Kisah Los Angeles: Kota Metropolitan yang Dijajah Mobil
https://www.belajarsampaimati.com/2026/11/kisah-los-angeles-kota-metropolitan.html
![]() |
| Ilustrasi milik BSM |
Di Los Angeles, jarak 20 kilometer bisa menjadi urusan kecil atau menyita sebagian hidup. Tergantung jamnya, arah perjalanan, jalan yang dipilih, dan apakah seseorang sedang mencoba menyeberangi kota dengan mobil atau tanpa mobil.
Peta Los Angeles terlihat cukup biasa sampai kita mencoba berjalan kaki dari satu tempat ke tempat lain. Mungkin di sanalah kota itu mulai terasa ganjil: tempat-tempat yang secara geografis tidak terlalu jauh dapat dipisahkan oleh jalan raya, simpang susun, blok-blok lebar, pagar, tempat parkir, dan lalu lintas yang bergerak terus-menerus.
Kota itu tidak sejak lahir seperti itu. Los Angeles pada 1890 hanya memiliki sekitar 50.000 penduduk dan luas 28 mil persegi. Dalam perjalanan berikutnya, wilayah kota melebar menjadi ratusan mil persegi, sementara kawasan metropolitan tumbuh jauh melampaui batas administratif Los Angeles. Rencana Kota Los Angeles sendiri menggambarkan pertumbuhan tersebut sebagai perubahan dari kota kecil menjadi wilayah yang sangat luas dan membutuhkan sistem transportasi berskala besar.
Sebelum mobil mengambil alih, Los Angeles mempunyai jaringan trem yang cukup serius. Pacific Electric Railway, yang mulai berkembang pada awal abad ke-20 di bawah Henry E. Huntington, menghubungkan Los Angeles dengan kota-kota di sekitarnya melalui jaringan interurban yang sangat luas. Red Car menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari Southern California. Orang dapat tinggal lebih jauh dari pusat kota karena kereta listrik membuat jarak tersebut masuk akal. Jadi cerita tentang Los Angeles sebagai kota yang “memilih mobil” perlu sedikit diperbaiki. Kota itu pernah memiliki alternatif.
Mobil datang bukan ke kota kosong. Ia datang ke sebuah wilayah yang memang sedang melebar.
Jalan raya kemudian mengubah skala itu. Pada 1937, survei lalu lintas Automobile Club of Southern California menjadi salah satu dasar konseptual pembangunan sistem freeway Los Angeles. Arroyo Seco Parkway mulai dibangun pada 1938 dan bagian awalnya selesai pada 1940. Jalan tersebut menghubungkan Los Angeles dengan Pasadena, dan dirancang sebagai jalan berkecepatan tinggi yang juga memperhatikan lanskap. Dari sana jaringan freeway berkembang semakin jauh.
Cahuenga Pass memberi contoh kecil tentang cara geografi Los Angeles bekerja. Pegunungan Santa Monica memotong wilayah kota, sehingga jalan harus mencari celah. Hollywood Freeway kemudian melewati kawasan tersebut. Interstate dan freeway lain membentuk jaringan yang memungkinkan orang tinggal jauh dari tempat kerja. Los Angeles tidak hanya membangun jalan untuk mengatasi jarak; jalan ikut menciptakan alasan baru untuk menerima jarak tersebut.
Suburbanisasi memperkuat pola itu. Rumah dengan halaman lebih luas, garasi, jalan lingkungan yang tenang, pusat perbelanjaan, dan kawasan pekerjaan yang tersebar, menjadi bagian dari kehidupan Southern California. Hollywood memperindah citranya. Film membuat Los Angeles terlihat seperti tempat yang selalu terang, selalu bergerak, selalu mempunyai kesempatan berikutnya. Studio, restoran, pantai, Beverly Hills, Sunset Boulevard, Griffith Observatory, rumah-rumah di bukit. Semua tempat itu memang nyata, tetapi film membuat jarak antartempat terasa tidak penting. Kamera cukup memotong adegan.
Orang yang tinggal di sana tidak punya hak istimewa itu.
Mobil harus menempuh jarak yang tidak bisa dipotong oleh penyunting film. Jalan yang terlihat lancar di layar dapat berhenti total di dunia nyata. Ketika Interstate 10, 405, 101 atau 110 bertemu dengan arus kendaraan lain, ruang yang tadinya terasa luas mendadak berubah menjadi deretan lampu rem. Tangan menggenggam setir. Pendingin udara bekerja. Radio menyala. Mata melihat ratusan mobil yang hampir semuanya sedang menuju suatu tempat yang berbeda.
Freeway Los Angeles juga menghasilkan pemandangan yang sangat khas: kota terlihat dari ketinggian beberapa meter di atas permukaan jalan, tetapi orang di dalam mobil tidak benar-benar berada di kota. Ia bergerak melewati kota.
Itu perbedaan yang penting. Mobil memberi kecepatan sekaligus memutus hubungan dengan skala manusia. Dari balik kaca depan, toko di seberang jalan menjadi tempat yang harus dicari akses parkirnya. Tetangga beberapa blok jauhnya bisa terasa seperti lokasi lain. Jalan yang sebenarnya dapat ditempuh dengan berjalan kaki berubah menjadi sesuatu yang harus diperhitungkan berdasarkan simpang, lampu lalu lintas, tempat parkir, dan waktu.
Los Angeles juga punya sejarah yang lebih gelap dalam pembangunan jalannya. Freeway tidak selalu melewati ruang kosong. Pembangunan jalan menghancurkan dan memotong komunitas. Salah satu contoh terkenal adalah pembangunan freeway melalui kawasan East Los Angeles dan Boyle Heights, ketika rumah dan lingkungan warga terdampak oleh proyek infrastruktur besar. Pada tingkat yang lebih luas, pembangunan jalan pascaperang sering berjalan bersama kebijakan penggunaan lahan yang membuat kawasan permukiman dan pusat pekerjaan semakin tersebar.
Los Angeles sendiri sekarang mengakui persoalan tersebut. Mobility Plan 2035 menetapkan tujuan mengurangi perjalanan dengan kendaraan pribadi dan meningkatkan pilihan berjalan kaki, bersepeda, bus dan kereta. Program Transit Neighborhood Plans bahkan diarahkan untuk mengembangkan kawasan di sekitar transit agar orang dapat tinggal lebih dekat dengan pekerjaan, layanan, dan transportasi umum.
Ironisnya, Los Angeles sekarang mempunyai jaringan transit yang jauh lebih besar daripada stereotip “kota tanpa kereta” yang sering melekat padanya. Metro melayani bus dan kereta di wilayah yang sangat luas; data terbaru Metro mencatat 117 rute bus yang dioperasikan langsung atau melalui kontraktor, 11.840 halte bus, dan lebih dari 70 juta revenue service miles pada tahun fiskal 2026.
Ridership juga sedang tumbuh. Pada Mei 2026, seluruh sistem Metro mencatat hampir 27 juta perjalanan dalam sebulan, sementara pembukaan tiga stasiun baru D Line pada Mei meningkatkan jumlah penumpang jalur itu secara tajam dibandingkan periode sebelumnya.
Jadi Los Angeles tidak sedang pasrah kepada mobil. Kota itu sedang mencoba membongkar sebagian keputusan yang dibuat selama beberapa generasi, dan pekerjaan semacam itu memang jauh lebih lambat daripada membangun freeway. Mengubah jalan berarti berhadapan dengan rumah, bisnis, parkir, anggaran, kebiasaan, kepentingan pemilik tanah, perjalanan menuju sekolah dan pekerjaan. Sebuah kota yang dibentuk selama puluhan tahun untuk mobil tidak dapat mendadak menjadi kota pejalan kaki hanya karena pemerintah menggambar jalur sepeda.
Hollywood ikut membuat persoalan itu terasa lebih aneh. Banyak orang mengenal Los Angeles melalui adegan mobil: karakter berbicara di dalam kendaraan, kamera mengikuti mobil menyusuri Sunset Boulevard, jalan panjang menuju pantai, lampu kota dari bukit. Mobil dalam film sering berarti kebebasan. Dalam kehidupan sehari-hari, kebebasan itu memiliki biaya: bensin, asuransi, parkir, perawatan, kemacetan, waktu.
Bagi orang yang tidak punya mobil, persoalannya lebih kasar. Kota yang luas berarti pilihan kerja bisa menyusut ketika akses transportasi buruk. Pergi ke rumah sakit, kampus, kantor, atau supermarket, tidak hanya soal apakah tempat tersebut dekat secara geografis. Waktu tempuh dan frekuensi angkutan umum menentukan apakah tempat itu benar-benar dapat dijangkau. LA Metro sendiri menyebut transportasi sebagai penghubung menuju pekerjaan, sekolah, layanan kesehatan, perumahan, dan kesempatan ekonomi.
Karena itu Los Angeles terasa seperti kota yang dibangun oleh dua ide yang saling bertabrakan. Ide pertama mengatakan bahwa ruang dapat diperluas selama manusia memiliki kendaraan untuk melintasinya. Ide kedua, yang sekarang tumbuh lebih keras, mengatakan bahwa ruang yang terlalu luas memiliki tagihan yang harus dibayar.
Saat senja, matahari California memantul di kaca depan mobil di jalan 405. Pesawat turun menuju LAX. Di kejauhan, gedung-gedung Westwood mulai menyala. Seorang pengemudi menekan rem, melihat barisan kendaraan di depannya, memeriksa peta digital, kemudian berpindah satu jalur dengan sangat hati-hati.
Hollywood sudah lama mengajari dunia cara melihat Los Angeles. Jalan raya mengajari penduduknya cara hidup di sana.
Catatan terkait: New Orleans: Kisah Perbudakan, Jazz, Pesta, dan Ancaman Banjir


