Bagaimana Dua Orang Melihat Hal Sama tapi Maknanya Berbeda
https://www.belajarsampaimati.com/2026/11/bagaimana-dua-orang-melihat-hal-sama.html
![]() |
| Ilustrasi milik BSM |
Pada malam 30 Oktober 1938, jutaan orang Amerika menyalakan radio mereka dan mendengar sesuatu yang terdengar seperti berita darurat. Siaran itu berasal dari program Mercury Theatre on the Air yang dipimpin Orson Welles. Awalnya musik biasa. Lalu muncul laporan tentang benda asing yang jatuh di Grovers Mill, New Jersey. Reporter berbicara dengan nada tergesa-gesa. Ada suara statis. Ada jeda. Ada saksi mata. Ada ilmuwan. Ada pejabat. Lalu terdengar bahwa makhluk dari Mars menyerang Amerika.
Kisah itu sering diceritakan dengan cara yang sederhana: orang-orang bodoh panik karena percaya siaran fiksi. Kisah itu enak didengar, tetapi tidak sepenuhnya benar. Penelitian sosiolog Hadley Cantril pada 1940 menemukan bahwa reaksi pendengar sangat beragam. Sebagian langsung sadar itu drama radio. Sebagian ragu-ragu. Sebagian percaya. Sebagian mencari konfirmasi ke tetangga, keluarga, atau stasiun radio lain.
Yang menarik bukan siapa yang benar dan siapa yang salah. Yang menarik adalah kenyataan bahwa ribuan orang mendengar suara yang sama, pada jam yang sama, melalui teknologi yang sama, tetapi menghasilkan dunia mental yang berbeda.
Sebuah suara keluar dari radio. Sisanya terjadi di dalam kepala manusia.
Kita sering membayangkan bahwa proses mengetahui dunia berjalan seperti kamera: mata melihat, telinga mendengar, otak mencatat. Kenyataannya jauh lebih berantakan. Manusia tidak hanya menerima informasi. Manusia menafsirkan informasi. Dan penafsiran itu tidak dimulai setelah kita melihat sesuatu; ia sudah bekerja sejak awal.
Pada 1949, psikolog Jerome Bruner dan Leo Postman menunjukkan kartu remi yang aneh kepada peserta eksperimen. Salah satunya adalah kartu sekop berwarna merah. Dalam kehidupan sehari-hari, sekop selalu hitam. Banyak peserta tidak langsung menyadari keanehan tersebut. Mereka mengatakan kartu itu normal, atau melihat sesuatu yang terasa ganjil tetapi sulit dijelaskan. Beberapa orang tampak tidak nyaman, seolah-olah mata mereka melihat sesuatu yang tidak cocok dengan apa yang sudah diketahui otak.
Kita biasanya menganggap proses melihat sebagai kegiatan yang sederhana. Ternyata tidak. Mata menerima bentuk dan warna. Otak segera bertanya: benda apa ini? Apakah saya pernah melihatnya sebelumnya? Masuk kategori mana? Apakah berbahaya? Apakah penting?
Proses itu berlangsung begitu cepat sehingga kita mengira hasil akhirnya adalah kenyataan yang murni. Padahal kenyataan yang sampai ke kesadaran manusia sudah melewati berbagai pintu pemeriksaan.
Thomas Kuhn, dalam The Structure of Scientific Revolutions, menulis bahwa ilmuwan yang bekerja dalam paradigma berbeda dapat melihat hal yang berbeda pada data yang sama. Kalimat itu terdengar aneh kalau dibaca tergesa-gesa. Bukankah data adalah data?
Masalahnya, data tidak berbicara sendiri.
Ketika astronom abad ke-16 melihat langit malam, mereka tidak hanya melihat titik-titik cahaya. Mereka melihat kosmos yang memiliki susunan tertentu. Ketika Galileo mengarahkan teleskop ke langit dan melihat satelit-satelit Jupiter, sebagian orang menerima pengamatan itu sebagai bukti bahwa tidak semua benda langit mengelilingi Bumi. Sebagian lain meragukan teleskopnya. Sebagian lagi mempertahankan kerangka lama.
Teleskop yang sama. Bulan yang sama. Langit yang sama. Kesimpulan yang berbeda.
Kita sering merasa hal semacam itu hanya terjadi pada masa lalu, ketika manusia belum memiliki sains modern. Lihat saja perdebatan politik hari ini. Dua orang membaca laporan ekonomi yang sama. Yang satu melihat keberhasilan. Yang lain melihat kegagalan.
Dua orang melihat video yang sama. Yang satu melihat keberanian, yang lain melihat kesombongan.
Dua orang membaca berita tentang kejahatan. Yang satu menyimpulkan masyarakat semakin rusak, yang lain melihat bahwa data jangka panjang justru menunjukkan penurunan kekerasan.
Fakta yang sama masuk ke dalam kepala yang berbeda. Kepala itu tidak kosong. Di dalamnya sudah ada pengalaman masa kecil, rasa takut, identitas politik, kenangan, cerita keluarga, agama, pendidikan, penghinaan yang belum dilupakan, dan ribuan percakapan kecil yang tidak lagi diingat.
Dua bersaudara dapat dibesarkan di rumah yang sama dan tetap memiliki peta dunia yang berbeda. Ayah mereka mengucapkan kalimat yang sama, tetapi satu anak mendengarnya sebagai perhatian, sementara yang lain mendengarnya sebagai tekanan. Guru yang sama dipandang sebagai inspirasi oleh sebagian murid dan sebagai ancaman oleh murid lain.
Kalimatnya sama. Pendengarnya tidak sama.
Psikolog Charles Lord, Lee Ross, dan Mark Lepper, menunjukkan sesuatu yang cukup mengganggu dalam penelitian mereka pada 1979 tentang hukuman mati. Peserta yang mendukung dan menolak hukuman mati diberi dua penelitian: satu mendukung efektivitas hukuman mati, satu lagi menolaknya. Setelah membaca bukti yang sama, kedua kelompok tidak menjadi lebih dekat. Mereka justru jadi lebih yakin pada posisi masing-masing.
Peserta tidak sekadar membaca data. Mereka mengkritik penelitian yang tidak sesuai dengan keyakinan mereka, dan menerima penelitian yang mendukung pandangan mereka.
Saya curiga banyak pertengkaran manusia berjalan seperti itu. Dua orang berbicara tentang bukti, padahal mereka sedang berbicara tentang kerangka yang digunakan untuk memahami bukti tersebut.
Seorang dokter melihat demam dan mencari pola biologis. Seorang dukun melihat gejala yang sama dan memikirkan gangguan spiritual. Seorang ekonom melihat angka inflasi dan memikirkan kebijakan moneter. Seorang pedagang pasar melihat angka yang sama dan memikirkan harga cabai yang naik. Tidak ada manusia yang benar-benar memandang dunia tanpa kerangka.
Kita sering menggunakan kata “objektif” dengan sangat percaya diri, seolah-olah sebagian orang berhasil keluar dari semua pengaruh dan melihat dunia apa adanya. Saya tidak terlalu yakin.
Objektivitas mungkin lebih mirip usaha terus-menerus untuk menyadari bahwa kita membawa kerangka, lalu mencoba memeriksanya. Sains membangun prosedur untuk melakukan itu: eksperimen, pengulangan, kritik sejawat, statistik. Hukum mempunyai pengadilan. Jurnalisme mempunyai verifikasi. Semua mekanisme itu muncul karena manusia mengetahui satu hal yang tidak nyaman: melihat ternyata tidak cukup.
Manusia perlu cara untuk mengoreksi apa yang dilihatnya. Bahkan meski begitu, kita tetap hidup sehari-hari dengan ilusi bahwa dunia yang kita lihat adalah dunia yang dilihat semua orang.
Mungkin karena itulah perbedaan pendapat sering terasa menjengkelkan. Kita tidak hanya berpikir orang lain salah. Kita merasa mereka gagal melihat sesuatu yang sangat jelas. Padahal orang itu mungkin memang melihat sesuatu yang berbeda.
Pada 2015, sebuah foto gaun menjadi perdebatan di internet. Sebagian orang melihat gaun itu berwarna biru-hitam. Sebagian lain melihat putih-emas. Jutaan orang berdebat, tertawa, kesal, dan mencoba meyakinkan orang lain. Perdebatan itu terasa lucu, karena kita tahu bahwa persoalannya hanya warna gaun.
Tetapi kadang saya berpikir bahwa manusia menghabiskan sebagian besar hidupnya dengan cara yang mirip: berdiri di depan benda yang sama, membawa sejarah masing-masing, lalu dengan tulus mengira bahwa apa yang mereka lihat adalah kenyataan yang juga dilihat semua orang.
Seseorang membuka situs berita. Seseorang lain membaca berita yang sama. Halaman di layar mereka sama. Tulisan dan ilustrasinya sama. Nama penulis berita juga sama.
Tapi dua dunia mulai bergerak ke arah yang berbeda.
Catatan terkait: Bagaimana Pikiran Menipu Kita untuk Meyakini Sesuatu
.jpg)

