Surat-surat Seorang Tentara Pada Keluarganya dari Medan Perang

Ilustrasi milik BSM
Perang besar mempunyai kebiasaan yang agak tidak adil: ia menyimpan wajah orang yang menembak jauh lebih baik daripada orang yang membuat senjata tetap bisa ditembakkan. Foto-foto Normandia penuh dengan prajurit yang turun dari kapal pendarat, lelaki yang merunduk di balik rintangan beton, petugas medis, mayat di pantai, tank yang baru keluar dari air. Jarang sekali kita melihat orang yang pekerjaannya memastikan tank-tank itu punya bahan bakar untuk bergerak setelah meninggalkan pantai.

Mayor Ellsworth DeWitt Hill berada di sisi yang lain dari pemandangan tersebut. Keluarganya memanggilnya Dewey. Ia seorang insinyur perminyakan yang ditempatkan pada Headquarters Advance Section, Communications Zone, bagian dari organisasi logistik Angkatan Darat Amerika. Tugasnya berkaitan dengan sesuatu yang terdengar sangat membosankan sampai kita menghitung akibat jika benda itu tidak tersedia: bensin. 

Invasi sebesar Operation Overlord tidak cukup dengan kapal, pesawat, tank, truk, peluru dan ribuan orang. Semua benda itu harus terus bergerak. Mesin membutuhkan bahan bakar. Truk membawa amunisi. Tank mengejar garis depan. Pesawat membutuhkan avtur. Ketika pasukan bergerak semakin jauh dari pantai, persoalan logistik berubah menjadi persoalan hidup-mati. Hill terlibat dalam perancangan sistem pipa militer di Prancis, dan tiba di Normandia bersama gelombang pertama bagian advance section.

Hill tidak sedang menikmati jarak aman. Ia memang berada di belakang pasukan yang menyerbu pantai, tetapi “belakang” dalam beberapa hari pertama invasi adalah istilah yang sangat relatif. Jalan-jalan penuh kendaraan, desa-desa belum sepenuhnya aman, wilayah baru saja direbut, dan struktur pasokan harus dibangun sementara perang masih berlangsung. Orang seperti Hill tidak mendapatkan kemewahan menunggu sampai situasi tenang untuk mulai bekerja. Ia harus bekerja karena situasinya belum tenang.

Salah satu benda paling berharga dalam koleksinya sekarang justru bukan dokumen teknis, tetapi surat-surat kepada keluarganya. Surat tanggal 14 Juni 1944 dimulai dengan sapaan kepada Florence, Barbara, dan Nancy. Ia menjelaskan bahwa hanya satu surat untuk mereka bertiga yang bisa ia kirim, karena hampir tidak punya waktu luang; ketika ada waktu, ia biasanya terlalu lelah dan tertidur. Itu detail kecil, tetapi saya lebih menyukainya daripada banyak kisah heroik tentang D-Day. Seorang mayor, seorang insinyur, seorang perwira Amerika di Prancis yang baru saja mengalami salah satu operasi militer terbesar dalam sejarah, mengaku bahwa masalahnya malam itu sesederhana: ia mengantuk.

Surat itu ditulis ketika Hill berada di suatu tempat di Prancis. Ia tidak dapat menyebutkan lokasinya karena sensor militer, tetapi keluarganya sudah mengetahui bahwa ia berada di kawasan Normandia dari berita tentang D-Day. Ia menyebut minggu sebelumnya sebagai masa yang “quite rugged”, terutama bagi “an old man like myself”, meskipun ia menambahkan bahwa ia ternyata masih mampu mengikuti anak-anak muda. Usianya saat itu sekitar empat puluh tahun, dan kalimat tersebut memiliki sedikit humor seorang lelaki yang sadar bahwa dirinya tidak lagi berumur dua puluh.

Yang tidak ia ceritakan dalam surat itu justru bagian paling besar. Ia menulis bahwa semua hal mengenai pendaratan di pantai dan hari-hari pertama dapat diceritakan pada kesempatan lain. Mengapa? Karena ia tidak boleh menceritakannya. Surat kepada istri dan anak-anak sekalipun tetap melewati dunia sensor, nomor APO, alamat militer, dan aturan mengenai informasi yang dapat memberi tahu musuh terkait posisi pasukan.

Kita sering membayangkan sensor sebagai gunting yang memotong satu atau dua kalimat. Dalam surat Hill, sensor terasa lebih seperti ruang kosong. Pembaca tahu sesuatu yang luar biasa baru saja terjadi. Penulisnya berada di Prancis. Ia berada dekat dengan operasi yang baru saja dimulai. Ia mengalami minggu yang berat. Tetapi bagian terpenting harus menunggu.

Dua hari kemudian, Hill menulis lagi. Pembuka surat 16 Juni jauh lebih pendek dan lebih berat: apa yang dapat dikatakan sekarang hampir tidak mampu memberikan keadilan kepada apa yang telah terjadi. Library of Congress menggunakan kalimat itu sebagai kutipan utama untuk memperkenalkan koleksi Hill.

Ada sesuatu yang khas dari kalimat tersebut. Hill bukan seorang penyair. Ia seorang insinyur. Orang yang terbiasa dengan ukuran, kapasitas, tekanan, jarak, kebutuhan, dan perhitungan. Ia hidup dalam dunia yang semestinya dapat dijelaskan dengan angka. Tetapi dua hari setelah D-Day, ia sampai pada batas bahasa yang lebih sederhana: apa pun yang ditulis tidak cukup.

Surat 14 Juni kemudian berbelok ke hal yang hampir terasa tidak pantas jika kita hanya mengenal D-Day dari film perang. Pada malam itu Hill mendapatkan makanan matang pertamanya dalam lebih dari seminggu. Ia pergi ke sebuah kafe kecil Prancis di sebuah desa. Menu yang ia catat dengan teliti: steak, kentang goreng, stroberi, dan sebotol anggur. Harga seluruhnya 100 franc, sekitar dua dolar menurut perhitungannya. Ia bahkan memasukkan uang kertas lima franc untuk koleksi Nancy.

Saya suka bagian itu karena perang tiba-tiba mengecil menjadi ukuran meja makan. Setelah berhari-hari berada dalam kondisi lapangan, seorang lelaki duduk di sebuah kafe dan makan steak. Mungkin tangannya masih kotor. Mungkin pakaiannya masih berdebu. Kita tidak tahu. Yang kita tahu, ia makan makanan panas setelah lebih dari seminggu, dan merasa perlu menceritakan menu tersebut pada keluarganya. Ketika perang berlangsung begitu dekat, detail makanan bisa menjadi berita keluarga.

Ia juga memperhatikan orang-orang Prancis. Menurut suratnya, penduduk desa mulai bersemangat karena mereka menganggap kedatangan pasukan Amerika sebagai pembebasan. Orang-orang mengejar kendaraan, melambaikan tangan, dan para petani ingin memberikan anggur kepada tentara. Tetapi Hill melihat sesuatu yang tidak masuk ke dalam gambaran pesta pembebasan: kehancuran. Château yang sebelumnya indah telah rusak, keluarga-keluarga kehilangan rumah.

Kalimat itu penting, karena Hill tidak menulis dari sudut pandang seorang jurnalis yang datang untuk mencari adegan dramatis. Ia sedang berada di sana. Ia melihat penduduk yang bersukacita sekaligus rumah yang hancur. Dua hal tersebut berdiri berdampingan tanpa perlu dibereskan menjadi pesan moral yang rapi.

Pekerjaan Hill segera menjadi bagian dari infrastruktur perang yang jauh lebih besar. Arsipnya menyimpan kliping Stars and Stripes mengenai usaha Angkatan Darat memastikan garis depan menerima bensin tepat waktu, termasuk judul “Army Strains to Insure Front Gets its Gasoline—On Time”. Arsip yang sama menyimpan kliping tentang jaringan pipa yang bergerak puluhan mil per hari menuju garis depan, peta Normandia, skema sistem pipa, dan dokumen lain yang menunjukkan betapa seriusnya persoalan bahan bakar tersebut.

Di sini D-Day kelihatan berbeda. Pantai Omaha dan Utah memang menentukan apakah tentara bisa mendarat. Sesudah itu, pertanyaan berubah: bagaimana membuat pasukan yang sudah mendarat terus bergerak?

Jawabannya tidak heroik dalam pengertian sinematik. Jawabannya berupa pipa, pompa, tangki, truk, peta, jadwal, kapasitas, sambungan, dan orang-orang yang tahu bagaimana minyak harus mengalir dari pelabuhan menuju kendaraan yang sedang bergerak ke pedalaman. Sistem tersebut kemudian berkembang menjadi jaringan pipa militer di Prancis. Hill meninggalkan catatan teknis mengenai pekerjaan tersebut, termasuk skema Minor DOL System dan peta tangan wilayah Normandia.

Justru pekerjaan semacam itu yang membuat sebuah invasi dapat berubah menjadi kampanye darat. Tentara dapat merebut desa pada pagi hari dan bergerak lagi sore harinya karena bahan bakar sudah tersedia. Tank yang kehabisan bahan bakar tidak peduli seberapa berani awaknya. Truk tanpa bensin menjadi beban berat. Pesawat yang tidak memiliki bahan bakar tinggal menjadi benda mahal di tanah. Perang modern sangat bergantung pada hal-hal yang tidak pernah masuk poster propaganda. 

Hill kemudian melanjutkan pekerjaannya di Eropa. Koleksinya menyimpan surat hingga berbulan-bulan setelah Normandia, perintah militer, catatan pengiriman, dokumen pasokan, serta catatan pemisahan dinas pada Maret 1945. Ia meninggalkan jejak administratif yang jauh lebih banyak daripada jejak seorang prajurit yang hanya dikenang melalui satu foto.

Ada ironi kecil dalam semua itu. Ketika sejarah mengucapkan “D-Day”, pikiran langsung menuju pantai. Hill mengingatkan bahwa invasi tidak berhenti ketika seseorang menginjak pasir. Bahkan mungkin bagian yang lebih melelahkan baru dimulai setelah itu: membuat pasukan yang sudah mendarat tidak kehabisan tenaga, peluru, makanan, kendaraan, dan terutama bahan bakar.

Pada malam 14 Juni, setelah makan steak, kentang goreng, stroberi dan minum sebotol anggur di sebuah desa Prancis, Hill menulis kepada keluarganya bahwa ia mengantuk. Ia mengatakan dirinya baik-baik saja dan meminta mereka tidak mengkhawatirkannya. Surat itu kemudian bergerak melewati sensor, kantor pos militer, kapal, pesawat, dan lautan, menuju Garden City, Long Island.

Di atas meja keluarganya, mungkin hanya selembar surat.

Di Prancis, beberapa mil jauhnya dari garis depan, orang-orang sedang berusaha membuat bensin mengalir.


Related

Sejarah 5764754847053238149

Posting Komentar

Jangan menyisipkan link ke dalam komentar, karena akan ditandai sebagai spam.

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item