan pekerjaan. Ketika satu sumber pendapatan terganggu, sumber lain dapat dinaikkan. Ketika pasar tidak bisa dipakai karena banjir, aktivitas dipindahkan. Ketika uang tunai habis, jaringan sosial menjadi cadangan. Ketika aturan berubah, asosiasi pedagang dapat menjadi tempat mencari informasi atau bernegosiasi. Kota bagi mereka bukan kumpulan bangunan yang sudah selesai; kota adalah sesuatu yang terus dinegosiasikan dari pagi sampai malam.
Lagos sangat cocok untuk cara berpikir seperti itu, karena sebagian besar kehidupan ekonominya memang berlangsung di wilayah yang oleh administrasi formal sering disebut “informal”.
Perkiraan yang dikutip Shadare menempatkan sekitar 60–70 persen tenaga kerja Lagos dalam ekonomi informal: pedagang pasar, penjual jalanan, pengrajin, pemulung, pekerja transportasi, dan berbagai pekerjaan lain yang tidak selalu mempunyai kontrak kerja atau perlindungan formal. Mereka menjual makanan, mengangkut barang, memperbaiki benda, membersihkan kota, menyediakan jasa. Sistem resmi bisa menganggap mereka berada di luar struktur. Kehidupan kota justru menggunakan tenaga mereka setiap hari.
Oshodi memberikan gambaran yang bagus. Kawasan itu adalah salah satu simpul perdagangan dan transportasi Lagos, penuh kendaraan, pedagang, suara klakson, gerobak, orang yang berteriak menawarkan barang. Barang bergerak cepat karena waktu berarti uang. Seorang penjual tidak perlu mempunyai kantor untuk menjadi bagian penting dari ekonomi. Ia perlu tahu kapan orang berangkat kerja, kapan lalu lintas macet, barang apa yang sedang dicari, siapa pemasok yang bisa dipercaya, siapa yang bisa meminjamkan uang, dan tempat mana yang masih memungkinkan untuk berdagang.
Pengetahuan itu jarang masuk ke peta kota.
Peta resmi menyukai jalan, gedung, batas administratif. Pekerja informal mengenal Lagos melalui ritme. Mereka tahu kapan jalan tertentu tergenang. Mereka tahu siapa yang mempunyai gerobak. Mereka tahu kapan petugas datang. Mereka tahu pasar mana yang sedang ramai. Mereka tahu siapa yang bisa membantu jika barang rusak. Mereka tahu kapan harus berhenti menjual dan kapan masih layak menunggu satu pelanggan lagi.
Penelitian Shadare menyebut strategi mobilitas dan penggunaan ruang sebagai salah satu bentuk adaptasi. Itu terdengar akademis sampai kita membayangkan apa artinya dalam kehidupan nyata: menggeser tempat berjualan, mengubah jam kerja, mencari jalan lain, membawa barang lebih cepat ketika cuaca berubah. Orang yang tidak mempunyai banyak pilihan sering kali justru harus membuat keputusan dalam jumlah sangat besar.
Makoko memperlihatkan sisi yang lebih keras. Pemukiman di atas dan di sekitar laguna itu sering muncul dalam fotografi internasional sebagai simbol kemiskinan Lagos. Rumah-rumah kayu, perahu, air, anak-anak, aktivitas pasar. Kamera sangat menyukai Makoko karena bentuk visualnya kuat. Kehidupan sehari-hari di sana jauh lebih rumit daripada foto.
Pekerja di lingkungan semacam itu harus menghadapi persoalan ruang, air, banjir, kepemilikan lahan, akses infrastruktur, dan ancaman penggusuran. Penelitian lain pada 2026 tentang adaptasi pemukiman informal Lagos menunjukkan bagaimana warga membangun infrastruktur adaptasi mereka sendiri dan menggunakan jaringan yang menghubungkan pedagang, pengangkut air, pengumpul sampah, dan aktor lain di berbagai bagian kota. Peneliti bahkan mengikuti beberapa orang dari satu lokasi ke lokasi lain untuk memahami bagaimana pekerjaan mereka menghubungkan permukiman yang secara administratif berbeda.
Kota ternyata dipelihara oleh orang-orang yang tidak selalu tercatat sebagai bagian dari sistem pemeliharaan kota.
Di sana, kata “kreativitas” perlu dipakai dengan hati-hati. Kreativitas terdengar menyenangkan. Orang membayangkan pengusaha muda dengan laptop, startup, desain produk, atau aplikasi baru. Kreativitas seorang pedagang yang harus menyelamatkan stok dari banjir terasa lebih kasar. Ia tidak sedang mencari cara baru karena ingin bereksperimen. Ia mencari cara baru karena cara lama berhenti bekerja.
Itu tetap kreativitas.
Ajo atau esusu, misalnya, bukan sekadar kebiasaan menabung bersama. Dalam penelitian Shadare, jaringan semacam itu menjadi sumber dana ketika pekerja menghadapi gangguan akibat bencana. Uang dikumpulkan dan diputar dalam kelompok. Ketika bank, asuransi, atau bantuan formal tidak bergerak cukup cepat, hubungan sosial mengambil sebagian fungsi lembaga keuangan.
Orang luar mungkin melihat seorang perempuan menjual makanan di pinggir jalan, dan bertanya mengapa ia tidak mencari pekerjaan formal. Pertanyaan itu mengandung asumsi bahwa pekerjaan formal adalah bentuk kehidupan yang normal dan pekerjaan informal adalah penyimpangan sementara. Lagos menunjukkan persoalan yang lebih rumit. Bagi jutaan orang, informalitas bukan lorong menuju ekonomi formal. Informalitas adalah ekonomi yang mereka punya sekarang, lengkap dengan aturan, jaringan, reputasi, modal, risiko, dan keahlian.
Penelitian tentang pedagang informal dan formal di Lagos bahkan menemukan hubungan yang lebih kusut lagi. Dalam studi terhadap 1.179 pedagang formal dari 199 asosiasi, peneliti menemukan bahwa sebagian pedagang formal mempunyai kepentingan ekonomi untuk tetap bekerja sama dengan pedagang kaki lima, meskipun secara kolektif mereka mungkin menginginkan penegakan aturan yang lebih ketat. Pedagang informal dapat menjadi jaringan distribusi bagi barang dari pedagang grosir. Jadi orang yang secara administratif dianggap “masalah” ternyata juga berguna bagi sistem yang secara resmi ingin menertibkannya.
Lagos memang berantakan. Tetapi kekacauan itu memiliki logika.
Seorang penjual tahu siapa pembelinya. Seorang pengemudi tahu jalan alternatif. Seorang pedagang tahu siapa yang bisa meminjamkan uang. Seorang anggota asosiasi tahu siapa yang harus dihubungi ketika pemerintah mengubah aturan. Seorang pekerja tahu bahwa satu pekerjaan saja terlalu berisiko untuk dijadikan sandaran. Jaringan-jaringan kecil itu menempel satu sama lain, kadang saling membantu, kadang saling memanfaatkan.
Banjir datang tanpa peduli pada struktur tersebut. Air masuk ke pasar, barang diangkat, plastik ditutup, sandal dilepas, uang dihitung ulang. Besok pagi seseorang kembali membawa barang dagangan.
Kita sering mengatakan kota harus dibuat “tangguh”. Istilah itu biasanya terdengar dari dokumen pemerintah, konferensi, laporan pembangunan, dan gambar rancangan drainase. Di Lagos, ketangguhan bisa berbentuk jauh lebih kecil: seorang saudari yang mau berbagi mesin penggiling, kelompok ajo yang mengeluarkan uang ketika stok rusak, pedagang yang mengubah lokasi jualan, asosiasi yang mengumpulkan orang ketika aturan baru muncul.
Semua itu terjadi tanpa upacara.
Saat awan tampak gelap di Oshodi, kendaraan tetap memenuhi jalan. Bau makanan bercampur asap knalpot. Pedagang meneriakkan harga. Plastik-plastik berisi barang digantung di tempat yang lebih tinggi dari lantai. Seorang perempuan memeriksa langit sebelum memutuskan apakah masih ada waktu untuk menjual beberapa barang lagi.
Ia melihat awan.
Tangannya mulai memindahkan barang.
Catatan terkait: Artis Terkenal Berubah Jadi Penjual Barang Bekas di Pinggir Jalan


