Ibnu Bajjah: Filsuf Sekaligus Dokter, Ilmuwan, Musisi, hingga Penulis
https://www.belajarsampaimati.com/2026/11/ibnu-bajjah-filsuf-sekaligus-dokter.html
![]() |
| Ilustrasi milik BSM |
Sebagian filsuf dikenang karena membangun sistem pemikiran yang megah. Sebagian dikenang karena mempengaruhi kerajaan, gereja, atau universitas. Ibnu Bajjah dikenang karena kesepian.
Bukan kesepian dalam arti sentimental yang sering muncul dalam novel. Kesepian yang dimaksud lebih keras dan lebih dingin: kesepian seorang intelektual yang hidup beberapa langkah terlalu jauh di depan zamannya sendiri. Ketika membaca karya-karyanya, muncul kesan seseorang yang tidak hanya berpikir tentang bagaimana manusia memahami dunia, tetapi juga bagaimana seseorang tetap waras ketika hidup di tengah masyarakat yang tidak terlalu peduli pada pencarian semacam itu.
Nama lengkapnya Abu Bakar Muhammad bin Yahya bin ash-Shayigh at-Tujibi bin Bajjah. Dunia Latin mengenalnya sebagai Avempace. Ia lahir di Zaragoza, atau Saraqusta dalam bahasa Arab, sebuah kota yang saat itu berada di Al-Andalus Muslim. Hari ini Zaragoza berada di Spanyol timur laut, dipenuhi lalu lintas modern, apartemen, dan toko-toko. Pada akhir abad ke-11, kota itu merupakan perbatasan yang gelisah. Dunia Islam dan kerajaan-kerajaan Kristen Iberia saling mengawasi dari kejauhan dengan pedang yang tidak pernah benar-benar disarungkan.
Julukan Ash-Shayigh pada nama Ibnu Bajjah berarti tukang emas atau pandai logam. Ada kemungkinan keluarganya berasal dari lingkungan pengrajin. Saya selalu menyukai detail kecil semacam itu, karena filsafat sering dibayangkan lahir dari istana atau madrasah besar. Dalam kasus Ibnu Bajjah, bayangan tentang logam yang dipukul, bara api yang menyala, dan suara palu di bengkel, terasa tidak sepenuhnya asing.
Al-Andalus saat itu sedang berubah dengan cepat. Kekhalifahan Umayyah Cordoba sudah lama runtuh. Wilayah Muslim terpecah menjadi kerajaan-kerajaan kecil yang dikenal sebagai Muluk al-Tawaif. Konflik politik menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Sementara Zaragoza diperintah oleh dinasti Banu Hud sebelum akhirnya jatuh ke tangan pasukan Kristen pimpinan Alfonso I dari Aragon pada tahun 1118.
Ibnu Bajjah tumbuh di tengah dunia yang tidak stabil. Mungkin justru karena itulah pikirannya bergerak ke arah yang berbeda.
Ia bukan hanya filsuf. Ia juga astronom, dokter, matematikawan, musisi, penyair, dan administrator pemerintahan. Daftar profesinya terasa hampir tidak masuk akal bagi pembaca modern yang terbiasa dengan spesialisasi sempit. Pada abad ke-12, seorang intelektual besar memang sering bergerak dari satu bidang ke bidang lain tanpa meminta izin kepada siapa pun.
Catatan para penulis sezamannya menggambarkannya sebagai sosok yang sangat cerdas sekaligus sulit disukai. Beberapa mengaguminya. Sebagian lain menganggapnya arogan. Tuduhan semacam itu cukup sering muncul dalam sejarah filsafat. Orang yang terus-menerus mempertanyakan asumsi orang lain jarang menjadi tokoh paling populer dalam pesta makan malam.
Ketika Zaragoza jatuh, Ibnu Bajjah berpindah-pindah. Ia pernah berada di Xativa, Valencia, Sevilla, hingga akhirnya ke Afrika Utara. Nama-nama kota itu muncul berulang kali dalam biografinya seperti titik-titik persinggahan seseorang yang tidak pernah benar-benar memiliki rumah tetap. Debu jalanan, pelabuhan Mediterania, benteng-benteng batu, pasar yang dipenuhi pedagang, suara keledai dan unta—semua itu merupakan latar hidupnya.
Di Afrika Utara, ia bekerja di bawah pemerintahan Murabithun atau Almoravid. Pada suatu waktu ia menjadi pejabat administrasi sekaligus dokter. Bayangkan seorang filsuf yang pagi harinya mengurus urusan birokrasi negara, siang memeriksa pasien, malam menulis komentar tentang Aristoteles.
Komentar-komentar terhadap karya Aristoteles memang jadi salah satu bagian penting dari warisannya. Sebelum munculnya Ibnu Rusyd yang kemudian terkenal sebagai komentator terbesar Aristoteles, Ibnu Bajjah sudah lebih dulu membuka jalan. Ia membaca filsafat Yunani dengan ketelitian yang luar biasa, dan berusaha menyelaraskannya dengan tradisi intelektual Islam.
Karya-karyanya tidak selalu tersusun rapi. Sebagian bahkan sampai kepada kita dalam bentuk fragmen. Politik yang kacau, perpindahan hidup yang terus-menerus, dan kematiannya yang relatif dini, membuat banyak proyek intelektualnya tidak pernah mencapai bentuk akhir.
Salah satu karyanya yang paling terkenal adalah Tadbir al-Mutawahhid atau Pengelolaan Diri Orang yang Menyendiri. Judulnya terdengar seperti buku pengembangan diri abad pertengahan. Isinya jauh lebih menarik.
Dalam karya itu, Ibnu Bajjah membahas nasib individu rasional yang hidup dalam masyarakat yang rusak. Tokoh sentralnya bukan nabi, bukan raja, bukan pemimpin militer. Tokoh sentralnya adalah manusia berpikir yang berusaha menjaga kejernihan akal ketika lingkungan sekitarnya dipenuhi kekacauan intelektual.
Gagasan tersebut terasa aneh sekaligus modern. Ia tidak membayangkan filsuf sebagai penguasa negara ideal seperti dalam karya Plato. Ia juga tidak terlalu optimistis bahwa masyarakat selalu bisa diperbaiki dengan cepat. Fokusnya justru tertuju pada bagaimana individu menjaga integritas intelektualnya.
Membaca halaman-halaman bukunya kadang terasa seperti mendengar seseorang yang lelah terhadap kebisingan politik.
Pemikiran itu lahir dari pengalaman nyata. Al-Andalus yang dikenalnya sedang mengalami fragmentasi politik. Perang, perebutan kekuasaan, dan ketidakstabilan, jadi pemandangan sehari-hari. Filsafat tidak lahir dalam ruang steril. Ia lahir di tengah gangguan.
Ibnu Bajjah juga menghasilkan karya penting dalam astronomi. Ia mengkritik beberapa model astronomi yang diwariskan dari Claudius Ptolemaios. Kritik tersebut kemudian mempengaruhi generasi ilmuwan berikutnya. Pengaruhnya dapat ditelusuri hingga pemikir seperti Ibnu Tufail dan Ibnu Rusyd.
Dalam bidang kedokteran, ia menulis berbagai risalah medis. Dalam musik, ia dikenal memiliki kemampuan praktis yang cukup tinggi. Dunia intelektual abad pertengahan Islam memang sering menghasilkan tokoh yang bergerak bebas melintasi disiplin ilmu. Ibnu Bajjah tampaknya menikmati kebebasan itu.
Ada sesuatu yang cukup tajam dalam cara berpikirnya tentang pengetahuan. Baginya, akal manusia memiliki kemampuan untuk naik menuju pemahaman yang lebih tinggi melalui latihan intelektual yang disiplin. Pengetahuan bukan hadiah. Pengetahuan adalah pekerjaan.
Kalimat itu terdengar biasa hari ini. Pada masanya, gagasan tersebut memiliki konsekuensi yang besar. Ia menempatkan tanggung jawab pencarian kebenaran pada individu, bukan semata-mata pada otoritas.
Kehidupannya berakhir di Fez, Maroko. Kematian Ibnu Bajjah pada sekitar tahun 1138 masih diselimuti ketidakjelasan. Sejumlah sumber menyebut kemungkinan ia diracuni oleh lawan-lawan profesionalnya, mungkin dari kalangan dokter yang iri terhadap reputasinya. Sejumlah sejarawan berhati-hati terhadap cerita tersebut karena bukti yang tersedia tidak terlalu kuat.
Saya justru tertarik pada fakta bahwa rumor semacam itu bisa muncul. Orang tidak menyebarkan kisah racun terhadap sosok yang dianggap tidak penting.
Setelah kematiannya, pengaruhnya terus bergerak melintasi generasi. Ibnu Tufail membaca karyanya. Ibnu Rusyd juga membacanya. Tradisi filsafat Islam di Andalusia berkembang melalui jalur yang sebagian telah ia buka terlebih dulu. Banyak gagasannya kemudian masuk ke dunia Latin melalui penerjemahan karya-karya Arab.
Hari ini namanya tidak seterkenal Ibnu Sina atau Ibnu Rusyd. Padahal beberapa ide yang membuat Ibnu Rusyd begitu penting sudah mulai bergerak dalam tulisan-tulisan Ibnu Bajjah. Seorang filsuf yang berpindah dari kota ke kota, bekerja sebagai dokter, administrator, ilmuwan, musisi, dan penulis. Seseorang yang menulis tentang manusia yang berpikir sendirian di tengah masyarakat yang tidak selalu ramah terhadap pemikiran.
Di sebuah rumah di Fez, mungkin terdapat meja kayu yang dipenuhi naskah, catatan astronomi, komentar Aristoteles, dan risalah filsafat yang belum selesai. Sementara jalan-jalan kota masih dipenuhi pedagang, penunggang kuda, pengrajin, pejabat, dan para pengkhotbah yang sibuk dengan urusan mereka masing-masing.
Catatan terkait: Al-Khazini, Ilmuwan Mekanika dan Hidrostatika Paling Mencengangkan
.jpg)

