Mengapa Tidak Ada Gedung Pencakar Langit di Washington, D.C.
https://www.belajarsampaimati.com/2026/11/mengapa-tidak-ada-gedung-pencakar.html
![]() |
| Ilustrasi milik BSM |
Washington, D.C. terasa agak ganjil kalau dilihat dari ketinggian. Kota itu tidak punya dinding pencakar langit yang biasanya menjadi tanda sebuah pusat kekuasaan modern. Capitol menjulang dengan kubahnya, Washington Monument berdiri seperti pensil batu setinggi 169 meter, White House bersembunyi di balik pepohonan dan pagar, sementara jalan-jalan besar memotong kawasan pusat dalam garis yang terlalu teratur untuk disebut kebetulan. Ketika mata mencari gedung yang paling tinggi, kota itu seperti sengaja menolak menjawab.
Penolakan itu memang sudah dirancang sejak awal.
Amerika Serikat masih sangat muda ketika Kongres memutuskan pada 1790 bahwa pemerintah federal membutuhkan wilayah sendiri sebagai ibu kota permanen. George Washington memilih kawasan di tepi Potomac, di antara Georgetown dan Anacostia, lalu menunjuk Pierre Charles L’Enfant, seorang insinyur Prancis yang pernah bertugas dalam Perang Revolusi Amerika, untuk merancang kota baru.
L’Enfant tidak bekerja dengan pola kota Amerika yang sudah tumbuh sedikit demi sedikit mengikuti pelabuhan, perdagangan, atau jalur kereta. Ia menerima sebidang wilayah dan sebuah tugas yang jauh lebih besar: membuat tempat yang akan menampung pemerintahan negara baru.
Peta L’Enfant terasa ambisius bahkan jika dilihat sekarang. Jalan berbentuk grid dipotong oleh avenue diagonal. Pennsylvania Avenue menghubungkan Capitol dengan President’s House, nama awal White House. Ruang terbuka ditempatkan dengan sengaja. Gedung-gedung penting memperoleh posisi yang mudah dilihat. Jalan tidak hanya dipakai untuk pergi dari satu tempat ke tempat lain; sebagian dirancang untuk menghasilkan pandangan tertentu. Capitol dan kediaman presiden ditempatkan sebagai dua pusat visual dan politik. L’Enfant sedang membuat kota yang sekaligus bekerja sebagai diagram pemerintahan.
Hal semacam itu baru terasa aneh ketika dibandingkan dengan kota biasa. London tumbuh selama berabad-abad, Paris berkali-kali dibentuk ulang, New York mengejar pelabuhan, tanah dan uang. Washington dibentuk dengan kesadaran bahwa bangunan pemerintah harus terlihat sebagai bangunan pemerintah. Ruang kosong pun memperoleh pekerjaan. National Mall yang sekarang begitu akrab itu pada mulanya merupakan bagian dari gagasan L’Enfant mengenai ruang terbuka besar yang menghubungkan pusat kekuasaan dan monumen. Sumbu pandangnya dibuat agar Capitol, Washington Monument, dan kemudian Lincoln Memorial, dapat saling berhubungan secara visual.
Rencana itu sendiri tidak langsung menjadi kenyataan. Washington abad ke-19 jauh lebih berantakan daripada Washington yang muncul dalam kartu pos. National Mall pernah berisi taman, kanal, pasar, jalur kereta, bahkan area yang lebih menyerupai tanah terbuka daripada panggung demokrasi. Sungai Potomac membawa lumpur ke kawasan yang sekarang terasa begitu monumental. Sebagian lahan yang kini menjadi West Potomac Park bahkan merupakan hasil reklamasi dari dataran lumpur. Korps Zeni Angkatan Darat Amerika Serikat menciptakan ratusan acre tanah baru di sepanjang Potomac pada akhir abad ke-19. Kota simbolis itu ternyata harus menimbun lumpur terlebih dahulu sebelum bisa berdiri dengan angkuh.
Pada awal abad ke-20, Washington mendapatkan kesempatan kedua untuk menjadi kota yang dibayangkan L’Enfant. Senate Park Commission yang dipimpin Senator James McMillan menghasilkan McMillan Plan pada 1902.
Daniel Burnham, Charles McKim, Augustus Saint-Gaudens, Frederick Law Olmsted Jr. dan tokoh-tokoh lain, terlibat dalam gagasan yang mengembalikan keteraturan monumental ke pusat kota. Lincoln Memorial, Jefferson Memorial, dan pengaturan National Mall, yang sekarang dikenal luas, merupakan bagian dari warisan perencanaan itu. Washington tidak hanya mempertahankan rencana lama; negara memutuskan bahwa pusat pemerintahannya memang pantas dibuat semakin teatrikal.
Kata “teatrikal” di sini tidak berlebihan. Berdiri di tengah National Mall, seseorang bisa melihat Capitol di satu arah dan Washington Monument di arah lain. Dari kawasan Lincoln Memorial, pandangan memanjang menuju obelisk dan Capitol. Rumput yang luas membuat manusia terlihat kecil. Gedung-gedung monumental ditempatkan dengan jarak yang memungkinkan mata menangkap hubungan antara satu institusi dan institusi lain. Bahkan ketika tidak ada pejabat negara di sekitar kita, arsitekturnya terus berbicara tentang negara.
Washington juga memiliki aturan yang membuat wajah kota itu berbeda dari hampir semua pusat pemerintahan besar. Height of Buildings Act 1910 menetapkan batas ketinggian bangunan berdasarkan lebar jalan, dengan batas umum sekitar 130 kaki untuk kawasan komersial dan 90 kaki untuk jalan permukiman; bagian tertentu Pennsylvania Avenue dapat mencapai 160 kaki. Aturan itu membantu mempertahankan karakter Washington yang horizontal. National Capital Planning Commission sampai sekarang memperlakukan batas ketinggian tersebut sebagai salah satu fondasi bentuk kota.
Efeknya terasa ketika seseorang datang dari New York. Manhattan membuat mata terus bergerak ke atas. Washington lebih sering membuat mata bergerak ke depan. Kubah Capitol tampak besar karena bangunan di sekitarnya tidak berlomba menenggelamkannya. Washington Monument bisa terlihat dari jauh karena ruang kota menyediakan jarak untuk melihatnya. Gedung federal tidak harus menjadi yang tertinggi untuk menunjukkan kekuasaan. Cukup ditempatkan dengan benar.
Keanehan Washington yang lain terletak pada siapa sebenarnya yang menguasai kota itu. District of Columbia bukan negara bagian. Penduduknya memilih wali kota dan 13 anggota Council sejak sistem Home Rule diberlakukan pada 1973, tetapi Kongres tetap mempunyai kekuasaan untuk meninjau dan membatalkan legislasi lokal.
Warga Washington juga tidak memiliki anggota voting di DPR Amerika Serikat. Secara geografis mereka hidup di sebuah kota; secara konstitusional mereka tinggal di sebuah distrik federal yang memiliki sejarah pemerintahan sendiri yang tidak pernah sepenuhnya sama dengan negara bagian.
Ironinya cukup kasar: kota yang dibangun untuk melambangkan demokrasi nasional memiliki penduduk yang sejak lama memperdebatkan keterbatasan representasi politik mereka sendiri. Washington pernah diperintah langsung oleh pemerintah federal, tanpa wali kota terpilih, dan tanpa dewan kota. Home Rule mengubah keadaan itu, tetapi Kongres tetap memiliki kewenangan yang tidak dimiliki parlemen nasional atas kota-kota biasa. Jadi simbol demokrasi Amerika berdiri di atas persoalan demokrasi lokal yang belum selesai.
Mungkin karena itulah Washington terasa berbeda ketika seseorang meninggalkan National Mall. Kota yang biasanya terlihat dalam foto—Capitol, White House, Washington Monument, Lincoln Memorial—hanyalah bagian dari Washington. Di luar sumbu monumental itu terdapat lingkungan tempat orang berbelanja bahan makanan, mengantar anak sekolah, menunggu bus, tinggal di apartemen, berangkat bekerja, dan mengeluh tentang pemerintah federal seperti warga kota mana pun. Nama-nama seperti Anacostia, Columbia Heights, Shaw dan Adams Morgan, mengembalikan kota kepada ukuran manusia.
Pada peta L’Enfant, semua itu tampak seperti keputusan seorang perencana. Dalam kehidupan sehari-hari, jalan diagonal bisa membuat orang tersesat, ruang terbuka bisa terasa terlalu luas pada siang musim panas, dan sebuah kota yang dirancang untuk simbol nasional tetap harus mengurus sampah, sekolah, perumahan dan transportasi. Pemerintahan Amerika mungkin membutuhkan panggung, tetapi orang yang tinggal di panggung itu tetap membutuhkan toko kelontong.
Saat sore datang, cahaya mengenai batu putih Lincoln Memorial dan permukaan Reflecting Pool. Turis memotret, pelari melintas, petugas National Park Service mengurus rumput, sementara beberapa blok dari sana para pegawai federal keluar dari kantor. Capitol masih terlihat di kejauhan. Gedung itu tidak perlu mengejar ketinggian Manhattan. Sejak awal, Washington sudah diberi pekerjaan yang lain: membuat kekuasaan terlihat.
Catatan terkait: “Teman” dan “Kontak” Terasa Kabur di Washington, D.C.
.jpg)

