Uang, Rasa Takut, dan Orang-orang yang Tak Pernah Merasa Cukup

Uang, Rasa Takut, dan Orang-orang yang Tak Pernah Merasa Cukup
Ilustrasi/koinworks.com
Ulasan buku The Psychology of Money: Pelajaran Abadi Mengenai Kekayaan, Ketamakan, dan Kebahagiaan, karya Morgan Housel

Orang bisa kehilangan uang dalam semalam, tetapi membutuhkan puluhan tahun untuk mengakui bahwa selama ini ia mengejar sesuatu yang keliru. 

Ia mungkin sudah membeli rumah, mengganti mobil, menyekolahkan anak di sekolah mahal, bahkan mengumpulkan saldo yang membuat teman-temannya diam sejenak ketika mendengarnya. Anehnya, setelah semua itu tercapai, ia masih memeriksa harga saham sebelum tidur, masih gelisah melihat rekan kerjanya membeli properti kedua, masih merasa tertinggal. 

Morgan Housel memahami keganjilan itu dengan cukup baik. Dalam The Psychology of Money, ia membicarakan uang sebagai urusan manusia yang penuh ketakutan, gengsi, ingatan masa kecil, dan kebutuhan untuk terlihat berhasil di mata orang lain.

Buku yang terbit pada 2020 ini terdiri atas bab-bab pendek. Bentuknya menyerupai kumpulan esai yang bisa dibaca dalam beberapa malam, meski gagasannya sering mengganggu jauh setelah buku ditutup. 

Housel, seorang penulis dan investor yang lama mengamati perilaku keuangan, tidak menawarkan rumus ajaib untuk menjadi kaya. Ia lebih tertarik pada alasan seseorang mengambil keputusan finansial yang buruk ketika secara teori ia tahu apa yang seharusnya dilakukan. Pengetahuan tentang bunga majemuk, diversifikasi, atau risiko pasar, ternyata tidak otomatis membuat orang tenang saat portofolionya merah. Tangan bisa tetap dingin ketika angka kerugian muncul di layar ponsel.

Salah satu gagasan terkuat Housel adalah bahwa keputusan finansial seseorang sangat dipengaruhi oleh pengalaman yang membentuknya. Orang yang tumbuh ketika ekonomi stabil mungkin memandang saham sebagai kendaraan menuju kekayaan jangka panjang. Orang yang menyaksikan orang tuanya kehilangan pekerjaan atau rumah bisa memandang investasi yang sama sebagai ancaman terhadap seluruh hidupnya. Keduanya dapat membaca laporan keuangan identik, memahami data yang sama, lalu mengambil keputusan berlawanan. 

Siapa yang sepenuhnya rasional dalam situasi seperti itu?

Housel menyebut perbedaan pengalaman tersebut sebagai salah satu alasan mengapa orang memiliki pandangan yang berlainan tentang uang. Setiap orang membawa potongan sejarahnya sendiri ketika memutuskan apakah harus berhemat, berutang, berinvestasi, atau menikmati penghasilan. Kita kerap menganggap kebiasaan finansial orang lain sebagai bukti kebodohan, padahal kita tidak tahu peristiwa apa yang membuat mereka begitu takut kehilangan uang. 

Penjelasan itu terasa masuk akal, meskipun saya ingin Housel sesekali lebih keras membedakan pengalaman masa lalu dari pembenaran atas keputusan yang merugikan. Trauma ekonomi layak dipahami; ia tidak selalu layak dijadikan alasan untuk terus mengulangi kesalahan.

Kisah Ronald Read memperlihatkan betapa ganjilnya hubungan antara penampilan dan kekayaan. Read adalah petugas pompa bensin sekaligus petugas kebersihan di Amerika Serikat yang hidup sederhana. Setelah meninggal pada 2014, ia diketahui meninggalkan kekayaan sekitar delapan juta dolar AS, sebagian besar terakumulasi melalui investasi saham dalam jangka panjang. Kisahnya mudah disukai karena menampar kebiasaan kita menilai keberhasilan dari pakaian, jabatan, dan jenis mobil yang diparkir di halaman rumah. 

Orang yang tampak biasa saja ternyata memiliki aset besar, sementara orang yang kelihatan kaya bisa saja sibuk membayar cicilan.

Kisah Read juga mengandung bagian yang kurang nyaman. Kita tidak bisa menyimpulkan bahwa siapa pun akan menjadi jutawan jika cukup rajin menabung dan membeli saham. Kondisi ekonomi, pendapatan, kesempatan berinvestasi, kesehatan, dan tanggungan keluarga, ikut menentukan hasil. 

Read memiliki rentang waktu panjang untuk membiarkan investasinya berkembang. Seorang pekerja dengan upah rendah yang harus membiayai pengobatan orang tua mungkin tidak memiliki kemewahan yang sama. Mengagumi kesederhanaan Read sah-sah saja, tetapi menjadikannya standar moral untuk menghakimi orang miskin adalah bentuk kekejaman yang dibungkus nasihat keuangan.

Housel cukup kuat ketika membahas keberuntungan dan risiko. Ia mengingatkan pembaca bahwa hasil finansial tidak sepenuhnya mencerminkan kualitas keputusan. Orang bisa mengambil risiko besar, kebetulan memperoleh keuntungan, lalu mengira dirinya jenius. Orang lain dapat melakukan analisis dengan cermat dan tetap kehilangan uang karena keadaan berubah di luar perkiraannya. Pasar saham menyediakan banyak contoh tentang keduanya. Satu keputusan yang berhasil selama tiga tahun bisa membuat seseorang merasa memiliki naluri khusus, padahal ia belum pernah menghadapi penurunan yang benar-benar menguji keberaniannya.

Saya menyukai gagasan itu karena budaya finansial populer terlalu sering menjual kisah pemenang. Kita membaca tentang investor yang membeli saham sebelum harganya melonjak, pengusaha yang menjual perusahaan pada saat yang tepat, atau anak muda yang pensiun pada usia tiga puluh tahun. Jarang sekali kisah orang yang melakukan hal serupa lalu bangkrut mendapatkan panggung yang sama luasnya. 

Keberhasilan terlihat seperti keterampilan; kegagalan sering diperlakukan sebagai cacat karakter. Padahal, kalau hasil baik dapat lahir dari keputusan buruk yang kebetulan menguntungkan, keberhasilan seharusnya diperiksa dengan lebih hati-hati.

Meski begitu, pembahasan Housel tentang keberuntungan tidak boleh dipakai untuk menghapus tanggung jawab. Investor yang terus membeli aset spekulatif tanpa memahami risikonya tidak otomatis menjadi korban nasib ketika semuanya ambruk. Ada keputusan yang memang sembrono. Ada pula kerugian yang datang dari penipuan, kebijakan buruk, atau keadaan ekonomi yang tidak mampu dikendalikan individu. Menempatkan semua kejadian dalam satu kategori bernama ketidakpastian hanya membuat kita kehilangan kemampuan untuk membedakan mana risiko yang patut diterima dan mana kebodohan yang seharusnya bisa dihindari.

Bab tentang kekayaan yang tidak terlihat terasa sangat relevan di tengah budaya pamer konsumsi. Housel membedakan kekayaan dari benda-benda yang dibeli menggunakan uang. Mobil mewah yang melintas di jalan menunjukkan bahwa pemiliknya pernah memiliki uang cukup untuk membelinya; mobil tersebut tidak memberitahukan berapa banyak uang yang masih tersisa. Jam mahal di pergelangan tangan seseorang tidak mengungkapkan utang kartu kreditnya. Rumah besar pun tidak menjelaskan apakah pemiliknya bisa bertahan enam bulan tanpa penghasilan.

Gagasan itu terdengar sederhana sampai kita menyadari betapa banyak keputusan konsumsi dibuat demi penonton yang bahkan tidak terlalu peduli. 

Seseorang membeli kendaraan lebih mahal karena rekan kantornya baru mengganti mobil. Orang lain memesan makanan di restoran yang sebenarnya tidak sanggup ia nikmati dengan tenang karena sepanjang makan malam ia menghitung pengeluaran. Di Instagram, transaksi berubah menjadi pertunjukan. Barang dibeli, difoto, diunggah, kemudian perhatian berpindah kepada orang lain yang sedang mempertontonkan barang lebih mahal.

Housel tidak meminta pembaca menjalani hidup miskin demi menimbun aset. Ia justru menempatkan kebebasan sebagai salah satu manfaat terbesar dari uang: kemampuan menentukan bagaimana waktu digunakan. 

Memiliki tabungan memberi seseorang kesempatan meninggalkan pekerjaan yang merusak kesehatan, menolak atasan yang semena-mena, atau mengambil cuti ketika keluarga membutuhkan bantuan. Nilai uang dalam situasi semacam itu tidak selalu terlihat pada laporan kekayaan. Kadang nilainya muncul ketika seseorang bisa mengatakan “tidak” tanpa harus menghitung apakah besok ia masih mampu membayar sewa.

Di bagian itu, gagasan Housel bertemu dengan persoalan yang lebih politis daripada yang tampaknya ia inginkan. Kebebasan finansial memang membutuhkan kebiasaan yang baik, tetapi ruang untuk membangun kebiasaan tersebut dibagikan secara tidak merata. 

Orang yang memperoleh gaji besar, dan tinggal bersama orang tua selama beberapa tahun, dapat menabung dengan kecepatan yang berbeda dari pekerja yang mengirim sebagian besar penghasilannya ke kampung halaman. Nasihat untuk menyimpan enam bulan biaya hidup terdengar masuk akal; bagi sebagian orang, menyimpan satu bulan biaya hidup saja sudah menuntut pengorbanan yang tidak kecil. Buku ini paling berguna ketika membantu pembaca mengendalikan hal-hal yang berada dalam jangkauannya, dan kurang memadai ketika persoalan struktural mulai masuk ke ruangan.

Saya juga menyukai pembahasan tentang kecukupan, terutama karena Housel tidak memperlakukannya sebagai angka universal. Dalam urusan uang, batas antara cukup dan lebih banyak hampir selalu bisa digeser. Orang dengan tabungan satu miliar rupiah mungkin ingin mencapai dua miliar. Setelah itu, targetnya berubah menjadi lima miliar karena ia mengenal seseorang yang memilikinya. 

Permainan semacam itu tidak memiliki garis akhir yang disepakati semua orang. Bahkan ketika kebutuhan pokok sudah aman, perbandingan sosial mampu menciptakan kebutuhan baru dalam waktu singkat.

Ada bahaya nyata dalam permainan tersebut: seseorang bisa mempertaruhkan sesuatu yang sudah dimilikinya demi memperoleh sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu ia perlukan. Investor mengambil utang lebih besar karena merasa tertinggal dari pasar. Pengusaha memperluas bisnis ketika arus kas belum cukup kuat. Pegawai bertahan di pekerjaan yang dibencinya karena kenaikan gaya hidup membuat gajinya tidak pernah terasa memadai. Keinginan untuk memperoleh lebih banyak kemudian menyamar sebagai kebutuhan untuk mempertahankan apa yang sudah ada.

Bagi saya, kelemahan buku ini justru muncul ketika kesederhanaan pesannya berisiko berubah menjadi resep universal. Menabung, bersabar, menghindari utang yang merusak, dan memberi investasi waktu untuk berkembang merupakan prinsip yang masuk akal. Namun, pembaca bisa saja keluar dari buku dengan kesan bahwa persoalan keuangan terutama bersumber dari cara berpikir individu. Kenyataannya, biaya perumahan, akses pendidikan, upah, inflasi, dan jaminan sosial ikut membatasi pilihan. Psikologi penting, tetapi psikologi tidak dapat membayar tagihan listrik ketika saldo rekening kosong.

Meski begitu, saya lebih memilih membaca Housel daripada mengikuti orang-orang yang menjanjikan kekayaan cepat dengan grafik warna-warni dan foto saldo rekening. Housel tidak menghapus ketidakpastian dari kehidupan finansial. Ia membantu pembaca mengenali perilaku yang membuat ketidakpastian jadi lebih berbahaya: keserakahan yang menyamar sebagai ambisi, rasa malu yang mendorong konsumsi, dan kepercayaan diri yang tumbuh setelah beberapa kali keberuntungan. 

Seusai membaca buku ini, saya membayangkan seseorang duduk di meja makan pada malam hari, membuka aplikasi perbankan, kemudian memandangi angka yang sebenarnya cukup untuk memenuhi kebutuhannya. Tagihan bulan ini sudah dibayar. Uang sekolah anak juga aman. Sebagian tabungan bahkan belum disentuh. 

Ponselnya bergetar karena seorang teman mengunggah foto kunci rumah baru, lengkap dengan pita merah di pintunya. Ia menutup aplikasi bank, membuka unggahan itu, memperbesar foto di layar, lalu menghitung lagi berapa lama ia harus bekerja untuk memiliki sesuatu yang serupa. Besok pagi, ia mungkin akan mulai mencari simulasi cicilan.


Related

Buku 4621111923358530642

Posting Komentar

Jangan menyisipkan link ke dalam komentar, karena akan ditandai sebagai spam.

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item